Satu Minggu Satu Buku

Pada awal tahun 2016 ini, saya membuat satu resolusi (ciyeee), yaitu membaca minimal empat buku dalam satu bulan, alias satu buku dalam satu minggu.

Kenapa saya ujug-ujug bikin target itu?  Ada beberapa alasan sih.. Pertama, saya merasa banyak koleksi buku yang belum dibaca, padahal nafsu untuk terus membeli buku belum bisa dikendalikan. Setiap bulan saya bisa membeli minimal dua buku, bahkan seringnya lebih dari dua karena kalap dan ngga tahan godaan (terutama dari tukang buku online), sementara laju membaca saya bisa dibilang tidak terlalu cepat. Kadang hanya bisa sanggup membaca satu buku dalam sebulan. So.. karena ketidakseimbangan neraca buku tersebut, saya merasa perlu membuat target agar akumulasi buku yang belum terbaca nggak semakin meningkat.

Alasan kedua adalah pada awal Januari juga, tante saya mewariskan banyak buku milik almarhum kakek saya dan anak-anaknya. Buku-buku itu masih dalam kondisi baik dengan judul dan tema yang saya sangat sukai. Jadi supaya buku-buku itu bisa segera saya nikmati saya harus menaikkan laju membaca saya kan..

Intinya sih target satu buku satu minggu itu dibuat untuk menaikkan laju membaca saya. Dengan target ini saya mencoba mendisiplinkan diri untuk membaca. Biasanya setiap ada waktu senggang saya malah buka medsos atau main candy crush, atau ngegosip. Target ini bisa mengingatkan saya bahwa masih ada banyak buku yang perlu dibaca, jadi ngga boleh santai-santai untuk hal yang ngga penting (ahaaaayy…). Selain itu saya juga ngga mau rata-rata jumlah buku yang saya baca lebih rendah daripada angka minat baca orang Indonesia yang tak sampai satu buku per orang per tahun (data tahun 2015).

Tapi sejak awal saya membuat target ini, saya sadar dan waspada bahwa target ini bisa melenceng ke arah yang negatif (dih…serius kali lah bahasanya…).

Jadi gini. Karena saya pasang target, bisa jadi saya membaca hanya untuk memenuhi target saja. Akan muncul kecenderungan saya hanya membaca buku sekedar asal lewat saja dan tidak menikmati momen membacanya. Bisa juga saya akan langsung meninggalkan buku yang tidak menarik sebelum tamat dibaca, dan segera mengganti dengan buku lain yang terlihat lebih menarik. Hal-hal itulah yang saya waspadai sejak awal, hingga saya membuat komitmen untuk diri saya sendiri, bahwa setiap buku harus dibaca dengan sungguh-sungguh hingga selesai, dan minimal saya harus tahu garis besar buku itu. Ini yang paling utama. Target kuantitas boleh dikesampingkan jika target kualitas membaca belum tercapai.

Nah.. kayaknya sih gampang ya? Sederhana toh? Hanya membaca satu buku dalam satu minggu. Hanya membaca saja lho, ga perlu bikin resensi, dan ngga akan ada yang ngetes juga apa isi buku yang saya baca. Saya punya banyak waktu senggang : di pabrik, di bus jemputan, di mess, di rumah, di kereta, dan di gereja (sebelum misa atau menunggu waktu rapat). Pasti bisa lah..

Tapi.. kenyataan tak seindah keinginan.. Di bulan Januari saya berhasil menyelesaikan delapan buku : tujuh novel dan satu biografi. Bulan Februari saya mencapai lebih banyak lagi, yaitu sepuluh buku : sembilan novel dan satu biografi. Pencapaian yang sama terjadi pada bulan Maret, semuanya novel.

Kemunduran mulai terjadi di bulan April. Pada bulan ini saya hanya membaca enam buku : lima novel dan satu buku pengembangan diri. Memang sih pada bulan ini saya sibuk banget dan sering berangkat ke luar kota, jadi ngga sempat baca buku… (ah…alasannnn….)

Pencapaian bulan Mei lebih parah lagi. Ceritanya nih saya mau mulai belajar membaca buku berbahasa Inggris, pengen menguji kemampuan bahasa Inggris saya apakah masih level jongkok atau malah makin rendah. Nah.. hasil bulan Mei sepertinya sudah menjadi indikator tak terbantahkan mengenai kedodolan saya. Hanya tiga setengah buku yang bisa saya habiskan, semuanya non fiksi, dua setengah berbahasa Inggris, satunya berbahasa Indonesia. Pasti bingung kan kenapa ada angka setengah? Jadi ada satu buku yang hanya saya baca pada bagian yang saya anggap paling menarik saja.. Iya.. iya.. saya tahu.. ini sudah melanggar komitmen..

Bagaimana dengan Juni? Saya masih mencoba membaca buku berbahasa Inggris. Buku pertama saya di bulan ini berjudul “Iwo Jima”, dan suer isinya berat banget, penuh dengan istilah perang dengan teknik-teknik yang nggak saya mengerti (mana dalam Bahasa Inggris pula..). Sebelas hari saya mencoba berjuang menikmati buku ini tapi ngga berhasil. Sampai akhirnya bokap bilang, “Mending kamu baca versi Bahasa Indonesianya dulu deh daripada bacanya pakai muka bodoh kayak begitu..” Sebagai anak yang baik, saya langsung menuruti perintah bokap (hahahaha… ngeless…). Saya baca satu bab buku Perang Pasifik yang berkisah tentang Iwo Jima, terus mencoba balik lagi ke buku Iwo Jima versi Inggris. Hasilnya? Ngga ngefek.. Tetap aja puyeng bin bingung. Akhirnya saya menyerah kalah pada H+11 di bulan Juni. Udahlah si Iwo ngga usah dihitung dalam pencapaian bulan ini, soalnya saya baru membaca sepertiga bagian buku, itupun ngeblank dan ngga nangkep apa-apa. Jujur… saya merasa berdosa banget sama buku ini.. Hiks…

image

Buku kedua saya di bulan ini masih berbahasa Inggris, judulnya Sadako and the Thousand Paper Cranes. Buku ini saya lalap dalam waktu kurang dari dua jam.. Hahaha… tenang…tenang.. jangan langsung menganggap saya mendadak cerdas, soalnya buku ini adalah buku anak-anak dengan kalimat yang sederhana dan jumlah halamannya pun kurang dari 100.. Hahaha…

image

Minggu kedua Juni sudah berlalu, dan saya baru membaca satu buku (kan si Iwo Jima ngga dihitung). Parah bener yak. Nah.. mau tau gak apa judul buku yang ketiga? IWO JIMA 1945. Ceritanya sih gagal move on dari Iwo Jima… hahahaha..

Jadi begini ceritanya, saat saya beberes rak buku, tiba-tiba buku Iwo Jima 1945 itu jatuh dari rak. Jreng…jreng… saya ngga inget sama sekali pernah punya buku itu. Saya terhenyak menatap buku itu, antara pengen nyengir dan pengen nangis. Pengen nangis karena saya jadi makin sadar banyak banget buku yang belum pernah dibaca, cuma ditumpuk, dan akhirnya terlupakan. Ada berapa banyak buku lagi yang nasibnya begini di kamar saya ya? Nah pengen nyengir karena buku itu berjudul IWO JIMA dalam versi Bahasa Indonesia. Kok semesta ini mendukung sekali ya supaya saya nggak menyerah dengan kisah Iwo Jima.. Entah apa yang harus saya pelajari dari si Iwo ini..

Nah.. siang ini saya baru menyelesaikan buku kedua saya bulan ini. Yap.. membaca buku Iwo Jima versi Indonesia memang membuat saya lebih nyaman dan bisa membaca lebih cepat, meskipun saya masih terkendala beberapa istilah militer. Tapi karena pakai bahasa  Indonesia, ceritanya malah jadi lebih horror dan mengerikan.

Siang ini juga saya berencana untuk mulai membaca buku ketiga untuk bulan ini. Ada dua pilihan, yang satu berbahasa Inggris dan yang satu berbahasa Indonesia. Saya melirik kalender, masih ada 19 hari sebelum bulan Juni berakhir. Semoga saya bisa memenuhi target bulan ini dan bulan-bulan selanjutnya yaa..

Amin…

“It usually helps me write by reading – somehow the reading gear in your head turns the writing gear.” (Steven Wright)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s