Petang Bersama Teteh…

Cilegon baru saja usai diguyur hujan. Jalanan basah dan hembusan angin dingin menemani langkahku menuju warung teteh yang terletak di ujung jalan Raden Sastradikarta.

Namanya Cahyati, namun aku bertahun-tahun memanggilnya dengan sapaan “Teteh Ratna”. Baru sebulan lalu aku tahu nama aslinya, itupun karena kami bertukar pin BBM. Ratna sebetulnya adalah nama putri semata wayangnya, tapi entah mengapa teteh selalu mengaku bahwa namanya adalah Ratna.

Delapan tahun yang lalu aku mengenal teteh dari sahabatku. Ketika itu aku baru saja pindah kosan ke dekat kosannya. Setiap pagi kami sarapan nasi uduk dan gorengan di warung teteh. Bukan teteh yang masak sih, teteh hanya dititipi saja. Selain sarapan kami juga sering membeli keperluan sehari-hari disana, mulai dari obat-obatan, pulpen, sabun cuci, sabun mandi, kopi, teh, cemilan, bahkan sampai titip cucian untuk dikirim ke laundry. Tak hanya itu, kami yang sering terlambat bangun terpaksa harus pinjam sendok ke teteh supaya bisa makan nasi uduk di atas jemputan. Untung kami tak pernah pinjam piringnya teteh.. hehehe..

Setelah aku pindah ke mess pabrik dan sahabatku menikah lalu pindah rumah, kami masih sering mampir ke warung teteh untuk sekedar memuaskan rasa kangen makan nasi uduk dan gorengan, atau hanya sekedar numpang duduk dan bertukar kabar. Beberapa bulan terakhir aku dan teman sedepartemenku punya program daur ulang bungkus kopi. Teteh adalah penghasil bungkus kopi yang sangat produktif. Maklumlah warung teteh adalah persinggahan banyak orang, mulai dari para tukang ojek, karyawan, mahasiswa, pegawai mini market, hingga penjaga counter hape. Nah, program ini membuatku mampir ke tempat teteh seminggu sekali untuk mengambil bungkus kopi yang seabrek itu sekaligus berbagi banyak cerita tentang hidup.

Teteh, di balik tubuhnya yang kurus dan mungil, ternyata memiliki hati sekuat baja. Sekolahnya hanya sampai SD karena orang tuanya tak punya biaya. Teteh ingin sekali masuk SMP tapi orang tuanya memilih untuk hanya menyekolahkan anaknya yang laki-laki. Teteh sampai tak bisa tidur karena begitu inginnya melanjutkan sekolah. Ia harus menahan irinya ketika teman-teman mainnya berkisah tentang sekolah dan teman-teman mereka. Orang tuanya lalu memasukkan teteh ke kursus jahit. Belum sampai lulus, teteh diajak kerja ke Jakarta untuk bekerja di usaha konveksi rumahan. Usianya baru 14 tahun ketika ia meninggalkan rumahnya di Ciamis dan merantau ke ibu kota. Bahasa Indonesianya belum lancar dan ia sangat gugup hingga selalu tergagap-gagap jika diajak bicara. Untunglah pemilik konveksi itu adalah seorang Haji yang menjaga dan mengajarkan banyak hal pada teteh. Meski begitu teteh selalu merasa minder dan grogi. Ia selalu merasa dirinya dari kampung dan tak punya kualitas diri yang mampu dibanggakan.

Ada satu kejadian lucu yang masih diingat teteh saat bekerja di rumah pak haji itu. Ia begitu takut jika disuruh mengambil makanan dari dalam kulkas. Kenapa? Karena setiap kali kulkas dibuka selalu ada asap keluar, jadi teteh mengira ada api di dalamnya. Hehehe..

Teteh lalu merantau ke Purwokerto menjadi penjaga toko roti di sebuah pasar. Ia bertugas mengemas roti dan menyiapkan pesanan agen-agen distributor. Sejak pukul lima pagi teteh sudah harus stand by mengalokasikan roti untuk masing-masing agen yang biasanya diambil oleh tukang becak.

Teteh menikah di usianya yang ke-17. Ia lalu ikut suaminya bekerja kasar di kebun kopi di daerah Lampung Barat. Sayang suaminya adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Seluruh hasil panen dikirim untuk berinvestasi di kampungnya, sementara teteh dan anaknya tidak dinafkahi dengan cukup. Lama-lama teteh tahu bahwa suaminya sudah punya wanita lain. Teteh akhirnya memutuskan untuk berpisah dari suaminya. “Untuk apa hidup bersama orang yang tidak bisa dipercaya?”, Itu kata teteh padaku.

Setelah bercerai teteh pulang ke kampungnya bersama Ratna. Tapi ketika Ratna berumur 4 tahun, mantan suaminya datang dan membawa pergi Ratna tanpa seizin teteh, alias menculik Ratna. Teteh shock dan sakit berat selama berbulan-bulan. Ia tidak tahu kemana harus mencari Ratna. Apakah ke Lampung tempat kebun mantan suaminya? Atau ke Pacitan tempat keluarga mantan suaminya? Teteh saat itu hanya punya penghasilan dari kemampuannya menjahit, dan jelas itu tak cukup untuk membiayainya mencari Ratna. Teteh tidak mau meminta uang dari orang tuanya karena kondisi ekonomi mereka juga amat memprihatinkan. Setiap hari teteh tak pernah putus berdoa agar bisa berjumpa lagi dengan Ratna.

Dalam keterpurukan, Teteh memaksakan diri mencari pekerjaan di Jakarta, dan ikut dengan temannya yang berasal dari Kuningan. Tujuannya hanya satu : mengumpulkan uang untuk mencari Ratna. Teteh melamar di sebuah pabrik konveksi, namun tidak lolos karena tak terbiasa menggunakan mesin konveksi yang berukuran besar.

Untunglah ia diterima di sebuah perusahaan sweater. Tugasnya adalah memasang label pada leher sweater bagian dalam. Satu label dihargai Rp. 40, dan upah hariannya sebesar Rp. 10.000. Hari pertama kerja, teteh sudah mendapat masalah. Bukan dari tempat kerjanya, tapi dari seseorang yang mulutnya tidak pernah dididik.

Jadi begini.. Pada hari pertama itu teteh langsung kerja lembur hingga jam 12 malam. Teteh yang tak tahu jalan meminta ditunjukkan jalan pulang oleh seorang karyawan yang tinggal di mess pabrik. Di tengah jalan karyawan itu bertemu dua rekannya, dan mereka beramai-ramai ikut mengantar teteh pulang. Ternyata tetangga temannya teteh langsung membuat kesimpulan negatif tentang teteh. Ia mengadu pada teman teteh bahwa teteh bukannya bekerja tapi melacur. Buktinya teteh baru pulang jam 12 malam, diantar oleh tiga pria pula. Jadilah teteh didiamkan oleh teman serumahnya itu. Hingga beberapa hari kemudian ketika teteh menunjukkan slip gaji dan rekap pekerjaannya, barulah temannya itu percaya bahwa teteh sungguh bekerja lembur di pabrik hingga tengah malam.

Hampir empat tahun teteh berpindah-pindah dari satu pabrik konveksi ke pabrik yang lain, mulai dari pegawai kontrak harian yang dibayar berdasar target, hingga menjadi karyawan tetap yang dibayar mingguan. Teteh sudah kenyang dengan berbagai mesin di pabrik konveksi. Ia sudah terampil memasang dan merangkai bagian-bagian baju. Istilah kerennya : “Teteh sudah punya skill..”

Suatu hari teteh menerima surat dari Ratna. Surat itu ditulis oleh mantan suaminya namun dengan menggunakan bahasa dari sudut pandang Ratna. Dalam surat itu diberikan nomor telepon dan alamat jika teteh ingin menghubungi Ratna. Atas kebaikan seorang mandor, teteh bisa memakai fasilitas telepon pabrik untuk berbicara dengan Ratna.

Teteh akhirnya memberanikan diri mengambil cuti selama tiga hari untuk menemui Ratna di Pacitan. Usia Ratna waktu itu baru 8 tahun dan sudah lupa dengan wajah ibunya. Ketika melihat teteh, Ratna bersembunyi di balik tubuh budenya yang selama ini mengasuhnya, karena ayahnya bekerja di Lampung. Teteh kembali dari Pacitan dengan mata bengkak karena tak henti-henti menangis, usai bisa melihat lagi putrinya setelah dipisahkan selama empat tahun.

Lebaran tahun itu, teteh nekad mengunjungi Ratna lagi. Tak disangka, Ratna ingin ikut dengan teteh. Awalnya teteh mengira Ratna hanya ingin ikut liburan di kampung Teteh, tapi lama-lama Ratna tak mau lagi pulang ke Pacitan dan memilih untuk tinggal bersama ibunya.

Saat itu Ratna hanya membawa baju sehari-hari saja. Rapot, seragam, dan segala perlengkapan sekolahnya ditinggal di Pacitan. Meski teteh harus mengeluarkan uang untuk mendaftar sekolah dan membeli seragam, tapi ia sangat bahagia bisa bersama lagi dengan putrinya itu. Kejadian itu membuat mantan suaminya murka dan tak mau lagi membiayai Ratna. Teteh harus berjuang sendirian membiayai Ratna. Kondisi ekonomi Teteh yang sangat minim membuatnya terpaksa meninggalkan Ratna di Ciamis sementara ia kembali bekerja di Jakarta.

Enam belas tahun yang lalu, Teteh akhirnya memboyong Ratna ke Cilegon. Entah bagaimana mulanya, ia mendapat kepercayaan dari seorang pegawai rumah makan Padang yang mempunyai warung kecil semi permanen di sudut jalan R. Sastradikarta. Jika orang itu bekerja maka teteh bertugas menjaga warungnya. Akhirnya warung itu dijual dengan harga ringan pada teteh dan pembayarannya boleh dicicil. Orang itu bilang ia bersedia menyerahkan warungnya pada teteh karena teteh bisa dipercaya. Teteh selalu mengingat kata-kata itu hingga kini, dan ia memegang prinsip untuk selalu “jujur dan menjaga kepercayaan orang”.

Setiap hari teteh harus banting tulang dari subuh hingga menjelang tengah malam. Sering aku melihat teteh terlelap sambil bersandar di pintu warungnya. Aku sering khawatir ada orang yang mencuri uang dagangannya saat teteh sedang lengah begitu.

Teteh sudah sering bertemu dengan orang yang tak mau bayar hutang atau pura-pura lupa. Pernah juga ia ditipu dan dompetnya dicuri orang. Kadang teteh tetap memaksakan diri untuk berdagang meskipun sedang sakit. Ah.. Pantas saja badan teteh tak pernah gemuk..

Tapi kerja keras teteh tak sia-sia. Ia bisa membiayai kehidupan orang tua, anak, dan cucu-cucunya. Ia sudah bisa sedikit-sedikit membangun rumah di kampungnya, bahkan kini teteh punya sepeda motor, meski akhirnya terpaksa dikirim ke kampung, karena teteh tak bisa mengendarainya.

Teteh mengaku bahwa ia banyak belajar dari orang-orang yang singgah di warungnya. Ia belajar memakai handphone (dan smartphone), menggunakan internet, mengisi pulsa, belajar percaya diri menghadapi orang (apapun jabatannya dan berapapun usianya), dan hebatnya lagi, teteh banyak mendapat kosa kata baru hasil dari menyimak pembicaraan kami yang duduk mengobrol di kursi kayu itu. Bahkan Bahasa Indonesia teteh kadang lebih tertata rapi dan canggih jika dibandingkan dengan bahasaku.

Petang ini teteh menangis di hadapanku. Padahal ia bilang air matanya sudah habis sepanjang perjalanan hidupnya yang berat itu. Tapi petang ini teteh tak menangisi tragedi-tragedi yang dialaminya. Ia menangis karena bersyukur telah bisa melewati semuanya itu. Ia sadar masih banyak orang yang hidupnya lebih susah daripada hidupnya, dan sudah selayaknya ia mengucap syukur atas segala pahit manis kehidupannya hingga hari ini.

Ah teteh.. Kau membuatku malu.. Aku belum tentu bisa setegar dan sekuat dirimu, Teh..

Teteh.. terima kasih banyak sudah mau berbagi dan mengajarkan ilmu kehidupan kepadaku.

“A woman is like a tea bag. You can’t tell how strong she is until you put her in hot water.” (Eleanor Roosevelt)


5 thoughts on “Petang Bersama Teteh…

  1. Hoaa….. Aku berasa ditampar gitu…
    Merasa sering tak berdaya, padahal banyak yang jauh lebih susah dan terbatas kondisinya. Hatur nuhun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s