Nagasaki : Tak Hanya Tentang Sebuah Buku

Ada banyak buku yang pernah saya baca namun tak banyak yang isinya begitu membekas di hati. Salah satunya adalah tulisan Craig Collie yang berjudul “Nagasaki”.

Saya menemukan buku itu dalam bazar buku Big Bad Wolf awal Mei lalu. Saya berkali-kali melewatkan buku itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Covernya tidak eye catching bahkan cenderung mengerikan. Tapi ketika saya melalui rak display buku sejarah untuk terakhir kali, entah bagaimana akhirnya saya mengambilnya dan meletakkannya di keranjang belanja bersama dengan buku-buku yang lain.

Meskipun ia menjadi pilihan terakhir, tapi ia malah menjadi buku pertama yang saya baca. Mungkin karena saya tertarik dengan foto-foto “mengerikan” di bagian tengahnya. Dan saya tahu saya sangat beruntung telah memilih buku itu, karena baru membaca bab pertama saja saya sudah dibuat tercengang. Collie bisa menuliskan berbagai detail yang membuat kita bagai menyaksikan langsung setiap kejadian yang ia kisahkan, meskipun bagi saya cukup sulit untuk bisa membaca buku ini dengan lancar karena kemampuan Bahasa Inggris saya yang masih di bawah standar.

image

Cerita dimulai dengan suatu pagi yang biasa di Hiroshima, ketika tiga orang pegawai Mitsubishi Shipyard bergegas menuju ke pabrik mereka. Lalu fokus ceritanya berpindah ke Tinian sebagai markas bagi tim Amerika yang akan menjatuhkan bom atom atas Jepang. Pagi yang indah di Hiroshima itu langsung berubah menjadi neraka setelah Little Boy diledakkan di atas kota mereka. Untuk pertama kalinya saya membaca buku sambil membuka google maps hanya untuk bisa mengetahui lokasi-lokasi yang dikisahkan oleh Collie.

Tak berhenti di Hiroshima, rangkaian cerita lalu bergerak ke Nagasaki, Postdam, Moskow, Tokyo, Tinian, dan Washington. Meskipun berpindah-pindah namun Collie berhasil membuatnya begitu halus bagai menyaksikan pergantian adegan-adegan film di layar bioskop. Collie mendeskripsikan setiap tokoh yang terlibat dalam masa-masa akhir Perang Pasifik ini dengan sangat detail, tak hanya para pemegang kekuasaan, tapi juga para warga biasa yang menjadi korban di tanah Jepang. Collie bisa menghidupkan setiap tokoh dengan profesi dan keseharian masing-masing. Jadi saya sungguh merasa menyaksikan kehidupan mereka pada masa itu.

Semakin lama saya semakin tenggelam dalam buku ini bahkan mulai merasa akrab dengan nama-nama Jepang yang sulit dihafalkan. Penderitaan, kelaparan, dan ketakutan mereka juga bisa tergambar dan terasakan. Saya bahkan merasa gemas dengan para pimpinan militer Jepang yang tetap memilih untuk melanjutkan perang padahal pilihan itu sudah tidak realistis lagi. Saya juga merasakan kebimbangan Sweeney menjelang pelaksanaan tugasnya untuk menjatuhkan Fat Man, dengan dua alternatif target : Kokura atau Nagasaki.

Ketika kisah sudah memasuki detik-detik menjelang kehancuran Nagasaki, saya menemukan seorang tokoh bernama Takashi Nagai. Ia seorang ahli radiologi yang menderita leukimia karena sering terpapar sinar X dalam melakukan pekerjaannya. Istrinya bernama Midori, seorang wanita asli Nagasaki, yang ayahnya adalah pemilik rumah tempat Nagai tinggal selama di Nagasaki.

Nagasaki adalah salah satu area dengan mayoritas umat Katolik di Jepang. Mereka mempertahankan iman mereka selama berabad-abad meskipun mengalami penganiayaan dan pengejaran dari kekaisaran Jepang. Mereka diperkenalkan dengan Iman Katolik oleh St. Fransiskus Xaverius, yang dikenal sebagai misionaris bagi bangsa-bangsa di Asia. Midori dan keluarganya adalah kelanjutan generasi dari mereka yang berhasil bertahan dari penganiayaan sebelum restorasi Meiji tahun 1868. Nagai sendiri awalnya adalah penganut Shinto. Ia baru dibaptis pada tahun 1934 dan memakai nama baptis Paulus, yang berasal dari nama Santo Paulus Miki, salah satu martir Nagasaki. Banyak hal yang membuatnya memilih untuk memeluk Iman Katolik antara lain kematian ibunya, tulisan-tulisan Blaine Pascal, dan lonceng Katedral Urakami yang berdentang setiap waktu doa Angelus tiba.

Tanggal 8 Agustus 1945, satu hari sebelum Fat Man dijatuhkan, Midori baru saja pulang setelah mengungsikan anak-anak mereka dan ibunya ke luar kota yang kondisinya dinilai relatif lebih aman. Ketika sirine peringatan serangan udara berbunyi, dokter Nagai yang baru terjaga segera berlari bersama istrinya menuju shelter terdekat. Sambil menunggu kondisi aman, mereka berbincang tentang rencana mereka untuk merayakan hari raya Santa Maria diangkat ke Surga yang akan dirayakan satu minggu berikutnya. Bahkan mereka merencanakan untuk mengaku dosa di Katedral Urakami keesokan harinya.

Setelah kondisi aman diumumkan, Nagai bergegas berangkat menuju tempat kerjanya di Nagasaki Medical College, meskipun kondisi kesehatannya sudah semakin memprihatinkan hingga ia harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Pagi itu ia mendapat tugas untuk menjadi dokter jaga hingga esok harinya untuk mengantisipasi kondisi darurat akibat serangan udara. Setelah melangkah beberapa meter dari rumah, ia baru ingat bahwa bekalnya tertinggal di rumah. Ia segera kembali dan menemukan istrinya tengah menangis tersedu-sedu. Entah apa sebabnya Midori menangis. Mungkin karena ia khawatir dengan kondisi suaminya yang semakin parah, bahkan telah divonis hanya memiliki sisa waktu sekitar tiga tahun saja. Atau mungkin juga ia khawatir dengan nasib anak-anaknya setelah kematian suaminya nanti.

Tapi, Tuhan ternyata punya rencana lain bagi Midori. Keesokan harinya ketika Nagai masih bertugas di Nagasaki Medical College, bom atom dijatuhkan di atas kota mereka. Nagai, yang saat itu ada dalam radius 500 meter dari epicentrum berhasil selamat meski sempat terjebak di dalam gedung. Tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang sangat sakit dan terluka,bahkan hampir mati karena kehabisan darah, ia bersama para dokter dan perawat yang selamat berupaya melakukan pertolongan pertama bagi para korban yang lain.

Ia tetap berupa menolong para korban meskipun hatinya sangat ingin mencari tahu kondisi istrinya. Keterbatasan peralatan dan tenaga medis membuatnya terus bertahan melakukan pertolongan dengan mengabaikan tubuhnya yang semakin drop.

Dua hari setelah kejadian, akhirnya Nagai mendapat bantuan tenaga medis dari luar kota, dan barulah ia berupaya untuk mencari jejak istrinya. Namun apa yang ia temukan membuat hatinya hancur. Rumahnya hancur dan ia menemukan sisa tubuh istrinya yang sudah hangus terbakar. Sebuah rosario meleleh terdapat pada telapak tangan istrinya yang sudah hampir menjadi arang.

Saya pun ikut terhenyak membaca adegan demi adegan itu. Tokoh Nagai dan Midori memberikan kesan berbeda dari tokoh-tokoh yang lain. Saya mencoba mencari lebih lanjut tentang mereka. Pasca peristiwa itu, Nagai membawa anak-anak dan mertuanya kembali ke Nagasaki. Mereka tinggal di sebuah pondokan kecil, dimana Nagai dalam kondisi leukimianya yang semakin parah, membuat berbagai karya dan tulisan tentang Nagasaki, tentang hidupnya, tentang imannya, tentang mereka yang berhasil selamat dari neraka pagi itu, juga tentang dampak radiasi atom bagi kesehatan manusia.

 Hingga akhir hidupnya pada 1 Mei 1951, ia terus menyuarakan kedamaian dan cinta kasih. Ia begitu keras mengkampanyekan bahwa tenaga atom harus digunakan untuk mendukung kehidupan manusia, dan bukan untuk memusnahkannya.

Nagai juga berbicara tentang penderitaan dan pengorbanan. Meskipun banyak orang yang menentangnya, namun ia selalu berkata bahwa penduduk Nagasaki adalah korban yang berjasa untuk menghentikan peperangan. Pengorbanan mereka di Nagasaki mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak lagi di tempat lain. Apa yang telah terjadi atas mereka adalah kehendak Tuhan, dan Nagai melihat penderitaan sebagai sesuatu yang mulia, karena Yesus sendiri telah memilih jalan penderitaan agar manusia bisa diselamatkan.

image

Menjelang akhir hidupnya, ia dikunjungi oleh Marie Curie dan Kaisar Hirohito di pondoknya itu. Ia menamai pondoknya sebagai Nyokodo (“As Yourself Hall”), yang merupakan bagian dari sabda Yesus : “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Ia menyerahkan tubuhnya untuk diautopsi oleh para siswa Nagasaki Medical College agar mereka bisa melihat kondisi akhir tubuh dari seorang penderita leukemia. Jasadnya kemudian dimakamkan di Pemakaman Internasional Sakamoto.

Hampir semua tokoh dalam buku itu berakhir tragis. Hingga seluruh kisah selesai saya baca, perasaan saya masih campur aduk bagai mengharapkan akhir kisah mereka bisa dibelokkan menjadi akhir yang indah.

Katedral Urakami hancur lebur diterjang bom atom, kedua menaranya roboh dan menimpa para umat Katolik yang hendak mengaku dosa pagi itu beserta kedua imam yang bersiap mendengarkan pengakuan mereka. Kedua loncengnya terkubur reruntuhan. Salah satu lonceng masih utuh dan berhasil diselamatkan oleh warga Nagasaki. Mereka berupaya untuk menggantungkan lonceng itu, dan pada malam natal 1945 lonceng itu berdentang lagi memberikan kehangatan dan harapan baru di hati warga Nagasaki.

The Bells of Nagasaki (Nagasaki No Kane) adalah sebuah lagu yang digubah pada tahun 1949, terinspirasi dari buku Nagai yang berjudul sama.
Inilah terjemahan Bahasa Inggris dari lagu itu :

Although I see the sky is so clear and blue,
I am sad that I feel only sorrow in my heart.
Just like a wave rolling in the sea,
Nothing can stay in this world.
But I see tiny flowers growing in the field.
It’s so comforting, It’s so healing.
The Nagasaki bell, ah the Nagasaki bell,
Is now ringing in the sky.

My loved one has gone forever to heaven,
I’m left alone and it’s time for me to go on.
Just in my hand I’m holding on the Rosario left behind,
I see white teardrops falling on its golden chain.
It’s so comforting, It’s so healing.
The Nagasaki bell, ah the Nagasaki bell,
Is now ringing in the sky.

Confessing the guilty in my heart,
Growing night and clear moon.
Even on a pool of a poor house,
A respectable white Maria hung up.
It’s so comforting, It’s so healing.
The Nagasaki bell, ah the Nagasaki bell,
Is now ringing in the sky.


Pada tahun 2013 sebuah film berjudul All That Remains yang bercerita tentang kehidupan Takashi Nagai direlease. Silakan buka link ini untuk melihat trailernya.

All That Remains Trailer

Kehidupan, karya, dan pesan dari Takashi Nagai tetap menggema setelah 70 tahun peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Pesan damai yang digemakannya tetap aktual hingga kapanpun. Semoga tak ada Hiroshima dan Nagasaki lainnya. Semoga tak ada Fat Man atau Little Boy lain yang dijatuhkan di atas bumi ini.

Semoga setiap dentang lonceng Katedral selalu mengingatkan kita akan pesan perdamaian itu.


5 thoughts on “Nagasaki : Tak Hanya Tentang Sebuah Buku

  1. Duh kayaknya aku nulis komentar ga selesai deh waktu abis baca postingan ini Na, jd bukannya keposting malah ilang hehehe…
    Postingan bagus Na… cuma kalo harus dateng kesana, waah harus ngumpulin mental dulu. Ntar kejadian kayak abis ke tuol sleng dan choeung ek, so hollow and sad. Tp baca ini, semiga kamu one day bisa sampai ke nagasaki ya Na…

      1. Nah… kayaknya perlu journey ke dalam diri deh supaya tau kenapanya hehehe. Tetapi yang penting jangan jadi galau dengan baca ato dateng kesana hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s