Surat Buat Sahabat : Catatan Perjalanan ke Tanah Borneo

Sahabat…
Bagaimana kabarmu?
Aku berharap semoga kamu baik-baik saja..

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu tentang perjalananku ke Tanah Borneo.
Tapi perjumpaan terakhir kita tak memberikan banyak kesempatan untuk berbagi kisah.
Maka izinkanlah kutuliskan semua dalam halaman ini, semoga suatu hari kau punya waktu dan kesempatan tuk membacanya.

Sahabat,
Masih ingatkah kamu beberapa hari sebelum keberangkatanku aku minta kau doakan agar aku bisa menikmati perjalanan ini dengan penuh sukacita?
Ya.. Merencanakan perjalanan ini amat menguras emosiku..
Begitu banyak ketakutan dan kekhawatiran yang kuhadapi dalam benakku.
Perjalanan ini bagai tak direstui, hingga tak seperti perjalananku yang lain, aku melangkah dalam keraguan dan rasanya ingin sekali membatalkan perjalanan ini.

Tapi waktu itu kamu menyemangatiku..
Kamu bilang kamu akan mendoakanku..
Kamu bilang kamu menunggu cerita dan foto-fotoku.
Saat itu pulalah aku memohon agar Tuhan membuka mata hatiku untuk selalu melihat sisi positif dari apa yang akan kuhadapi nantinya..
Karena aku ingin mempersembahkan sebuah cerita indah bagimu.
Karena aku tak ingin membawa pulang setumpuk keluhan untuk dibagi denganmu.
Dan.. Tahukah kamu? Ketika aku memutuskan untuk membuka diriku, saat itu juga berbagai keajaiban datang silih berganti di hadapanku.

Sahabat..
Perjalananku kali ini tak kujalani sendirian.
Aku didampingi oleh seseorang, yang kalau boleh kukatakan, sangat berbeda denganku, bahkan amat bertolak belakang.
Aku tak bisa memilih dengan siapa aku harus pergi, tapi aku tahu aku bisa memilih untuk menikmati perjalanan ini, agar perjalanan ini tak menjadi semakin berat.
Berkali-kali aku berdoa.. Berharap Tuhan bisa memberikan keceriaan dalam hatiku.

Sahabatku..
Kali ini tak ada yang menjemputku dari Bandara Supadio..
Aku sengaja tak menyampaikan rencanaku kepada teman-teman di Pontianak karena aku tak mau merepotkan mereka.
Aku butuh waktu untuk bisa menenangkan diriku sendiri.
Aku pun butuh waktu untuk menikmati kota ini sendiri saja.
Dalam kesendirian ternyata aku bisa menikmati banyak hal baru yang menghampiriku silih berganti.
Karena sendirian pula akhirnya aku bisa masuk ke Rumah Radakng yang dulu belum bisa kusinggahi.
Aku ingin lebih mengenal adat dan tradisi Dayak, aku ingin sungguh paham semua tentang keluarga baruku.
Karena aku sungguh ingin menjadi bagian dari mereka.
image

Malam itu aku harus menempuh perjalanan menuju Nanga Pinoh menggunakan bus malam bersama rekan seperjalananku.
Hampir saja kami tertinggal bus, untung saja bus Tanjung Niaga yang akan kami naiki masih menunggu seorang penumpang yang belum datang hingga kami masih sempat membeli tiket dan langsung naik saat itu juga. Andai saja kami tiba beberapa menit lebih lambat, entahlah kami harus naik apa, karena bus-bus dari Pontianak menuju Nanga Pinoh berangkat hanya satu kali sehari pada waktu yang hampir bersamaan, agar mereka bisa saling menolong jika terjadi masalah di perjalanan.
Yap.. We’re not lucky.. We are blessed…

Aku amat menikmati perjalanan dengan bus malam ini. Space antar kursinya lega, cocok dengan aku yang berkaki panjang. Selain itu karena bus tidak penuh, aku jadi bisa menjajah dua kursi untuk duduk dan meletakkan ranselku. Hehehe..

Karena sangat excited, aku malah terjaga pada awal perjalanan. Aku mencoba mengidentifikasi daerah-daerah yang kami lewati, tapi tak berhasil. Tak ada palang-palang yang menunjukkan nama daerah. Aku lebih sering melihat kegelapan yang kosong daripada melihat rumah-rumah atau toko-toko yang bercahaya.
Sinyal handphone menjadi semakin lemah hingga aku memutuskan untuk mematikannya saja.

Baru saja aku bisa terlelap, bus berhenti dan masuk ke sebuah tempat peristirahatan di Sosok.
Aku mencoba membuka google maps untuk mengetahui posisi dari daerah bernama Sosok ini.
Sekitar setengah jam kami berhenti di tempat ini sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kembali.

Aku lagi-lagi terjaga hingga memasuki kawasan Sanggau.
Aku tersenyum, teringat setengah tahun yang lalu nama Sanggau hanya sekedar nama sebuah kabupaten di peta Kalimantan Barat. Namun kini aku sudah berada di atasnya.

Tak berapa lama aku akhirnya bisa memejamkan mata kembali, dan rasanya aku belum puas terlelap ketika aku dibangunkan oleh kawanku.
Ya.. Kami sudah tiba di Nanga Pinoh.

Jam masih menunjukkan pukul empat kurang. Bahkan ayam pun belum ada yang berkokok. Kami dijemput oleh driver biara ALMA karena kami akan singgah selama semalam disana.

Sahabat..
Ternyata tempat yang kusinggahi adalah sebuah panti asuhan yang sebagian besar penghuninya berkebutuhan khusus.
Berkali-kali aku merasa bingung bagaimana berkomunikasi dengan mereka.
Aku salut sekali melihat para suster yang amat sabar menghadapi mereka satu persatu, dengan kebutuhan masing-masing yang berbeda. Kebanyakan anak-anak itu tak bisa mandiri, jadi kamu bisa bayangkan betapa beratnya mengurus mereka, tak hanya merawat fisik, tapi juga memperhatikan perkembangan mental mereka.
Aku berkali-kali teringat kamu. Teringat percakapan kita beberapa minggu yang lalu tentang kesempatan bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Tentang diskriminasi yang mereka alami, betapa mereka sering luput dari perhatian kita.

Tapi.. dalam keterbatasannya mereka masih bisa bahagia. Meskipun definisi kebahagiaan kita pasti berbeda dengan kebahagiaan mereka. Mereka bisa tersenyum, mereka bisa tertawa untuk hal-hal yang amat sederhana. Padahal kita sering kali mengeluh atas kesulitan yang kita hadapi. Kita benar-benar tak tahu bersyukur ya?

Kamu harus merasakan sendiri betapa bahagianya bisa membuat mereka tertawa. Mungkin kamu akan tertawa melihatku menangis karena berhasil membuat mereka tertawa. Tapi kamu akan tahu jika kamu mengalaminya sendiri. Setelah berjumpa dengan mereka, kita akan memandang hidup dengan cara yang amat berbeda.

Mereka mengingatkan aku bahwa cinta tak perlu diungkapkan dengan rentetan kata-kata.
Bahwa seulas senyum bisa menyentuh hidup orang lain..
Bahwa komunikasi tak hanya sekedar tentang bahasa..
Semoga suatu hari aku bisa mengajakmu kesini untuk bersama-sama menyaksikan keajaiban ini..

image
Regi.. Salah satu anak down syndrome

Di halaman panti ada sebuah ayunan, ketika aku mendekati ayunan itu,ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 3 tahun yang mendekatiku. Ia hanya diam saja dan tidak menjawab apapun pada setiap pertanyaanku. Aku menunjuk ayunan dan bertanya apakah ia mau naik? Ia hanya diam saja, dan tetap diam ketika aku menggendongnya untuk naik ayunan.
Ternyata anak ini jago sekali. Ia bisa berdiri sambil berayun di atas ayunan. Hingga aku ngeri sendiri, takut ia jatuh. Aku menjaganya dari samping dan mendadak aku mengulurkan tangan, mencoba untuk menggendongnya. Eh.. ternyata dia mau kugendong. Hahaha.. Aku kemudian memeluk dia sambil duduk di atas ayunan. Tahukah kamu apa yang dia lakukan? Ia memelukku dan meletakkan kepalanya di dadaku hingga terlelap sambil berayun. Ah.. menyenangkan sekali memeluk seorang anak kecil seperti ini.

Seorang guru SLB yang lewat di depan kami lalu memberi tahu nama anak itu : Atin. Ah.. akhirnya aku harus mengembalikan Atin ke rumahnya karena takut orang tuanya kehilangan anaknya yang ganteng ini. Padahal aku masih ingin berayun sambil memeluk Atin.
image

Setelah satu malam singgah di Pinoh, keesokan harinya kami bertolak menuju Begori.

Sahabat, apakah kamu ingat sebuah pepatah, “Sifat asli seseorang akan terlihat ketika kita menjalani perjalanan jauh dan sulit bersamanya.” Ternyata pepatah itu seratus persen tepat..
Tapi, nanti saja aku ceritakan tentang itu karena ada banyak hal yang lebih menarik untuk kuceritakan untukmu.

Jauh hari sebelumnya kami sudah diberi kontak pemilik speed boat (sepit), namanya Pak Abun. Ketika di Pinoh aku sempat berkontak dengan beliau untuk menentukan waktu dan di lanting belakang toko mana kami harus bertemu. Oh ya, lanting itu adalah sejenis rumah terapung yang terletak di tepi sungai.

Pagi itu, ketika kami tiba di tempat yang dimaksud, kami dikerubungi para driver sepit. Mereka bilang Pak Abun sedang tidak stand by. Lho.. padahal kan kami sudah janjian? Persis seperti di terminal bus, mereka mulai memaksa kami untuk memilih salah satu sepit mereka. Kami mulai resah dan bingung. Kalau Pak Abun tak ada kami harus naik sepit yang mana?

Aku teringat satu nomor tak dikenal yang sejak kemarin meneleponku namun tak pernah sempat kuangkat. Mungkin nomor itu ada hubungannya dengan Pak Abun. Syukur Puji Tuhan.. Nomor itu milik Pak Econg, asisten Pak Abun. Fyuh.. Pak Econg meminta kami segera turun ke lanting yang berfungsi jadi dermaga para sepit.

Tantangan pertama terbentang di depan mataku. Kami harus meniti potongan kayu untuk bisa sampai di lanting. Kayunya kecil, mungkin hanya selebar satu jengkal saja. Kamu pasti tertawa puas jika melihat wajah sok tenangku. Kamu kan tahu aku punya masalah keseimbangan, apalagi kali ini aku harus memegang banyak barang. Aku hanya bisa menarik nafas panjang sambil mohon ketenangan. Ah.. andai saja kamu ada disini, pasti aku sudah menarik-narik tanganmu minta ditunggui, atau dipegangi.

Aku kebagian menyeberang paling akhir, dan tak ada yang tersisa untuk memegang tanganku. Aku melangkah sedikit demi sedikit meniti kayu itu, lalu mulai menambah kecepatan agar bisa segera tiba di seberang.
Ternyata.. Aku bisa.. Titian pertama berhasil kulalui. Aku semakin percaya diri untuk meniti kayu kedua, ketiga, hingga akhirnya aku berhasil mencapai sepit kami.
Pada titik ini aku tersadar bahwa aku telah mengawali sebuah petualangan seru. Rasanya tak sabar untuk menempuh tahapan berikutnya.

Cuaca pagi itu amat cerah dan bersahabat padahal tadi malam hujan turun dengan lebat hingga dini hari. Tak seperti yang kukhawatirkan sebelumnya, ternyata aku sungguh menikmati perjalanan dengan sepit. Aku duduk di kursi paling belakang bersama barang-barang belanjaan seorang Bapak yang duduk di depan. Karena hanya sendirian di belakang aku jadi leluasa bergeser ke kiri dan kanan untuk mengambil foto sepanjang perjalanan.

image

Pemandangan Sungai Melawi amat menakjubkan, aku menyaksikan para wanita mengendarai sendiri perahu panjang mereka menyusuri sungai lebar dengan santainya, bagai mengemudikan sepeda saja. Lalu aku juga menyaksikan perangkat penambangan emas yang berderet di tepi sungai. Tapi yang paling menakjubkan adalah perasaan bahwa aku begitu kecil di hadapan sungai dan langit yang membentang luas. Karya tanganNya amat mengagumkan. Pasti Ia menciptakan tanah Borneo ini sambil tersenyum.
image

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataan, di tanah Borneo ini aku merasa awan-awan amat dekat dengan bumi, seolah kita bisa meraihnya hanya dengan menjulurkan tangan. Di Pontianak, di Pinoh, dan kini di Sungai Melawi pun aku merasakannya.

Lama-lama hembusan angin membuatku mengantuk. Aku akhirnya tertidur lelap bersandarkan kardus barang. Inilah kelebihan yang sangat aku syukuri, dimanapun dan dalam kondisi apapun aku selalu bisa terlelap meski sejenak.

Aku terbangun ketika sepit merapat di Nanga Nuak untuk mengisi BBM. Kulihat jam, ternyata kami sudah menempuh perjalanan selama satu setengah jam.
image

Disini kami makan bakmi yang sudah kami bungkus dari Nanga Pinoh sambil menunggu BBM sepit terisi penuh. Aku sempat terperangah ketika masuk toilet. Lantai toilet berukuran 1 m x 1 m ini hanya tersusun dari papan-papan kayu. Pada bagian tengahnya tidak dipasang papan, jadi apa yang kita buang akan langsung bercampur dengan aliran sungai. Seru kan.. Untung saja aku hanya buang air kecil.. Hehehe.. Coba bayangkan jika aku membuang yang lain… hehehehe.. Mungkin kamu pun akan terkejut dengan toilet sederhana ini.

Sekitar setengah jam kami merapat disini untuk meluruskan kaki, lalu kami melanjutkan perjalanan lagi.

Sahabat.. sedih sekali mendapati kenyataan bahwa warga yang hidup di tepi sungai justru tak sadar lingkungan. Mereka membuang sampahnya langsung ke sungai. Plastik, kertas, sisa makanan, dan apapun limbahnya akan langsung mereka lemparkan ke sungai. Mereka bilang tak apa buang sampah ke sungai karena sampahnya akan segera terbawa aliran sungai. Hmm… padahal sampah mereka bisa meracuni makhluk hidup di sungai kan? Lalu kalau semua penduduk tepi sungai berpikir hal yang sama, maka akan ada banyak sekali sampah yang bisa menimbulkan pendangkalan sungai. Sampah-sampah itu akan terkumpul di hilir, mencemari laut, mengotori pantai. Hmm.. kita orang hilir yang sering terkena banjir pasti hafal betul tentang itu kan? Bagaimana ya membuat mereka sadar bahwa sungai ini adalah harta mereka? Jadi mereka harus menjaga sungai ini seperti sebuah harta yang amat berharga.

Dua jam kemudian kami tiba di Serawai untuk menurunkan Bapak yang duduk di depan beserta barang-barang bawaannya. Kami harus turun juga dari sepit karena barang-barang si Bapak juga diletakkan di bawah kursi kami. Menurut driver sepit, Begori masih sekitar setengah jam perjalanan lagi dari sini.

Kami menghubungi seorang Suster yang bertugas di SMP Bukit Raya, dan Suster menyampaikan pesan bahwa Romo Paroki meminta kami naik dulu di Serawai ini.
image

Perjalanan menuju paroki hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit di bawah mentari yang terik. Kami disambut dengan menu makan siang yang amat lengkap dan menggoda. Ah..padahal kami baru saja makan, tapi karena melihat ikan dan sayur pakis aku jadi tergoda untuk makan lagi. Selain itu disini ada tradisi untuk tidak menolak makanan yang disajikan tuan rumah. Jadi jangan aneh ketika melihat badanku melebar setelah pulang dari sini.

Kami berbincang sejenak dengan Romo Thomas tentang parokinya yang amat luas, stasinya berjauhan, dan sebagian besar harus ditempuh lewat jalur air. Beberapa kali Romo harus turun dari sepit karena riam yang mengganggu perjalanannya. Ia harus berjalan menapaki dasar sungai. Awalnya hanya selutut, lalu sepinggang dan kemudian hampir sedada dalamnya. Bayangkan betapa sulit mereka yang bertugas di daerah terpencil seperti ini. Tapi.. Mereka bahagia.. Mereka amat penuh semangat.. Salut sekali.. Kita sanggup tidak ya tinggal dan berkarya di tempat sesunyi ini?

Romo juga bercerita tentang ancaman pertambangan swasta dan perkebunan sawit yang mulai memasuki wilayah ini. Dulu pernah ada seorang Romo yang mengedukasi warga agar tidak mengizinkan pebisnis luar masuk ke daerah mereka. Karena sumber daya mereka akan dikeruk habis-habisan dan pada akhirnya mereka tak dapat apa-apa selain kerusakan alam.

Ketika aku pulang ke Bogor, aku mendapat berita bahwa pemerintah menetapkan moratorium perkebunan sawit.. Ah..syukurlah..
Kamu tahu tidak? Keberadaan perkebunan sawit itu merusak. Hutan perawan dibuka demi membuka kebun sawit, lalu kesuburan tanah akan menurun karena sawit sangat rakus menghisap nutrisi tanah, dan sebagai akibat deforestasi, banyak hewan hutan yang kehilangan habitatnya.

Tapi… karena kebun sawit inilah warga di daerah terpencil bisa memiliki jalan, walaupun hanya jalan berbatu yang seadanya. Mereka juga yang memperkenalkan teknologi pada warga disini. Dan banyak dari warga yang terangkat tingkat ekonominya karena bekerja di perkebunan sawit. Ironis memang. Ah.. pasti kamu lebih paham mengenai hal ini.

Aku hanya tak ingin Kalimantan yang lebat ini menjadi gundul, dan negeri kita tak punya paru-paru lagi. Aku hanya ingin generasi sesudah kita masih bisa menikmati hutan tropis, bernafas dengan bebas, dan menikmati perjalanan di atas sungai besar seperti yang hari ini kualami.

Aku sudah jatuh cinta pada tanah ini, pada sungai ini, pada rimbunnya hutan, pada keramahan setiap orang yang kujumpai, pada awan-awan yang menggodaku untuk menggapainya. Aku penasaran, apakah kau juga akan jatuh cinta pada semua yang ada disini?
Andaikan saja aku bisa menempuh perjalanan ini bersamamu. Ingin sekali aku menunjukkan semua keajaiban ini ke hadapanmu. Kau harus menyaksikannya langsung, karena aku tak bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk bisa melukiskan semua ini.
image

Kuakhiri dulu kisahku sampai disini. Aku akan melanjutkan cerita perjalanan ini dalam tulisanku yang selanjutnya.

Kisah Tentang Borneo


One thought on “Surat Buat Sahabat : Catatan Perjalanan ke Tanah Borneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s