Sebuah Pertanda (?)

Lima bulan lalu, kala pertama aku menunaikan tugas kunjunganku ke Tanah Borneo, seorang Ibu memberikanku sebuah gelang manik-manik khas Dayak.

image

Usai mengucapkan doa-doa dalam bahasa yang tak kupahami, beliau memasangkan gelang itu ke tangan kananku sambil berkata, “Kamu sekarang anak mama..”
Lalu beliau juga bilang bahwa sekarang aku sudah jadi anak Dayak.

Karena takut putus, ketika pulang gelang itu kulepaskan dari tangan dan kusimpan di dalam dompet. Aku hanya memakainya jika bertugas ke Bumi Khatulistiwa saja. Kata mama, gelang itu bernama “Ramiang”, dan dirangkai oleh tangan mama sendiri dengan menggunakan serat tanaman.

Beberapa minggu yang lalu mama menghubungiku untuk memastikan apakah aku bisa datang ke acara tahunan yang diadakan di kampung mama di Begori, Serawai. Akupun memutuskan untuk “pulang” kesana meskipun ada banyak sekali tantangan yang menguras emosi dalam perencanaannya. Maklum saja, rumah keluarga kami terletak di pedalaman Kalimantan Barat dan hanya bisa dijangkau dengan transportasi air. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, dipertimbangkan, dan direncanakan matang-matang.

Setelah perjalanan panjang dari kota Pontianak, akhirnya aku tiba di Begori di bawah guyuran hujan deras. Aku berbisik pada ramiang yang melingkar di tangan kananku, “Kamu akhirnya kembali ke tempatmu berasal…”

Di bawah hujan rintik dan mendung yang pekat, aku disambut dengan upacara Hopong. Pada akhir rangkaian upacara mama memasangkan ramiang baru di tangan kananku. Ramiang ini lebih kaya warna dibandingkan ramiang mama.
image

Malam itu, kedua ramiang cantik itu melingkar manis di pergelangan tanganku, tersiram hujan dan ikut mandi juga. Sebelum tidur, aku mengencangkan ramiang mama agar bisa bersanding serasi dengan ramiang yang baru.
Namun ketika aku bangun esok paginya, ramiang mama mendadak putus. Alhasil aku harus mengumpulkan manik-manik yang terberai lalu merangkainya kembali. Untung saja ramiang itu sudah utuh kembali saat aku kembali ke rumah mama.

Saat mama menyadari ada dua ramiang di tanganku, mama meminta agat aku melepaskan ramiang yang lama. Awalnya aku enggan, namun mama ternyata serius, bahkan beliau hendak mengambilkan gunting untuk melepas ramiang itu. Entah kenapa mama ingin aku melepas ramiang yang lama. Namun belum sempat mama mengambilkan gunting, ramiang itu mendadak putus lagi ketika aku berupaya mencari ujung simpulnya.

Salah seorang kerabat mama bilang, mungkin ramiang itu merasa tugasnya untuk mengantarku “pulang” sudah usai, jadi iapun putus terberai.
Sedih sekali melihat ramiang yang putus itu, karena itulah ikatan pertamaku dengan mama, dengan keluarga ini, dan dengan kampung ini.

Ramiang yang baru tetap melingkar di tanganku, dan aku bertekad untuk tidak melepaskannya. Berhari-hari ramiang itu tetap tergantung erat, terkena panas, hujan, terkena air dan sabun, tergesek tali tas, tersangkut ransel, dan ia baik-baik saja.

Namun baru dua hari aku tiba di rumah, ramiang itu mendadak putus ketika aku sedang mandi. Aku mencoba mengumpulkan manik-maniknya dan merangkainya lagi, namun tak berhasil, talinya hancur dan manik-maniknya banyak yang hilang. Padahal sebelum mandi aku telah memastikan bahwa ramiang itu masih baik-baik saja.

Sesaat aku terdiam dan berpikir, “Ada apa gerangan dengan keluargaku disana? Semoga ramiang putus ini bukan pertanda buruk. Semoga mama dan keluarga baik-baik saja.”

Aku mengirim sms ke mama mengabarkan ramiangnya putus. Jawaban mama keesokan harinya membuatku terhenyak..

Ternyata putusnya ramiang adalah suatu pertanda. Abang angkatku kecelakaan ketika bekerja. Tali sling yang dipakainya untuk menarik mobil perusahaan yang amblas di jalan berlumpur, mendadak putus dan terlontar mencambuk wajahnya.

Abang terancam akan kehilangan penglihatannya karena kejadian itu. Mama langsung turun dari Begori lewat Sintang untuk mendampingi Abang di Pontianak. Perjalanan selama 18 jam melalui air dan jalan yang rusak menguras tenaganya. Abang pun tak bisa menunda operasi matanya untuk menunggu kedatangan mama..

Kedua ramiang itu kini tersimpan di dalam dompetku, menunggu manik-manik yang cocok untuk mengisi tempat yang kosong.

“Gelang yang putus simpan saja, Nak.. Tak apa-apa..”
Mama, bukan gelang putus itu yang kukhawatirkan..
Tapi aku khawatir pada mama dan abang..
Semoga abang lekas pulih ya..
Adek doakan dari sini..

image


9 thoughts on “Sebuah Pertanda (?)

  1. Wah, gelang itu tampaknya memegang ikatan batin yang kuat sehingga bisa jadi pertanda sampai seperti itu. Namun seperti kata pepatah, malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Semoga abang dan Mama baik-baik saja di sana dan cepat pulih seperti sedia kala. Tapi gelangnya cantik banget, manik-maniknya kaya warna banget, batu di tengahnya itu batu apa ya? Kayaknya asyik juga kalau pakai gelang seperti itu Mbak :hehe :peace.

    1. Amin, Kak… semoga mereka sekeluarga baik-baik saja.
      Hehe…pencinta batu ya, Kak? Mamaku bilang itu batu yg namanya ramiang, tapi kalau di google namanya hanya akik Kalimantan.. hehehe.. kemarin sempat nemu batu yg mirip itu, tapi ternyata beda kak.. yg dari sana itu merahnya lebih gelap.. nanti kubuatkan duplikatnya kak… doakan supaya ketemu manik2nya yaa…

      1. Waduh saya bukan pecinta batu seperti bapak-bapak maniak batu akik, kok! Paling batu candi :haha.
        Hoo… waaah terima kasih banyak yaa, semoga dirimu selalu diliputi berkah :amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s