Bagan Hari Pertama – Selamat Pagi Miskom..

Pagi itu kami tiba di Highway Bus Terminal Bagan sekitar pukul 5 pagi lewat sekian belas menit. Setelah mengurus bagasi dan pasang taring untuk nego harga taxi, akhirnya kami meluncur menuju Aung Mingalar Hotel. Hotel kami itu terletak di Jalan Raya Nyaung Oo-Bagan, tepat di seberang koridor selatan Shwezigon Pagoda.

Di tengah jalan, taxi kami mendadak berhenti, oh.. ternyata itulah yang disebut pos imigrasi. Kami harus membayar entrance fee sebesar 25.000 MMK yang berlaku selama lima hari. Saya sempat berharap ada yang jual buku bajakan tentang Bagan (seperti yang banyak dikatakan di internet). Tapi entah karena kami kepagian atau gimana, disana hanya ada penjaga tiket.

Sebelum jam menunjukkan pukul 6 pagi kami sudah pasang wajah manis di depan hotel. Tak ada resepsionis yang berjaga, dan kami cukup lama menunggu hingga datang seorang bapak berwajah sangar mendekati kami. Lalu datang pula temannya yang wajahnya tak terlalu sangar. Mereka bilang kami belum bisa check in. Bisa sih, tapi harus bayar 80 USD. Nah… aneh kan, rate room kami aja cuma 24 USD per hari, masak untuk early check in harus tambah 80 USD? Menurut si Bapak itu, 80 USD adalah tarif setengah hari. Eh?!?! Kata bokap, “Kayaknya kamu salah denger deh..” Hmm.. mungkin sih, jangan-jangan ini efek dari nyawa yang belum kumpul. Abis kata-kata dua bapak itu susah banget dicerna deh.

Kami yang pelit ini memilih untuk tidak check in, tapi cukup titip saja ransel di ruangan resepsionis. Teman si bapak (yangbicaranyabikinbingung) itu menawarkan apakah kami mau rental e-bike atau sepeda? Kami merasa tertantang untuk menaiki e-bike yang bentuknya mirip motor matic itu. Apalagi kami tak perlu SIM untuk mengendarainya (turis dilarang mengendarai sepeda motor di Bagan). Bokap yang pernah bisa mengendarai motor sih santai aja, lah saya?!? Naik sepeda aja suka oleng, apalagi ini bentuknya kayak motor. Kagak pake digoes pula… Tadinya kami berencana sewa satu e-bike saja, tapi karena kami dianggap obesitas jadilah terpaksa harus sewa dua e-bike. Harga sewanya sebesar 10.000 MMK per e-bike. Lumayan muahal ya…

Urusan ransel sudah oke, kami juga sudah deal soal sewa e-bike. Nah sekarang saatnya menyelesaikan ritual pagi di toilet. Untung kami diizinkan pakai kamar mandi umum mereka. Saat kami nunggu pinjaman e-bike (dari hotel lain) dan penyelesaian ritual wajib, tiba-tiba datanglah petugas resepsionis yang asli berseragam ungu. Eh.. Dua bapak yang tadi bukan makhluk jadi-jadian lho.. Mereka manusia asli, cuma yang pasti bukan petugas resepsionis.

Resepsionis asli itu memanggil kami dan bilang bahwa kami bisa check in tanpa perlu membayar apa-apa. Yihaaaa… lumayan kan bisa mengamankan ransel dan goleran sejenak. Tapi niat kami untuk goleran langsung sirna pas lihat kamarnya yang gelap  gulita. Lampunya remang-remang doang. Lah… ntar malem gimana dong yak.. Horror bener…

Si mbak resepsionis asli juga membantu membawakan ransel kami yang segede babon itu. Mbak ini badanya mungil banget, tapi asli lah perkasa sekali… Dia bawa ransel saya dengan santai banget. Dia lalu bilang bahwa tarif sewa e-bike selama 10 jam adalah sebesar 8000 MMK. Nah kan.. Jadi dua bapak yang tadi itu beneran bikin bingung bin miskom deh ah.

Oh ya, disini ga ada peta gratis. Kalau butuh peta harus beli di hotel dengan harga 1000 MMK.

Berikutnya adalah tahap mendebarkan dimana saya harus belajar mengendarai e-bike dengan cara seksama dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Mbak resepsionis yang lain (dan jutek) mengajarkan bagaimana menggas dan mengerem. Masalahnya saya belum dapat feelingnya jadilah tuh e-bike loncat-loncat gitu (eh.. yang loncat tuh kelinci ya?). Si Mbak Jutek itu akhirnya memberikan ancaman, kalau terjadi sesuatu dengan si e-bike, maka saya harus ganti rugi!! Matilah..

Penampakan si e-bike

Untung saja dalam waktu kurang dari 15 menit saya sudah berhasil terlihat meyakinkan, dan si Mbak dengan wajah was-was akhirnya melepas kepergian kami dengan ngga rela. “Pokoknya jam 7 malam e-bike ini harus sudah kembali dalam keadaan sehat walafiat!!”, Itu pesannya dia saat kami meluncur keluar dari hotel. Jadi yang lebih utama adalah keselamatan si e-bike lho, bukannya keselamatan kami.

Kami yang sudah hampir semaput karena lapar, langsung mengarahkan e-bike kami ke arah timur laut menuju pusat Nyaung Oo. Kami lalu singgah di sebuah rumah makan yang terlihat ramai dengan oarng-orang yang tampaknya mau berangkat kerja. Karena ngga ngerti dengan menu yang terpampang, akhirnya kami cuma bisa pesan fried rice dan fried noodle. Tak lupa kami menunjuk cakwe yang tampak menggoda, dan dengan pedenya memberi kode angka 2. Ternyata.. akhirnya kami begah karena porsinya mentung. Pas mau bayar, lagi-lagi terjadi miskom. Si petugas bingung menyampaikan harga makanan kami dalam Bahasa Inggris. Semula dia bilang 3200 MMK, tapi terus bilang lagi 3400 MMK. Setelah kami membayar, seorang pegawai lain tampaknya mengkonfrontir rekannya itu. Entahlah.. Semoga bukan gara-gara kami salah bayar.

Cakwe babon dan menu yang bikin galau…

Jam belum menunjukkan pukul 8 pagi. Tapi sudah banyak sekali hal yang bikin miskom dan bingung. Bakalan ada apa lagi di sisa hari ini ya….

Trus, Kita Mau Kemana?

Usai makan kami membuka peta Bagan yang masih mulus dan kinclong itu. Karena kami mengendarai e-bike, jadi kami sepakat untuk menempuh objek yang terjauh dulu. Oke. Setuju. Kami lalu bergerak ke arah barat daya menuju Old Bagan. Wah.. Belum satu kilometer dari hotel, saya sudah tergoda ingin berhenti. Serakan candi sudah mulai terlihat. Tapi saya masih berpegang pada kesepakatan awal dengan bokap : “Kunjungi yang terjauh dulu.” Walaupun sudah mulai familiar dengan si e-bike, tapi saya tak berani mengendarainya dengan kecepatan di atas 20 km/ jam. Takut nyusrug. Takut disuru ganti rugi. Selain itu, kami masih kagok dengan penggunaan lajur kanan. Kami kebiasaan berkendara di lajur kiri, jadi beberapa kali hampir bertabrakan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.

Tapi kesepakatan akhirnya dilanggar gara-gara saya melihat petunjuk candi Htilominlo di sebelah kiri jalan, sekitar 2 km dari hotel. Saya menepikan si e-bike dan mengajak bokap masuk. Akhirnya bokap pasrah aja ama anaknya yang nggak jelas ini. List candi yang dua malam lalu saya susun akhirnya nggak terpakai karena kami sulit untuk mengkompilasikan dengan peta. Bisa sih bisa, tapi karena kami demen go-show, jadilah list itu dilupakan.

Htilominlo

Saya sangat ingat dengan nama candi ini karena sempat membaca sejarahnya yang unik dan mistis. Candi ini adalah sebuah kuil yang didirikan sekitar akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13. Alkisah, pada zaman dahulu, Raja Narapatisithu mengumpulkan kelima anaknya. Ia lalu menegakkan sebuah payung putih di tengah-tengah mereka. Raja bertitah : Barangsiapa yang “ditunjuk” oleh payung itu, akan menggantikan posisinya sebagai Raja. Payung putih itu lalu mencondongkan dirinya di hadapan Zeyatheinka (Htilominlo), sang anak bungsu. Htilominlo lalu mendirikan kuil di tempat kejadian perkara itu. Ceritanya aneh kan? Makanya saya langsung ingat dengan si Htilominlo itu.

Htilominlo memiliki dua lantai, namun ada satu lantai antara  yang memisahkan lantai dasar dengan lantai atas meski tak dapat terlihat dari luar. Lantai atas tidak dapat diakses untuk umum, tapi katanya ada ada koridor dengan empat Patung Buddha duduk yang menghadap keluar. Tinggi total bangunan ini adalah 46 meter.

Htilominlo

Sebelum masuk halaman candi, sandal kami sudah harus dilepas. Ada loker penitipan sepatu sih, tapi karena malas akhirnya kami hanya meletakkan sandal kami di pojokan. Halaman candi diisi oleh para pedagang souvenir. Lumayan ramai deh. Salah satu pedagang menawarkan apakah kami mau naik dari satu candi di dekat area Htilominlo. Ah, Htilominlo sendiri tak bisa dinaiki hingga ke atas. Kami menolak karena bangunan yang ditawarkan itu hanya setinggi 10 meter. Kurang cetar gitu loh…

Keramik berglasir hijau di tengah tumpukan bata

Candi ini tersusun dari bata merah yang dilapisi plester. Sebagian besar plester di tembok luar candi ini sudah hilang, namun sepertinya ada bagian-bagian yang baru direkonstruksi hingga tampak “terlalu sempurna”. Kami memasuki candi ini dari pintu utara, meski katanya sih pintu masuk utamanya adalah yang di sebelah timur. Ada empat patung Buddha besar yang masing-masing duduk menghadap ke arah pintu masuk. Salah satu patung itu adalah patung kayu, hasil temuan di Sungai Irrawaddy beberapa tahun lalu.

Penampakan??

Sejak Bagan ditinggalkan pada abad ke-14, kuil ini menjadi jarang digunakan. Seorang Bikkhu bernama Anandasura, yang sepertinya adalah donatur utama kuil ini membuat lukisan Buddha berwarna dominan merah di dinding dalam kuil, dan mencantumkan tulisan “Ini adalah donasi dari Bikkhu Annandasura.”

Setelah mengelilingi bagian dalam candi, dan dua kali memutari bagian luar candi (dengan harapan menemukan tangga ke lantai atas), akhirnya kami mengelilingi area sekitar candi dengan e-bike lalu meneruskan perjalanan menuju Tharabar Gate.

Lukisan mural yang masih asli di langit-langit

Tharabar Gate

Tharabar Gate

Hasil uji radiokarbon menunjukkan bahwa gerbang ini berasal dari tahun 1100-1200. Tharabar Gate adalah satu-satunya jalur masuk formal ke dalam pusat Bagan saat ini. Awalnya gerbang ini memiliki kubah yang melingkupinya namun kini sudah hilang. Tepat di bagian depan terdapat dua kuil kecil pada sisi kiri dan kanan. Dua kuil kecil ini ditempati patung nat (roh yang dihormati orang Myanmar). Kuil sebelah kanan ditempati Hnama Daw (sister), sedangkan Maung Daw (brother) menempati kuil sebelah kanan.

Hnama Daw

Setelah memfoto gerbang tua itu, kami pun meneruskan perjalanan memasuki Old Bagan. Di sebelah kanan kami terdapat satu kompleks megah bertuliskan Maha Yaza Thiri Aniruda Deva King Anawrahta’s Thiri Zaya Bumi Bagan Golden Palace.  Panjang bener ya namanya.. Saya awalnya ga niat masuk ke kompleks itu karena saya pikir bangunan itu adalah hotel. Tapi bokap bilang itu istana. Jadilah kita masuk kesana, toh kami pikir dengan tiket 25.000 MMK kan kami bebas masuk kemana aja. Eh tapinya, kami harus bayar lagi 5000 MMK, karena tiket Bagan itu ga berlaku di istana ini (hmm.. kayak pernah baca dimana yah kata-kata ini…).

Golden Palace

Area Golden Palace yang kami datangi ini adalah hasil rekonstruksi dan restorasi Istana Raja Anawrahta, yang pembangunannya dimulai pada tahun 1988. Raja ini adalah yang mendirikan Kerajaan Bagan tahun 1044, mendirikan banyak kuil Buddha, dan memperkenalkan agama Buddha Theravada.  Hasil rekonstruksi Golden Palace baru dibuka untuk umum pada tahun 2008.

Golden Palace

Ketika kami kesana, pengunjung istana ini hanya empat orang : kami berdua, seorang model dan fotografernya. Minim sekali keterangan yang kami dapatkan, so kami berdua cuma berkeliling saja sambil foto-foto. Istananya megah dan ada sedikit nuansa bangunan gaya Melayu pada bagian atasnya.

Ketika kami hendak meninggalkan istana ini, ada seorang bapak yang menawarkan kami untuk singgah di restorannya. Dia bilang cukup bayar 2000 MMK untuk makan prasmanan. Kami tolak karena kami baru saja makan. Ia lalu bertanya kami dari mana, tebakannya sih kami orang Thailand. Duhh.. kenapa ya, selama di Myanmar ini kami selalu dikira orang Thailand. Begitu kami bilang kami dari Indonesia, bapak itu langsung mengucapkan “Terima kasih”. Wah.. ternyata kata “Terima kasih” cukup ngetop juga ya.. Ia lalu bercerita pernah ke Indonesia, tapi saya lupa kemana persisnya. Bapak itu kemudian mengajarkan para petugas loket untuk mengucapkan “Terima kasih”, duh rasanya terharu deh.

Melihat mereka yang semangat belajar kata itu, saya lalu menawarkan diri untuk menuliskan beberapa kata umum dari Bahasa Indonesia. Mereka excited banget.. Saya sampai tak bisa berkata apa-apa.. 

Setelah saya menulis kata Bahasa Indonesia dan terjemahan Inggrisnya, mereka lalu mencoba melafalkan kata-kata itu. Nah… ternyata sebagian besar dari mereka masih belum lancar membaca huruf Latin. Akhirnya bapak tadi menuliskannya dalam versi aksara Burma. Salut sekali melihat semangat mereka untuk belajar. Sampai kami meninggalkan gerbang mereka masih menekuni kertas itu. Senangnya lagi, mereka bilang tulisan saya bagus, dan saya dikira guru. Hahaha..

Belajar Bahasa Indonesia

Di tempat parkir e-bike kami lalu berembuk. Tadinya kami mau ke Shwegugyi. Tapi akhirnya kami setuju untuk putar balik dan mengunjungi Ananda dulu. Alasannya simple : di Ananda ada toko buku, jadi kami bisa mencari buku referensi dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Hehehehe..
Lambaian tangan para penjaga Golden Palace melepas kami meluncur ke arah Ananda. Ah, sepertinya sisa hari ini akan sangat menyenangkan.

Ananda

Pintu Barat Ananda

E-bike kami belum terparkir sempurna ketika kami dikerubuti oleh berbagai macam pedagang. Penjual post card, kaos, thanaka, kerajinan lacquer, dan tas tradisional langsung menawarkan dagangan mereka.. Dan mereka berhasil membuat saya ingin menghilang..
Salah satu yang berhasil menarik perhatian saya adalah seorang gadis penjual thanaka, yang lagi-lagi mengira saya dari Thailand. Kayaknya lucu juga nih kalau nyoba pakai thanaka, hehehe… Jadilah saya beli thanaka yang ia tawarkan dengan harga 2000 MMK, sekaligus minta dia untuk memakaikannya di wajah saya. Saya kira dia bakal ‘mendandani” saya hanya di bagian pipi doang, eh tahunya dia mengoleskan thanaka itu di dahi, hidung, dan dua pipi saya. Jiah.. tolong… saya di-make over. Muka saya langsung berasa kaku. Dingin sih rasanya, cuma kayak pakai topeng. Saya sempat berniat untuk menghapusnya. Tapi saya baru ingat kalau saya ngga bawa perlengkapan make up (duhh.. Berasa model deh ah…). Jadi kalau saya cuci muka, ntar muka saya kayak orang baru bangun tidur : suram. Karena saya ngga dikasih diskon, so, saya minta bonus kartu pos. Eh.. dikasih sama dia.. hehehe.. Padahal bercanda doang…

Ada satu pedagang lagi yang gigih banget. Cowok ini menjual kaos. Dia keukeuh kaosnya oke karena 100% terbuat dari katun (sesuai yang tertera di labelnya). Tapi harganya mahal bingits, jadi kami males. Udah nawar ngotot pun masih ngga diturunin. Kami dikejar terus sampai hampir masuk gerbang Ananda. Akhirnya saya bilang, “Nanti ya.. Kami keliling dulu..”, sambil berharap dia akan lupa.

Kami masuk dari gerbang sebelah barat, dan tak jauh dari gerbang kami menemukan emperan buku di bawah koridor barat. Itulah yang disebut sebagai Ananda Book Store yang terkenal seantero jagad karena masuk ke segala macam peta dan panduan tentang Bagan. Kirain tuh beneran book store yang ada kiosnya gitu lho.. Saya membeli buku Ancient Pagan : Buddhist Plain of Merit karya Donald M Stadtner. Lagi-lagi saya ga berhasil nawar, tapi saya minta bonus post card, dan dikasih serenceng.. Hehehehe.. Aseek… Kata bokap : “Sejak kapan kamu ngoleksi post card?”

Kami lalu melangkah masuk ke bangunan utama candi. Tak jauh dari Ananda Book Store terdapat tapak kaki Buddha. Nah, perhatikan deh, jari-jari kakinya Buddha sama panjangnya. Inilah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh Buddha. Lalu di telapak kakinya tampak samar simbol-simbol yang menggambarkan Buddha. Jumlahnya ada 108 simbol.

Telapak Kaki Buddha (Abaikan duit-duit di atasnya..)

Ananda ini sangat berbeda dengan candi-candi yang kami temui sepanjang jalan. Candi-candi yang kami lihat berwarna merah bata atau putih kusam, sedangkan Ananda berwarna putih dengan sedikit semburat merah. Terlihat sekali kuil ini dibangun dengan proporsi yang seimbang dan simetris berbentuk salib. Candi ini memiliki sisi sepanjang 53 meter dengan tinggi 51 meter.

Amazing Ananda from East Side

Tak ada catatan mengenai kapan kuil ini didirikan. Legenda yang beredar mengatakan bahwa kuil ini dibangun untuk Raja Kyanzittha. Pada abad ke-18 kuil ini dikenal dengan nama Nanda, sesuai dengan legenda yang beredar bahwa Raja Kyanzittha mendirikan kuil ini dengan meniru Nandamula Cave di Himalaya. Legenda ini bercerita bahwa aketika itu Raja didatangi oleh delapan Bikkhu yang meminta sedekah. Mereka ini berasal dari Gua Nandamula. Raja terpukau dengan kisah mereka tentang Nandamula lalu mengundang mereka untuk mampir ke istananya. Para Bikkhu itu dengan kekuatan meditasinya berhasil menunjukkan seperti apa rupa Nandamula itu kepada Raja, hingga raja terpukai ingin membuat sebuah kuil yang mirip dengan Nandamula.  Pada abad ke-19, namanya berubah menjadi Ananda, mungkin terilhami oleh salah satu murid pertama Buddha Gautama.

Lukisan mural Buddha

Hingga saat ini banyak ahli yang memperkirakan kuil ini didirikan pada sekitar tahun 1091. Ini didasarkan pada tiga alasan, yaitu bentuk ukirannya, penggunaan bahasa Mon pada keramik berglasir yang mengisahkan kisah jataka, Mara, dan dewa-dewa pada sisi luar candi, serta dari legenda terkait Raja Kyanzittha yang memerintah antara tahun 1084 hingga 1113.

Kuil ini adalah kuil yang paling dipuja se-Bagan bersama dengan Shwezigon. Ketika ibu kota Bagan pindah ke Ava pada abad ke-14, kuil ini tak pernah ditinggalkan dan terus menjadi salah satu pusat peribadatan. Bahkan kuil ini selalu mengalami yang namanya pembaharuan kembali, seperti pembersihan mural, pemlesteran ulang, pengapuran, dan pengecatan kembali dinding luar. Oh.. mungkin inilah alasan kenapa candi ini tampak kinclong. Lalu keunikan lainnya terletak pada sikhara (menara kuil) yang dicat warna emas dan menjadi ciri khas Ananda jika dilihat dari kejauhan.

Lempeng kecil berukir Buddha terpasang si bagian atas

Pada sisi barat, utara, dan selatan ada koridor masuk yang baru dibangun pada abad ke-20 sebagai hasil sumbangan dari keluarga-keluarga. Hmm.. pantas saja model arsitekturnya nggak matching dengan bangunan utamanya. Koridor ini bergaya sangat “Barat” dan modern.

Koridor sisi utara (bagian kiri foto)

Kemungkinan besar pintu utama kuil ini adalah yang di sisi sebelah barat, tempat kami masuk. Alasannya karena ukiran kehidupan Buddha dimulai dari sini, dan cerita Jataka yang tertera pada keramik berglasur juga dimulai dari sini (tapi keramik ini ada di bagian atas candi jadi tak terlihat dari bawah). Selain itu, pintu barat ini menghadap ke tembok utama kota.

Patung Bodhisatva dan dua ekor (beneran itu dua ekor) Chinte

Di dinding luar bagian bawah kami menemukan keramik-keramik berwarna hijau. Menurut buku, keramik ini menceritakan tentang Mara dan dewa-dewa. Keramik yang bercerita tentang Mara selalu bergambar sepasang sosok dengan kepala menghadap ke arah utara. Cerita tentang Mara berarah dari dinding sisi selatan ke utara searah jarum jam 6 ke 12. Cerita tentang dewa-dewa dibagi dalam dua kelompok. Yang pertama berawal di dinding utara dan berakhir di timur, sedangkan yang kedua bermula di selatan dan berakhir di timur. Pada dinding dalam terdapat relief-relief yang menggambarkan perjalanan hidup Buddha.

Keramik berglasir sepanjang sisi bawah dinding luar. Atas : Mara; Bawah : Dewa

Pada bagian inti candi kami menemukan empat patung Buddha setinggi 9.5 meter yang masing-masing menghadap empat pintu masuk sesuai mata angin. Patung inilah yang menjadi pusat devosi dalam kuil ini. Patung-patung ini terbuat dari kayu yang disepuh dengan cat keemasan, sehingga bisa dipastikan patung-patung ini ditambahkan lama setelah kuil ini dibangun, mungkin pada Masa Konbaung. Pada masa Kerajaan Bagan tidak ada patung kayu berukuran besar yang dijadikan pusat peribadatan. Selain itu patung ini seluruhnya dalam pose berdiri, berbeda dengan patung Buddha lain dari masa Bagan yang berpose duduk. Empat Buddha ini adalah Buddha terakhir pada masa sekarang, yaitu Kakusandha, Konagamana, Kassapa, dan Gautama. Banyak referensi yang mengatakan bahwa patung Buddha Kakusandha dan Kassapa yang terletak di sisi utara dan selatan adalah patung asli dari abad ke-12, sementara kedua patung lainnya berasal dari abad ke-17 sebagai patung pengganti karena patung aslinya habis terbakar. Well, jadi mana yang benar ya?

Dari kiri atas searah jarum jam : Kakusandha (Utara), Gautama (Barat), Kassapa (Selatan), Konagamana (Barat)

Saat hendak keluar Ananda, lagi-lagi saya stress karena bakal dikerubutin oleh para pedagang. Benar saja.. Pria yang jualan kaos pun masih setia menunggu kami di gerbang. Hmm.. ya nggak bisa menghindar lagi deh, karena satu-satunya gerbang yang dibuka hanya gerbang barat ini. Akhirnya setelah nego-nego kami beli juga dagangannya, meski hanya dapat diskon sedikit. Salut banget sama kegigihannya. Saat pedagang lain menyerah ketika ditolak, hanya dia yang masih ngotot dan rela menunggu kami selesai berkeliling candi. Ah, jadi malu dengan kerja kerasnya.. Sebagai bonus, lagi-lagi saya mendapat post card dan foto bareng mereka.

Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Shwegugyi yang lokasinya tak jauh dari Ananda. Menurut peta, Shwegugyi bisa dicapai melalui jalan di depan Ananda. Tapi kami mengurungkan niat untuk mengambil jalan itu karena sepertinya terhalang oleh truk yang berhenti. Kami lalu kembali ke jalan utama, melewati Gerbang Tharabar dan belok kiri setelah Golden Palace. Kami melihat sebuah candi besar di sebelah kanan kami dan dalam kondisi sepi. Kami pikir itu pasti bukan Shwegugyi, kami terus tancap gas dan menemukan sebuah candi lain yang lebih tinggi di ujung jalan. Candi ini ramai sekali dikunjungi, jadi kami yakin banget ini pasti Shwegugyi.. Tapi.. kami terkejut saat melihat papan informasi. Ini bukan Shwegugyi, tapi Thatbbyinnyu. *ohnooo…

Thatbyinnyu

Kami yang malas buka buku untuk mencari tahu sejarah si Thatbyinnyu ini akhirnya hanya berkeliling di luar candi (plus diikuti penjual batu akik). Penyakit lama saya kambuh : malas. Karena tak menemukan jalan naik ke atas candi, kami pun meninggalkan candi ini. Padahal yaahh.. candi ini sangat istimewa (telat banget taunya…).

Thatbyinnyu

Thatbyinnyu adalah kuil tertinggi seantero Bagan, dengan ketinggian 60 meter. Thatbyinnyu ini adalah kuil pertama yang dibangun dengan dua lantai, dan lantai atasnya memiliki tiga teras bersusun. Nah kan, kurang istimewa apa coba. Jadi candi ini akan terlihat dari sisi manapun kita memandang. Terus tak ada Patung Buddha besar di lantai dasar candi ini, melainkan terletak di lantai atasnya, satu yang paling utama dan menghadap ke timur. Nama Thatbyinnyu adalah turunan dari kata Burma “Thatbyinnyutanyan” (Pali : Sabbannutanana) yang berarti Buddha yang maha mengetahui dan melihat segalanya. Kuil ini dipercaya didirikan oleh Raja Alaungsithu pada tahun 1144, meski belum ada catatan yang mendukung kisah itu.

Ternyata tangganya tersembunyi di belakang altar ini.. Sigh…

Kami lalu berbalik arah, kembali ke arah candi sepi yang tadi terlewati. Ah, pastilah yang ini adalah Shwegugyi.

Shwegugyi

Di tangga masuk kami menemukan penjual kelapa muda. Karena sudah haus dan lapar kami memutuskan untuk memesan es kelapa. Saya dapat kelapa muda, bokap dapat kelapa tua. Hmm.. Ternyata umur gak boong, yang tua dikasih kelapa yang tua juga. Hehehe.. Di seberang kami ada sebuah bus wisata sedang parkir. Nah, saya dan bokap tiba-tiba punya ide gila. Bisa gak sih kami jadi marketer es kelapa yang memancing penumpang di bus itu untuk turun dan beli kelapa. Jadi kami makan kelapa dengan wajah sangat menikmati untuk memancing selera mereka. Tapi, sampai kelapanya habis, tak ada satu pun penumpang yang turun. Huh.. marketer gagal.

Kerajinan Lacquer

Kami duduk di samping seorang ibu yang mengerjakan kerajinan lacquer. Ia sedang menghias nampan kayu. Nampan kayu itu dicat dan dipernis, lalu permukaannya digesek pisau untuk menimbulkan efek ornamen. Saya memperhatikan jari-jarinya yang lincah sekali mengukir permukaan nampan. Disini, lagi-lagi saya dikira orang Thailand. Uuuh.. Setelah ia tahu bahwa kami orang Indonesia, ia pun meminta uang Rupiah. Wah, ternyata ibu ini adalah kolektor uang dari berbagai negara. Di dalam dompetnya ada berbagai jenis uang yang full colour.
Ada pula penjual ukiran yang berbentuk anak kecil sedang memancing sambil duduk di atas bulan sabit. Lucu deh. Harganya hanya 3000 MMK. Saya pengen beli tapi bingung bawa pulangnya, takut patah saat dijejalkan ke dalam ransel.

Di depan mereka ada satu batu petunjuk yang menceritakan sejarah singkat candi ini, meski sebagian tertutup oleh properti para pedagang. Menurut catatan itu, Shwegugyi dibangun tahun 1131 oleh Raja Alaungsithu. Kuil ini disebut juga sebagai Nanu Phaya karena didirikan di dekat istana. Didirikan pada masa transisi arsitektur Bagan membuat kuil ini memiliki pintu yang lebar dan jendela yang terbuka, sehingga bagian dalam candi terang dan tidak pengap. Sisa plesteran berornamen hanya ada di sisi selatan .

Catatan donasi Raja Alaungsithu bagi pendirian kuil ini tercantum pada dua lempeng batu yang dipasang pada tembok sanctum. Disebutkan bahwa pembangunan kuil ini dimulai pada April 1131 hingga 16 Desember 1131. Shwegugyi disebut sebagai kuil pertama dari dua puluh tujuh bangunan di Bagan yang dihiasi oleh keramik berglasir.

Saat kami naik tangga pertama menuju candi, kami melihat ada banyak orang di teras atas candi ini. Wah, jadi candi ini bisa dinaiki? Horeeee… Karena terfokus ingin melihat pemandangan dari lantai atas, kami nggak mengelilingi bagian dalamnya, melainkan langsung mencari tangga. Tapi di pelataran candi kami bertemu dengan seorang gadis penjual souvenir. Ia menawarkan kartu pos dan terpaksa saya tolak karena kartu pos saya udah bejibun. Setelah tahu kami dari Indonesia, ia meminta uang rupiah. Dengan berat hati permintaannya kami tolak lagi, karena kami sudah tak ada uang rupiah lagi (kalau kami berikan nanti kami tak punya ongkos pulang ke rumah). Akhirnya saya menuliskan kata-kata bahasa Indonesia untuknya, lalu mengajarkan ia membacanya. Ia melafalkan setiap kata sesuai petunjuk saya dan kemudian mengkonversi tulisan Latin ke dalam aksara Burma. Wow banget kan.. Saya mendadak ingat sahabat saya yang menguasai banyak bahasa dan senang sekali membagikan ilmunya itu. Kalau saja dia disini, pasti dia bisa mengajarkan gadis itu lebih banyak bahasa.

She’s so special

Kami lalu naik ke lantai atas untuk melihat pemandangan landscape Bagan seperti yang sering kami lihat di foto-foto. Dan wow… speechless… Padahal candi ini bisa dibilang tidak terlalu tinggi, tapi pemandangan yang tersaji sudah membuat kami merasa tak pernah puas untuk bisa mengabadikan semuanya.

Atas : Thatbyinnyu (Selatan); Bawah : Ananda (Timur)

Dari teras ini tampak Ananda yang berwarna putih dengan sikhara mengkilap, lalu Thatbyinnyu yang pintunya membentuk lengkungan seperti mulut menganga. Kami melihat atap Golden Palace, guratan sungai Irrawaddy, hamparan pegunungan di sebelah barat, atap-atap candi dalam berbagai bentuk dan ketinggian, serta sebaran candi-candi kecil yang begitu banyak. Benar-benar membuat kami terhenyak tak ingin beranjak, padahal siang itu angin berhembus begitu kencang dan hamparan awan hujan sudah terpasang di langit bersiap menurunkan air ke bumi.

Sisi barat (kanan-kiri) : Mahabodhi – Gawdawpalin – Bagan Archeological Museum

Di teras Shwegugyi kami bertemu dengan dua pria. Saya ingat sekali mereka berdua naik bus malam yang sama dengan kami, karena di pool bus JJ Express mereka berdua duduk di depan kami. Satu hal yang paling terekam dalam benak saya adalah kok mereka niat banget pakai longyi. Ah, benar, dua pria ini adalah pria berlongyi di pool bus kemarin malam.. hehehe.. Mereka adalah warga Korea dan China yang tinggal di Amerika Serikat. Si Korea bernama Jeong Choi, sedangkan yang dari China bernama Yishi Zuo. Kami bertukar alamat email dan saling menolong untuk mengambil foto. 

Hmm, ada satu cerita bokap yang bikin saya ketawa saat kami turun dari teras. Ketika kami naik menuju teras atas, kedua pria itu sedang duduk di pinggiran teras menghadap ke arah kami. Bokap lihat longyi mereka terbawa angin dan terjadilah pemandangan yang bikin bokap nyengir sendiri. Bokap bilang, “Untung tadi kamu nggak lihat…” Psst.. jangan bilang-bilang ke mereka berdua ya…

Jeong Choi dan Yishi Zhuo

Siang semakin meninggi, perut kami sudah lapar. Bokap sempat mengusulkan untuk makan di Golden Palace yang harganya 2000 MMK itu. Tapi saya ogah balik kesana karena itu berarti kami melangkah mundur. Kami akhirnya memutuskan kembali ke jalan besar untuk meneruskan perjalanan ke selatan, mencari Shwesandaw dan Dhammayangyi, yang selalu disebut dalam list must-see nya Bagan.
Dari atas Shwegugyi saya melihat atap sebuah candi yang bentuknya antik. Bentuknya tak seperti menara kerucut, melainkan seperti trapesium, mirip dengan atap Sri Mariamman Temple. Kalau lihat di peta, kayaknya kami akan menemukan candi itu jika kami kembali ke jalan utama.

Mahabodhi Temple

Baru saja kami kembali ke jalan utama, hujan mulai turun. Masih gerimis, tapi ukuran partikelnya sudah lumayan besar. Benar saja, belum jauh kami meluncur, atap unik itu langsung terlihat ada di sebelah kanan jalan. Yap, itulah Mahabodhi, replika dari Kuil Mahabodhi yang ada di Bodhgaya, India, tempat Sang Buddha Gautama mendapatkan pencerahan. Kami berencana mampir kesana untuk melihat dan berteduh sejenak. Tapi…. batal sodara-sodara.. Kami malah melaju terus menerjang hujan..
Penasaran kenapa kami nekad menembus hujan dan bukannya mampir berteduh di Mahabodhi?

Nantikan kisah selanjutnya disini.


3 thoughts on “Bagan Hari Pertama – Selamat Pagi Miskom..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s