Dari Desa Terpencil Ini…

Desa Begori.
Carilah nama itu di peta Kalimantan Barat..
Ketemu?
Oke.. sekarang coba cari di google maps.
Adakah?
Ya.. Kau hanya akan menemukan satu titik merah di antara warna hijau, tanpa ada penanda apapun di sekitarnya, kecuali warna biru penunjuk sungai dan area berwarna hijau tua bertuliskan Bukit Raya.

Begori hanyalah sebuah desa kecil di Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Cara paling umum untuk mencapai desa ini adalah melalui Sungai Melawi dengan menggunakan sepit (speed boat), long boat, atau kapal ketinting.
Kini desa ini bisa dicapai via jalan darat dari Serawai dengan melalui jalan seadanya buatan perkebunan sawit. Itupun hanya bisa dilewati oleh motor trail saja. Meski demikian, transportasi air tetap menjadi favorit karena sebagian besar warga tak punya motor trail. Pada musim hujan, jalan darat ini hampir tak bisa dilintasi.

Mari kita kembali ke tampilan lokasi Begori pada google maps. Lalu, carilah lokasi Pontianak pada peta itu.
Jauh? Betul.. Jauh sekali..
Jika ingin mencapai Begori dari Pontianak, pertama kita harus naik bus malam ke Nanga Pinoh, ibukota Kabupaten Melawi. Lama perjalanan tergantung pada kondisi jalan Trans Kalimantan. Jika jalan sedang bagus dan tak tertutup lumpur, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 9 jam. Tapi jika jalan rusak, bisa-bisa memakan waktu lebih dari 12 jam.

Dari Nanga Pinoh, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan air. Sepit (speed boat) adalah kendaraan air yang paling umum digunakan, karena bisa mencapai Begori dalam waktu sekitar 4.5 jam. Jika memilih long boat, maka perjalanan bisa mencapai satu hari satu malam, hingga ketika langit mulai gelap kita akan menepi untuk bermalam.

Tapi.. jika kita memilih naik sepit, kita harus janjian dulu, alias booking ke tukang sepitnya, takutnya tak ada sepit yang stand by atau tak ada sepit yang akan jalan. Kapasitas satu sepit adalah 8 orang, kalau kita berangkat sendirian biasanya akan digabung dengan penumpang atau barang-barang angkutan menuju Serawai, Tontang, dan Ambalau.
Tarif dari Pinoh hingga Begori antara 250.000 hingga 300.000 per orang. Kalau mau charter satu sepit harganya Rp. 2.500.000. Pada musim kering ketika Sungai Melawi surut, aktivitas transportasi Sungai Melawi bisa nyaris lumpuh, dan hanya para sepit inilah yang biasanya masih bisa terus melaju.

Jadi.. memang tak mudah untuk mencapai Begori, dan memang sangat tak mudah untuk mencapai daerah-daerah terpencil di pedalaman Kalimantan Barat.

Pernahkah kau merasakan merananya hidup ketika listrik padam? Atau bagi kita yang tinggal di kota besar, pasti pernah merasakan betapa mati gayanya jika tak ada sinyal internet kan?
Bagi warga di Begori, listrik dan sinyal telepon adalah sesuatu yang mewah, apalagi sinyal internet. Ketika saya bermalam di rumah ketua stasi, saya mendapati rumah yang terang benderang, saya bisa menonton TV dan memberi makan handphone saya. Saya pikir Begori sudah seperti mayoritas desa di Pulau Jawa yang sudah terjamah listrik negara.

Ternyata, saya salah besar.
Ketika saya keluar rumah untuk menuju gereja stasi, saya menemui jalanan yang gelap gulita. Tak ada penerangan sedikitpun kecuali dari beberapa rumah warga. Itupun sangat minim sekali.

Akhirnya saya sadar bahwa rumah ketua stasi dan beberapa rumah lain menggunakan genset sebagai sumber listrik mereka.
Jarak dari rumah ketua stasi ke gereja yang hanya sekitar 100 meter, saya tempuh dalam waktu cukup lama dan amat penuh perjuangan karena saya harus berhati-hati melangkah di bawah temaram sinar senter yang disorotkan oleh seorang warga yang berjalan di belakang saya.

Bahkan ketika kami semua sudah tiba di gereja, gereja masih gelap gulita karena gensetnya belum dinyalakan. Jadilah saya beberapa kali terperosok kubangan air, karena desa ini baru saja diguyur hujan deras.

Kami melangkah diiringi oleh suara binatang malam yang berpadu dengan suara aliran sungai, suara daun yang dihembuskan angin, dan sesekali suara canda tawa dari beberapa warga. Itulah suara-suara alami yang memecahkan heningnya malam..

Jangan tanya tentang sinyal telepon. Sinyal hanya bisa ditemui di tempat-tempat tertentu saja. Itupun hanya bagi satu provider seluler. Selama dua hari di Begori telepon saya mendadak jadi pendiam, dan sejujurnya ada rasa tenang di hati ketika telepon saya tak tersentuh sinyal. Jadi.. jangan tanyakan apakah ada sinyal internet disini ya..

Oh ya.. hanya ada dua sekolah di desa ini, yakni SD Negeri 25 dan SMP Negeri 5. Anak-anak yang sudah lulus SMP biasanya akan melanjutkan ke SMA di Kota Kecamatan Serawai yang berjarak 30 menit jika ditempuh dengan sepit. 

Jadi… apa sih istimewanya desa ini? Jalan tak ada, listrik tak ada, sinyal hanya ada di tempat tertentu, tak ada pilihan sekolah.
Kok menderita banget kayaknya ya..

Tidak.. Desa ini tidak istimewa. Tapi sebaliknya.. Desa ini sangat istimewa.
Saya ulangi : SANGAT ISTIMEWA.

Apa istimewanya?
Bagi Gereja Katolik, desa ini amat sangat istimewa. Menurut ketua stasi, 99.9% penduduk desa ini beragama Katolik. Mereka punya satu gereja mungil bernama gereja Santo Yosef.
Mereka tak bisa setiap Minggu merayakan ekaristi, karena hanya ada dua imam di Paroki St. Monfort Serawai, sementara jumlah stasi yang harus dilayani sebanyak 32 stasi, dan salah satunya adalah stasi St. Yosef Begori ini. Jadi mereka sudah amat terbiasa merayakan ibadat tanpa imam. Para awam harus bisa memimpin ibadat, memberikan renungan, mengajar agama, dan memberikan pelayanan-pelayanan lainnya kepada umat.
Dalam segala kekurangan stasi mereka, dan di tengah himpitan kesulitan ekonomi, mereka berjuang keras untuk bisa merenovasi gereja mungil mereka.

Di kampung inilah, setiap orang mengenal semua orang..
Disinilah, semuanya merasa sebagai satu keluarga besar..
Di desa terpencil inilah tak ada sekat pembatas. Bahagiamu adalah bahagiaku. Deritamu adalah deritaku juga.
Disinilah adat dan tradisi Dayak masih dijunjung tinggi, meski sudah mulai terkikis zaman.
Di kampung kecil inilah saya merasakan disambut dengan tradisi Dayak yang bernama Hopong.
Dan disinilah kita bisa minum air murni dari bukit tanpa perlu dimasak terlebih dahulu.

Dan.. Di desa sunyi inilah, benih panggilan imamat bisa tumbuh subur. Putra dari ketua stasi akan ditahbiskan menjadi imam kongregasi CM (Congregatio Missionis) pada bulan Agustus nanti. Lalu salah satu putra seorang umat juga sedang menempuh masa novisiat CM di Malang.
Dari desa terpencil inilah para calon imam itu lahir dan tumbuh.
Dari desa yang tak terjamah teknologi inilah panggilan Tuhan bergema dengan lantang.
Dan dari keheningan desa kecil inilah para orang muda bisa mendengarkan suaraNya yang lembut memanggil.
Dengan segala keterbatasan, mereka bersedia menjawab YA pada panggilan istimewa itu.
Dalam segala kekurangan, Tuhan melengkapi mereka dengan berkatNya.

Di tengah hingar bingar kota besar, apakah suaraNya masih terdengar?
Di tengah hiruk pikuk kesibukan kita, apakah kita masih mau mencari gema suaraNya?

Mungkin kita perlu mencari Begori-Begori di sekitar kita untuk menajamkan lagi kepekaan hati kita..
Mungkin kita perlu mengasingkan diri sejenak untuk mendengarkan sapaanNya..
Mungkin kita perlu menempuh perjalanan jauh untuk lebih dekat pada diri kita..

Selamat merayakan Hari Minggu Panggilan…


8 thoughts on “Dari Desa Terpencil Ini…

  1. Salut lho dengan kemauan orang-orang di sana untuk tetap bisa beribadah di tengah begitu banyak keterbatasan. Eh tapi, apa yang bagi kita merupakan keterbatasan bisa jadi adalah berkat ya bagi mereka, soalnya di sana kehidupan pasti tenang banget. Saya bersyukur di sana sudah ada sekolah, meski cuma sampai SMP. Apa pekerjaan masyarakat di sana?
    Bagaimanapun keadaan mereka, semoga hari esok bisa menjadi lebih baik, dan semoga kedamaian selalu meliputi desa itu :hehe.

    1. Iya, Kak… suasana disana itu cocok banget buat menenangkan hati dan pikiran.. rasanya malah betah banget disana…hehehe
      Sebagian besar mereka berladang, dan ada yang jadi guru. Anak2 yg sudah dewasa kerja di perkebunan sawit..

    1. Mba.. beneran deh… walaupun terpencil tapi aku ngerasa betah banget disana… Walaupun selalu kepikiran kayak gini : “gile ye…ini udah tahun 2016.. kok masih ada daerah yang belum mendapat listrik…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s