Bagan : Sebuah Ringkasan

Catatan ini disusun sebagai hasil pencarian jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul di benak kami ketika mengunjungi Bagan. Masih banyak hal yang belum bisa terjawab, semoga suatu hari saya bisa mendapatkan referensi yang lebih kaya dan menemukan jawaban atas hal-hal yang belum terjawab itu.

Zona arkeologi Bagan (Pagan) adalah area seluas 13 km x 7 km yang terletak di Myanmar bagian tengah,  tepat di tepi sebelah timur  Sungai Irrawaddy (Ayeyawaddy). Di dalam area ini tersebar sekitar 3000 bangunan masa lampau yang tersusun dari batu bata. Pada awalnya, area bernama Bagan hanyalah daerah yang terletak di dalam tembok kota, namun Bagan masa kini meliputi seluruh area arkeologi, mulai dari Nyaung Oo di utara, New Bagan di selatan, serta Minnanthu dan Pwasaw di timur. Daerah yang kini disebut New Bagan dibangun oleh keluarga-keluarga yang diusir dari rumah mereka yang terletak di dalam tembok Old Bagan, oleh rezim militer pada awal tahun 90an.

Tanda batas Old Bagan dengan Nyaung Oo

Catatan sejarah tentang Bagan berasal dari dua sumber, yakni informasi yang berasal dari prasasti, catatan tertulis, maupun dari peninggalan bangunan itu sendiri, serta dari mitos-mitos yang diceritakan turun menurun dari generasi ke generasi. Kedua sumber ini saling bercampur satu sama lain, sehingga membingungkan dan membuat samar mana yang fakta dan mana yang fiksi.
Sebagian besar bangunan di Bagan dibangun pada periode abad ke-11 hingga abad ke-13, periode ketika Bagan menjadi pusat dari kerajaan Bagan dan agama Buddha. Bangunan-bangunan awal didirikan pada abad ke-11 hingga 12 di tepi sungai Irrawaddy (Ayeyarwaddy) dan di dalam tembok kota, kemudian sejak akhir abad ke-12 ada banyak bangunan yang dibangun tersebar di luar tembok, namun tetap berfokus pada area sepanjang tepi sungai. Tercatat lebih dari dua ribu bangunan didirikan antara abad ke-11 hingga abad ke-14, dan hanya sekitar 200 bangunan didirikan antara abad ke-15 hingga abad ke-20.

Ayeyarwaddy River

Bagan sendiri mulai ditinggali sejak abad ke-9, ketika orang-orang Burma pindah dari Cina selatan menuju sisi tengah daerah aliran sungai (DAS) Irrawaddy. Mereka ini adalah orang-orang suku Pyu dan Mon yang memiliki kontribusi besar terhadap pembentukan budaya di Bagan. Sejak abad ke-5 orang-orang Pyu telah mengadopsi banyak hal dari India, antara lain penggunaan istilah Sanskrit untuk gelar kerajaan, serta pembuatan ukiran naskah Buddha di atas lembaran emas dalam bahasa Pali. Orang Pyu terusir dari sisi utara DAS Irrawaddy oleh orang-orang kerajaan Nanchao yang berasal dari Yunnan, Cina.

Orang Mon menempati sisi selatan Burma dan sudah mengenal ajaran Buddha dari India. Orang Mon memasuki Bagan sekitar abad 11. Raja Bagan yang pertama, Anawrahta (1044-1077) memperkenalkan Budda Theravada kepada warga Bagan dan menjadikannya sebagai agama nasional, yang awalnya berasal dari kepercayaan orang-orang Mon ini.

Daftar Raja-Raja Bagan

Pada abad ke-11, nama resmi dari Bagan adalah Aridamanddanapura, sebuah kata dari Bahasa Pali, yang berarti “Kota Penghancuran Musuh”. Nama lokalnya adalah Pukam, atau Pokam, namun berubah menjadi Pagan pada abad ke-20. Standar romanisasi aksara Burma mengubahnya lagi menjadi Bagan, dan itulah nama resminya hingga sekarang.

Salah satu raja Bagan yang paling terkenal adalah Kyanzittha. Ia berhasil menyatukan seluruh kerajaan, dan sering disebut-sebut sebagai reinkarnasi Wisnu. Ia mendapat misi untuk pergi ke Bodh Gaya di India, dengan tujuan merestorasi sebuah kuil peringatan bagi Buddha yang tercerahkan. Ketika ia jatuh sakit pada tahun 1112, anaknya mempersembahkan sebuah patung Buddha yang terbuat dari emas serta membangun sebuah kuil untuk mohon kesembuhan baginya. Informasi yang terkait hal ini tercantum pada dua lempeng, dan ditulis dalam empat bahasa : Pyu, Mon kuno, Pali, dan Burma kuno.

Mengapa ada begitu banyak bangunan religius dibangun di Bagan? Salah satu alasan yang paling bisa diterima adalah karena dengan membangun kuil, stupa, atau biara, mereka (para penganut Buddhisme, para pemimpin agama, dan anggota kerajaan) dapat mengumpulkan karma baik agar dapat mengakhiri siklus kelahiran kembali, meski ada juga yang ingin dilahirkan kembali agar dapat menyaksikan kedatangan Buddha Maitreya, sang Buddha dari masa depan. Bisa dikatakan bahwa Bagan adalah sebuah kisah dimana batu bata bertransformasi menjadi kebajikan religius. Jika batu-batu ini bisa mengukur besarnya kebajikan, maka Bagan akan menjadi pusat kebajikan itu. Salah seorang donatur pada abad ke-18 bahkan membangun sebuah biara yang disusun dari setengah juta bata. Jumlah itu seolah menggambarkan betapa besar pengorbanan dan baktinya.

Landscape Barat

Kejayaan Bagan mulai menyurut ketika ibukota kerajaan pindah ke Pinya, lalu ke Ava pada abad ke-14. Kepindahan ini kemungkinan akibat gangguan dari pasukan Mongol pada akhir abad ke-13. Sebagian besar bangunan ditinggalkan begitu saja, dan donatur-donatur menghentikan aliran dananya untuk perawatan bangunan-bangunan itu. Bagunan religius yang besar dan penting memang tidak pernah diabaikan, namun sebagian besar bangunan menjadi tidak bermanfaat lagi dan akhirnya terlupakan.

Pada periode Konbaung (1752-1885), Bagan dijadikan lagi pusat agama Buddha. Bangunan baru didirikan seperti Upali Thein dan Biara Ananda, serta dilakukan pembaharuan lagi terhadap bangunan-bangunan tua seperti Ananda dan Sulamani.

Pada tahun 1797, seorang utusan Inggris menemukan reruntuhan bangunan kuno yang jumlahnya tak terhitung dalam kondisi tertutup sampah, gulma, dan ditumbuhi pohon. Begitu juga pada awal abad ke-19 muncul laporan bahwa reruntuhan tersebut menjadi sarang burung hantu, kelelawar, bahkan dijadikan kandang sapi oleh warga sekitar. Pada perang Burma yang pertama tahun 1824, Bagan adalah salah satu area yang dikuasai pertama kali oleh pemerintah kolonial Inggris. Bagan lalu diurus oleh Departemen Arkeologi yang bertanggung jawab langsung terhadap administrator Inggris di Kalkuta.

Gerombolan Kelelawar di Atap Dhammayangyi

Ada tiga jenis bangunan utama yang paling banyak ditemukan di Bagan, yakni kuil (temple), stupa, dan biara. Selain itu ditemukan juga bangunan perpustakaan, aula pentahbisan, atau bahkan hanya berupa sebuah ruangan tunggal.

Stupa (Burma : zedi; Pali : cetiya) adalah bangunan masif yang didirikan untuk mengabadikan (mengubur) relik, biasanya bagian tubuh atau benda-benda milik Buddha. Bentuk stupa di Bagan dipengaruhi oleh corak India. Bangsa India membangun stupa dengan bentuk seperti telur, di atas sebuah landasan berbentuk segi empat. Stupa menggambarkan alam semesta dalam ajaran Buddha dan bentuknya menyimbolkan Gunung Meru sebagai pusat dunia. Puncaknya yang berbentuk seperti payung menggambarkan poros dunia. Orang Pyu kemudian melakukan modifikasi atas bentuk itu dan muncullah stupa berbentuk silinder yang lebih panjang. Pada abad ke-11 bentuk stupa berkembang menjadi lonceng dengan puncak seperti payung yang terangkai dari tumpukan cincin yang semakin mengecil ke atas. Pada bagian paling puncak terdapat kuntum teratai yang lama kelamaan berubah menjadi pucuk pisang. Pada umunya tidak ada pintu masuk pada bangunan yang disebut sebagai stupa, dan kegiatan peribadatan hanya dapat dilakukan di pelataran stupa.

Shwezigon. Di bawahnya dikubur relik gigi dan tulang dahi Buddha

Sedangkan kuil (Burma : ku/ gu; Pali : guha) adalah bangunan yang didirikan untuk melakukan meditasi dan peribadatan kepada Buddha. Berbeda dengan stupa, kuil ini dapat dimasuki. Di bagian dalamnya terdapat satu atau lebih Patung Buddha dan dindingnya dihiasi oleh lukisan. Atap kuil didesain dengan teras persegi yang memiliki menara berupa shikhara (bentuk puncak gunung). Sebagian besar kuil di Bagan hanya memiliki satu lantai, namun ada pula yang memiliki dua lantai dengan lantai atas berbentuk persegi untuk menempatkan patung Buddha yang mengarah ke timur.

Atap temple

Berdasarkan layoutnya, kuil-kuil di Bagan dapat dikelompokkan menjadi dua :

  1. Kuil dengan bagian tengah (center) tertutup, dan dikelilingi oleh koridor berkubah. Ini adalah layout asli Bagan. Patung Buddha diletakkan tepat di depan dinding yang menutupi bagian tengah, menghadap ke arah pintu masuk.
  2. Bagian tengah kuil terbuka di bawah kubah dan dikelilingi koridor. Patung Buddha diletakkan di bagian tengah kuil yang disebut sebagai tempat suci (sanctum).

Sedangkan menurut jumlah pintu masuknya, kuil-kuil tersebut dapat dibagi menjadi tiga jenis :

  1. Kuil satu wajah : hanya memiliki satu pintu masuk.
  2. Kuil empat wajah : memiliki empat pintu masuk, untuk menghormati empat Buddha terakhir dari masa yang sekarang (Kakusandha, Konagamana, Kassapa, dan Gautama).
  3. Kuil dengan lima pintu masuk, untuk menghormati empat Buddha dan satu Buddha yang akan datang (Maitreya).

Namun di Bagan tidak ada batas pembeda yang jelas antara stupa dan kuil. Ada bangunan berbentuk stupa yang memiliki sebuah pintu masuk serta di dalamnya terdapat Patung Buddha, dan juga ada kuil yang memiliki atap dengan bentuk silinder seperti stupa. Kuil pun ada yang menyimpan relikwi, yang biasanya disimpan dalam sebuah kotak batu, lalu dimasukkan ke bagian kepala, dada, atau di bawah Patung Buddha. Pada masa yang lampau banyak pemburu relikwi yang merusak patung-patung ini untuk mengambil relik yang tersembunyi di dalamnya. Saat ini, satu kata Burma “hpaya” digunakan baik untuk menyebut stupa maupun kuil. Begitu juga dalam bahasa Indonesia, bangunan-bangunan ini kita sebut dengan istilah “candi”, sebuah kata yang merujuk pada seluruh bangunan bersejarah peninggalan Hindu Buddha, dan meliputi eks tempat ibadah, istana, pemandian, gapura, biara, dan sebagainya.

Beratap stupa namun dapat dimasuki

Peninggalan berupa biara memiliki lebih banyak ruangan, antara lain aula pentahbisan, aula peribadatan, tempat tinggal para bikkhu, serta ruangan untuk kepala biara. Sebuah biara biasanya memiliki bangunan kuil atau stupa di dalam kompleknya.

Sekilas pandang, semua bangunan di Bagan tampak mirip. Sebetulnya jika diamati dengan seksama, setiap bangunan memiliki ciri khasnya sendiri. Seorang arsitek Perancis, Pierre Pichard mengatakan “Bagan menyeimbangkan ‘keseragaman’ dan ‘perbedaan'”.

Lantas darimanakah asal batu bata untuk menyusun bangunan-bangunan religius itu? Sebagian batu bata dibuat dan dibakar di Bagan, namun banyak juga yang berasal dari DAS Irrawaddy bagian utara dan selatan yang dikapalkan menuju Bagan. Batu bata tersebut biasanya ditandai dengan nama desa dan daerah tempat mereka diproduksi, lalu akan ditambah pula dengan nama dan titel dari donatur mereka. Batu bata tersebut lalu direkatkan dengan tanah liat yang dicampur dengan pasir dan material organik lainnya untuk menyusun sebuah bangunan. Namun sayangnya, bahan pelekat ini tidak terlalu tebal dan mudah terkikis air. Selain batu bata, material lain yang digunakan dalam pembangunan adalah batu pasir. Batu ini digunaan untuk memperkuat dinding, membentuk lengkungan, lantai, ambang pintu, dan kusen.

Seluruh bangunan batu bata ini dilapisi oleh plester, meskipun kini sebagian besar plester itu telah lenyap. Bagian luar bangunan pertama-tama dilapisi oleh selapis plester, lalu lapisan berikutnya ditambahkan pada area-area yang akan ditambahkan ornamen. Komposisi dari plester ini belum pernah dipelajari, namun kemungkinan besar terdiri dari campuran pasir, kapur, dan air. Ditemukan pula satu resep plester kuno khas Burma yang menambahkan molase dari gula palem dan perekat gelatin yang berasal dari kulit kerbau.

Tiga lapis : mural-plester-batu bata merah

Satu hal yang cukup unik adalah penggunaan keramik dan keramik berglasir untuk ornamen bangunan sejak abad ke-11, seperti yang terdapat pada teras lantai dasar Shwegugyi, dimana terdapat panel keramik berwarna hijau yang berasal dari tahun 1131. Teknik glasir ini juga diterapkan untuk melapisi batu pasir untuk membuatnya menjadi mengkilap.

Keramik berglasir di dinding Ananda
Batu berglasir di bagian bawah Shwezigon

Selain material-material tersebut, ditemukan juga material kayu dan logam dari berbagai peninggalan di Bagan. Kayu digunakan sebagai bahan pembuat pintu, patung Buddha, tahta raja, dan pilar istana. Penggunaan kayu ini kemungkinan bermula pada abad ke-12. Material logam (emas, perak, dan perunggu) digunakan untuk pembuatan patung logam dengan teknik cetakan lilin. Sebagian logam ini juga dicairkan dan diabadikan sebagai relikwi di dalam kuil atau stupa.

Patung Buddha adalah salah satu inti utama dari kuil-kuil di Bagan. Patung Buddha selalu diletakkan menghadap pintu masuk. Patung-patung ini dibuat dari batu bata yang dilapisi plester lalu dicat. Pertama-tama batu bata disusun membentuk tubuh patung, lalu bagian luarnya dipotong sesuai kontur bagian luar patung. Kadang digunakan pula batu panjang untuk membentuk bagian kaki dan tangan. Sering juga digunakan lempengan logam tipis untuk menahan plesteran di bagian tertentu seperti pada daun telinga dan jari-jari. Sedikit sekali ditemukan patung yang terbuat dari batu, kemungkinan karena harganya jauh lebih mahal daripada bata hingga hanya donatur-donatur kaya yang bisa menyumbangkannya. Patung-patung ini biasanya berukuran tidak terlalu besar dan diletakkan di lorong masuk, koridor, dan dinding bagian dalam sanctum.

Dua pose patung Buddha yang paling sering ditemui adalah Reclining Buddha (Buddha tidur) dan Buddha dalam posisi Bhumisparsha mudra. Ini adalah gestur Buddha ketika mendapat pencerahan. Tangan kirinya terbuka dan menengadah di atas pangkuan, sementara tangan kanannya menempel pada lutut kanan dengan jari-jari menyentuh bumi. Ketika itu Buddha memanggil Dewi Bumi untuk menjadi saksi pencerahannya di bawah pohon Boddhi.

Bhumispharsa Mudra

Dinding setiap kuil dihiasi dengan mural (lukisan dinding), meski kini hanya sedikit yang bisa dilihat dan diidentifikasi kisahnya. Ternyata mural-mural serta plakat relief yang dipasang di dalam kuil tidak pernah dimaksudkan untuk dinikmati atau diamati. Interior kuil yang gelap tidak memungkinkan untuk melihat apa yang ada pada permukaan dindingnya. Selain itu relief atau mural ini seringkali diletakkan pada dinding bagian atas, di luar jangkauan pandang mata manusia. Alasan utama adanya gambar-gambar suci itu memang bukan sebagai sarana pengajaran, namun sekedar sebagai icon untuk melengkapi syarat pendirian sebuah kuil. Ini mendukung pernyataan bahwa pendirian stupa dan kuil-kuil di Bagan memang bertujuan untuk mengumpulkan karma baik, hingga semakin megah dan mahal bangunan tersebut, maka akan semakin besar pahala yang akan diterima.

Butuh dua senter untuk bisa mrlihat mural ini – Kyansithar Umin

Bagan adalah area yang rentan gempa bumi. Pada 8 Juli 1975, terjadi gempa dengan kekuatan 6 SR dengan episentrum 38 km dari tembok kota Bagan. Sebagian candi hancur dan roboh, yang terparah adalah candi-candi yang lokasinya dekat Sungai Irrawaddy karena pasir alluvial di tepi sungai tersebut sangat tidak stabil. Pemerintah bekerja sama dengan UNESCO untuk memperbaiki dan memperkuat candi-candi yang masuk kategori beresiko tinggi. Kerja sama ini juga membuahkan restorasi lukisan-lukisan mural dan pencatatan terhadap candi-candi senatero Bagan pada periode tahun 80 hingga 90an.

Sayangnya banyak proses rekonstruksi yang berjalan tanpa persetujuan UNESCO. Ini terjadi karena ketidakakuratan dalam proses restorasi dan rekonstruksi. Rekonstruksi hanya didasarkan pada tebakan dan imajinasi sehingga hasilnya sangat tidak akurat. Keadaan ini diperparah ketika pada tahun 1996 pemerintah membuka kesempatan bagi para donatur pribadi untuk membangun kembali stupa atau kuil yang hancur. Mereka mendirikan stupa atau kuil baru di atas sisa reruntuhan bangunan lama. Mereka bebas memilih reruntuhan mana yang hendak mereka bangun, biasanya yang mereka anggap memiliki pertanda baik. Hasil dari pembangunan kembali ini terlihat kontras dengan bangunan kuno yang tersisa.

Sisa batu bata asli berukuran panjang

Batu bata baru memiliki ukuran yang lebih pendek serta warna yang lebih merah tua. Bangunan baru ini tidak dilapisi plester, serta batanya direkatkan dengan semen modern yang lebih tebal. Ini sangat beresiko apabila terjadi gempa bumi. Perlekatan yang baik ini akan menimbulkan keruntuhan yang lebih besar seperti efek domino. Semen modern juga mengandung garam yang terdistribusi ke dalam batu bata dan berpotensi merusak lukisan mural. Sisa-sisa plesteran dinding bagian dalam yang memiliki lukisan mural ditahan dengan semen modern agar tidak runtuh. 

Patung-patung Buddha hasil rekonstruksi dicat dengan cat baru yang warnanya sangat mencolok dan tidak selaras dengan plester dan mural kuno di sekitarnya. Apalagi akhir-akhir ini orang-orang senang meletakkan lingkaran lampu di sekeliling kepala Buddha yang membuat pemandangan semakin terlihat kontras.

Patung Buddha yang terlalu eye catching

Setiap memasuki sebuah kompleks candi, saya selalu bertanya : “Bagian mana yang masih asli peninggalan Bagan, dan bagian mana yang merupakan hasil rekonstruksi?” Pertanyaan itu tak selalu dapat terjawab hingga akhirnya saya jadi meragukan originalitas dari semua hal yang terpampang di hadapan saya.

Ah.. Pantas saja proyek pembangunan kembali Bagan pada era 90an itu mendapat kecaman keras dari dunia.. Rekonstruksi dan restorasi itu bagai operasi plastik yang tak berhasil mempercantik wajah Bagan, namun malah membuatnya jadi terlihat aneh dan janggal.

Referensi :

_. Bagan. diakses tanggal 19 Juli 2016. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Bagan

_. Myanmar Stupas and Temples. diakses tanggal 19 Juli 2016. http://www.templeofdynasty.com

Stadtner, Donald M. Ancient Pagan : Buddhist Plain of Merit, Bangkok, 2012.

 Inilah kisah perjalanan kami selama di Bagan :

Hari PertamaMasih hari pertama, dan Hari Kedua

 


8 thoughts on “Bagan : Sebuah Ringkasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s