Circular Train of Yangon

Puluhan tahun saya tinggal di kota satelit bernama Bogor, jadi moda transportasi yang bernama kereta bukanlah hal yang asing bagi saya. Apalagi ketika kuliah dulu, setiap hari saya naik kereta ekonomi yang masih ganas dan brutal itu. Keretanya berpintu namun pintunya ngga ada yang bisa ditutup. 

Kini setelah ada commuter line jabodetabek, kehidupan para penglaju memang lebih dimudahkan, meski kadang masih terasa tak nyaman. Tapi setidaknya sudah ada kemajuan pesat dalam perkeretaapian Indonesia pada paruh terakhir dasawarsa ini.

Sebagai mantan “anker”, alias anak kereta, saya selalu ingin mencicipi rasanya naik kereta di setiap kota atau negara yang saya kunjungi. Nah, apalagi di Yangon ini ada yang namanya circular train, yakni kereta yang rutenya mengelilingi (ya iyalah… wong namanya circular) kota Yangon, mulai dari Yangon Central Station di selatan, lalu ke utara, dan berakhir lagi di Yangon Central Station. 

Saya sempat salah baca peta. Saya pikir pintu masuk Yangon Central Station itu ada di Bogyoke Road. Jadilah dari tempat kami menginap di Pansodan, kami jalan kaki menuju Bogyoke Road yang hanya berjarak sekitar 100 meter saja. Di tempat yang seharusnya adalah stasiun (menurut peta), kami menemukan suatu ruangan gelap beratap seng dengan banyak loket-loket. Pokoknya suram dan spooky lah. Nggak kaya stasiun di Indonesia yang terang benderang (minimal oleh cahaya matahari). Kami pikir ini adalah bagian penjualan karcis stasiun, so seharusnya relnya ada di belakang loket kan (berasa di stasiun Bogor deh ah…).

Gelap dan Spooky…

Lagi-lagi kendala bahasa menyulitkan kami. Sebelumnya kami mendapat info bahwa karcis untuk circular train dijual di peron nomor 7. Nah.. peronnya mana? Mau gak mau harus nanya kan.. Nah ntu dia.. susah banget berkomunikasi dengan penjaga loket. Akhirnya saya cukup mengucapkan dua kata “circular train”, nah baru deh pada mudeng.

Seorang petugas loket bilang bahwa untuk naik circular train bukan dari sini. Kami disuru keluar lalu ambil arah kiri, nah disitu belinya. Jalan ke sebelah kiri itu kan bakalan mentok jembatan fly over. Lho… kok jadi bingung. Kayaknya loket ini adalah tempat penjualan tiket kereta luar kota deh..

Karena kami belum paham, kami bertanya lagi pada penjaga loket lainnya. Nah…akhirnya jelas deh. Jadi kami harus keluar dulu, lalu ke arah kiri dan naik tangga ke fly over Pansodan. Terus setelah di atas, ambil arah kiri lagi. Stasiunnya ada di bawah fly over itu. Tadaaa… tau gitu sih tadi dari hostel langsung aja nyusurin fly over itu.. hehehe..

Parkiran kereta…

Dengan semangat full, kami pun mengikuti petunjuk petugas itu. Tapi semangat kami sudah habis saat sampai di atas fly over, dan diganti dengan napas yang megap-megap. 

Sisi selatan Yangon Central Station

Hanya beberapa puluh meter dari tangga naik itu, kami menemukan tangga turun menuju ke peron. Nah…itu tuh peronnya sodara-sodara.. 

Di pertengahan tangga turun sudah ada meja penjual tiket. Ga usah pusing-pusing, bilang aja “circular train”, dan beliau akan langsung merobek tiket sekaligus menstempelnya. Harga tiketnya hanya 200 MMK saja. Murah banget kan…

Kami pun turun ke arah peron.. Tapi… peron nomor 7 itu yang mana ya? Kok ga kelihatan papan angkanya. Akhirnya kami tanya sana tanya sini deh. Ternyata peronnya persis di depan mata kami. Ada banyak juga penjual tiket cirular train ini di sepanjang peron, bahkan untuk yang di peron ini, jualannya online pake komputer. 

Karena bokap kebelet pipis, kami akhirnya hunting toilet dulu. Kacaunya, toilet cuma ada satu, di ujung peron sebelah timur. Jadi bokap harus memadukan gaya lari sambil nahan pipis. Saat nunggu bokap ke WC, saya melihat satu tangki besar dengan gelas-gelas plastik. Air minum bukan ya? Kebetulan botol-botol bawaan udah pada kosong nih. Tapi tanya siapa ya? Akhirnya saya nanya orang lewat pakai bahasa isyarat gerakan orang minum. Orang itu mengangguk.. Haa.. berarti air ini emang aman diminum..

Ujung Peron

Pas kami ribeut urusan WC dan air minum, eh ada kereta datang di jalur 7. Tak lama kemudian, kereta itu berangkat lagi. Yaaahhh… ketinggalan daaah….
Terpaksa nunggu lagi deh… Sambil nunggu sambil mengamati kesibukan di stasiun.. Berasa di stasiun Bogor sekian belas tahun yang lalu deh. Gak ada yang jualan sih di peron dan ga ada yang ngamen juga. Tapi suasananya tuh kayak back to the past gitu deh.. hehe.

Peron nomor 7…

Nah.. Jangan nyari KRL yee.. adanya model-model kereta diesel berlokomotif itu tuh..
Karena semua pengumuman disampaikan dalam Bahasa Burma, so kami jadi nggak pede deh. Setiap ada kereta masuk kami langsung tanya-tanya ke petugas peron. Tak lama kemudian ada kereta masuk ke jalur 7, lalu kami melihat seorang bapak yang menggiring banyak orang. Sambil jalan dia bilang, “Circular Train? Follow me!” Nah.. kalau begini kan enak.. dijamin ga sesat. Dia lalu bilang kita bebas duduk di gerbong dan kursi manapun. Keretanya tak ber-AC, tanpa pintu, dan jendela-jendelanya terbuka lebar. 

Naiklah kami ke kereta yang persis banget dengan kereta ekonomi jabodetabek sepuluh tahun yang lalu. Tempat duduknya berupa kursi panjang berhadapan. Bawaan penumpangnya juga sagala aya, mulai dari karung-karung sayur, pikulan dagangan, dan lain-lain. Untunglah saya ngga nemuin bebek atau ayam atau lemari kayu.

Oh iya, dari penelusuran di dunia maya, saya nemu jadwal circular train ini, walau sepertinya keberangkatan kereta ngga sesuai, alias ngaret dari jadwal ini.

Kode R menunjukkan arah perjalanan ke timur dari stasiun Yangon (berlawanan jarum jam), sedangkan L menunjukkan arah ke barat, searah putaran jarum jam. Waktu itu kami naik kereta jam 10.30 (nah gak ada di jadwal kan) ke arah L.

Ini nih peta rutenya :

Fresh from dinding kereta..

Tuh.. rute kereta saya yang ke arah Pagoda Road. 

Kalau mau berinteraksi dengan penduduk lokal, memang circular train ini sarana yang paling wokeh.. Nih sekilas keseruannya…

Anak-anak… Selalu bahagia jika diajak naik kereta… Btw pose duduk emaknya asyik banget yaa…
Peron Stasiun Pagoda Street… Simple yoo…

Keretanya berjalan lambaaat banget… Coba deh jarak tempuh totalnya kan sekitar 46 km, tapi ditempuh dalam 3 jam. Jadi berapakah kecepatan kereta? *tung itung itung… Jawabannya adalah kurang lebih 15 km/jam. Siapa yang jawabannya bener? Ngacungg…

Nah.. udah kebayang kan betapa lambatnya kereta ini? 

Berpapasan dengan kereta lain. Si bapak yang duduk di pintu langsung melambaikan tangan saat sadar dirinya sedang saya potret.

Ternyata di atas kereta ada juga yang jualan snack, model tahu isi dan jenis gorengan lainnya. Sayangnya tahu isinya pakai daun ketumbar.. Hiks… Tapi sambelnyaa… maknyusss… top margotop.. Sisa sambelnya saya campur dengan keripik singkong… Wuihh… sampe keringetaann…

Tukang tahu isi dan produknya
Entah ibu ini jualan apa yee…

Begitu juga di peron stasiun…

Pemandangan umum di peron stasiun, kecuali di Yangon

Semakin lama isi gerbong semakin semarak. Apalagi kalau di dekat stasiun ada pasar.

Emak perkasa
Barter belanjaan

Sepanjang jalan tiket kami sempat dicek tiga kali oleh petugas. Setelah dicek tiket kami dicoret pakai bolpen. Masalahnya lama-lama tiket tipis itu semakin lepek dan basah. Maaf ye, karcisnya keburu sobek sebelum sempat dipotret.

Petugas kereta.. Untung aja dia ga pake longyi.. Soalnya anginnya kenceng..

Jalur kereta ini adalah jalur kereta tertua hasil karya pemerintah kolonial Inggris tahun 1954. Kami menyaksikan bangunan stasiun yang cantik ala kolonial berwarna merah. Itulah stasiun Kyimyindang.

Kyimyindaing atau Kemmendine

Kami awalnya sempat khawatir tidak bisa mengidentifikasi setiap stasiun karena kendala bahasa. Tapi untunglah.. Papan nama stasiun ditulis dalam dua aksara.

Stasiun Insein. Salah satu stasiun besar di jalur ini.

Nah… pemandangan ini nih yang unik… Bisa lihat pesawat mau lepas landas antara Stasiun Waibargi dan Okkalapa.

Wow… Wow… Nok Air siap-siap take off..

Walau banyak yang dilihat… tapi lama-lama kerasa bosen juga sih.. Dah gitu pantat mulai tepos dan baal. Kereta pun semakin padat, jadi saya berdiri aja deh.

Anda galau? Saya jugaa…..
Anda bingung?? Saya jugaaa….

Rasanya lamaaaa banget gak nyampe-nyampe.. Mana perut mulai lapar.. Tapi akhirnya ada satu pemandangan yang bikin nyengir..

Foto prewed kok di rel?!?!
Sejauh mataku memandang..

Akhirnya kami hampir tiba di Yangon Central Station. Fyuuuh…legaa banget… Menjelang stasiun Yangon, saya melihat menara-menara masjid. Ternyata itu adalah perkampungan Muslim yang ada di sebelah timur stasiun.

Kami tiba kembali di stasiun Yangon tepat pk. 13.30 dengan sejuta rasa : lapar, haus, tepos, capek, dan pengen pipis. Tapi juga hati terasa senang, excited, seru, dan benar-benar membuka mata..

Kembali ke Yangon… yeaaayyyy….

So.. Kalau ke Yangon jangan sampai ngga nyoba circular train ini yaa…


6 thoughts on “Circular Train of Yangon

  1. Kalo lihat cerita dan foto-fotonya, bersyukur deh KRL Jabodetabek sekarang udah bagus banget🙂
    Ternyata Asia Tenggara nggak beda jauh ya kultur negara-negaranya. Ada emak2 jualan, ada yang mainan di rel.

    1. Iya mbak… kereta ini bener2 menerapkan prinsip woles bro… alias biar lambat asal selamat.. kita2 yg udah terbiasa pake comline pasti kaga sabar dah mba… hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s