Sahabat Untuk Selamanya…

Aku mencuri pandang pada pria yang duduk di samping mejaku. Wajahnya tampak ruwet. Ya, kami memang sama-sama sedang kusut dengan pekerjaan kami yang saling berhubungan. Jadi kalau dia ruwet, pastilah aku juga dalam keadaan sama ruwetnya.

Pria itu bekerja di departemen Produksi. Tentu sudah jelas apa tugasnya. Sedangkan aku di bagian Quality Assurance yang bertugas memastikan kualitas produk, sequence produksi, hingga ketepatan waktu pengiriman. Jadilah sepanjang waktu kami harus selalu saling berhubungan.

Orang-orang bilang departemen kami selalu bertikai. Hmm.. mungkin memang sudah kodratnya bahwa Produksi dan Quality sejak dulu tidak pernah akur.
Tapi untunglah persahabatanku dan pria di sebelahku ini lebih kental daripada perselisihan antara departemen kami yang tak ada habisnya.

Delapan tahun lalu kami bersua di pabrik ini. Aku baru bekerja delapan bulan ketika dia datang sebagai karyawan baru. Tak butuh waktu lama, kami bisa langsung akrab. Dia mencarikanku kosan baru setelah aku tergusur dari kosanku yang lama. Kami sering nonton bareng, meski tentu saja dengan teman-teman yang lain. Kami sering pulang bareng, duduk satu bangku di bus jemputan, makan bareng, jalan kaki bareng, ke gereja bareng, bahkan nongkrong bareng setiap pagi untuk menunggu bus jemputan datang.

Aku tahu dia sudah punya kekasih (waktu itu), dan aku juga tak pernah punya perasaan lebih padanya. Kalau boleh jujur, bersamanya selalu membuatku merasa nyaman, mungkin karena usianya yang dua tahun lebih tua dariku. Kami selalu bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan di pabrik, bos yang nyebelin, makanan, teman-teman, bahkan kadang-kadang kami bicara juga tentang hal-hal yang berat seperti politik (walaupun pada level ecek-ecek). Tak jarang juga ia mengkritik penampilanku yang “nggak cewek banget”.

Ketika kekasihnya mengkhianatinya, ia menjadi sosok yang sangat pendiam dan angker. Aku kehilangan tawanya yang heboh itu, tawa yang pernah membuat bosku membanting pintu gara-gara kami terlalu berisik saat istirahat siang. Seorang teman bilang bahwa kekasihnya berselingkuh dengan pria lain yang juga ia kenal. Alasannya klasik : LDR.

Tak lama setelah ia putus, tiba-tiba satu pabrik menggosipkan kami pacaran. Kami berdua tenang-tenang saja menanggapinya, bahkan masih duduk sebangku di bus dan makan bareng di warteg walau disorakin dan diciyee ciyee. Orang-orang bilang muka kami mirip, bahkan ibu kosku sempat menganggap dia kakakku. Entah darimana miripnya.. Dari Hongkong kali yaa…

Hingga akhirnya dia punya kekasih baru dan berencana menikah. Tiba-tiba aku merasa takut kehilangan. Selama ini aku mengamati bahwa hubungan persahabatan antara seorang wanita dengan pria beristri akan selalu berkonotasi negatif. Aku ingin kami tetap bersahabat dekat seperti sebelumnya, tapi aku juga tahu hubungan persahabatan kami bisa saja menyakiti istrinya nanti.

Kekhawatiran itu sempat membuatku galau selama beberapa minggu, meski di hadapannya aku tak pernah memberi tanda apa-apa. Kami masih duduk sebangku di bus jemputan, masih makan bareng di warteg depan kosan. Tapi kali ini ia jadi lebih cerewet.. Ia banyak bercerita tentang rencana pernikahannya, tentang persiapan upacara adat, tentang rumitnya prosedur perkawinan gereja dan catatan sipil. Meski semua hal itu terkesan membuatnya repot dan lelah tapi aku mendengar nada bahagia dalam suaranya. Apalagi ketika ia menunjukkan foto pre weddingnya. Ah.. calon istrinya memang sangat ayu..

Aku cemburu? Tidak.
Aku hanya takut kehilangan.. Kekhawatiran itu sempat terlontar pada seorang senior, dan akhirnya aku belajar untuk merelakan, juga belajar menjadi sahabat yang baik untuk sahabatku dan juga bagi istrinya.
Ada sebuah nasehat yang selalu kuingat hingga kini : “Bijaksanalah dalam menanggapi setiap cerita sahabatmu tentang istrinya. Jangan ikut campur dalam kehidupan rumah tangga mereka. Jangan berkomentar buruk tentang istri sahabatmu..”

Kembali ke sore ini..

Aku memandang pria di sebelahku yang masih sibuk menuliskan draft jadwal produksi, sambil menghitung jumlah hari dan target produknya. Beberapa kali ia menggaruk kepalanya dan mencoret tulisannya. Ah.. Tak terasa tahun ini usia perkawinannya sudah enam tahun.

Kami masih bersahabat dengan bentuk yang berbeda. Kami memang tak lagi duduk sebangku di bus jemputan, tak lagi makan bareng di warteg, tak pernah nonton bareng atau nongkrong bareng menunggu jemputan, karena sekarang tempat tinggal kami berjauhan.

Tapi kami masih berbagi cerita tentang banyak hal. Kadang ia suka kelepasan bercerita tentang istrinya, dan aku harus menahan diri untuk tidak berkomentar buruk tentang istrinya.

Kami juga masih cela-celaan seperti dulu, masih hobby duduk di pojokan saat meeting dan asyik cekikikan sendiri (lalu dipelototin bos dan salah satu harus pindah tempat duduk). Kami masih sering berbagi makanan, patungan arisan, patungan traktiran, tukeran buku, titip beli barang, bahkan main tebak-tebakan.
Yah.. bisa dibilang tak banyak yang berubah dari persahabatan ini.

Karena persahabatan ini jugalah, kami tidak saling menunjuk jika ada masalah dalam pekerjaan. Kami masih bisa ketawa-ketiwi saat situasi mulai tegang. Kami bisa bicara dengan kepala dingin ketika muncul beda persepsi tentang kualitas produk. Kami sering berdebat tapi selalu berakhir dengan tawa dan ledekan. Persahabatan ini telah membuat pekerjaan yang berat menjadi ringan dan tak mengerikan lagi. Karena kami tahu, kami tak akan pernah saling menjatuhkan.

Dan sejak enam tahun yang lalu, aku punya sahabat baru dalam hidupku : istri sahabatku.

Mereka berdua adalah berkat yang indah dalam hidupku..

Sahabat untuk selamanya..
Berbagi dan saling menjaga..
Kau dan aku sahabat..
Untuk selamanya.. Setia..

Sahabat untuk selamanya..
Bersama untuk selamanya..
Kau dan aku sahabat..
Untuk selamanya.. Setia..

image


5 thoughts on “Sahabat Untuk Selamanya…

  1. Akupunnn saat kerja ini punya sahabat cowo yg bikin sering ditegor atasan krn berisik kl ngobrol. Yg sempet bikin suamiku cemburu heuheue
    ..tp iya sepeerinya solusi terbaik agar ga cemburu2an adalah menjandikan pasangan dan sahabat kita jd sahabat jg 😘

    Smoga persahabatan kalian bertiga tetep langgeng yaa

    1. Amin… Kak Opi.. semoga Kak Opi dan sahabat juga langgeng ya… Sekali2 jalan2 bareng Kak… ajak suami dan sahabat ke tempat yg mereka berdua suka… Supaya makin akrab… hehehe…semangat Kak Opi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s