Myanmar, The Golden Land

Myanmar.. Apa yang terlintas ketika mendengar nama itu? Apa yang istimewa dari negeri itu?

Hahaha… Awalnya saya juga gak tahu..

Lah terus kenapa mau  kesana?

Jadi begini ceritanya.. Sebelum bulan puasa, saya berencana untuk berangkat ke Phnom Penh pada saat libur lebaran. Tapi karena bokap pengen ikutan jalan juga, kami akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Myanmar saja, negeri yang belum pernah kami jelajahi. Pas kebetulan saya menemukan artikel majalah MyTrip tentang Myanmar, jadilah kami mencontek itinerary dari majalah itu.

Masalah pertama muncul : paspor sudah expire. Nah.. Dengan sisa waktu tinggal sebulan dan cuti tinggal 3 ekor doang, gimana caranya bisa perpanjang paspor? Dah gitu mau booking tiket online pun ga bisa karena status paspor yang udah basi itu…

Untunglah… Ada seorang teman yang baik banget… Ga usah diceritain bagaimana kejadiannya ya.. Pokoknya atas kebaikan hatinya dan karena jalur mudah yang diberikan sebuah travel agent, akhirnya passport saya jadi dua minggu sebelum keberangkatan.

Yah namanya juga mepet dot com, harga tiket udah mahal. Awalnya tiket ke Yangon dengan transit di Kuala Lumpur tampak lebih terjangkau, tapi dua belas hari sebelum berangkat, semuanya berubah, malah tiket via Singapura yang lebih murah. Tapi… Semurah-murahnya tetep aja bikin mewek…

Setelah hitung sana, hitung sini, ternyata kami hanya bisa dapat 4 kota : Yangon, Bago, Bagan, dan Kyaiktiyo. Mandalay terpaksa harus ditinggalkan supaya bisa puas, karena kami hanya punya waktu efektif selama enam hari. So, saya harus nyusun itinerary versi sendiri deh, ga jadi nyontek plek-plek dari MyTrip. Versi pertama itinerary saya adalah Yangon– Kyaiktiyo – Bago –  Bagan – Yangon. Detailnya seperti ini :

Day 1 : Tiba malam di Yangon, check in dan keliling area dekat hostel

Day 2 : pagi berangkat ke Kyaiktiyo naik bus jam 9.30  dari Aung Mingalar, ETA (estimated time arrival) sekitar pk. 14.30, menginap di Kyaiktiyo, lihat Golden Rock after sunset.

Day 3 : pulang dari Kyaiktiyo maksimal jam 8, mampir di Bago, ETA Bago jam 10. 00.  Keliling Bago. Maksimal berangkat jam 14.00 dari Bago ke Yangon, lalu naik bus malam jam 20.00 menuju Bagan.

Day 4 : Tiba di Bagan pagi, sekitar pk 06.00. Keliling Bagan.

Day 5 : Keliling Bagan. Kembali ke Yangon naik bus malam pk. 20.00

Day 6 : Yangon

Day 7 : Yangon

Day 8 : pulang dengan flight pagi.

Satu minggu sebelum keberangkatan, di pojok belakang ruangan saat meeting departemen, saya malah sibuk survey hostel yang murah dan lokasinya strategis di kota Yangon. Ada beberapa opsi, namun akhirnya hati saya berlabuh (ciyeee) pada Backpacker Myanmar, karena lokasinya paling dekat dengan Yangon Central Station dan Sule Pagoda. Kan lumayan bisa mengunjungi dua tempat tanpa keluar ongkos.

Tahap berikutnya adalah membuat list tempat yang harus dikunjungi. Saat saya ubek-ubek grup Backpacker Dunia di facebook, saya menemukan cerita seseorang tentang circular trainnya Yangon, dan kayaknya seru deh naik kereta ekonomi keliling Yangon selama 3 jam. Oke, mari kita masukkan ke list. Lalu tempat”must see” lainnya di Yangon adalah Sule Pagoda, Shwedagon Pagoda, Bogyoke Aung San Museum, National Museum, Martyr’s Mausoleum, Kandawgyi Lake, Inya Lake, Bogyoke Market, Bohtataung Pagoda, dan Pansodan Jetty menuju Dala. Ah.. Banyak sekali yah…

Saya juga membuat list serupa untuk Bago, Bagan, dan Kyaiktiyo. Ada empat tempat di Bago yang harus dikunjungi, yaitu : Shwe Tha Lyaung, Shwemawdaw Pagoda, Kyaik Pun, dan Kanbawa Thadi Palace. Di Kyaiktiyo hanya ada satu tempat yang harus didatangi, yap, dia adalah si Golden Rock yang legendaris. Nah, saya mulai bingung saat buat list untuk Bagan. Bayangkan ada lebih dari dua ribu candi dan nggak mungkin bisa dikunjungi dalam waktu dua hari doang.

Menurut contekan yang saya dapatkan, di Bagan kita bisa sewa kereta kuda dengan tarif sekitar 25-35 US$ sehari, dan tinggal pasrah aja sama si abang delman mau dibawa kemana (pasti sih akan dibawa ke candi-candi yang populer lah…), cuma saya kebayang aja betapa lamanya naik kereta kuda, dan pasti jadinya ngga banyak candi yang bisa dikunjungi dalam satu hari. Saya malah terpikir naik sepeda atau e-bike supaya bisa mengunjungi lebih banyak tempat dengan waktu yang kami miliki. Akhirnya saya nanya mbah Google deh, candi-candi mana saja yang paling menarik. Dan ini jawaban yang paling sering muncul : Ananda, Dhammayangyi, Gawdawpalin, Shwesandaw, Shwezigon, dan Thatbinnyu. Oh ya, plus Tharabar Gate.

Salah satu peta “Must See” Bagan ala Lonely Planet

Pas browsing-browsing Mbah Google, saya menemukan jadwal kereta Yangon menuju Mandalay via Bago. Nah, boleh juga tuh untuk nyoba naik kereta dari atau ke Bago kan, apalagi waktu tempuhnya sama dengan naik bus, yakni 2 jam. Sedangkan untuk menuju Bagan, saya lihat waktu tempuh kereta lebih lama daripada bus, so mending langsung naik bus malam saja lah, lumayan juga bisa hemat biaya hostel kan.

Mengingat kondisi bokap yang agak mudah lelah, akhirnya itinerary saya ubah lagi sebagai berikut :

Day 1 : Tiba malam di Yangon, check in dan keliling area dekat hostel

Day 2 : Yangon

Day 3 : pagi berangkat ke Kyaiktiyo naik bus jam 9.30  dari Aung Mingalar, ETA (estimated time arrival) sekitar pk. 14.00, menginap di Kyaiktiyo, lihat Golden Rock after sunset.

Day 4 : pulang dari Kyaiktiyo maksimal jam 8, mampir di Bago, ETA Bago jam 10. 00. Keliling Bago. Naik kereta jam 16.00 dari Bago ke Yangon, lalu naik bus malam jam 20.00 menuju Bagan.

Day 5 : Tiba di Bagan pagi, sekitar pk 06.00. Keliling Bagan.

Day 6 : Keliling Bagan. Kembali ke Yangon naik bus malam pk. 20.00

Day 7 : Yangon

Day 8 : pulang dengan flight pagi.

Tapi… Ketika kami tiba di Yangon, semua rencana langsung berubah. Penjaga hostel bilang dia belum pernah tahu ada kereta dari Yangon menuju Bago. Halah…  Dan setelah berpikir muter sana muter sini, kayaknya lebih oke kalau kami pergi dulu ke Bagan yang lokasinya paling jauh, baru ke Kyaiktiyo dan Bago yang lokasinya lebih dekat. Jadilah itinerary berubah lagi.. wew… labil bener yak…

Nah, inilah itinerary kami yang versi kesekian dan yang terakhir..  Ada beberapa destinasi yang terpaksa dicoret karena waktunya ngga cukup… Hiks… Banyak penyesuaian yang harus berubah karena sepanjang jalan kami banyak mendapatkan kejutan.. Pokoknya setelah segala kejadian, tawa, dan air mata, inilah itinerary kami :

Day 1 : Tiba malam di Yangon, check in dan keliling area dekat hostel. Menginap di Yangon.

Day 2 : Yangon : Sule Pagoda, Circular train, Bogyoke Aung San Museum, Shwedagon Pagoda. Menginap di Yangon.

Day 3 : Yangon : National Museum, Martyr’s Mausoleum, Bogyoke Market. Naik bus malam (20.00) menuju Bagan.

Day 4 : tiba pagi di Bagan (05.30) , keliling Bagan. Menginap di Bagan.

Day 5 : keliling Bagan. Pulang ke Yangon naik bus malam (jadwal 21.00).

Day 6 : tiba di Yangon (07.00), lanjut bus ke Kyaiktiyo (jadwal 08.00, perjalanan kurang lebih 5 jam). Tiba di Kinpun sekitar pk. 13.00, naik truk ke Kyaiktiyo (1 jam). Naik ke Golden Rock jelang sunset. Menginap di Kyaiktiyo.

Day 7 : kembali ke Yangon via Bago. Keliling Bago. Sore (pk. 18.00) kembali ke Yangon dengan bus. Menginap di Yangon

Day 8 : pulang dengan flight pagi.

Yangon International Airport

Perjalanan ke Myanmar ini bisa dibilang sebagai perjalanan saya yang paling mendebarkan. Salah satunya adalah karena bareng bokap yang tensinya suka nggak stabil, padahal perjalanan ini bakal sangat melelahkan. Terus ada banyak info dari berbagai sumber yang bikin saya bingung (salah satunya jadwal kereta yang berbeda-beda), transportasi umum yang ngga banyak ragamnya dan agak ribet, serta banyak hal lain yang bikin saya ragu-ragu. Apalagi saya sempat merasa ngga punya rasa cinta sedikit pun pada Myanmar, jadi agak-agak gimana gitu…

Tapi syukurlah… Hari ini saya masih disini… Cengar-cengir menyusun tulisan ini sambil mengingat semua langkah perjalanan kami. Ternyata benih cinta itu mulai muncul, dan semua yang telah kami lalui kini sudah menjadi kenangan yang indah…

Dan… Akhirnya saya tahu.. Myanmar itu sangat istimewa…

Simak catatan perjalanan kami selama di Myanmar :

Yangon In A GlanceKisah Sule dan ShwedagonYangon Circular Train

Perjalanan Yangon-Bagan

BaganHari Pertama (1)Hari Pertama (2)Hari Kedua

Golden Rock at Kyaiktiyo

Bago


7 thoughts on “Myanmar, The Golden Land

  1. Keren, bisa merencanakan perjalanan sendiri terus mengajak orang tua through all the hardships. Saya agak kaget juga waktu baca Mbak mengajak ayah, dan itu ke Myanmar, dan tripnya ala backpacker, tapi syukurlah kalau semuanya baik-baik saja, ya. Saya belum yakin bisa baca semua ceritanya di sini tapi saya yakin perjalanan ke Myanmar kemarin adalah jalan-jalan yang sangat memperkaya. Oke, saya penasaran candinya, sih :haha.

      1. Nggak apa-apa, lebih bagus hanya mengagumi apa yang ada di depan mata, ketimbang berpikir aneh-aneh yang akhirnya membuat kepala sakit :)).

  2. Aduuuh sempat ke Kyaiktiyo Na???? Whoaaaaaa…. aku pengen banget kesana dan bermalam disitu…. aku belum kesampaian… ceritain ya Na, in detail sampai atasnya gimana…. katanya seru ajib kan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s