Welcome To The Golden Land..

Myanmar, The Golden Land.. Negeri unik yang tampak begitu jauh dan samar-samar dalam pandangan.

Namun Myanmar akhirnya berkisah. Apa yang dulu tampak samar kini mulai terlihat jelas, dan saya akhirnya bisa menyaksikan kilauan The Golden Land..

Nih, sekilas info tentang Myanmar..

1. How to get there? Sampai hari ini belum ada direct flight dari Jakarta ke Yangon (sedih yak…), jadi kita harus transit via Kuala Lumpur atau Singapura atau Bangkok. Sejak 9 Juni 2014 warga Indonesia sudah bisa memasuki Myanmar tanpa visa, untuk kunjungan selama 14 hari.

2. Tau gak nama ibukotanya Myanmar? Yangon? Tetot… Rangon? Tetot (Yangon dan Rangon adalah kota yang sama..). Nah.. Ternyata sejak tahun 2005, ibukota Myanmar sudah pindah ke Naypyidaw atau Naypyitaw. Jreng…jreng… saya juga masih mikir ibukotanya di Yangon dah.. Setelah dua hari di Yangon, saya baru ngeh ibukotanya udah pindah.. Halah.. ilmu geografi saya udah ketinggalan jaman bener yak…

3. Mata uang Myanmar adalah Myanmar Kyat (MMK). Nilai tukar 1 USD adalah 1170 MMK, tapi ini hanya berlaku untuk pecahan 100 USD. Untuk pecahan 50 USD atau yang lebih kecil, nilai tukarnya akan lebih rendah, mulai dari 1000 hingga 1140 MMK. Dah gitu.. bank, money changer, dan para pedagang ngga mau terima uang USD yang udah kucel, kumel, kotor, dan ada bekas tekukan. Uuhh… Oh ya, mereka juga ngga kenal mata uang Rupiah.. sedih yoo…

4. Disini sangat jarang nampak tulisan Latin, semua tertulis dalam aksara Burma. Untung saja pada lembaran uang masih tertera angka-angka “normal”.. hehehe.. Sepertinya masih banyak orang yang belum lancar membaca huruf Latin. So, mending siapin aksara Burma untuk nama daerah atau nama tempat supaya gampang kalau tanya-tanya di jalanan. Bisa juga minta tolong petugas hotel atau bandara untuk menuliskan tujuan kita dalam aksara Burma. 

Silakan dihapal… hehehe

Gara-gara kasus aksara ini, saya sempat tersesat di Yangon. Wedeh…

Kalau di objek wisata dan museum sih jangan khawatir.. Petunjuk-petunjuk sudah dituliskan dalam dua bahasa… 

5. Terus.. lafal Bahasa Inggris orang-orang Myanmar juga agak-agak aneh.. Mungkin terbawa aksen British yang ditinggalkan mantan penjajahnya kali ya. Jadilah saya sering banget ngomong “pardon me” atau cuma ber “haah?!?!” karena ngga ngerti omongan mereka. Kok rasanya mereka kayak lagi ngucap mantra yaa… Berasa banget Bahasa Inggris saya yang udah jongkok jadi makin jongkok aja…

6. Ada satu hal ajaib yang saya temukan disini : mobil-mobil berstir kanan tapi melaju di lajur sebelah kanan. Kalau di Indonesia kan mobil stir kanan melaju di jalur kiri supaya sopir mudah untuk mengukur jarak dengan kendaraan dari arah berlawanan. So… driver Myanmar are the best driver in the world kali ya…

Kanan, Baanggg….

Bus kota dan taxi juga akan menaikkan dan menurunkan penumpang di sisi kanan, karena pintu penumpang pada bus memang terletak di sebelah kanan. Nah.. padahal kan udah kebiasaan bilang “Kiri” kalau mau nyetop kendaraan. 

Tapi.. kalau bus malam beda lagi.. Stirnya di kiri tapi pintu penumpangnya di sebelah kanan. Jiaah… ajaib kan…

7. Masakan Myanmar adalah perpaduan dari sita rasa India, China, Shan, Mon, dan berbagai suku bangsa asli Myanmar. Rasanya? yaa… gitu deh… harus nyicip sendiri untuk tahu sensasinya.. hehehe

Di beberapa rumah makan sudah tersedia menu bilingual, walaupun tulisan menunya tetep bikin bingung. Yang umum dikenal hanya fried rice dan fried noodle. Hehehe.. Saking penasaran kami mencoba beberapa menu ajaib. Tertulis crispy fried noodle with chicken, keluarnya i fu mie, dan yang tertulis steam rice with chicken, keluarnya nasi capcay. Hihihi..

Steam Rice with Chicken.. A.k.a Nasi Capcay…

Kendala bahasa juga pernah membuat kami shock. Kami pesan fried rice (lisan), keluarnya mie segede spagheti. Inilah yang namanya noodle salad. Jauh bener yak dari fried rice ke noodle salad..

Fried Rice yang menjelma jadi Noodle Salad…

Kami sempat beberapa kali sarapan di emperan dan mencicipi mie berkuah kental seperti susu, juga bihun dengan kuah laksa tapi bukan laksa. Mie berkuah putih itu bernama coconut milk noodle, sedangkan bihun berkuah laksa itu namanya monh him khar. 

Coconut Milk Noodle

Monh Him Khar

Nah, kalau makan malam di emperan, sistemnya mirip warteg. Ada berbagai jenis hidangan yang disusun di meja panjang, kita tinggal tunjuk-tunjuk mau makan apa. Nasinya sejenis nasi goreng, rasanya gurih tapi ngga berkecap. Makannya di kursi plastik yang berpasangan dengan meja plastik. Selain makanan yang kita pesan, biasanya akan disajikan juga lalapan, sambal kering, dan kuah. Oh, ya, jangan khawatir, disini kita masih bisa ketemu tumis kangkung, ayam goreng, dan tumis kacang panjang lho…Dan juga ada penjual cakwe, ketan, (sesuatu yang mirip) serabi di emperan jalan saat pagi hari. 

Dinner ala warteg emperan

Satu hal yang mengganggu saya adalah aroma daun ketumbar dan bawang merah mentah… Wew.. Saya paling ogah makanan berbau menusuk kayak begitu.. Sedihnya, nyaris semua menu pakai kedua bahan ini.. Hiks..

Oh ya, satu porsi makanan disini bisa untuk dua orang lho… Buanyak buanget.. Padahal kan saya termasuk orang yang doyan makan, tapi seminggu disini rasanya perut begah banget deh..

Porsinya sebanyak ini.. Gimana kaga begah?

Harga satu porsi mie dan bihun emperan adalah 500 MMK, untuk makan ala warteg sekitar 1000-2000 MMK (dengan dua atau tiga lauk), makan di resto sederhana sekitar 2000-2500 MMK, dan kalau di hotel bisa lebih dari 4000 MMK. 
8. Saya dan bokap adalah manusia pencinta air. Kalau kurang minum kami bisa semaput dah.. Untunglah Myanmar adalah negeri yang bersahabat bagi kami. Banyak tempat yang menyediakan air minum gratis.Di pagoda, stasiun kereta, bandara, candi, biara, pasar, bahkan di sepanjang jalan di Bagan disediakan tempayan tanah liat berisi air minum. Emang sih menurut beberapa sumber air minum dalam tempayan ini bukan air bersih.. Tapi kalau udah haus mah glek glek aja deh… 

Saat makan pun selalu disediakan teko dan cangkir teh di meja. Biasanya cangkir-cangkir akan direndam dalam posisi tertutup dalam wadah berisi air. Kami sempat mempertanyakan apakah cangkir-cangkir itu dicuci setelah dipakai? Jangan-jangan cuma direndam saja. Tapi udahlah.. min koman kamin.. kuman-kuman jadi vitamin..

Kami sangat bersyukur dengan kemurahan hati mereka yang menyediakan minum gratis ini. Dahaga terpuaskan dan pastinya kami bisa menghemat kan.. hehehe

9. Sejauh mata memandang… Jarang banget lihat pria Myanmar pakai celana panjang, atau wanita Myanmar pakai rok pendek. Mereka masih setia menggunakan longyi, atau yang kita kenal sebagai sarung. Longyi untuk pria bernama Paso, biasanya motifnya hanya kotak-kotak, persis sarung disini. Sedangkan longyi wanita bernama htamain, motifnya beragam dan warnanya lebih cerah. 

Everybody wears longyi

Saya suka ngga kebayang gimana ya rasanya pakai rok panjang seharian.. Pakai rok selutut aja rasanya udah ribet dan sering kesrimpet.. Hehehe.. Apalagi kalau pas musim hujan.. Pasti kuyup dan kotor deh bagian bawahnya..
Tapi ternyata kain longyi Myanmar memang adem, nyaman digunakan saat gerah sekalipun.. Emang sih, kalau ngga terbiasa bisa keserimpet.. hehehe… Terus, cowok-cowok itu apa ngga kagok ya beraktifitas dengan menggunakan sarung?

Tapi yah, walaupun pakai longyi, orang Myanmar itu jalannya ngebut… kenceng banget.. kayaknya mereka punya kaki yang panjang dan badan yang ringan deh.. Berkali-kali saya harus megap-megap untuk mengimbangi langkah kaki mereka.. Bahkan saya harus sedikit berlari untuk bisa menjajari langkah mereka. Fyuh… Apa sih rahasianya?

Harga longyi yang masih kain lembaran belum dipotong dan dijahit sekitar 5000-7000 MMK, sedangkan yang sudah bertali ada yang 3000 MMK (asli Myanmar), dan di atas 5000 MMK (dari Thailand).

10. Pernah lihat foto wanita Myanmar? Ada yang aneh dari wajah mereka? Yap.. mukanya cemong-cemong kan, seperti pakai bedak nggak rata. Biasanya di pipi mereka ada block berwarna kuning gading. Itu memang disengaja, dan yang bikin mereka cemong itu bernama Thanaka.

Cemong gara-gara Thanaka

Thanaka adalah pasta kosmetik yang dibuat dari kayu pohon Murraya atau Limonia accidisima yang ditumbuk dan dicampurkan dengan air.

Menurut tradisi, thanaka ini berfungsi sebagai sunblock, anti nyamuk, penghilang gatal, bahkan anti jamur. Wow banget kan? Selain dioles di wajah, mereka biasanya juga mengoleskan thanaka di lengan. Aroma thanaka ini unik, mirip apa ya? Bingung lah jelasinnya…  Yang pasti wangi lah.. 

11. Taxi… Oh Taxi…

Jangan cari angkot yah di Yangon.. Adanya taxi.. Taxinya pun ngga berargo (mungkin ada yang berargo, tapi kok saya ngga nemuin ya…) . Tarif taxi dari dan ke bandara maksimal 10.000 MMK (kami ketipu dan harus bayar 18 USD dari bandara ke down townnya Yangon). Tarif dalam kota maksimal 3000 – 4000 MMK. Jarak dekat 1500 – 2000 MMK. 

Saking banyaknya taxi ini, kami sempat bikin statistik abal-abal. Sambil makan di emperan kami menghitung mobil yang lewat, dan menghitung perbandingan mobil pribadi dan taxi. Hasilnya : dari 18 mobil yang melaju saat lampu hijau menyala, total hanya ada 7 mobil pribadi, dan sisanya adalah taxi. Jadi.. kebayang kan betapa banyaknya taxi di kota ini.. 

Pssst… akan ada cerita sendiri tentang Yangon.. sabar yaa…

12. Bus Kota

Tertantang ingin naik bus kota di Yangon? Beneran deh butuh usaha ekstra untuk ngebis disini. Pertama, tanya dan cari tahu apakah ada bus kota yang melewati tujuan kita, jika ada pastikan bus nomor berapa dan dimana harus menunggunya  Lalu carilah angka Burma untuk nomor itu agar bisa dicocokkan dengan angka yang tertera pada kaca bus. Minta tolonglah sama petugas hostel untuk menulis tujuan kita dalam aksara Burma karena ngga semua orang bisa membaca aksara Latin. Jika hanya punya alamat dalam aksara Latin, bertanyalah pada petugas berseragam di dekat pangkalan bus. 

Pangkalan utama bus kota Yangon terletak di utara Sule Pagoda, atau di perempatan lampu merah Anawrahta Road dan Sule Pagoda Road. Tarif sekali jalan 200 MMK.

13. Toilet..

Hahaha.. ga penting banget sih bahas tentang toilet disini.. Tapi beneran deh, saya selalu parno dengan hal yang bernama toilet ini. Jadi setiap masuk hostel saya pasti akan ngelirik dulu toiletnya gimana. Untunglah selama di Myanmar ga nemu yang aneh-aneh, cuma sekali aja, nemu toilet yang dari lubangnya langsung terlihat aliran air… (tebak ndiri lah…) .

Kebersihan toilet umum memang masih agak kurang, aroma tak sedap masih menguar kemana-mana, jadi harus siap mental deh kalau mau mampir kesana. Hehehehe…

14. Masih tentang masalah kebersihan. Saya menemukan kesamaan antara orang Myanmar dan orang Indonesia : suka meludah sembarangan. Huh.. Bedanya, orang Myanmar akan mengeluarkan bunyi-bunyian : “hoaaakk…” sebelum meludah.. Mungkin ini ada kaitannya juga dengan kegemaran mereka mengunyah sirih..

Kadang suka bete juga kalau pas lagi makan dan terdengar suara itu.. Duh… Kaga sopan deh ah..

Untungnyaa.. mereka ngga sampai hati untuk meludah di lantai bus atau kereta. Mereka akan mengeluarkan kepala mereka ke jendela, lalu terdengarlah bunyi “cuh”. Hehehehe…

15. Time Difference

Waktu Myanmar adalah GMT + 6.5 jam, alias setengah jam lebih cepat daripada WIB. 

16. Musim

Ada tiga musim di Myanmar : 

November-Februari : musim dingin yang kering.

Maret-Mei : musim panas yang ditandai festival Thingyan (water festival) pada bulan April.

Juni-Oktober : monsoon, alias musim hujan. Puncak monsoon terjadi pada bulan Juni-Agustus. Inilah low season pariwisata Myanmar. Jangan mengharap bisa lihat sunrise dan sunset karena seharian mendung tebal. Bulan September-Oktober masih diwarnai hujan namun ada lebih banyak hari-hari cerah.

Jika kita datang pada saat low season, harga penginapan memang akan lebih murah, suasana sepi, bisa foto-foto lebih puas tanpa banyak artis figuran yang ikut kefoto. Tapi ya itu… ngga dapet momen sunrise dan sunset. Siap-siap payung dan jas hujan, karena hujannya bisa mengguyur kapan saja tanpa ampun.

17. Myanmar adalah tanah yang kaya dengan hasil bumi seperti emas, batu berharga, dan barang tambang. Tapi sebagian besar rakyat belum bisa menikmati kekayaan alam Myanmar, dan masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hmmm.. sebetulnya mereka adalah orang-orang kaya. Kaya hatinya… Mereka adalah orang-orang yang hangat yang berupaya membuat para tamu merasa nyaman. Berupaya memberikan pertolongan meskipun terkendala dalam bahasa. Memberikan kepercayaan tanpa rasa curiga.

Inilah kekayaan yang paling indah : hati yang mulia, semulia logam mulia yang melapisi stupa dan pagoda mereka. 

Golden hearts in the golden land

Nantikan kisah berikutnya dari Yangon ya….


3 thoughts on “Welcome To The Golden Land..

  1. Inget saat pulang dari Myanmar, mau ke Laos via Bangkok… duh waktu sampai di Suvarnabhummi rasanya bener-bener kembali ke peradaban hahaha… tetapi ya apapun yang terjadi di Myanmar pasti asyiiik aja Na..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s