Dan Tersenyumlah…

Dalam perjalanan menuju Desa Begori dari Pontianak, saya dan seorang teman harus singgah selama semalam di Nanga Pinoh, ibukota Kabupaten Melawi. Kami diterima dengan hangat di sebuah Panti Asuhan yang dikelola oleh para biarawati ALMA. Panti asuhan itu bernama Bhakti Luhur dan terletak di Desa Tanjung Niaga, tak jauh dari terminal bus Nanga Pinoh. Sebagian besar anak-anak yang tinggal di panti ini adalah anak-anak luar biasa, alias anak-anak berkebutuhan khusus.

Kami tiba disana sebelum fajar menyingsing. Setelah bercakap sejenak dengan Suster Winda sebagai pimpinan komunitas, kami pun beristirahat alias melanjutkan tidur yang belum tuntas. Saya tak membayangkan bahwa persinggahan sementara ini malah memberikan sebuah pengalaman luar biasa dan tak akan terlupakan.

Ketika saya terbangun beberapa jam kemudian, saya menemukan teman saya yang sedang mengobrol dengan Suster Winda. Namun bukan mereka berdua yang menarik perhatian saya, melainkan seorang anak laki-laki yang terbaring di hadapan mereka.

Anak itu bernama Lambertus, tapi ia punya panggilan sayang : Ebeng. Tahun ini Ebeng akan berusia delapan tahun, namun ia hanya bisa berbaring saja karena menderita hydrocephalus sejak lahir. Ebeng sudah beberapa kali dioperasi, baik untuk mengeluarkan cairan di kepalanya, maupun untuk memperbaiki posisi mata dan hidungnya.

20160408_085227
Ebeng…

Walaupun terlihat tak berdaya, namun Ebeng hebat lho.. Ketika kami sarapan, kami mendengar Ebeng bersuara seperti merajuk namun tanpa kata-kata. Ia mengerang dan kadang berteriak. Ah… Ternyata ia mengingatkan Suster bahwa sudah waktunya minum susu. Ebeng hafal sekali dengan jadwalnya makan dan minum susu. Ia juga hafal dengan suara para Suster dan kakak pengasuhnya.

Sambil menunggu Suster menyiapkan susu untuk Ebeng, saya berdiri di depan ranjangnya dan mencoba berkomunikasi dengan Ebeng. Jujur saya bingung harus berbuat apa. Saya akhirnya mencoba menyapa Ebeng dengan memanggil namanya. Hmm.. ada respon. Saya lalu mengusap-usap dada dan perutnya (mencontek apa yang dicontohkan oleh Suster dan teman saya). Ebeng terlihat kegelian.. hehehe… Saya lalu mengusap wajahnya (meski awalnya saya takut menyakitinya). Dan respon Ebeng berikutnya membuat saya terperangah : Ebeng tersenyum. Dengan tangannya yang tak sempurna, ia mencoba menggenggam tangan saya di dadanya.. Erat sekali..

Sebuah keharuan membuncah dalam diri saya, hingga saya menyadari bahwa air mata saya sudah hampir menetes. Untung di ranjang Ebeng ada satu box tissue, jadi saya bisa segera menyeka mata saya. Spontan saya berkata pada Ebeng, “Ebeng.. senyum lagi dong.. Ebeng ganteng deh kalau senyum.. ” Dan Ebeng mengerti dengan permintaan itu. Ebeng tersenyum lagi…

Benar sekali yang dikatakan orang, bahwa senyum adalah jarak terdekat antara dua manusia. Senyum Ebeng membuat saya merasa diterima olehnya, meskipun saya hanya seorang asing yang baru saja dikenalnya.

Di dekat tempat tempat tidur Ebeng, ada sebuah tempat tidur lagi yang ditempati oleh Robby. Usianya dua puluh tujuh tahun, namun fisiknya tampak seperti anak berumur sepuluh tahun : tubuhnya amat mungil, apalagi tangan dan kakinya. Saya tak tahu apa yang diderita oleh Robby, namun seperti Ebeng, ia juga hanya bisa berbaring saja.

Robby tak banyak bersuara, tak seperti Ebeng, dan ini membuat saya lebih bingung untuk berkomunikasi dengannya. Apalagi usianya kan sudah dewasa, kok rasanya tak cocok jika diajak bercanda seperti Ebeng. Jadilah pada awalnya saya tak berani dekat-dekat Robby. Bukan apa-apa, tapi karena saya bingung harus berbuat apa. Saya takut Robby tersinggung, karena saya tahu Robby punya perasaan meskipun fisiknya mengalami keterbatasan.

Ketika matahari meninggi di langit Nanga Pinoh, kami mulai merasa kepanasan. Anak-anak sedang beristirahat siang sementara saya sedang bengong di halaman panti. Tiba-tiba terdengar suara seperti tangisan. Ah, ternyata itu suara Robby. Saya mendekatinya dan mendapati Robby memang sedang menangis. Masalahnya adalah, apa yang membuat ia menangis? Saya sok tahu menganalisa. Hmm… sepertinya ia kepanasan. Wajahnya basah oleh tetesan keringat. Jadi saya mencoba mengeringkan keringat di wajah dan lehernya. Nah.. Akhirnya dia bisa tenang lagi.

Tapi tak lama kemudian Robby menangis lagi. Duh.. kenapa ya? Untunglah ada Suster Yuli yang mengerti mengapa Robby menangis. Ternyata ada semut di tempat tidurnya. Ooooh… jadi begitu. Alhasil saya dan Suster Yuli berburu semut yang berkeliaran di tempat tidur Robby. Setelah semut diburu, Robby pun bisa tenang dalam waktu yang cukup lama.

20160409_060645
Robby…

Di dekat tempat tidur Ebeng dan Robby ada seorang anak laki-laki duduk di kursi roda. Namanya Kiki. Awalnya Kiki hanya bingung melihat saya, lalu ketika saya mendekatinya, Kiki berulang kali menunjuk-nunjuk telinga kanannya sambil bersuara bagai ingin menyampaikan sesuatu. Tapi saya tak paham. Lagi-lagi saya tak tahu harus berbuat apa, apalagi saat itu tak ada Suster yang bisa ditanyai. Akhirnya saya hanya menyapa Kiki sekilas saja dan meninggalkannya lagi.

Tak lama kemudian anak-anak dipanggil untuk mandi sore. Saya melihat Robby sudah rapi dan wangi. Saya mendekatinya dan berkata, “Wah.. Robby sudah mandi yaa.. Sudah wangi dan rapi nih…”

Reaksi Robby membuat saya tertegun. Robby tersenyum..

Entah karena ia memahami kata-kata saya, atau karena saya mengucapkan kata-kata itu dengan ceria. Tapi yang pasti : Robby tersenyum. Saya bisa membuat Robby tersenyum. Dan kali ini saya tak kuasa menahan air mata yang siap tertumpah.

Senyuman..

Hari ini saya begitu menghargai dan memaknai setiap senyuman yang tergurat di wajah anak-anak ini. Mereka telah membuat saya jatuh cinta karena senyuman mereka. Hari ini saya begitu tertantang untuk bisa menghadirkan senyuman di wajah mereka.  Saya merasa diterima, saya merasa dicintai, semua karena senyuman merekaDalam keterbatasan mereka, mereka berhasil mempersembahkan senyuman yang sempurna.

Pagi pun datang lagi. Kiki yang sudah mandi masih duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Ia masih saja bersuara sambil menunjuk telinganya. Saya semakin bingung harus berbuat apa, hingga akhirnya saya hanya bisa menggenggam tangannya.

Dan apa yang terjadi? Kiki tiba-tiba terdiam.. Lalu ia tersenyum.. Ia terlihat senang sekali tangannya digenggam. Apalagi ketika saya mengusap-usap kepalanya. Ia tak hanya tersenyum, tapi tertawa. Sejak itu, Kiki selalu tersenyum lebar jika melihat saya. Bahkan ia mulai mengenali suara saya. Jika saya menyapanya dari jauh pun, ia langsung membalasnya dengan senyum yang lebar. Setiap saya melintas, Kiki yang akan duluan menyapa saya. Bahkan ketika saya keluar kamar, Kiki langsung memberikan senyumnya yang paling manis.

20160409_073424
Kiki…

Kiki, Ebeng, dan Robby mengingatkan saya bahwa bahagia itu sederhana. Bisa membuat orang lain tersenyum itu ternyata membahagiakan lho… Benar sekali yang dikatakan oleh Leo Buscaglia : “Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around.”

Anak-anak itu mungkin tak menyadari bahwa senyuman mereka telah mengubah hidup saya. Senyuman mereka membuat perjalanan berat yang harus saya tempuh menjadi tampak ringan. Mereka mengingatkan saya untuk mensyukuri hidup. Mereka menyadarkan saya bahwa sebuah senyuman yang tulus bisa menyentuh hidup orang lain. Senyum yang indah tak dihasilkan dari wajah yang sempurna, tapi dari hati yang bahagia dan penuh syukur. 

Semoga saya selalu ingat untuk bisa memberikan senyuman yang tulus dan penuh cinta pada setiap orang yang saya jumpai. Semoga senyum saya bisa menyentuh hidup mereka. Dan semoga saya juga selalu merasa tertantang untuk bisa membuat orang lain tersenyum bahagia. 

Everytime you smile at someone, it is an action of love, a gift to a person, a beautiful thing. (Mother Teresa)

Menjelang pulang mereka bertiga memberikan saya bonus istimewa : Ebeng memberikan saya tawa cerianya (Saya baru sekali itu mendengar Ebeng tertawa), Robby memberikan saya senyumnya yang paling lebar, dan Kiki tertawa sambil menggenggam erat tangan saya di dadanya.

Terima kasih adik-adikku… :’)

Aku selalu merindukan kalian…

img-20160223-wa0000.jpg

 

 


2 thoughts on “Dan Tersenyumlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s