We Are The Karyawaties

Aku bekerja di sebuah pabrik penghasil karet sintetik. Sepertinya aku tak perlu menjelaskan dulu apa beda antara karet alami dengan karet sintetik karena akan membutuhkan sekian banyak halaman yang akan membuat mata pedih. Aku hanya ingin bercerita tentang kami, para perempuan yang “terjerumus” (hahaha…lebay banget ya…) dalam lingkungan yang amat didominasi oleh para pria.

Ada sekitar dua ratus enam puluh pekerja di pabrik kami. Jumlah itu memang tak terlalu banyak karena sifat pabrik kami yang padat modal, dimana hampir keseluruhan proses sudah menggunakan mesin-mesin otomatis. Dari jumlah itu, dua belas orang diantaranya adalah perempuan. Yup, kami, para perempuan ini, betul-betul kaum minoritas dengan jumlah kurang dari 5 persen saja. Tapi… walaupun kalah jumlah, kontribusi kami tak kalah penting untuk memajukan perusahaan. (Ciyeee…).

Jadi inilah kisah kami berdua belas : The Karyawaties..

Dua belas perempuan di tengah dua ratus sekian orang laki-laki. Kami berdua belas ini tersebar dalam enam departemen : Produksi, Technical, QA, QC, HRD-GA dan PPIC (Production Planning and Inventory Control). Sebagian besar bertugas sebagai tenaga administrasi, kecuali empat orang di QA, QC, Technical dan PPIC, yang langsung terjun ke lapangan pada level managerial.

Kami punya base camp yang bernama loker cewek. Ukurannya tak terlalu besar, paling hanya 3m x 3m. Pada jam sholat, loker ini berubah fungsi sebagai musholla, sedangkan pada jam isirahat, loker sering berubah jadi tempat tidur umum. Hehee… Tapi sebetulnya, loker punya banyak fungsi lainnya. Tempat bertukar kisah (walau kadang berujung jadi bergosip dan bergunjing), tempat meletakkan barang-barang pribadi (ya iyalah… namanya aja loker…), tempat makan bareng, tempat bertukar komoditas dagangan (hmm.. mungkin akulah satu-satunya yang tak pernah bawa barang dagangan…), area pertukaran dokumen (biasanya akan muncul percakapan : “Bu… surat ini saya taro di loker ya.. Nanti tolong diambil…), dan masih banyak lagi, termasuk sebagai tempat curhat dan tempat istirahat kalau sedang tak enak badan.

“Dimana ada dua atau tiga perempuan berkumpul, disitu pasti ada gosip, pertengkaran, transaksi, kehebohan, dan makanan.”, itu celetuk salah seorang manager kami di pabrik (udah ketahuan lah.. yang ngomong ini pasti seorang pria). Aku hanya tertawa mendengar kalimat ini. Sedangkan seniorku langsung menanggapi, “Nggak kok.. Kami ngga pernah bertengkar.. Paling cuma diem-dieman aja.. Hahaha…”

Hmm.. Kami memang tak pernah bertengkar sampai cakar-cakaran atau gampar-gamparan. Paling hanya saling sindir, lalu suara mulai naik satu oktaf, terus saling mendiamkan sampai sekian lama. Selama sembilan tahun bersama mereka, aku belum pernah mengalami dan menyaksikan pertengkaran ala Thai boxing atau karate sih..
Nah.. biasanya pertengkaran ini secara tak langsung membuat kami berdua belas terbagi menjadi kubu-kubu yang masing-masing mendukung jagoannya meskipun tidak secara terang-terangan. Tapi kami sama-sama tahu lah, siapa yang mendukung siapa. Dan juga udah kelihatan siapa yang selalu bertentangan dengan siapa. Hahaha… Entah sepertinya mereka itu ditakdirkan untuk tak bisa berdamai..

Nah.. kalau tentang gosip, bisa dibilang kami sama-sama parahnya.. Nggak kenal waktu pula.. Mulai dari ngomongin sesama karyawaties, ngegosipin para karyawans, bahkan sampai update banget tentang kasus Bang Ipul Jamil. Tapi ya.. kalau kami bergosip, bapak-bapak itu juga biasanya suka ikutan nimbrung bahkan konyolnya, mereka ikutan ngomporin.. Haduh… tepok jidat deh…
Nggak selamanya sih bergosip itu buruk, kadang malah bisa jadi kontrol sosial : Jangan melakukan hal seperti itu kalau kita nggak mau diomongin orang lain. Dan kadang ya… curhat itu bisa berujung gosip. Bertukar cerita bisa berakhir bergunjing. Biasanya sih atasan-atasan kami yang mengerem secara halus ketika kami semakin tak terkendali.. Haduh… mohon maaf sebesar-besarnya yaa…

Tapi… kami juga sering membicarakan hal-hal yang “penting” lho.. Mulai dari masalah pendidikan anak (seru banget kalau lagi musim ujian dan daftar sekolah), kesehatan keluarga (biasanya kami saling berbagi resep obat ala rumah kami masing-masing), tips masak, bahkan sampai masalah sosial dan politik lho (mulai dari masalah LGBT, toleransi agama, hingga kebijakan negara… berat kan obrolan kami..). Entah takdir atau apa namanya, kami berdua belas selalu berhasil membuat obrolan biasa menjadi heboh, rame, berisik, ditambah lagi kami tak bisa jaim kalau sedang tertawa. Ngakak ya ngakak.. Ngga pake ditahan-tahan.. Ini nih yang bikin kami sering ditegur.. Untung aja perusahaan ngga sampe menerbitkan SP gara-gara kehebohan kami yang kadang mengganggu lingkungan..

Karena aku satu-satunya perempuan yang belum nikah, kadang yang lain tuh suka lupa untuk mensensor obrolan yang agak 17 tahun ke atas dan harusnya tabu.. hahahaha… Duh.. bisa dewasa sebelum waktunya nih.. hehehehe…

Akhir-akhir ini kami berdua belas sedang senang belajar. Apapun  dipelajari : masak, merajut, menjahit, membuat tas dari bungkus kopi, dan bikin kue. Motivasinya memang tak selalu untuk menambah ilmu, ada juga yang belajar karena nggak pengen kalah dari saingannya. Hmm.. tak dapat dipungkiri sih, meskipun kami sudah sekian tahun bersama, hasrat persaingan dan rasa gak mau kalah itu masih kental terasa. Yaa.. ngga cuma masalah gaji dan promosi, tapi juga masalah keluarga, anak-anak, hingga keterampilan umum.. Hmm… capek deh… hehehe…

Tapi… gara-gara kami yang selalu latah pengen belajar hal yang sama, kami sudah bisa menghasilkan sesuatu. Hasil belajar masak dan bikin kue selalu bisa kami cicipi ramai-ramai (walaupun ada saja komentar yang nyinyir.. kalau aku sih selalu komentar ENAKKK…. soalnya aku ngga bisa masak…hehehe..).

Aku sekarang sedang belajar membuat tas dari bungkus kopi dan membuat macaroon pouch dari senior-senior yang sudah belajar duluan. Inilah sisi positifnya.. Lumayan kan ngga perlu bayar kursus..

image

Salah seorang senior manager (laki-laki) pernah mengomentari kebiasaan para karyawaties ini. Beliau sangat mengapresiasi kemauan kami untuk belajar, tapi sayang dari kami berdua belas, hampir semuanya tak ada yang senang membaca. Padahal sebagai ibu bagi anak-anak di rumah, kami perlu punya pengetahuan yang banyak supaya bisa membekali anak-anak dengan ilmu dan wawasan. “Coba deh perhatiin, kalau gajian atau dapat THR, kalian pada beli apa? Pasti ke mal beli baju kan, atau beli gadget. Paling hanya kamu dan – beliau menyebut nama senior saya – yang kenal toko buku. Saat waktu senggang juga hanya kalian berdua yang baca buku, walaupun sering ikutan ngegosip dan online juga. Yang lain? Hmm.. jangan-jangan di rumah mereka hanya ada buku-buku pelajaran anaknya saja. Ayolah.. kurangi obrolan yang ngga penting. Isi waktunya untuk membaca.. ”
Hmm… sering sekali beliau menyampaikan hal itu pada kami. Tapi tetap saja.. Minat membaca itu masih sangat rendah. Paling hanya aku dan seniorku yang sering ngobrol seru tentang buku yang baru kami baca. Bagaimana ya caranya menularkan kebiasaan itu?

image

Kadang ada saudara yang bertanya, “Bagaimana rasanya kerja di dunia laki-laki? Takut ngga sih? Pernah diremehkan atau dilecehkan ngga sih?”
Jawaban saya hanya, “Ah.. biasa saja.. ngga ada yang aneh..”
Bikan bermaksud menghibur diri atau membanggakan diri. Tapi memang tak ada yang aneh dengan lingkungan kerja kami. Kami tak diperlakukan dengan istimewa-istimewa banget oleh perusahaan. Untuk pekerjaan fisik, kadang teman-teman pria akan mengambil porsi lebih banyak. Tapi ketika kami wajib naik tangki untuk mengambil sample atau inspeksi, ya kami harus melakukan tanggung jawab itu. Kalau ada yang bisa menemani sih syukur Puji Tuhan banget. Tapi kalau harus sendirian ya nggak masalah lah.. Kan sudah biasa toh. Memang sih perusahaan kami tidak mengizinkan para karyawaties untuk masuk shift. Jadi kami semua bekerja 8 to 5.

Nah..lalu bagaimana sikap para karyawan laki-laki? Sebagian besar dari mereka bersikap sangat baik pada kami meskipun tentu saja tetap mengindahkan batasan yang ditetapkan oleh agama dan budaya. Mereka sangat membantu jika kami membutuhkan bantuan di lapangan. Kalau kata managerku, “Cowok-cowok itu lebih nurut kalau kalian (para perempuan) yang ngomong. Mereka juga lebih helpful kalau kalian yang minta tolong.” Iya sih.. Mungkin mereka kasihan, mungkin mereka ngga tega melihat kami bekerja fisik di bawah terik matahari atau melakukan sesuatu yang berat.

Lucunya, yang sering meremehkan dan nggak nganggep kami adalah seseorang yang jabatannya sudah sangat tinggi dan seharusnya sudah paham betul untuk tidak melakukan diskriminasi macam begini. Ah, sudahlah.. Cuma ada satu orang kok yang model beginian di antara dua ratus sekian orang yang baik hati.

Seringkali para pria itu malah sering merasa diintimidasi oleh kami. Hahaha… Mereka bilang kami galak dan bawel. Kami memang ngga mau kalah kalau berdebat tentang apapun juga, dan sering memaksakan pendapat. Apalagi para karyawaties di HRD-GA. Mereka dijuluki “macan”… hehehe…

Kami para karyawaties ini juga selalu berupaya menjalin hubungan baik dengan para istri dan keluarga dari para karyawans itu. Kami selalu menyempatkan hadir setiap ada peristiwa penting di keluarga mereka. Ini juga fungsi dari acara family gathering yang diadakan perusahaan

Ya.. ini memang penting sekali supaya jangan menimbulkan isu tak sedap (bahkan gunjingan) karena kami dekat dengan suami mereka saat bekerja di pabrik.

Masih banyak cerita tentang kami para karyawaties ini. Karena bagi kami setiap hari selalu memberikan cerita-cerita baru.
Doakan kami ya, supaya makin dewasa dan selalu damai dan anteng… Hehehe…

image


8 thoughts on “We Are The Karyawaties

  1. Di kantor saya beberapa karyawatinya membentuk suatu perkumpulan bernama 7 icons, karena jumlah anggota mereka pas tujuh orang :hehe. Tapi bagaimanapun, saya pikir membangun hubungan baik dengan rekan kerja itu perlu. Cuma nggak mesti sampai dalam banget sih ya, ada batas-batas yang harus dihormati.
    Tapi sempat kemarin saya baca twit beberapa blogger kalau di tempat kerja jangan cari sahabat, cari sahabat di luar saja, sebab hubungan kerja dijaga profesional saja :)). Bagaimana menurut Mbak?
    Namanya kerja dengan banyak orang, pasti ada macam-macam sifat ya. Ada yang baik, tapi orang gila pun banyak. Tapi namanya ragam manusia akan tetap sama dari zaman kapan, kan… :hehe. Semoga kita bisa menjadi orang yang baik, minimal bagi kita sendiri dulu, deh.

    1. Hmm… memang kak.. kadang posisinya sangat sulit, di satu sisi kita harus selalu berpikiran positif dan berupaya menjalin hubungan baik dg teman kerja kita. Soalnya 1/3 waktu kita dalam sehari dihabiskan bersama mereka. Kalau gak harmonis bikin gondok banget kan..
      Tapi… di sisi lain suasana kerja beda banget sama suasana sekolah atau kuliah dulu, dimana persaingan hanya soal nilai dan IP saja. Kalau di dunia kerja semua bersaing untuk disayang bos, dapet promosi, naik gaji dsb2…istilahnya politik kantor gitu deh… dan resenya lagi banyak orang yg berpolitik ini dengan cara yg halus bahkan ga kelihatan. Di depan kita dia baik bangeeet… tapi ternyata di belakang kita dia ngadu macem2.. atau melakukan sesuatu untuk bikin kacau kerjaan kita.
      Nah.. sejak awal masuk kerja, orang tuaku selalu wanti2 hal yg sama dg kakak bilang itu, “jangan mencari sahabat di lingkungan kerja!” Khawatirnya dia yg kita anggap sahabat itu, yg udah tau kelemahan kita, malah memanfaatkannya untuk politik kantor itu. Sedihnya jadi double : dikhianati sahabat dan mungkin karir kita jadi berantakan.
      Selain itu kadang terlalu dekat bisa membuat kita gak profesional. Jadi banyak negosiasi yg bisa terjadi, bukan ga mungkin keputusan yg kita ambil itu bukan kepuusan yg terbaik tapi hanya keputusan yg menyenangkan hati orang saja.
      Jadi.. selama ini aku selalu mencoba datar2 n netral2 saja.. kalau ada yg curhat didengerin aja dan sesedikit mungkin menanggapi, dan mengunci mulut rapat2 supaya gak ember…hehehe… Aku juga memilih untuk tidak terlalu dekat dg satu orang saja (bodo deh dibilang anti sosial atau apa).
      Akhirnya aku belajar untuk bisa merasa nyaman dan percaya diri tanpa ikut arus..
      Haha… amin kak… semua harus dimulai dari kita.. menjadi baik terlebih dulu, dan semoga kedamaian itu bermula dari diri kita yaa ..

      1. Iya Mbak. Namanya hati orang tidak ada yang tahu, isi kepala setiap orang beda-beda, niat dan keinginannya pun lain, mana tahu tidak satu tujuan dengan kita. Yah, hubungan baik memang perlu dibina, tapi mungkin yang wajar-wajar saja kali ya :)).
        Amin, semoga semua doa baiknya tercapai. Sukses selalu ya :)).

  2. macaroon pouch-nya lucuuuuu…. aku kalo iseng, bikin origami burung dengan berbagai ukuran. makin mini makin gila rasanya hahaha, melipatnya perlu tantangan sendiri secara jariku gendut2 hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s