Yangon In A Glance

Day-1

Matahari baru saja terbenam ketika pesawat kami mendarat dengan mulus di Yangon International Airport diiringi hujan rintik dan mendung tebal. Segera setelah urusan imigrasi selesai, kami langsung menuju ke kios-kios money changer yang lokasinya tepat di depan keluaran imigrasi. Kios yang kami tuju menolak transaksi karena sudah mau tutup. Tenang.. masih ada tiga kios lain yang masih buka.

Kami tak menyangka lembaran 50 USD yang kami bawa akan dihargai lebih rendah dari rate yang berlaku, so akhirnya kami hanya tukar pecahan 100 USD saja. Untung gak bawa banyak pecahan 50 USD. Saking hecticnya tuker uang dan mikirin taxi, kami sampai lupa beli SIM card, padahal kiosnya dekat sekali dengan pintu keluar bandara, persis di sebelah counter taxi bandara.

Ketika kami melangkah keluar, kami langsung didekati para sopir taxi. Ini nih yang bikin malas. Tapi mengingat satu-satunya moda transportasi dari dan ke bandara hanya taxi, mau gak mau kami harus menghadapi para sopir taxi yang lumayan agresif itu. Salah satu driver mengikuti kami dan membuka harga 20 USD untuk tiba di hotel kami yang terletak di Pansodan Street. Setelah tawar menawar cukup alot, harga hanya bisa turun hingga 18 USD saja, dengan alasan saat itu jalanan sedang macet berat. Karena udah merasa terjepit, akhirnya kami terima tawaran itu. Hmm.. padahal ya, maksimal tarif dari bandara ke downtown Yangon itu 9000 hingga 10.000 Kyat (sekitar 9 hingga 10 USD).

Oh ya, secara umum kota Yangon dibagi menjadi dua, yakni bagian utara (lokasi bandara dan terminal bus Aung Mingalar ada disini) dan bagian selatan yang disebut sebagai downtown. Area downtown ini bisa dibilang adalah kota tuanya Yangon dengan bangunan-bangunan peninggalan kolonial. Di bagian ini juga terletak Bogyoke Market, Sule Pagoda, Maha Bandoola Park, Shwedagon Pagoda, City Hall, dan Yangon Train Station.

Oke, kembali ke taxi. Jalanan dari bandara memang lumayan macet. Tapi macetnya hanya karena lampu merah yang kelamaan. Haduhh.. Mana drivernya ngga bosen-bosen nawarin jasa untuk mengantar kami ke Bago dan Kyaiktiyo. Dia bilang bisa menempuh dua tempat itu dalam waktu satu hari saja dengan ongkos 120 USD. Duh sampe capek deh nolaknya.

Untunglah di tengah jalan kami melihat Shwedagon Pagoda yang menjulang anggun dan berhasil mengalihkan perhatian kami. Wow… memandang Shwedagon sedekat ini sukses bikin merinding… Entah kenapa.. Saya jadi teringat sebuah adegan dalam film The Lady ketika Aung San Suu Kyi bicara di depan publik dengan latar belakang Shwedagon ini. 

Kami tiba di Backpacker Myanmar, Pansodan Street sekitar pukul 8 malam, masih belum terlalu malam bagi kami. Tapi… tadaaaaa…. kok sepi yaaaa… krik..krik… Kami mengalami apa yang disebut sebagai culture shock. Tadi siang kami transit di Singapura dan mencicipi atmosfer yang cerah, ceria, dan penuh semangat. Malam ini kami berasa dilemparkan ke sisi dunia yang lain. Gerimis, sepi, gelap, dan rasanya gloomy banget.

Hostel kami terletak di lantai 9 (tenang…ada lift kok) dari sebuah gedung. Lantai terbawah ditempati oleh Inwa Book Store. Agak kaget juga karena hostel ini hanya terdiri dari satu ruangan besar. Deretan tempat tidur susun bergabung dengan meja resepsionis dan meja nongkrong. Tempat tidurnya berbentuk kotak berukuran 2 m x 1.5 m x 1 m, dan ada tirai penutupnya. Mirip dengan kontainer deh..  Lama-lama sih terasa nyaman, apalagi ada space cukup besar untuk selonjoran dan packing di ubin.. hehehe…

Setelah check in di hotel (yang diwarnai dengan berbagai miskomunikasi gara-gara kendala bahasa), kami langsung cabut cari makan. Tempat makan terdekat di sekitar hostel adalah Hawai Kitchen. Nah.. disinilah terjadi kasus fried rice yang berubah jadi salad noodle.. Hahahaha…

Menjelang pukul 9 malam, toko-toko mulai tutup, dan jalanan semakin sepi. Hanya pasar dan penjual makanan emperan di Jalan Anwrahta saja yang masih sibuk. Kami berpikir mungkin karena saat ini bukan peak time kunjungan turis, jadinya jalanan sepi bingits…

Kami akhirnya memutuskan untuk mengintip Sule Pagoda yang jaraknya cukup dekat dari Pansodan. Syukurlah lampu-lampu telah dinyalakan membuat pagoda ini terlihat cantik banget, walaupun ukurannya lebih mungil jika dibandingkan dengan Shwedagon. Di sekitar Sule Pagoda ini ada banyak bangunan-bangunan tua bergaya kolonial, dan ada tugu yang mirip dengan Tugu Pahlawan di Surabaya.

Sule Pagoda

Rasanya udah ngga sabar menunggu pagi deh.. Pengen banget mengunjungi si Sule keren yang bukan pelawak itu… hehehe

Ngintip Puncak Sule Pagoda

Malam itu dari balkon hostel, saya memandang puncak Shwedagon yang menghiasi langit kota Yangon. Rasa merinding itu masih terasa. Ah.. saya tak percaya sudah tiba di Yangon.. Kok rasanya malah kayak lagi nyasar dimana gitu ya…

Day-2

Pagi ini dibuka dengan pencarian sarapan di sekitar  Jalan Anawrahta Road yang akhirnya mempertemukan kami dengan coconut milk noodle. Hujan deras turun sejak dini hari, namun untunglah mereda ketika kami hendak keluar hostel. Kami makan pagi sambil mengamati para bikkhu dan bikkhuni yang mengumpulkan sedekah dari umat dalam mangkok logam mereka.

Para Bikkhuni mengumpulkan sedekah

Kami lalu melangkah menuju ke bagian barat jalan tersebut untuk mencari toko yang menjual SIM Card. Dapet sih SIM card MPT, tapi mahal. SIM card nya seharga 10.000 MMK, dan top up minimalnya sebesar 10.000 MMK juga, sudah termasuk paket internet sebesar 1 GB. Pas top up ternyata saya dapat bonus lagi sebesar 10.000 MMK. Lucky me!!! Dan tau gak, pulsanya gak habis-habis, dipakai nelepon ke Bogor setiap hari, browsing, buka google maps, buka you tube, wuih pokoknya mah puas lah..

Selamat pagi Yangon…

Setelah puas foto-foto di depan City Hall, kami lalu melangkah menuju Sule Pagoda. Di halaman pagoda kami ditawari rangkaian bunga dan payung kertas seharga 1000 Kyat. Sejujurnya kami juga ngga tahu bunga itu mau diapain atau ditaro dimana.. Hehehe.. Setelah menitipkan sepatu dan membayar tiket sebesar 3000 Kyat, kami segera naik ke atas, menemukan hall kecil penuh dengan umat yang sedang berdoa di hadapan sebuah patung Buddha khas Myanmar yang berkulit putih. Karena belum tahu cerita tentang pagoda ini (dan ngga disediakan brosur juga), jadi kami hanya berkeliling dan foto-foto saja. Bunga itu kami letakkan di hadapan sebuah patung Buddha kecil berwarna putih, yang di bagian atasnya bertuliskan “Saturday”. Saya pernah membaca bahwa di setiap pagoda disediakan altar Buddha kecil berdasarkan hari kelahiran. Karena bokap lahir pada hari Sabtu, maka bunga itu kami letakkan disana. Padahal bukan begitu seharusnya.. Hahahaha…

Planetary Post di Sule Pagoda

Usai merasa bingung di dalam Sule, kami keluar dan menuju ke Maha Bandoola Park, itu tuh yang ada tugu serupa Tugu Pahlawan. Ternyata itu adalah Independence Monument yang dibangun untuk memperingati kemerdekaan Myanmar dari Inggris. Maha Bandoola sendiri adalah nama seorang jendral yang berjuang dalam perang melawan Inggris. 

Sule Pagoda dan City Hall dipandang dari Maha Bandoola Park

Sebelum lanjut.. Kenapa sih ada nama “Burma” dan “Myanmar”, “Yangon” dan “Rangon”? Nama “Myanmar” dan “Yangon” memang sudah ada sejak dahulu kala, namun pemerintah kolonial mengubahnya menjadi “Burma” dan “Rangon”. Sejak negeri ini dikuasai junta militer tahun 1989, namanya diubah kembali menjadi “Myanmar” dan “Yangon”.

Independence Monument

Kami lalu melanjutkan acara foto-foto di depan gedung High Court lalu jalan kaki menuju Central Station untuk naik circular train keliling Yangon. Bagian ini akan diceritakan dalam posting ini yaa…

Kami tiba kembali di Yangon Central Station pukul 13.30 dalam kondisi lapaaar berat.. Kami segera naik taxi ke Bogyoke Aung San Museum, dengan harapan bisa menemukan penjual makanan dekat museum. Tapi apa daya.. penjual makanan di sekitar museum hanya menjual teh, kopi, dan makanan ringan saja. Salah seorang penjual berbaik hati menunjukkan warung makan terdekat yang jaraknya sekitar 100 meter dari museum. Tapi.. jalannya itu menanjak, plus si bapak jalannya ngebut banget, padahal dia pakai longyi. Alhasil saya harus setengah berlari untuk bisa menjajari langkahnya. Kami sempat deg-degan takut museumnya keburu tutup, tapi untunglah, museum masih buka hingga pukul 16.30. 

Bogyoke Aung San Museum

Setelah membayar tiket seharga 300 MMK, kami pun berkeliling museum. Museum ini dulunya adalah rumah dinas Mayor Jendral (Bogyoke) Aung San, ayah dari Aung San Suu Kyi, sejak 1945 hingga dibunuh pada 19 Juli 1947. 

Rumah dua tingkat ini berisi benda-benda peninggalan beliau, termasuk foto-foto, buku-bukunya, dan ranjang anak-anak mereka. Ranjang Aung San Suu Kyi berbentuk boks, maklum ketika ayahnya meninggal ia baru berusia dua tahun. Tapi.. museum ini rasanya kosong. Saya awalnya berharap bisa lebih mengenal sosok Jendral Aung San dengan mengunjungi museum ini, tapi.. saya malah merasa ngga dapet apa-apa. Itulah mengapa saya katakan kosong.. Beda rasanya dengan ketika masuk rumah Tjong A Fie di Medan atau museum sasmitaloka Ahmad Yani di Menteng. 

Keluarga ini pernah bahagia…
Lantai satu museum

Awalnya museum ini hanya dibuka pada Martyr’s Day saja, tapi sejak tahun 2012 lalu, museum ini dibuka setiap hari kecuali hari Senin dan libur nasional.

Ranjang milik Aung San Suu Kyi

Lagi-lagi kami terjebak hujan. Rencana kami selanjutnya adalah Kandawgyi Park, tapi karena hujan dan bokap kram, kami batalkan rencana itu dan langsung naik taxi ke Shwedagon Pagoda. Jam baru menunjukkan pukul 4 sore, masih lama sekali hingga waktu sunset. Padahal menurut foto-foto yang kami lihat, pagoda ini akan tampak cantik ketika langit sudah gelap. Matahari bulan Juli akan terbenam setelah pukul 7 waktu Myanmar (GMT + 6.5). So… masih lama banget kan..

Kami masuk dari sisi timur pagoda dan membeli tiket seharga 8000 Kyat. Ada seorang guide mendekati kami dan menawarkan jasanya. Beliau memberikan tarif 8000 Kyat untuk satu jam (kalau peak season beliau biasa buka harga di 10.000 Kyat). Nama beliau Mrs. Khin Saw Aung. Ngga nyesel deh ditemani beliau. Saya jadi banyak tahu tentang Buddhisme dan Shwedagon, termasuk tentang empat Buddha, astrologi Burma, dan kisah-kisah lainnya. 

Mrs. Khin Saw Aung

Setiap pagoda di Myanmar punya empat pintu masuk, dan di pintu itu pasti ada satu patung Buddha dari empat Buddha terakhir. Umat Theravada percaya bahwa akan ada Buddha kelima yang akan turun ke dunia, meski belum tahu kapan ia akan datang. Para pengikut Buddha Maitreya percaya bahwa Buddha kelima itu sudah datang, yakni Maitreya sendiri. Mrs. Khin sering dicandai : jika nanti Buddha kelima datang, maka harus dilakukan renovasi pagoda untuk menciptakan pintu masuk yang kelima.. Hehehe…

Buddha Konagamana di Hall Selatan

Beliau lalu berkisah tentang dua pedagang yang mendapatkan helai rambut dari Sang Buddha Gautama. Relikwi itu kini terletak di dasar pagoda Shwedagon. Awalnya pagoda Shwedagon ini tak sebesar sekarang, namun raja dan ratu yang pernah memimpin Burma memperbesarnya, menambahkan berbagai stupa di sekelilingnya, hingga mencapai bentuknya yang sekarang, dengan ketinggian 99 meter. 

Tak jauh dari tempat kami masuk, kami menyaksikan upacara Shinpyu, yaitu penerimaan seorang anak ke dalam biara untuk menjadi bikkhu. Anak itu didandani dan diberi kostum sebagai raja lalu diarak keliling pagoda.

Upacara Shinpyu

Berkeliling dan mendengarkan cerita tentang Shwedagon bikin saya berasa kayak cewek matre. Soalnya yang diomongin berkisar tentang emas, berlian, rubi, giok, dan berbagai perhiasan lainnya. Pagoda ini dilapis emas dan puncaknya adalah berlian 76 karat. Banyak warga yang mendonasikan perhiasan mereka dan kemudian digantung pada bagian payung pagoda (umbrella crown/ hti) atau dilebur sebagai pelapis pagoda. Ujung-ujung mahkota ini tersusun dari ribuan berlian dan rubi. Mantab kan… Pagoda ini memang milik semua orang..

Mrs. Khin juga menunjukkan patung Buddha yang terbuat dari giok utuh, hasil karya pemahat Mandalay. Gioknya sendiri ditambahng dari Myanmar utara. Beliau lalu bercerita tentang kekayaan alam Myanmar. Tanah Myanmar banyak mengandung emas, batuan berharga seperti rubi dan berlian, giok, serta berbagai barang tambang lainnya. Namun rakyat tak menikmati kekayaan itu karena pemerintahan yang bobrok dan korup. Saya berkata pada beliau, mungkin rakyat Myanmar tidak kaya secara material namun kaya dalam hatinya. Beliau mengiyakan pernyataan itu. Orang Myanmar adalah orang-orang yang selalu ingin menolong orang lain, mereka tidak mudah marah jika dihina, mereka orang yang murah senyum dan tak menyimpan dendam. Nah, kan… Itulah kekayaan yang sejati.. Lebih berharga daripada emas dan berlian.

Beliau kemudian menunjukkan kepada kami altar kecil yang bertuliskan hari kelahiran. Inilah yang dinamakan planetary’s post, dan merupakan pengaruh dari tradisi Hindu Brahma. Zodiak Burma terdiri dari delapan simbol hewan dan planet pelindung yang mewakili tujuh hari dalam satu Minggu. Hari Rabu dibagi menjadi dua, yaitu Rabu pagi dan Rabu siang. Masing-masing hari memiiki arah mata anginnya sendiri. Lihat disini yah untuk keterangan lengkapnya : https://en.m.wikipedia.org/wiki/Burmese_zodiac.

Karena saya lahir hari Kamis, maka planet saya adalah jupiter, hewannya tikus dan planetary post saya terletak di arah barat. So, sebenernya harus ngapain di planetary post? 

Tikus.. Sang pemilik hari Kamis

Di setiap planetary post itu ada bejana berisi air dan gelas-gelas kecil. Kemudian di bagian depan bawah ada patung binatang sesuai hari lahir kita, di belakang atasnya ada patung Buddha, di belakangnya lagi ada patung yang merupakan roh pelindung masing-masing planet. Pertama-tama, siramkan air sebanyak tiga kali ke patung Buddha, lalu tiga kali ke patung planet pelindung, tiga kali ke tiang di belakangnya, dan yang terakhir tiga kali ke patung binatang pelindung. Setelah itu ucapkan permohonan kita. Ada juga yang meletakkan rangkaian bunga, mengalungkan bunga atau menempelkan lembaran kertas emas ke patung Buddha. Saya juga ikutan ritual ini dan make a wish juga.. Hehehehe… Saya juga melakukan ini di pagoda lainnya saat mengunjungi Bago. Semoga wishnya terkabul karena bantuan Sang Buddha.. 

Things to do at your planetary post

Setiap hari, mereka yang lahir pada hari tersebut akan melakukan kerja bakti membersihkan latar pagoda. Kami datang pada hari Sabtu, dan hujan baru saja reda, jadi serombongan orang di bawah pimpinan satu kordinator menyingkirkan genangan air dan menyapu daun-daun yang mengotori halaman pagoda. Kalaupun mereka tak bisa kerja bakti pada hari kelahirannya, mereka tetap bisa datang pada hari lain kok. Jadi jangan alasan yaa… hehe..

Kerja.. Kerja.. Mari kita kerja…

Kami juga dijelaskan tentang perbedaan pose Buddha pada patung Buddha tidur. Jika tangan Buddha masih menyangga kepala, berarti beliau masih hidup, namun jika tangannya terkulai di samping kepala, itu menandakan beliau sudah meninggal. 

Beliau lalu mengajak kami untuk singgah di Hall of Prosperity untuk  berdoa. Jika kami ingin ikut berdoa di hadapan patung Buddha, maka silakan saja. 

Hall of Prosperity – Buddha tertinggi dan terbesar di Shwedagon

Kami juga ditunjukkan stupa emas yang dijuluki “elder brother”. Katanya relik rambut Buddha Gautama dulu diletakkan disini (tapi tidak dikubur di bawahnya), sebelum dipindahkan ke Shwedagon yang sekarang. Baca juga kisahnya disini.

Abangnya Shwedagon

Kisah terakhir yang disampaikan Mrs. Khin adalah tentang lonceng Singu Min yang diambil orang Inggris dari Shwedagon untuk dibawa ke Calcuta, namun kapal pembawanya kandas di Yangon River. Pemerintah Inggris berupaya mengangkatnya namun gagal, hingga akhirnya beberapa warga asli berhasil mengangkatnya dan mengembalikannya ke tempat semula. Hehehe.. emang enak?!?!

Seusai menyelesaikan satu keliling, kami berpisah dari Mrs. Khin. Kami lalu duduk ngampar di sudut timur laut pagoda, tempat dimana kami bisa melihat sisi pagoda yang lebih luas. Kami menunggu gelap datang sambil ditemani angin kencang yang menerpa tubuh kami. 

Senjapun (akhirnya) datang… 

Kami melihat dua orang bikkhu dan seorang petugas berseragam yang memasuki halaman dalam pagoda. Mereka ternyata mencari dan mengumpulkan perhiasan-perhiasan yang jatuh dari atas pagoda.

Saat kami sedang duduk, kami didatangi oleh seorang pria paruh baya. Ia mengaku sebagai tour guide yang sudah bertugas selama lebih dari 40 tahun. Ia menegur saya yang duduk selonjoran. Ah iya, saya lupa, di pagoda kan kita ngga boleh menunjukkan kaki ke arah pagoda atau patung Buddha. Ternyata tak hanya kami yang diawasi dan ditegur, banyak turis lain yang juga ditegur oleh petugas berseragam.

Ia berkata pagoda ini sangat powerful dan memberikan perasaan damai. Bagaimana ngga powerful? Kan ada empat relikwi dari empat Buddha di dasar pagoda ini.

Ah.. tapi ending-endingnya pria itu malah minta uang rupiah. Setelah kami beri lembaran rupiah, dia langsung pergi deh.. Huh…

Malam telah semakin gelap, namun Shwedagon malah tampak semakin cantik berkilauan. Kami akhirnya memutuskan pulang dan merasa beruntung karena petang itu cuaca cerah meskipun sedang musim hujan. 

Ada hal yang aneh ketika saya keluar pagoda dan menatap lorong di seberangnya yang dipenuhi para pedagang. Kok kayak deja vu ya.. Begitu juga ketika melihat foto Shwedagon yang diambil dari Danau Kandawgyi, kok kayak pernah lihat ya… Ah.. ada apa ini… 

Day-3

Rumah bertingkat khas Yangon

Salah satu yang saya senangi dari Backpacker Myanmar adalah rak yang dipenuhi buku plus majalah tentang Myanmar. Saat nunggu bokap mandi, saya menemukan majalah lama yang berisi rute bus dalam kota Yangon. Rasanya kayak dapet hadiah apa gitu, soalnya bus-bus di Yangon itu misterius sekali.. Ga jelas nomor dan rutenya.. Sebenernya bukan ga jelas sih.. kite aje yang kaga ngarti tulisan di kacanyee…

Neh penampakan bus kota di Yangon

Awalnya hari ini kami hendak ke Pansodan jetty, mencicipi naik kapal ke Dala. Di Dala katanya ada sebuah pagoda yang menyimpan mumi seorang bikkhu selama 150 tahun. Ketika Myanmar dilanda topan Nargis tahun 2008, katanya salah satu mata bikkhu ini terbuka seolah memberikan peringatan. Nah.. penasaran kan?!?! Tapi setelah dibrowsing lagi, wajah mumi ini dilapis topeng emas, dan satu-satunya bukti yang menunjukkan matanya yang terbuka hanyalah selembar foto di dekat mumi itu. Ah.. jadi malas deh..
Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke National Museum. Rasanya ngga afdol deh kalau ga singgah di National Museum, apalagi National Museum Yangon letaknya dekat sekali dengan KBRI. Dengan bantuan rute bus dari majalah tadi, saya yakin untuk naik bus kota kesana. Tinggal naik bus no.45 atau 211 rute Sule Pagoda – Insein, atau bus no. 174 yang lewat di Anawrahta tujuan Insein, dan turun di depan National Museum. Simple kan? Ternyata nggak simple.. suer deh..

Lagi-lagi hujan deras membasahi kota Yangon pagi ini. Sejenak reda namun kembali hujan rintik turun saat kami ngemper makan monh him khar di Anawrahta Road. 

Kami menuju perempatan jalan Sule Pagoda untuk mencari bus yang menuju Insein. Oke, karena petunjuk di bus ditulis dalam aksara Burma, maka mau ga mau saya harus belajar kilat angka-angka Burma dari petunjuk jalan. 

Noh.. hapalin dah…

Saya juga sudah menyiapkan tulisan National Museum beserta alamat lengkapnya. Di perempatan jalan kami mencegat bus yang kelihatannya bernomor 174. Setelah berupaya keras menjelaskan tujuan kami, akhirnya si kenek ngeh dan menunjuk ke arah Sule Pagoda. Maksudnya kami disuru naik bus dari dekat pagoda.

Kami pun menyeberang ke arah Sule Pagoda, berupaya mencocokkan kode di kaca bus dengan contekan saya. Saya melihat bus 45 di lampu merah, tapi kok nengah banget.. masa harus lari ke tengah jalan seh.. Trus kami didekati seorang calo yang sedang teriak-teriak ngumpulin penumpang. Dia tanya saya mau kemana? Saya tunjukin deh tulisan National Museum plus alamat lengkapnya. Dia ngangguk-ngangguk dan nyuruh kami naik. Buspun berjalan, tapi gak sesuai dengan rute di majalah. Nah… nah…
Di atas bus ada kenek kedua yang bertugas mengumpulkan ongkos, saya bilang lagi kami mau ke National Museum. Dia geleng-geleng, lalu saya tunjukkan lokasi museum di peta Yangon. Peta itu dioper lagi ke kenek pertama, si kenek lagi-lagi ngangguk-ngangguk. 

Saking gemesnya, saya akhirnya buka google maps. Ternyata oh ternyata… kami udah tersesat jauh banget… nget… nget.. Mana hujan deras banget.. nget.. nget.. Kata bokap ya udah lah, kita ikutin aja bus ini mau kemana, mumpung hujan lagi deras.. 

Si kenek pertama tiba-tiba noel bokap, nyuruh turun. Tau gak kami mau diturunkan di Myanmar Plaza.. Sumpe deh… jauh bener National Museum ke Myanmar Plaza.. Oh bang.. apa salah dan dosaku. Kami ngotot ga mau turun karena bukan itu tujuan kami.

Ketika hujan tampak mereda kami akhirnya memutuskan turun di sebuah perempatan jalan di seberang sebuah pagoda. Eh.. begitu turun bus, hujan langsung deras lagi. Rasanya pengen ketawa sambil nyengir deh. Dengan berlindung pada sebuah payung mungil, kami menyeberang jalan, berharap ada tempat berteduh di pagoda. Pos satpam kek, atau parkiran kek, atau warung.. Tapi… tak ada tempat berteduh bagi dua orang malang ini.. hiks.. 

Singkat cerita, kami kembali naik bus bernomor sama menuju titik terdekat dari National Museum. Oh ya, mau tau gak kami naik bus nomor berapa? Tebak ya… dalam aksara Burma, kedua angka tersebut membentuk simpul pita Hello Kitty.. hihihihi…

Saya terus memonitor lewat google maps, mencari titik terdekat National Museum. Rencananya kami akan berhenti disitu, lalu lanjut naik bus yang benar atau naik taxi kalau kepepet. Karena bingung dan bengong, akhirnya kami malah balik ke titik semula : halte bus dekat Sule Pagoda. Ya ampun.. Oemji.. 

Kami bertemu lagi dengan deretan bus yang sedang ngetem. Kali ini pokoknya harus naik bus nomor 45, ga boleh yang lain. Ternyata bus nomor 45 ngetemnya bukan di pinggir jalan raya, tapi agak ke dalam, tepat di samping sebuah bangunan. Saya menghampiri sopir sebuah bus yang sedang ngetem. Saya tunjukan tulisan National Museum beserta petanya. Dia geleng-geleng. Haduuuh… jadi saya harus naik apa atuhh….

Tiba-tiba… tuing… muncullah seorang calo yang akhirnya mengantar kami pada petugas DLLAJ. Si petugas itu membaca tulisan saya dan menunjuk bus yang ngetem tadi. Lah.. begimana sih ini… Petugas itu lalu berbicara dalam bahasa Burma ke si sopir yang tadi geleng-geleng. Ah.. barulah si sopir paham dan mengerti. Ampun baginda…. Jadi.. naiklah bus 45 untuk mencapai National Museum.

Kami menghabiskan waktu hampir 2 jam untuk putar-putar Yangon gara-gara nyasar. Kapan lagi kan bisa keliling kota dengan tarif hanya 400 Kyat. Jadi harusnya kami harus merasa bersyukur.. Betul?!?!

Oke.. Akhirnya kami pun tiba di National Museum. Pertama kami menjelajah lantai dasar. Ada film singkat tentang Bagan.. Waaa… jadi ngga sabar pengen ke Bagan.. Lalu ada pula peninggalan berbagai kerajaan seantero Myanmar. Hmm.. buat saya museum ini agak berat sih, soalnya saya ga punya pengetahuan apapun tentang Myanmar… Kami lalu memutuskan untuk menjelajah lantai 4 dulu. Di lantai 4 ini ada ruangan khusus ASEAN. Jadilah kami main tebak-tebakan bendera. Bangga deh lihat papan informasi Indonesia yang isinya paling ramai.. 

Indonesia…
Tebakan Bendera Yukk….

Di sebelah ruangan ini adalah ruangan prasejarah. Mengunjungi museum ini harus tenang dan santai supaya bisa menyerap informasi yang lebih banyak.

Periode Sejarah Kerajaan di Myanmar

Kami lalu turun ke lantai 3 yang berisi display berbagai macam patung Buddha, lalu ke lantai 2 yang isinya tentang sejarah peradaban pada masa kerajaan. Lumayalah dapat sedikit gambaran tentang Bagan. 

Miniatur Ananda Temple Bagan
Saat kami datang banyak ruangan yang sedang ditutup, salah satunya adalah ruangan display regalia. Katanya sih setelah bulan Juli semua akan lengkap dibuka lagi.

Calon Menantu Bokap…

Setelah dari museum, kami sempat mampir untuk narsis di depan KBRI.. Harusnya sih kami mampir untuk laporan ya… Tapi… hehehe… maafkan kami yaa…

Di depan KBRI kami nyegat taxi untuk ke Martyr’s Mausoleum. Sulit sekali untuk menjelaskan ke sopir taxi. Saya menyebut clue : Martyr’s Mausoleum, Northern entrance Shwedagon, Ar Zar Ni Street, bahkan sampai menunjukkan peta. Hasilnya nihil. Entah kesambet apa, tiba-tiba dia ngeh dengan kata “Ar Zar Ni Street”, dan langsung nyuru kami naik.
Tapi… sedihnya hati ini… Sakitnya tak terperi.. Martyr’s Mausoleum sedang direnovasi, dan baru akan dibuka lagi pada Martyr’s Day tanggal 19 Juli. Padahal udah dateng jauh-jauh. Eh.. malahan tutup.. Huaaaaa…..

Supaya gak penasaran, saya mencoba mencuri foto dari pinggir trotoar walau harus mendaki gundukan tanah yang lumayan licin. Sempat sukses, tapi ngga kelihatan apa-apa. Pas mencoba lagi, saya kepergok seorang polisi. Jreng-jreng… ngomel-ngomel deh dia.. Untung saya kagak ngarti.. 

Hasil colongan..

Sampai sekarang saya nyesel.. Kenapa ya waktu itu ga berusaha ngerayu penjaganya. Mungkin kalau saya bilang dari Indonesia dan minta waktu 5 meniiit ajaaa untuk keliling… bakal diizinin kali ya… Hiks…hiks.. mungkin memang tempat ini belum boleh saya kunjungi sekarang..

Chinthe yang menjaga gerbang utara Shwedagon

Oh ya.. mungkin pada penasaran ya.. apa sih Martyr’s Mausoleum itu. Ini adalah sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang Bogyoke Aung San dan enam temannya yang ditembak pada tanggal 19 Juli 1947.

Ya sudahlah.. Kami lalu naik taxi ke Bogyoke Aung San Market yang lokasinya sudah dekat dengan hostel kami. Sama seperti museum, pasar ini juga tutup pada hari Senin. Pasar ini dibagi dalam beberapa los, antara lain los kain, perhiasan, handicraft, pakaian, money changer, dan lain-lain. Cuma harus bisa nawar dengan agak tega disini.. Hehehe..

Bogyoke Aung San  Market

Ada satu yang bikin saya kaget. Kenapa ya harga gantungan kunci Myanmar tuh mahal. 7500 Kyat untuk 6 pcs. Mahal kan.. Disini saya sempat beli kain dan beli longyi bertali. Longyi asli Myanmar warnanya kurang cerah tapi bahannya adem. Longyi yang cerah dan penuh warna pasti buatan Thailand, bahannya lebih tebal dan harganya lebih mahal.

Setelah puas shopping (dan berkali-kali harus packing ulang gara-gara kebanyakan belanja), kami numpang mandi di hostel. Sekitar pukul 5 sore kami nyegat taxi ke Aung Mingalar untuk naik bus menuju Bagan.
Hmm… rasanya udah ngga sabar pengen lihat Bagan…

Please wait for my next post about Bagan..


One thought on “Yangon In A Glance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s