Ketika Ramadhan Berlalu…

Kemarin siang, hari pertama lebaran, seorang sahabat posting foto di halaman rumah neneknya. Entah mengapa ekspresinya terlihat tidak bahagia. Ketika saya tanya mengapa ia tampak sedih, jawabannya simple tapi makjleb, “Soalnya Ramadhannya udahan…”.

Hmm.. walaupun saya sendiri tak menjalankan ibadah puasa dan merayakan lebaran, tapi sejujurnya saya juga merasa kehilangan saat bulan Ramadhan berlalu. Saya merasa bulan ini amat istimewa walaupun saya hanya bertindak sebagai penonton saja. 

Mungkin alasannya memang duniawi banget ya, mulai dari jam kerja yang lebih cepat, dapet THR, banyak pilihan jajanan saat jam ngabuburit, dan berbagai alasan dunia lainnya (termasuk perbaikan gizi karena banyaknya jadwal buka puasa bareng.. hehehe.. maklum lah.. anak kos…)

Tapi saya juga mencintai bulan ini karena saya merasakan suasana yang lebih “teduh”. Maaf saya tak pandai menjelaskan dengan kata-kata, tapi itulah satu kata yang saya rasa paling mewakili. Di bulan Ramadhan ini setiap orang berupaya menahan diri, menahan kata, menahan amarah, juga menahan pikiran dari hal-hal yang buruk. Dan itu menular juga pada saya yang tak berpuasa. 

Sayang aura teduh Ramadhan tahun ini sedikit tercemar karena kasus Bu Saeni dan Satpol PP Kota Serang. Ah.. bukan kapasitas saya untuk membahas hal itu. Tapi saya ingin sedikit berceloteh saja tentang kasus itu. Boleh kan?

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga “Bhinneka Tunggal Ika”, jadi sejak kecil saya terbiasa dengan sepupu-sepupu saya yang berpuasa dan berlebaran. Saya diajarkan untuk membiasakan diri tidak makan dan minum di depan mereka saat bulan puasa. Tapi tak pernah sekalipun mereka meminta atau memaksa saya untuk melakukan itu. Kakak sepupu saya pernah berkata bahwa pahala orang berpuasa akan semakin besar jika godaannya semakin banyak. Mereka malah tak mau saya ikutan menahan lapar dan haus hanya untuk menghormati mereka. 

Teman-teman kerja saya sekarang juga bersikap seperti itu. Mereka bahkan mengizinkan saya untuk makan siang di ruangan kerja, padahal mereka pun sedang istirahat di ruangan. Ah..saya malah jadi tak enak hati dengan kebaikan mereka, sehingga saya memilih makan di pantry saja. Tak jarang saya “ketangkep” sedang minum sembunyi-sembunyi, dan mereka malah ketawa. “Cuek aja lagi.. Ga usah pake ngumpet..”, itu kata teman sebelah saya. Saya hanya bisa mendoakan semoga Tuhan melancarkan puasa mereka dan menerima ibadah mereka. Dan yang pasti saya berupaya sedemikian rupa supaya nggak mengganggu puasa mereka. Jadi saya gemas banget ketika masalah Bu Saeni jadi kasus besar dan orang berupaya mendefinisikan siapa yang harus menghormati siapa. Ah…sudahlah… 

Hal lain yang saya cintai dari bulan puasa adalah ngga ada orang yang merokok di tempat terbuka. Rasanya paru-paru saya sudah lelah dengan para perokok yang ngga tahu diri. Bulan puasa adalah momen dimana saya bisa menghirup udara segar selama beraktifitas di luar rumah. Maafkan daku ya, para perokok.. 

Satu hal lagi yang membuat saya enggan meninggalkan bulan ini adalah : Bulan puasa membuat program diet saya berhasil. Hahahaha.. Selama bulan puasa saya ikutan menahan nafsu untuk ngemil atau makan di luar jam resmi. Biasanya sekitar jam 10 pagi dan jam 3 sore, saya dan teman-teman seruangan akan bergerilya untuk nyari cemilan. Nah selama bulan puasa saya gak punya tandem gerilya dan teman makan, jadilah saya kuat ikutan puasa setengah hari. Hasilnya lumayan… turun 3 kg… Semoga setelah Ramadhan berlalu saya masih kuat menahan nafsu makan saya.. hehehe…Walaupun kayaknya gak tahan, apalagi hari-hari pertama masuk kerja pasti banyak oleh-oleh dari berbagai penjuru nusantara.. Bikin ngiler dah..

Kini Ramadhan telah berlalu.. Saatnya kembali ke “hari-hari biasa”. Ah.. semoga saja kita masih bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun depan ya.. Amin.

Bagi teman-teman yang merayakan, saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1437 H. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan. Yuk.. mulai dari nol lagi…


7 thoughts on “Ketika Ramadhan Berlalu…

  1. Saya sebagai muslim KTP malah sering enggak puasa. Sering santai santai aja makan di depan teman yang lagi puasa. Jadi malu sama teteh yang mau berbaik hatinya untuk nyumput karena tidak puasa. Tulisan yang bagus

  2. Hal lain yang saya cintai dari bulan puasa adalah ngga ada orang yang merokok di tempat terbuka

    *ini banget*

    Kalo urusan diet mah: tidak berlaku, soalnya justru pas buka teh banyak makanan waeeee~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s