Bagan Hari Pertama : No More Scam, Please…

Hujan turun semakin deras, tapi kami sudah membulatkan tekad untuk tidak jadi berteduh di Mahabodhi, padahal jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi dari tempat kami berhenti.

Jadi begini ceritanya, saat kami sudah belok kanan menuju candi itu, kami dicegat oleh seorang Ibu. Dengan Bahasa Inggris yang bikin bingung dan di bawah hujan yang semakin deras, dia menawarkan kami untuk mampir. Harusnya kami seneng dong ya? Tapi ketika dia melihat wajah saya yang belepotan thanaka, dia bilang bahwa thanaka nggak baik untuk kulit, bikin jerawatan dan menutupi pori-pori. Saya jadi bingung karena setahu saya orang Myanmar sangat bangga dengan kosmetik yang satu ini. Ia lalu menawarkan kosmetik herbal lain yang lebih baik daripada thanaka dan katanya nggak bikin jerawatan. Lah.. jadi mau jualan toh Bu? Aih… Saya langsung jadi malas. Apalagi dia menjelekkan thanaka untuk menjual produknya. Makin malas deh. Akhirnya saya langsung meminta diri dan tancap gas kembali ke jalan raya.

Kami meluncur lagi dan akhirnya e-bike kami menemukan pertigaan, jalan yang ke kiri terlihat lebih besar dan hidup, sedangkan yang ke kanan terlihat seperti jalan perkampungan. Di depan kami ada dua candi berdampingan dalam satu kompleks. Kami lalu parkir sambil berteduh di halaman luar candi itu. Hujan semakin deras, dan akhirnya kami melihat sebuah rumah bertuliskan “REST AREA” tepat di seberang candi, ada di pojok kanan dari arah kami datang.

Beristirahat di seberang candi ini…

Rumah itu terlihat kosong dengan teras (sangat) kecil di depannya. Pada bagian samping terdapat pintu dengan petunjuk toilet, aduh, tapi kok digembok ya. Setelah kami amati lebih dekat, ternyata pintu itu tidak digembok, hanya diselot saja. Ah, syukurlah. Toilet modern itu terlihat sangat terbengkalai dengan debu dimana-mana dan keramik yang retak-retak. Udah gitu suasananya gelap dan lampunya tak bisa dinyalakan. Setelah selesai pipis (dan nggak ada air pula..) kami langsung keluar dari ruangan itu. Kami takut dituduh masuk rumah orang tanpa izin. Bisa kacau kan. Apalagi kalau sampai dikira maling. Wedeh…

Hujan belum juga nampak akan reda, masalahnya dengan berdiri disitu pun tak membuat kami terlindung dari hujan. Akhirnya bokap mengambil keputusan : kita terjang hujan ini! Kami lalu memakai perlengkapan tempur untuk melawan hujan. Bokap membungkus kepalanya dengan plastik keresek, dan saya melilit kepala dengan pashmina (keren sih, tapi nggak anti air). Kami masih tetap pada misi semula, bergerak ke arah selatan, mencari Shwesandaw dan Dhammayangyi. Plus langsung merapat kalau menemukan tempat makan.
Tak jauh dari pertigaan, kami melihat sebuah candi besar di sebelah kanan. Kami langsung membelokkan e-bike kami menuju candi itu. Sebetulnya sih kami mampir bukan karena si candi, tapi karena di depannya banyak tenda. Siapa tahu kan ada yang jual makanan. Tapi selamat yee.. Satu-satunya jenis makanan yang dijual di tempat itu adalah buah potong sejenis rujak.

Sambil menunggu hujan reda, kami putuskan untuk masuk ke candi yang bernama Gawdawpalin ini.

Gawdawpalin

Setelah e-bike terparkir dengan manis, saya membuka pashmina saya dari kepala. Eh, kok ada suara anak-anak ketawa ya. Ah.. ternyata tak jauh dari kami parkir, ada sebuah mobil bak terbuka yang parkir juga. Mobil itu dilengkapi bangku dan dibuat dalam dua tingkat. Di tingkat paling atas ada dua anak yang heboh banget melihat kami, sedangkan di bawahnya ada ibu-ibu yang tersenyum lebar melihat kami. Melihat keceriaan mereka rasanya seperti mendapat kehangatan di tengah hujan.

Kehangatan di tengah hujan

Gawdawpalin adalah kuil tertinggi kedua di Bagan, dengan ketinggian 55 meter. Dibangun pada abad ke-12 sejak masa pemerintahan Raja Narapatisithu hingga periode Raja Zeyatheinka (Htilominlo). Pada masa Konbaung, kuil ini benar-benar diperbaharui, sehingga hanya sedikit jejak asli yang masih bisa ditemukan saat ini.

A huge Gawdawpalin

Kuil ini memiliki dua lantai, kami menemukan tangga naik ke atas yang tersembunyi di tembok dinding, tapi jalan menuju tangga ini ditutup pagar, digembok pula. Jadi tak bisa menyelusup seperti di toilet tadi. Kami masuk dari pintu timur, dan langsung berjumpa dengan umat yang sedang beribadat di depan sebuah patung Buddha besar yang menghadap ke pintu. Untunglah tak lama kemudian mereka selesai dan kami bisa mengelilingi bagian dalam kuil ini. Ada empat Buddha besar yang menghadap masing-masing pintu dengan bentuk dan wajah yang berbeda. Siapa saja mereka?

Tak tahu namanya… dari kiri atas searah jarum jam : Timur – Selatan – Barat – Utara

Setelah puas berkeliling Gawdawpalin, kami penasaran dengan bangunan beratap mirip Golden Palace yang terlihat dari puncak Shwegugyi. Kami menelusuri jalan kecil di samping Gawdawpalin dan hanya menemukan pintu masuk hotel. Saya berasumsi bahwa bangunan beratap unik itu adalah hotel. Eh, ketika kembali ke jalan utama barulah kami sadar bahwa itu adalah Bagan Archeological Museum.

Untunglah, Tuhan mendengarkan jeritan cacing-cacing di perut kami. Di sisi kiri jalan raya kami lihat sebuah gang kecil dan ada sebuah… rumah makan… yeaaaaaaayyyyy… Namanya Uncle Lay (catat ya…). Pemilik rumah makan ini, yang mungkin bernama Uncle Lay, baik banget, beliau membantu kami parkir e-bike di tempat yang teduh. Beliau juga mengeringkan jok e-bike yang kuyup lalu menutupinya dengan payung supaya tak basah lagi. Nah, karena kendala bahasa, lagi-lagi kami makan nasi goreng dan mie goreng (sumpe deh, kami udah kenyang banget dengan berbagai varian nasi dan mie goreng ini). Cukup lama kami duduk disini, soalnya makanan kami juga lama disajikan. Ketika perut sudah kenyang, si uncle kembali membantu kami menarik e-bike dari parkiran dan lagi-lagi melap joknya. Uncle… terima kasih banyak yaaa…

Atas : Candi dekat resto Uncle; Bawah : Restonya Uncle

Hujan mulai reda, dan kami langsung cabut menuju target berikutnya, yakni Shwesandaw. Kali ini saya yang bertugas baca peta dan bokap pasrah mengikuti di belakang. Untung saja saya lagi agak lempeng, plus dibantu oleh petunjuk jalan dalam tulisan Latin, jadilah saya bisa baca peta dengan lancar. Setelah berbelok masuk ke jalan Anawrahta yang sejajar dengan jalan Nyang Oo-Bagan, saya lalu mencari jalan ke arah kanan, mengikuti insting dan mengikuti kendaraan yang banyak belok.. Hahaha..

Shwesandaw

Akhirnya tibalah kami di Shwesandaw, salah satu candi tinggi yang masih bisa dinaiki hingga ke lantai atasnya. Debu-debu berterbangan saat kami mendekati kompleks candi. Wah ramai sekali yang parkir. Kami langsung dikerumuni para pedagang seperti di Ananda. Saya menyerah dan membeli serenceng kartu pos karena penjualnya, seorang pemuda, merajuk dengan ulet. Lalu kami beradu ekspresi jelek ketika saya minta tambahan bonus. Transaksi itu ditutup dengan tawa tanpa dendam. Hehehe…

Shwesandaw

Saya sempat khawatir stupa ini tak boleh dinaiki lagi, karena sebelum berangkat saya baca sebuah web, katanya Dinas Arkeologi Myanmar melarang pengunjung mendaki candi untuk mencegah kerusakan konstruksinya. Tapi begitu melihat ada banyak orang di lantai atas, saya langsung happy setengah mati. Kuil ini memang tempat favorit untuk menikmati sunset dan sunrise.Dari atasnya kita bisa melihat Bagan dalam view 360°.

Shwesandaw adalah stupa dari masa pertama Kerajaan Bagan. Diperkirakan berdiri pada abad ke-11, stupa ini berbentuk lonceng dengan landasan berupa lima teras bertingkat. Puncak stupa adalah hti yang terbuat dari logam. Hti ini bisa dipastikan tidak berasal dari era Bagan, karena candi-candi lain tidak memiliki hti logam. Menurut referensi yang saya dapat, hti logam ini baru dipasang pascagempa bumi tahun 1975. Shwesandaw dipercaya menyimpan relik rambut Buddha yang diambil kembali dari Kerajaan Thaton oleh Raja Anawrahta, raja pertama Bagan. Stupa ini juga dikenal dengan nama Ganesh atau Mahapeine karena pada setiap terasnya terdapat patung Ganesha.

Kami sudah fokus ingin naik ke atas, jadi saya tak mempedulikan detail-detail candi.. Maafkan kami ya, Shwesandaw. Di atas sudah dijelaskan bahwa teras stupa ini terdiri dari lima tingkat, jadi kami harus menaiki tangga curam yang terletak di empat penjuru mata angin untuk mendaki lima tingkat tersebut. Jumlah tangga per lantai berjumlah sepuluh undak dengan ketinggian 30 hingga 40 cm. Lumayan untuk bikin keram paha dan betis. Begitu juga pada saat turun, ketinggian ini lumayan bikin ciut nyali. Saya sempat khawatir dengan darah tinggi bokap. Buat penderita darah tinggi, naik tangga termasuk salah satu kegiatan yang riskan, karena berpotensi untuk melonjakkan tekanan darah. Ternyata bokap sudah pasang strategi : minum obat darah tinggi dan di setiap lantai beristirahat agak lama.

Sehorror ini…

Kami saat itu memulai pendakian dari sisi sebelah barat. Supaya adil dan bisa melihat semua pemandangan, setelah kami mencapai teras pertama, kami berjalan searah jarum jam menuju utara, lalu naik ke teras lantai dua dari tangga sisi utara. Begitu seterusnya, hingga kami dapat pemandangan empat sisi dari ketinggian yang berbeda. Di lantai ke lima barulah kami mengelilingi seluruh sisi stupa ini. Lantai teras terbuat dari plesteran semen yang tampak “baru”, dan rasanya lantai ini condong ke depan, alias miring.

Tenggara : Dhammayangyi
Barat Laut : Thatbyinnyu

Di teras teratas kami bertemu seorang gadis Jepang bernama Ayano. Kami menjulukinya “Tarzan Betina”, soalnya saat kami merinding lihat ke bawah dan menggigil terkena hembusan angin yang amat kencang, gadis ini dengan pedenya berpose di pinggir tembok teras tanpa pegangan. Duh, sampe kami senewen dibuatnya, apalagi lantai teras Shwesandaw terasa nggak lurus, makin bikin parno dah. Ayano ini baru saja resign dari pekerjaannya dan akan keliling Myanmar selama satu bulan. Nikmat banget ya.. Bokap berkomentar, “Anak sekarang nyari duit buat dipake jalan-jalan ya. Begitu duitnya habis baru nyari kerja lagi.. Hmmm…” Ah, bokap… aku kan juga mau kayak begitu….

Ayano, Si Tarzan..

Di atas Shwesandaw ini kami menyadari bahwa kebaikan akan meruntuhkan batas, tawa akan meleburkan perbedaan. Sebelumnya ketika kami tiba di teras lantai kedua, kami melihat seorang pria bule yang kakinya terluka hingga berdarah. Di lantai empat kami memberikan plester untuk menutup lukanya itu dan dia dengan senang hati menerimanya. Di puncak kami bertemu lagi dan sama-sama heboh melihat aksi si Tarzan Ayano, meskipun kami lagi-lagi dikira orang Thailand dan Filipina.

Utara : Ananda

Kami lalu pamit turun duluan ke Ayano yang masih seru foto-foto di atas , lalu mulai menuruni tangga yang sekarang jadi semakin horror. Saking ngerinya, saya turun tangga dalam posisi menyamping supaya ngga lihat pemandangan di bawah. Eh.. setibanya kami di lantai dasar, ternyata Ayano sudah di bawah juga. Duh.. dasar tarzan..

As seen on postcard.. Cuma kurang sinar matahari

Akhirnya matahari mulai menampakkan dirinya setelah seharian bersembunyi. Kami baru sadar bahwa kulit lengan kami sudah terbakar gara-gara terasa pedih saat tergores tas. Begitu dilirik.. Oemji… merah banget ni tangan.. Berasa kayak kepiting rebus.

Kami lalu kembali ke Jalan Anawrahta dan mencari jalan menuju Dhammayangyi. Ternyata mencari Dhammayangyi tak semudah mencari Shwesandaw. Meskipun ada pelang petunjuk jalan, tapi saya ragu-ragu, karena jalannya kecil dan sepi. Tapi saya sok pede dan melaju terus di jalan itu. semakin lama jalanan semakin sepi. Untung saja di ujung jalan itu saya melihat keramaian. Itulah Dhammayangyi yang bentuknya paling aneh jika dibandingkan dengan candi yang lain.

Dhammayangyi

Dhammayangyi

Satu kata yang terucap ketika saya masuk ke kompleks ini adalah “WOW”, karena candi ini terlihat megah sekali. Puncak atapnya yang tampak aneh membuat candi ini seolah berasal dari dunia lain dan jadi semakin misterius. Dhammayangyi memang kuil terbesar di seluruh Bagan, dan puncaknya yang aneh itu sebetulnya adalah sikhara yang patah akibat gempa bumi tahun 1975 yang belum (dan mungkin tidak akan pernah) direstorasi.

W.O.W : Sisi Utara Dhammayangyi

Berulang kali kata “wow” keluar dari mulut saya ketika kami mengelilingi candi ini. Benar-benar ada rasa yang berbeda, sepertinya kuil ini punya aura yang membuat kita merasa kecil di hadapannya. Begitu kami masuk ke dalam kuil, kami menemukan banyak kejutan, yang pertama adalah bagian dalam kuil ini berbau aneh dan gelap gulita.

Kami lalu menemukan keanehan lain : langit-langit kuil ini tidak terlihat dari dasar karena sangat gelap dan tinggi. Kami terpaksa memotretnya dengan bantuan blitz untuk bisa melihat langit-langitnya. Apa yang kami temukan di foto? Gerombolan kelelawar hitam yang bikin geli-geli gimana gitu.. Jadi mereka inilah sumber bau dalam kuil ini. Ah, jadi yang tadi rasanya basah-basah terinjak itu… Jiaaah….

Gerombolan Batman.. Ini belum seberapa…

Kuil ini hanya dapat dimasuki dari pintu gerbang sebelah utara, meskipun sebetulnya dirancang dengan empat gerbang. Nah, kami lalu menemui keanehan lainnya dari hasil menguping seorang tour guide. Kuil ini seharusnya memiliki dua lapis koridor yang mengelilingi inti kuil, namun entah mengapa, koridor bagian dalam ditutup dan hanya menyisakan satu relung tempat meletakkan patung Buddha besar yang menghadap pintu bagian timur. Nah, jadi, tiga patung Buddha lainnya berada di depan koridor luar alias posisinya menjadi lebih maju dan menonjol jika dibandingkan Buddha yang ada di sebelah timur dan jaraknya dekat sekali dari pintu masuk candi.

Sisi Timur : Satu-satunya patung Buddha yang ada di dalam relung

Ada banyak cerita tentang mengapa koridor dalam ini ditutup. Versi pertama mengatakan bahwa pasukan Srilanka menyerang Bagan lalu menutup koridor ini. Versi kedua adalah para tukang batu sengaja menutup inti kuil ini untuk mengurung arwah raja Narathu yang jahat. Versi yang lain mengatakan bahwa ada seorang Bikkhu yang mengurung dirinya di bagian inti kuil ini. Salah satu versi yang paling logis adalah koridor ini ditutup untuk memberi kekuatan yang lebih kuat pada bagian atas kuil. Yang pasti, koridor ini ditutup pada saat periode akhir pembangunan karena seluruh permukaan dindingnya dicat seolah untuk memberikan kesan bahwa tidak pernah ada koridor dalam di kuil ini.  Ada beberapa bagian dinding penutup koridor dalam yang sedikit terbuka membentuk setengah lingkaran.

Closed Inner Corridor
Sisi selatan : Perhatikan altar Buddha yang terletak di depan koridor, bukan di dalam relung

Kuil ini didirikan oleh Raja Narathu yang terkenal kejam. Ia membunuh ayahnya dan kakaknya sendiri untuk merebut takhta kerajaan. Dikatakan bahwa ia yang menjadi arsitek kuil ini. Ia mengancam para tukang bangunan, jika ia bisa melewatkan sebatang jarum diantara susunan batu bata, maka ia akan membunuh dan memotong tangan mereka. Namun ia tak pernah menyaksikan akhir pembangunan kuil ini karena ia dibunuh oleh seorang Raja India di kuil ini sebelum pembangunannya selesai. Semua ini terjadi gara-gara fanatismenya yang melarang pelaksanaan ritual Hindu. Ia membunuh istrinya, putri dari Raja Pateikkaya yang melaksanakan ritual Hindhu, sehingga ayah putri itu membalas dendam dengan mengirim delapan orang untuk membunuh Narathu di kuil ini. Jadi kuil ini memang belum selesai dibangun hingga saat ini.

Setelah selesai mengagumi kuil penuh misteri ini yang lama-lama bikin merinding disko, kami lalu keluar dari tembok gerbang. Saat hendak memutar e-bike, terjadilah hal yang paling memalukan. Saya nyusrug dengan manisnya dengan kaki kanan tertimpa e-bike dan terbenam di bawah pasir. Sementara bokap udah meluncur dengan manisnya ke arah jalan. Sakitnya sih ngga seberapa, tapi malunya sampe ke ujung dunia. Udah gitu ada seorang bapak yang mau menolong, beuh, makin berasa aja malunya, soalnya pasti si bapak itu melihat detik-detik yang menggemparkan itu kan.

Untung… (masih bisa bilang untung), si e-bike ngga kenapa-napa dan spionnya ga sampe patah. Coba kalau kenapa-napa, bisa kacau dunia..

Inn Paya, dekat Dhammayangyi

Kami melirik jam dan masih ada sekitar dua jam lagi sebelum jam 7. Kami memutuskan kembali ke jalan utama untuk menuju ke New Bagan. Hmm.. tapi kami malah menemukan rumah-rumah yang sudah modern. Ah, tak jadilah kami kesana dan memutuskan untuk ke Shwezigon saja yang dekat dengan hotel.

Kubyaukgyi Temple di Myinkaba, candi terjauh yang berhasil kami tempuh

Shwezigon – babak pertama
Kami masuk ke Shwezigon dari arah selatan, tepatnya dari jalan kecil di sebelah kanan koridor panjang di depan hotel. Stupa ini memang sudah memanggil-manggil sejak pertama kami datang kesini, tapi karena letaknya dekat maka kami sengaja menyimpannya untuk mengakhiri hari ini. Ketika kami hampir tiba di halaman parkir, tiba-tiba ada dua orang ibu yang memanggil-manggil menyuruh kami parkir di lapangan seberang koridor. Kami tetap melajukan e-bike ke tempat parkir yang lebih dekat dengan lokasi stupa. Toh disinipun ada banyak motor yang parkir kok, kenapa kami harus parkir disana yang lokasinya lebih jauh. Kedua ibu itu pasang muka jutek, dan kami tak menggubrisnya.

Koridor Selatan Shwezigon

Senja sudah hampir datang, dan Shwezigon sudah sangat sepi. Baru saja kami memotret sambil berkomentar tentang puncak stupa yang ditutup, eh, kami didatangi dua perempuan muda. Mereka dengan gaya bak preman menunjukkan patung Buddha kemakmuran dan memaksa kami mengikuti mereka. Mereka lalu memberi kami bunga untuk diletakkan di depan patung. Kami masih menurut saja. Eh… UUD.. ujung-ujungnya minta duit. Memaksa pula! Gara-gara kejadian ini saya langsung bad mood dan memutuskan untuk keluar dari Shwezigon sesegera mungkin. Menyebalkan sekali deh. Sampai sekarang saya masih ilfeel banget kalau ingat gaya preman mereka. Untung saja saya gak sampe keluar taring dan ekor sambil teriak, “I SAID NOOO!!!!”.

Ketika keluar dari candi, kami berdua baru sadar dalam waktu 15 menit kami sudah bertemu dengan apa yang dinamakan “scam”. Duh, sampai lemes deh rasanya. Kami segera cabut dari halaman Shwezigon dan mengarahkan e-bike kami ke target yang terakhir untuk hari ini : Sungai Irrawaddy. Gak afdol dong kalau nggak mengunjungi sungai yang gambarnya begitu mendominasi peta Bagan.

Kami mengikuti jalan dari dekat Shwezigon, lalu menemukan jalan kecil dekat koridor timurnya. Sempat ragu namun akhirnya kami menemukan kuil modern yang berlatar belakang sungai. Tapi sayang tepi sungainya sangat sempit dan kami tak bisa mendekat ke badan sungai. Matahari sudah hampir terbenam meskipun ia lagi-lagi tak terlihat.

Kami cukup takjub melihat sungai ini. Ternyata lebar juga ya, padahal saya pikir sungai ini hanya sungai kecil. Bahkan kami sempat melihat kapal tongkang besar berlayar di atasnya.

Irrawaddy River

Saya melihat jam dan ternyata sudah hampir pukul 7 malam padahal langit masih terang. Saatnya kembali ke hotel dan mengembalikan e-bike kami sebelum kami kena denda keterlambatan. Setelah mengembalikan e-bike, kami berjalan ke depan hotel untuk menikmati pasar malam ala Myanmar plus panggung hiburan yang entah mengapa full music tapi tanpa artis. Kami sempat khawatir ngga bisa tidur karena musik yang berisik. Tapi pasar malam itu mendadak sepi tanpa suara ketika malam menjelang.

Pasar malam dengan Shwezigon sebagai latar

Malam itu kami makan dekat pasar malam dengan menu kari ayam dan kari ikan. Ada berbagai makanan pendamping yang disediakan gratis, dan salah satunya mirip jengkol. Pemilik warung bilang itu kacang yang ditumbuk dan dipipihkan, tapi kami kok ngga yakin ya. Bokap nyicip dan yakin itu jengkol. Ah, untungnya ngga ada aroma-aroma menusuk khas jengkol. Canggih juga ya orang Myanmar ini bisa menghilangkan aroma memabukkan itu. Padahal kalau kita mampir ke pasar tradisional, beuh, aroma inilah yang paling cetar membahana. Dah gitu jengkolnya sampai berakar dan terbelah… Horor dah pokoknya (buat saya…).

Tengah bawah : Jengkol (??)

Niatnya sih, sebelum tidur saya mau baca buku yang kami beli di Ananda, supaya bisa tahu cerita dari candi yang kami kunjungi sepanjang hari plus merencanakan mau kemana besok. Tapi apa daya.. Mata tak bisa diajak kompromi. Hoaaaahmm.. Sampai jumpa esok pagi, Bagan… Zzzzzz….

Baca juga kisah kami di hari kedua.


4 thoughts on “Bagan Hari Pertama : No More Scam, Please…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s