Aku Pulang : Catatan Perjalanan ke Tanah Borneo

Sahabat,

Izinkan aku melanjutkan kisah perjalananku ke Tanah Borneo. Mungkin kita tak akan berjumpa dalam waktu yang lama. Mungkin kita berjumpa, tapi tak akan ada cukup waktu bagiku untuk mengisahkan cerita ini padamu. Semoga kau berkenan membaca tulisanku ini.. Mohon maaf aku telah menunda kisah ini sekian lama. Kini akan kuceritakan semuanya, sebelum ingatanku memudar.

Suster Christi yang menjumpai kami di Pastoran Serawai mengajak kami berkeliling ke asrama SMP Bukit Raya. Kami berjumpa dengan adik-adik yang menatap kami dengan malu-malu namun akhirnya berani menyapa kami dengan ramah. Ternyata seperti di Pinoh, Serawai pun sering sekali mengalami pemadaman listrik. Siang itu kami harus bercengkerama dalam suasana gelap tanpa listrik.

Pada akhir kunjungan kami, Suster Christi memelukku erat sambil berkata, “Nikmati saja perjalanannya, pasti kamu tak akan merasa lelah..” Entah mengapa beliau mengatakan itu, mungkin wajahku sudah menampakkan betapa lelahnya hatiku, meski tubuh ini tak sedikitpun merasa lelah. Teman seperjalananku dari Pontianak sudah beberapa kali membuatku menarik nafas panjang hendak mengeluh tanpa kata. Untunglah dua rekan yang ikut dari Nanga Pinoh, Ibu Imelda dan Suster Winda berhasil menenangkan hatiku dengan cara mereka sendiri.

Hujan pun mulai membasahi Serawai, semakin lama semakin deras. Kami sudah ditunggu di Begori yang berjarak sekitar 30 menit ke arah hulu Sungai Melawi, namun kami belum bisa beranjak dari pastoran Serawai karena derasnya hujan. Sekitar pukul setengah empat sore, hujan mulai reda dan kami baru berani turun ke lanting untuk naik sepit. Titian kayu yang selalu membuatku ragu kini semakin membuatku merasa takut. Aku mencoba tenang, melepaskan sepatu, dan melangkah dengan sok yakin. Perlahan namun pasti, akhirnya aku bisa naik ke sepit tanpa menimbulkan kehebohan.
image

Di tengah sungai, hujan kembali turun bahkan semakin deras. Driver sepit hendak menurunkan terpal agar kami tak kebasahan, namun dilarang oleh temanku karena ia takut sepit akan kehilangan keseimbangan dan terbalik. Ah, padahal driver sepit pasti sudah berpengalaman melakukan hal ini bukan? Alhasil kami basah kuyup. Aku menutupi kepalaku dengan jaket, namun itupun tak membantu, tubuhku tetap basah terkena air hujan yang terbawa bersama angin dari depan sepit.

Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Begori. Rombongan penyambut sudah siap menunggu pada sebuah lanting di bawah derasnya hujan. Mereka dengan gesit mengambil dan membawakan tas-tas kami. Ini membuatku merasa tak enak hati. Perjuangan masih belum selesai, ada satu titian kayu lagi yang harus kulalui, kali ini lebih berat karena sebagian kayu tenggelam akibat sungai yang pasang. Aku menggunakan rumus yang sama dengan sebelumnya : tarik nafas, ucap doa, dan tenangkan diri. Ketika aku sudah meniti setengah titian, entah mengapa mereka yang di lanting berteriak dan membuatku sangat terkejut. Untung saja aku tidak kehilangan keseimbangan dan berhasil tiba di seberang dengan selamat. Kami masih harus meniti sebuah tangga kayu yang licin untuk naik ke kampung. Akhirnya aku mendapat pertolongan dari seorang bapak tua yang memegangi tanganku selama menaiki tangga. Lucunya aku tak mengerti sama sekali apa yang dikatakannya padaku. Orang-orang bilang bapak itu sedang mabuk tuak. Hahaha.. entahlah.. Memang sih dia berbau alkohol.

Sahabat, inilah desa Begori.

Di desa inilah keluarga angkatku tinggal.

Dan disini aku disambut seperti pulang ke rumahku sendiri.

Sejak di Pinoh, temanku sudah berkali-kali menakutiku, katanya nanti di Begori aku pasti akan dipaksa minum tuak. Aku sama sekali tak mengkhawatirkan hal itu. Aku justru khawatir jika tindak-tandukku tak berkenan di hati mereka.  Aku berasal dari budaya dan tradisi yang berbeda dengan mereka. Jangan-jangan apa yang kuanggap wajar malah menyakitkan hati mereka.

Saat kami di Serawai, adik angkatku berkata bahwa kami akan disambut dengan upacara hopong. Suster Winda bilang hopong adalah tradisi suku Dayak untuk menyambut tamu yang mereka anggap terhormat. Aku sungguh merasa tak layak mendapat kehormatan itu. Aku hanya ingin disambut sebagai keluarga mereka. Itu sudah lebih dari cukup bagiku. Siapakah aku ini, hingga harus disambut dengan upacara kehormatan seperti itu..

Hopong adalah upacara adat dimana tamu yang baru datang harus memotong bambu atau kayu penghalang yang dipasang melintang untuk menutupi jalan masuk.  Di depan gereja Santo Yosef sudah dipasang gapura sederhana yang dihiasi janur, bunga-bunga dan kain. Ada sebilah bambu melintang yang menghalangi jalan masuk gapura itu beserta sebatang ranting di atasnya. Kami disambut dengan tari-tarian adat Dayak yang dibawakan oleh anak-anak. Mendengar musik Dayak yang mengalun membuatku merinding. Entah mengapa. Segala hal yang kutemui di tempat ini memang terasa luar biasa. Andai saja kamu ada disini, aku ingin sekali berbagi perasaan ini denganmu.
image

Seorang tetua menyerahkan sebilah mandau ke tanganku dan seorang ibu dari Serawai. Beliau lalu berbicara dalam Bahasa Dayak yang sama sekali tak kupahami. Mama angkatku dan seorang Bapak memberi petunjuk bahwa kami diminta memotong ranting di atas bambu itu dengan mandau. Mungkin kami berdua dianggap tak akan kuat memotong bambu, jadi cukup memotong rantingnya saja.. hehehe.. Setelah rantingnya terpotong dan bambunya diangkat oleh mereka, kamipun melangkah menuju pelataran gereja. Kami dikalungi rangkaian bunga kertas. Benar-benar terasa seperti tamu negara saja… Banyak sekali warga kampung yang menyaksikan upacara itu, hingga aku semakin berhati-hati dalam bersikap. Menurut mama, tamu adalah raja bagi tuan rumah. Upacara hopong ini bertujuan untuk mengusir hal buruk, juga supaya tamu selalu sehat, panjang umur, banyak rejeki, dan sukses.
image

Ternyata rangkaian upacara hopong belum selesai. Di tangga gereja, salah seorang dari kami diminta menginjak sebutir telur hingga pecah. Setelah pulang ke rumah, aku mencoba mencari-cari makna dari setiap tahapan ini. Telur adalah lambang kedamaian dan ketentraman antar makhluk hidup. Mungkin memecahkan telur menandakan bahwa kami diterima dengan damai di Begori. Kami lalu berdiri berjajar di atas tangga gereja, dan seorang bapak mengibaskan seekor ayam di hadapan kami sambil mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Dayak.

Sahabat, tahapan berikutnya membuat aku kaget. Bapak itu menyembelih ayam tadi di hadapan kami. Rasanya aku ingin kabur, tak mau menyaksikan kejadian mengerikan itu. Tapi mana mungkin pula aku kabur dari situ. Darah ayam itu lalu dituangkan ke dalam wadah, sebagian dipercikkan ke secangkir beras, lalu beras itu ditaburkan ke pagar gereja. Sebagian darah dipercikkan ke kepala kami. Aku sih tidak merasa ketika diperciki darah ayam, namun orang-orang bercerita bahwa darah itu direcikkan ke bagian belakang kepalaku. Katanya, darah ini bertujuan untuk menetralisir dan membersihkan hal-hal negatif dari diri kami sebelum memasuki daerah mereka.

Mama lalu memasangkan gelang ramiang baru di tangan kananku, bersanding dengan ramiang lama yang pernah mama berikan ketika kami pertama kali bertemu beberapa bulan yang lalu. Sahabat, aku baru tahu bahwa ramiang ini tak sekedar manik-manik biasa tapi memiliki fungsi untuk memberi semangat, memberi keyakinan dalam bertindak, serta kemantapan berpikir. Nah, benar kan, tak ada hal yang biasa-biasa saja disini.

Akhirnya upacara pun tiba pada tahapan terakhir, yakni minum tuak. Hehehe.. Mereka menuangkan cairan berwarna putih keruh dan coklat bening. Entah mana yang bernama tuak dan mana yang bernama arak. Aku mendapat giliran minum yang terakhir, dan hanya berani minum seteguk saja dari kedua gelas yang disodorkan. Rasanya? Hmm.. sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Tapi yang pasti setelah minum aku merasakan kehangatan di tubuhku. Pasti kamu akan bertanya : Enak? Hahaha.. Tidak ada rasa manis atau rasa apapun, tapi aroma alkoholnya tercium sekali. Ingin lagi? Bolehlah kalau hanya beberapa teguk saja. Hehehe.. Kamu penasaran kan?

Kita tidak boleh menolak jika disuguhi tuak dan arak. Menolak adalah tindakan yang sangat tidak sopan, bahkan arak dan tuak yang disajikan seharusnya diminum sampai habis. Dalam upacara-upacara adat biasanya para tamu akan minum hingga mabuk.

Setelah usai semuanya kami lalu masuk ke gereja dan disuguhi snack tradisional Dayak. Aku lupa namanya, tapi yang pasti enak sekali. Segelas teh manis dan dua piring snack di hadapanku  benar-benar membuatku kalap. Rasanya sudah tak terasa lagi baju yang basah karena kehujanan di sepit tadi. Mereka menyambutku dengan hangat, sehangat teh manis di gelas yang kupegang ini.

Kami lalu diantar ke rumah ketua stasi yang berjarak sekitar seratus meter ke arah hulu. Disanalah kami akan menginap selama semalam. Sambil menonton tivi, aku dan suster bergantian memijit kaki. Saat duduk santai seperti ini, barulah lelahnya terasa. Ah, rasanya ingin langsung tidur, padahal masih banyak rangkaian acara yang harus aku ikuti hingga malam. Ternyata kami tak harus mandi di tepi sungai, karena rumah ketua stasi sudah memiliki kamar mandi yang sangat layak. Padahal aku ingin juga mencoba sensasi mandi di tepi sungai. Hehehe..

Sambil menunggu giliran mandi, ada seorang kakak yang mampir ke rumah ini untuk menyirih. Kamu tahu kan menyirih? Aku yang penasaran meminta kakak itu memperagakan tahapan menyirih. Kakak itu, seorang pria berbadan besar bertato khas Dayak di seluruh lengannya, namun amat sabar menunjukkan bagaimana ia menyirih. Pertama, ia mengambil selembar sirih, lalu mengoleskannya dengan kapur. Ia lalu membelah pinang dan memasukkan ke dalam lembaran sirih. Sirih dilipat, lalu hap, kakak itu mulai mengunyahnya. Duh, aku berasa norak deh.. Kakak itu bilang sejak ia mulai menyirih, ia tak lagi diganggu oleh masalah gigi. Ia lalu menyuruhku untuk mulai menyirih.. Hmm.. jangan tertawakan aku ya..

Sekitar pukul tujuh malam, kami bersama-sama berangkat untuk makan malam di sebuah rumah yang tak jauh dari rumah ketua stasi. Tahukah kamu, ternyata desa ini belum menikmati listrik negara. Kami bisa menonton tivi dan menikmati lampu yang terang benderang karena ketua stasi memasang genset untuk memasok listrik ke rumahnya. Kami harus menerjang gelapnya malam saat berjalan ke gereja. Suara jangkrik dan aliran sungai menemani kami. Sesekali suara anak-anak yang bercanda riang memecahkan heningnya malam. Mungkin suasana seperti inilah yang aku perlukan untuk pergi sejenak dari keramaian hidupku. Rekanku dari Pinoh yang kini kupanggil mama Imelda, menggandeng tanganku dan memberikanku perasaan tenang dan aman. Beberapa kali kaki kami terperosok ke dalam tanah berlumpur, untunglah ketua stasi meminjamkan sebuah senter untuk memandu kami.

Sahabat, rangkaian acara di gereja akhirnya membuat rasa lelahku memuncak. Bukan tubuhku yang merasa lelah, tapi hatiku. Rasanya aku sudah tak tahan lagi dengan rekan seperjalananku. Aku ingin sekali protes tapi aku tahu saatnya tak tepat. Akhirnya aku hanya bisa diam meskipun emosiku terkuras. Aku bisa memberikan kata-kata yang menyemangati, namun aku sendiri tak tersemangati. Untung saja aku masih bisa tersenyum, meski aku tahu senyum itu sudah tak datang dari hati. Ingin sekali aku mengirim whatsapp untuk menceritakan semua ini padamu. Tapi apa daya, tak ada sinyal. Lagipula aku tahu kamu sedang sibuk merayakan pernikahan kakakmu. Aku sungguh-sungguh membutuhkan aura teduhmu saat ini.

Untunglah aku masih bisa bertahan hingga acara selesai pada pukul sebelas malam. Rasanya batereku sudah habis, tapi aku tak bisa langsung terlelap. Aku bahkan sempat melalap beberapa bab dari buku yang kubawa sebagai teman perjalanan. Aku tak tahu berapa lama aku tertidur, namun keesokan harinya aku menjadi yang terakhir bangun dan mandi. Ramiang lamaku mendadak putus, tapi untunglah tak ada manik yang hilang. Untung pula aku berhasil memperbaikinya. Semoga mama tak tahu ramiangnya putus.
image

Pagi itu kami lagi-lagi disambut dengan teh hangat, kopi, dan snack yang sama seperti kemarin sore. Lagi-lagi aku kalap.. Haha.. Beneran enak lho… Nah, masalahnya kami masih diundang lagi untuk sarapan pagi yang menunya sangat berat.  Bagi masyarakat Dayak, tamu benar-benar sangat diperhatikan. Tamu tak boleh sampai terlantar dan tak terurus, maka mereka sangat memperhatikan makan dan segala keperluan kami. Tamu tidak boleh menolak tawaran makan karena akan melukai perasan pemilik rumah. Penolakan ini bisa diartikan bahwa tamu itu tidak menerima persahabatan yang ditawarkan tuan rumah, bahkan bisa menandakan bahwa tamu itu takut diracun. Semakin lahap makannya, maka pemilih rumah semakin senang karena sajian mereka telah diterima dengan baik. So, inilah yang membuatku semakin gemuk setelah pulang dari Begori.. hehe..

Karena pagi itu kami sudah sangat kenyang, maka terpaksa kami hanya pose-pose saja. Kami menyentuh setiap wadah makanan yang tersaji, lalu menyentuhkan tangan kami ke bibir. Dengan cara itu kami dianggap telah menerima sajian tuan rumah meski tak memakannya. Inilah yang disebut pose-pose.

Kami lalu berangkat menuju ke rumah mama untuk memulai rangkaian acara berikutnya. Di rumah mama akhirnya aku bertemu dengan bapak angkatku dan melihat foto seluruh keluarga angkatku. Aku punya satu kakak perempuan yang bernama Kak Kristina, satu orang kakak laki-laki yang bernama Abang Domi, satu adik perempuan yang bernama Sunarti, dan adik laki-laki yang bernama Jongki. Bapak sudah lama terkena stroke sehingga harus menggunakan tongkat saat berjalan. Sahabat, ingin sekali aku mempertemukan kamu dengan mereka semua.

Sudah banyak orang berkumpul di rumah mama. Awalnya aku merasa canggung, tapi lama-lama aku bisa mengobrol dan tertawa bersama mereka. Aku berkenalan dengan banyak ibu, salah satunya adalah Kak Dhoy yang menjadi guru di Ambalau. Ambalau ini letaknya ke arah hulu Sungai Melawi. Satu bulan sekali Kak Dhoy pulang mengunjungi keluarganya di Serawai.

Mama lalu menawariku kopi. Sebelum tiba disini aku sudah diingatkan Mama Imelda untuk tidak menolak jika disuguhi kopi. Terima dan minumlah, meskipun hanya seteguk saja. Maka aku mengiyakan tawaran mama. Aku minum seteguk, dan, eh.. ternyata kopinya enak.. Inilah kopi Dayak yang jarang dikenal orang. Beruntung sekali aku bisa menikmatinya. Akhirnya satu gelas penuh berpindah ke perutku.. hehehe…

Saat mama sadar bahwa aku masih memakai ramiang lama, mama memintaku melepasnya. Entah kenapa ya? Mama bahkan meminta Sunarti mengambilkan gunting untuk memutus ramiang itu. Namun belum sempat gunting diambil, ramiang itu putus sendiri. Salah satu maniknya hilang tercecer entah kemana. Aku tak sempat mencarinya karena acara di gereja akan segera dimulai. Salah seorang ibu berkata mungkin ramiang itu putus karena tugasnya sudah selesai untuk mengantarku pulang ke rumahnya. Tuh kan, lagi-lagi aku mengalami hal yang luar biasa.
image

Sahabat, banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan mengenai hal-hal luar biasa yang aku temukan disini. Tapi, khotbah Romo Thomas di gereja menegurku. Ia bilang saat kita bertemu hal-hal yang luar biasa, hendaknya kita tidak banyak tanya. Cukup diam dan simpanlah dalam hati. Seperti seorang pendulang emas yang tak boleh berbicara saat bekerja, begitu juga kita. Resapkan dan hayati setiap kejadian dengan hati, bukan dengan mulut.

Maka ketika aku menggandeng tangan mama sepulang dari gereja, aku sangat berhati-hati ketika bicara dan bertanya. Mama sempat meminta agar aku tinggal semalam lagi dan tidur di rumah mama. Ternyata tadi malam mama menungguku di rumahnya. Aku tak tahu. Aku pikir mereka sudah tahu bahwa aku akan bermalam di rumah ketua stasi. Aku tak bisa memenuhi keinginan mama, karena malam ini aku harus tiba di Pinoh untuk naik bus malam ke Pontianak. Besok aku sudah harus tiba di Pontianak dan kembali ke Jakarta. Air mata menggenangi mataku ketika mama menggandeng erat tanganku sepanjang perjalanan, bagai tak mengizinkanku pulang.

Aku menemukan keluarga angkatku yang lain saat makan siang untuk terakhir kalinya. Rasanya tak rela berpisah dari mereka. Ah.. seharusnya aku menghabiskan waktu lebih lama disini. Tapi, aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku terlalu lama. Maafkan aku mama.. Aku tahu mama kecewa.. Untunglah Romo Thomas membantuku untuk memberikan pengertian pada mama.

Menjelang pulang, aku memberanikan diri bertanya pada mama mengenai suku mama. Akhirnya pertanyaanku selama ini terjawab. Keluarga angkatku berasal dari suku Dayak Uud Danum dengan rumpun bahasa Arok-Arok.

Saatnya telah tiba, aku harus meninggalkan desa ini. Mama membekaliku dengan satu toples tempoyak durian. Ia lalu membawakan tasku dan menggandeng tanganku saat aku harus menuruni tangga yang terbuat dari batang kelapa. Kami berpelukan erat ketika sudah tiba di lanting. Air mataku semakin deras ketika mama melepaskan tambat sepit kami, lalu kamipun melaju semakin jauh dari Begori. Mama, sampai jumpa lagi yaa…

Sahabat, perjalanan pulang masih amat jauh..

Kami masih membutuhkan empat jam perjalanan ke Pinoh. Di tengah jalan sepit kami singgah kembali di Nanga Nuak untuk mengisi bahan bakar. Akhirnya aku bisa tertawa kembali ketika masuk toilet ajaib. Kali ini air sungai sedang pasang sehingga kayu lantai toilet sedikit terendam. Aku sempat berpikir dua kali sebelum buang air kecil. Karena air yang aku keluarkan akan langsung bercampur air sungai yang menyentuh kakiku ini. Tapi daripada ditahan, akhirnya aku tutup mata sajalah sambil nyengir-nyengir sendiri.
image

Di Nanga Nuak ini pula kami dihebohkan dengan labi-labi yang lepas dari karungnya. Jadi salah seorang penumpang dari Serawai membawa labi-labi dalam karung. Entah bagaimana labi-labi itu bisa lepas dari karungnya. Penumpang itu dan driver kami berhasil menangkap kembali labi-labi itu. Kamu tahu tidak, labi-labi itu mengeluarkan suara seperti menangis saat ia dimasukkan ke karung. Aku tak tega. Apalagi ketika mendengar bahwa labi-labi itu diburu untuk dimakan. Padahal labi-labi adalah salah satu hewan yang dilindungi. Pemerintah Malaysia sudah memberikan hukuman bagi mereka yang menangkap, memperjual belikan, serta memiliki labi-labi. Lantas bagaimana sikap pemerintah kita? Buktinya labi-labi yang ada di sepit kami masih bisa lolos begitu saja dan dalam beberapa jam lagi akan tersaji di meja makan. Miris sekali rasanya. Ketika pulang aku bahkan menemukan fakta yang tak kalah menyakitkan. Pemerintah berniat mengubah status kura-kura moncong babi, yang masih keluarga labi-labi namun hidup di Papua, dari dilindungi menjadi tidak dilindungi lagi. Menggemaskan sekali ya?

Tak ada yang menjemput kami di Pinoh, hingga kami harus berjalan kaki menuju biara. Kami sempat singgah di sebuah toko kenalan suster dan menikmati es kacang yang dibeli oleh tuan rumah. Rasanya aku sudah lelah dengan teman seperjalananku, dan tak bisa membayangkan suasana kaku dalam perjalanan pulang kami ke Pontianak berdua saja.

Petang itu langit Nanga Pinoh amat cantik. Warna-warninya seolah berupaya membuatku tersenyum. Pantulan sinar mentari di atas sungai membuatku ingin mengabadikan semua ini dalam kenanganku. Awan-awan masih terasa begitu dekat, dan menggodaku untuk meraihnya.

Aku memeluk erat Suster Winda di Terminal Nanga Pinoh. Bus Tanjung Niaga yang akan membawa kami pulang ke Pontianak sudah siap berangkat. Belum jauh bus meninggalkan Pinoh, aku mendapat sebuah panggilan telepon dari temanku di Pontianak yang membuatku terkejut. Ia menyampaikan kabar bahwa seorang sahabat di Pontianak terkena sakit yang cukup berat. Berita itu ditambah dengan suasana hati yang tak terlalu baik berhasil membuatku menangis tersedu-sedu. Aku berupaya menahan tangisku agar jangan sampai terdengar oleh rekan seperjalananku yang duduk di kursi depan. Tapi semakin kutahan semakin sesak dadaku. Hingga akhirnya aku putuskan untuk melepaskan saja semua tangisku itu sambil berdoa rosario.

Sahabat, kali ini tubuhku sudah ikut lelah. Ketika bus tiba di Sosok, aku sudah kehabisan tenaga untuk berbasa-basi dan pura-pura ramah. Aku tahu, saat itu aku pasti sangat menyebalkan. Jika kamu ada di sampingku pasti kamu akan berkata, “Kamu kok begitu sih?” Malam itu aku segera booking tiket pesawat menuju Jakarta. Aku ingin sesegera mungkin pulang ke rumahku di Bogor. Untunglah jaringan internet di sekitar Sosok masih lumayan bagus, sehingga proses booking berjalan lancar.

Aku tiba di Pontianak sekitar pukul empat pagi. Tak ada tawaran untuk mampir, tak ada yang akan mengantar ke bandara, tak ada yang akan menemaniku makan pagi. Dan aku sedang tak butuh itu. Yang aku butuhkan adalah pulang segera ke rumah. Puji Tuhan, di pool Tanjung Niaga aku menemukan tukang ojek yang bersedia mengantarku hingga Bandara Supadio. Suasana kota Pontianak masih amat sepi pagi itu. Maklumlah matahari pun belum terbit. Bapak ojek itu berhasil membuat suasana hatiku sedikit membaik. Ia menunjukkan Komplek Universitas Tanjung Pura, lalu mengajakku mengobrol tentang Pontianak. Ketika tiba di Supadio, ia bahkan mengantarku ke kantin di luar bandara. Ia tahu aku belum makan, dan katanya harga makanan di dalam bandara sangat mahal. Hmm.. ternyata wajahku mencerminkan suasana perutku ya?

Sambil makan, aku merepacking ranselku untuk menyembunyikan aroma tempoyak yang menguar kemana-mana. Aku menaruh toples tempoyak itu di dasar ransel lalu menimbunnya dengan pakaian kotor yang baunya sudah tak karuan. Semoga aroma tempoyak yang maknyus itu bisa tertutup dan tempoyakku tak disita petugas bandara. Untunglah… taktik itu berhasil, ranselku masuk kabin dengan selamat.. Hahaha..

Akhirnya perjalanan ini berakhir.. Meskipun ada banyak alasan untuk marah dan kesal, namun Tuhan memberiku lebih banyak alasan untuk tersenyum. Pagi itu Ia menyajikan pemandangan matahari terbit yang sangat indah. Di atas pesawat aku menyaksikan pemandangan yang lebih menakjubkan lagi, hingga akhirnya aku lupa dengan segala keluh kesahku.
image

Sahabat.. mungkin aku tak akan pernah bisa mengajakmu kesana untuk kuperkenalkan pada keluarga-keluarga baruku. Aku juga mungkin tak akan pernah bisa membawamu berkeliling di dalam Rumah Radakng. Tapi semoga ceritaku ini bisa membawa hatimu kesana. Semoga suatu hari kamu akan datang pula ke tanah Borneo ini. Mengunjungi tempat-tempat yang kuceritakan..
Meskipun tidak bersamaku..
image

-Salam sayang dari aku yang merindukanmu-

 

Ini suratku yang pertama tentang Borneo :
Surat Buat Sahabat


One thought on “Aku Pulang : Catatan Perjalanan ke Tanah Borneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s