Kala Sule Menunjuk Shwedagon

PS : Tadinya saya ngga niat bikin tulisan ini jadi satu posting tersendiri. Tapi pas baca buku Donald M Stadner yang berjudul Sacred Site of Burma, saya menemukan kisah yang sangat menarik tentang dua pagoda terbesar di Yangon ini. Alhasil jadilah tulisan ini. 

Alkisah pada jaman dahulu kala (halah…), kira-kira 2600 tahun yang lalu, ketika Buddha Gautama masih hidup di dunia, ada dua orang pedagang kakak beradik dari suku Mon bernama Tapussa dan Bhallika yang diberikan delapan helai rambut dari Sang Buddha sendiri. Ada banyak versi mengenai kota asal kedua pedagang tersebut, ada yang bilang mereka berasal dari Balkh (Afghanistan), ada yang bilang dari Ukkala (India Timur), ada pula versi yang mengatakan bahwa mereka berdua berasal dari Ramannadesa (Yangon). Kisah ini awalnya berasal dari legenda Pali yang kemudian dikisahkan kembali dengan berbagai tambahan dalam versi Mon dan Burma.

Shwedagon yang mewarnai langit kota Yangon

Konon dua pedagang itu memberi Sang Buddha kue beras dan madu ketika mereka singgah di Bodh Gaya. Kala itu adalah akhir dari tujuh minggu setelah pencerahannya. Sang Buddha memberikan delapan helai rambutnya, dan kedua pedagang itu menyimpan rambut itu dalam sebuah kotak emas. 
Dalam perjalanan pulang, Raja Ular yang bernama Jayasena mencuri relik tersebut. Nah.. ada berbagai versi lagi nih tentang pencurian ini. Menurut versi Srilanka, relik tersebut berhasil diselamatkan oleh seorang bikkhu utusan Raja Srilanka, lalu dibawa ke negerinya. Sedangkan menurut versi Mon, Jayasena hanya berhasil mencuri dua helai rambut, sedangkan sisanya dibawa oleh kedua pedagang tersebut lalu relikwi itu diabadikan dengan sebuah stupa di Gunung Tamagutta.

Setelah Buddha Gautama meninggal dunia, ajarannya mulai dilupakan orang. Kondisi ini mengakibatkan stupa dan relik di Gunung Tamagutta juga menjadi terabaikan dan akhirnya terhapus dari ingatan orang. Kira-kira 256 tahun setelah kematian Buddha, Sona dan Uttara dari India bertolak ke Suvannabhumi (Thaton) untuk menyebarkan kembali Buddhisme. Sirimasoka, Raja Thaton, meminta relikwi Buddha untuk ibadah. Ini mengantarkan Sona dan Uttara untuk mencari kembali stupa yang terlupakan di Yangon.

Konon stupa inilah yang pertama kali dipakai untuk menyimpan relik rambut Buddha

Sejak abad ke-16, kisah itu berkembang dengan banyak tambahan bumbu-bumbu. Salah satu perbedaan yang muncul adalah kisah dimana kedua pedagang yang membawa rambut Buddha diterima oleh Raja Okkalapa (padahal pada masa itu belum ada raja yang memerintah Burma).
Raja Okkalapa bersama kedua kakak beradik itu dan dewa Thagyamin mencari relik-relik dari tiga Buddha sebelumnya yang pernah berkunjung ke Yangon. 

Lho… kok Buddhanya ada empat? Bukannya hanya ada satu Buddha yaitu Siddharta Gautama? Nah… ternyata bagi pemeluk Buddha Teravadha, ada 28 Buddha yang pernah hidup. Buddha memiliki makna sebagai “Yang Tercerahkan”. Menurut Buddha Gautama tak hanya 28 Buddha yang pernah ada, namun ada banyak Buddha sejak masa yang amat lampau. Empat Buddha terakhir yang sering disebut sebagai Buddha masa ini adalah Kakusandha, Konagamana, Kassapa, dan Gautama. Nah empat Buddha utama inilah yang paling dihormati oleh umat Buddha Myanmar. Maka.. selalu ada empat patung Buddha dalam setiap pagoda, yang mengarah ke empat arah mata angin yang berbeda.

Kembali ke Yangon.. Pada abad ke-18 legenda relik rambut Buddha semakin berkembang, dimana diceritakan bahwa jumlah rambut yang dicuri Raja Ular adalah sebanyak empat helai namun dengan sebuah keajaiban, Raja Okkalapa berhasil mengembalikan empat helai yang hilang itu. Raja bersama dua kakak beradik itu lalu menguburkan relik itu bersama relik dari ketiga Buddha sebelumnya di Bukit Singuttara. Dalam versi ini juga dijelaskan bahwa Buddha Kakisandha meninggalkan saringan air, Konagamana meninggalkan jubahnya, sedangkan Kassapa meninggalkan tongkatnya. Bukit yang disebut Tamagutta pada versi sebelumnya kemudian dikenal sebagai Bukit Singuttara, atau sekarang disebut sebagai Theinguttara, lokasi Shwedagon Pagoda saat ini.

Pada bagian inilah terjadi kaitan antara Sule dan Shwedagon. Menurut kisah lainnya, Buddha Gautama meminta Tapussa dan Bhallika untuk mengabadikan rambutnya bersama dengan relikwi dari tiga Buddha sebelumnya yang dikuburkan di suatu tempat di sekitar Bukit Singuttara. Mereka kebingungan untuk menentukan lokasi pasti relikwi itu, bahkan sudah sampai pada tahap putus asa. Dewa Thagyamin (Sakka) dan rekan-rekannya bahkan tak bisa membantu. 
Dalam keputusasaan itu, Thagyamin meminta tolong seorang raksasa bernama Sule Nat yang tinggal di Bukit Sule (saat ini menjadi lokasi Sule Pagoda). Raksasa ini sudah tua sekali bahkan ia bertemu dengan Buddha Kakusandha, Buddha pertama dari masa kini. 

Sule Pagoda yang dipercaya sebagai tempat tinggal Sule Nat

Dulunya, Sule adalah seorang raksasa yang senang memakan gajah. Suatu hari ia tak bisa lagi menangkap gajah, lalu ia mendatangi Buddha Kakusandha yang sedang singgah di Yangon. Kakusandha kemudian mengajarkannya lima sila ajaran moral dalam agama Buddha, juga melarangnya untuk memakan gajah. Raksasa itu kemudian menjadi dewa, dan Kakusandha memberikan saringan air yang kemudian dikuburkan di Bukit Singuttara. Dua Buddha berikutnya datang pula ke Yangon dan memberikan relikwi mereka pada Sule Nat yang kemudian juga menguburkannya di bukit yang sama. 
Sule Nat membantu raja dan dua kakak beradik itu untuk menemukan tiga relikwi Buddha, dengan menunjukkan jarinya ke arah Singuttara. Helaian rambut Buddha Gautama kemudian digabungkan dengan tiga relikwi yang lain sesuai dengan arahan Sang Buddha di Bodh Gaya.

Menurut versi Mon dan Burma, ada lima raksasa yang memberikan petunjuk. Sedangkan dalam versi yang lain, kisah ini sebetulnya terjadi pada Sona dan Uttara yang berupaya menemukan Shwedagon yang terlupakan selama 256 tahun. 

Sebelum tahun 1850 Sule Pagoda tak pernah dihubungkan dengan Shwedagon, juga tak pernah terdengar cerita tentang raksasa bernama Sule, namun Sule Pagoda lebih dikenal karena keberadaan sehelai rambut dari Srilanka. Kini kisah itu menghilang tertutup oleh cerita Sule Nat yang menunjukkan lokasi relikwi tiga Buddha. Sule Nat kini dikenal dengan nama Sule Bo Bo Gyi (Kakek Sule). Menurut beberapa ahli sejarah, kisah ini muncul setelah pemerintah kolonial Inggris mengubah tata kota Yangon pada tahun 1853 dan membuat Sule Pagoda menjadi pusat dari kota baru itu.

Sule Pagoda, pusat downtown Yangon

Legenda atau dongeng? Fakta atau fiksi? Nobody knows. Menurut saya bukan itu yang penting, tapi kebijaksanaan yang lahir dari kisah tersebutlah yang paling penting. 

Sule Pagoda dikunjungi oleh lebih sedikit orang dibanding dengan Shwedagon. Nah.. setelah tahu kisah ini, jadinya nggak lengkap kan kalau berkunjung ke Shwedagon tapi nggak singgah di Sule, karena sejak dulu mereka punya hubungan yang erat dan tak terpisahkan.

Sebetulnya kisah ini masih berhubungan juga dengan kisah-kisah lain tentang Botataung Pagoda di Yangon dan Shwemawdaw Pagoda di Bago. Tapi gak seru lah kalau semuanya ditulis disini.. Hehehe..

Nah.. ini hal yang harus diperhatikan saat singgah ke Sule Pagoda dan Shwedagon Pagoda. 

1. Jam buka : 

Sule Pagoda : 06.00 – 22.00

Shwedagon Pagoda : 04.00 – 22.00 (penjualan tiket dari pk 06.00 – 21.45)

2. Tiket Masuk

Sule Pagoda : 3000 MMK

Shwedagon Pagoda : 8000 MMK

3. Jangan pakai celana atau rok pendek, pakaian tak berlengan, pakaian yang terbuka di bagian punggung. Intinya pakailah pakaian yang sopan dan tertutup. Sepatu dan kaos kaki harus sudah dilepas sebelum memasuki dan menaiki tangga pagoda.

4. Challenge : 1.) carilah perbedaan dari empat patung Buddha yang terletak pada setiap altar depan pintu masuk. Dan temukan nama mereka. 2.) Carilah lokasi planetary post berdasarkan hari lahir kamu.

5. Temukan patung Sule Nat di Sule Pagoda ya. Nah kalau di Shwedagon banyak banget yang harus dicari : Jade Buddha, miniatur Shwedagon, elder brother Shwedagon, lonceng raksasa dari Raja Tisada dan Sanda. Ah..banyak deh.. lihat list dalam brosurnya lalu coba temukan semuanya.

Penuh dan ramai…

6. Kalau ada kesempatan, duduk tenanglah di kedua pagoda itu saat matahari terbenam dan langit mulai gelap. Rasanya tak tertandingi deh.

Shwedagon after sunset

7. Jangan duduk selonjoran menghadap pagoda atau patung Buddha. Kalau bisa duduklah bersimpuh agar jempol kaki kita tidak menunjuk ke pagoda atau patung Buddha.

Sule glows in the dark

Selamat menyerap energi positif dari pagoda-pagoda powerful ini.


4 thoughts on “Kala Sule Menunjuk Shwedagon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s