Bagan Hari Kedua : Sejauh Kaki Mengayuh

Selamat pagi Bagan… Kami bangun kesiangan…

Setelah selesai packing, sarapan, check out, dan menitipkan ransel di resepsionis, kami segera sewa sepeda (yap, sepeda tanpa embel-embel “e”) dari hotel. Niatnya sih mau ngirit gitu.. Sewa sepeda kan hanya seharga 2500 MMK, sedangkan sewa e-bike seharga 8000 MMK, lumayan jauh kan bedanya.. 

Hotel Aung Mingalar

Sambil menunggu bokap mandi, saya sempat membaca tentang Shwezigon dari buku Bagan yang kami beli di Ananda, jadi rencana kami hari ini adalah ke Shwezigon (lagi), lalu ke Bagan Archeological Museum, dan sisanya kami mau go show ke spot-spot yang bagus, termasuk mencari pesisir Sungai Irrawaddy yang lebih lebar. Intinya kami mau sedikit santai sebelum kembali ke Yangon nanti malam.

Saya sempat berdoa semoga hari ini cerah dan kami dijauhkan dari scammers yang reseh banget.

Shwezigon – Babak Kedua

Karena takut dan trauma dengan ibu-ibu yang nyegat kami kemarin sore, so saya melas-melas sama bokap untuk masuk Shwezigon dari koridor sebelah timur yang dekat jalan kecil menuju sungai.

Kami memarkir sepeda kami di pekarangan toko-toko, tepat di batas koridor timur. Setelah mengunci sepeda, kami dengan pedenya langsung melangkah menuju ke arah stupa. Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba beberapa pedagang menunjuk-nunjuk kami sambil bicara sesuatu yang tak kami pahami sama sekali. Saya sudah berpikir negatif. Scam lagi deh… Tapi untung bokap sadar, mereka menunjuk sepatu kami. Oalah.. Kami lupa melepas sepatu kami.. Seharusnya para sepatu itu sudah dilepas di batas koridor sebelum memasuki area yang dipenuhi para pedagang.

Ketika sampai di dalam, meskipun dalam kondisi waspada dan takut ketemu dengan dua gadis preman kemarin, saya mencoba untuk menikmati setiap detail yang kemarin tak sempat saya hayati. Shwezigon  pagi itu tak terlalu ramai sehingga kami bisa leluasa mengabadikan setiap sudutnya. Saya juga baru sadar bahwa puncak stupanya sedang ditutupi tikar bambu, sepertinya untuk melapisi kembali stupa ini dengan lapisan emas. Memang terlihat sih lapisan keemasan bagian teras sudah banyak yang mengelupas.

Shwezigon Hpaya

Shwezigon adalah stupa yang didirikan pada abad ke-11 atau ke-12, dan sepanjang usianya telah mengalami banyak sekali renovasi dan penambahan. Menurut kisah yang beredar, stupa ini dibangun oleh dua raja. Raja Anawrahta memulainya pada tahun 1059 dan menyelesaikan tiga tingkat terasnya, lalu Raja Kyanzittha menyelesaikan kubah stupanya. 

Bird and Bell

Stupa ini menyimpan dua relikwi Buddha, yaitu giginya yang diperoleh Raja Anawrahta dari Raja di Srilanka, serta tulang dahi yang dipindahkan dari ibukota kerajaan Pyu. Raja Bayinnaung memberi lapisan emas pada keseluruhan stupa pada tahun 1557, dan Hsinbyushin mengganti hti (puncak stupa yang berbentuk seperti payung) dengan hti sebelas susun, lalu mengisi puncaknya dengan 1000 emerald dan 111 manik-manik koral.

A flowery gift

Masih menurut legenda, lokasi stupa ini ditentukan oleh seekor gajah putih yang membawa kedua relikwi tersebut di atas punggungnya. Gajah itu berjalan dengan bebas, dan Raja Anawrahta bertitah bahwa dimanapun gajah itu berhenti disitulah akan didirikan stupa untuk mengabadikan kedua relik tersebut.

Batu berglasir tentang kisah Jataka

Jika diperhatikan, stupa ini memiliki bentuk yang simetris. Memang benar, dasar stupa ini berbentuk persegi dengan sisi sepanjang 49 meter, tingginya pun hampir mencapai 49 meter. Mirip struktur piramid ya?

Hintha, The Giant Goose

Ketika kami berkeliling di sisi timur stupa, kami menemukan kerumunan orang-orang yang mengarahkan kamera smart phone mereka ke arah sebuah kolam kecil seukuran telapak tangan orang dewasa. Menurut hasil nguping bokap, katanya di kamera kita bisa melihat wajah Buddha. Saya ikutan latah dengan orang-orang itu. tapi tak menemukan apa-apa. Hmm, wajah Buddha? Kok saya ngga bisa lihat apa-apa ya? Di kerumunan ini pula saya bertemu dengan seorang gadis asal Surabaya yang mengunjungi stupa ini bersama kakaknya, dan sedang mencari tahu juga apa yang terlihat di kolam ini.

Wajah Buddha?

Setelah puas memotret stupa ini dari berbagai posisi dan berbagai pose (pemotretnya), kami lalu meluncurkan sepeda kami menuju Old Bagan. Jujur kami sempat khawatir akan kehilangan sepatu atau sepeda kami, tapi syukurlah semuanya masih ada di tempatnya semula. Dan untunglah kami ngga ketemu lagi dengan ibu-ibu tukang cegat dan gadis bergaya preman.

Reclining Buddha di sisi utara

Kami sangat menikmati perjalanan awal dari Shwezigon menuju Old Bagan. Jalannya menurun jadi kami tak perlu mengayuh. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, jalanan mulai menanjak dan kamipun megap-megap. Suer deh, kagak kuat lagi. Saya sih masih bisa tahan, tapi saya khawatir dengan kondisi bokap. Beberapa kali kami berhenti di pinggir jalan untuk mengaso. Waktu kemarin pakai e-bike sih santai aja, gak ada ngos-ngosannya sama sekali. 

Saat kami beristirahat di sebuah jembatan kecil, kami mengecek jarak yang tersisa menuju museum. Apaa… masih 4 km lagi?!?! Padahal kaki udah ngga sanggup mengayuh.  Kami masih mencoba nekad dan mengayuh beberapa puluh meter, kemudian kami berhenti lagi dan akhirnya memutuskan nggak jadi ke museum. Ya sudahlah.. Daripada kami terkapar kan?

She Myet Hna. Hanya sepelemparan batu dari Hotel Aung Mingalar

Tak jauh dari kami berhenti ada sebuah jalan kecil di sebelah kanan. Dari kejauhan kami melihat tiga candi yang jaraknya cukup berdekatan. Bokap lalu mengajak saya masuk ke jalan itu. 

Bikkhu kecil di depan Paung Le Hpaya

Ah.. Lagi-lagi kami harus menghadapi jalan menanjak, hingga saya yang kurang ambil ancang-ancang akhirnya menyerah dan terpaksa menuntun sepeda saya. Kami lalu mampir ke candi yang terdekat. Hmm.. candi itu tanpa nama dan sepi sekali. Bokap yang udah megap-megap akhirnya menyuruh saya masuk sendiri ke candi itu.

Candi apakah ini?

Unknown Temple

Kiri : no. 250; Kanan : no. 249

Penuh ragu saya memasuki gerbang candi itu. Ada beberapa orang sedang bercakap di lantai depan. Jujur saya masih trauma dengan kejadian scam kemarin, hingga saya semakin ragu melangkah. Akhirnya saya memberanikan diri menyapa mereka, dan mereka dengan ramah menjawab sapaan saya sambil berkata, “You can go up.” Hmm, maksudnya bisa naik ke atas ya? Saya yang belum mudheng cuma ngangguk sambil nyengir aja.

Candi No. 249

Seorang pria muda mendekati saya ketika saya memasuki ruangan candi itu. Waduh.. alamat kena scam lagi deh. Perkenalan pertama kami langsung dibuka dengan miskomunikasi yang konyol. Awalnya pria itu berkata, “Sawadee ka..” Nah kan lagi-lagi saya dikira orang Thailand. Saya pasang muka blank sambil berkata, “Pardon?” Lalu dia berkata-kata lagi, dan saya tak masih belum nyambung juga. Setelah berkali-kali “Hah?!” dan “Pardon?”, akhirnya saya paham dia sedang bertanya, “Where are you from?” Jiah..

Dia menawarkan diri untuk meng-guide saya keliling candi ini. Hmm, ya okelah, sambil dalam hati saya berdoa jangan sampai ketiban scam lagi. Tapi sungguh, saya tak menyesal dengan keputusan ini. Pria itu memberikan jawaban bagi banyak pertanyaan yang sudah terkumpul di kepala saya.

Patung Buddha abad ke-13

Dia menunjukkan beda antara batu bata modern dengan batu bata asli dari abad ke-13. Ia menjelaskan mengapa ada plesteran modern pada tembok candi. Ia menunjuk sebuah patung Buddha besar di lantai bawah dan lukisan mural bergambar Buddha yang yang sudah berusia 800 tahun. 

Mural asli dari abad ke-13. Penambahan plester modern dilakukan pasca gempa tahun 1975, bertujuan untuk menahan sisa plester lama agar tidak runtuh

Batu bata lama berukuran dua kali lebih panjang daripada batu bata modern

Ia lalu mengajak saya naik ke bagian atas candi. Tangganya tersembunyi, sangat sempit, gelap, dan anak tangganya tinggi-tinggi. Ia menerangi langkah saya dengan sebuah senter serta berkali-kali mengingatkan saya untuk menundukkan kepala dan berhati-hati melangkah. Di ujung tangga itu terdapat satu pintu keluar yang sempit menuju teras. Sangat menantang buat saya yang berbadan besar ini. Malu dong kalau sampai nyangkut..

Spot foto yang tersembunyi

Di teras atas kami harus menghadapi angin yang super duper kencang. Beneran deh kencang banget sampai saya berasa hampir terbang. Tapi pemandangannya.. Wow bikin speechless.. Mungkin pemandangan di atas Shwesandaw memang lebih amazing. Tapi dari atas sini saya justru bisa melihat hamparan candi-candi yang lebih rapat, juga melihat bangunan-bangunan yang belum saya kenal sebelumnya. 

Bagan Watch Tower : Nan Myint

Pria itu, yang mengaku bernama Sunha, ternyata adalah penjaga candi ini. Dulu ayahnya yang bertugas membuka pintu candi saat pagi, mengantar para pengunjung, lalu menutup lagi pintu candi saat malam. Ayahnya juga membuat lukisan dari pasir, salah satu kerajinan yang umum ditemukan di Bagan. Kini ayahnya sudah berusia 82 tahun dan sudah sakit-sakitan, hingga Sunha diberi mandat menggantikan tugas ayahnya menjaga candi ini.

Sunha berkisah, jika hujan turun dengan deras, biasanya candi akan ikut terendam air. Maka saat musim hujan candi ini tak selalu dibuka. Setiap pagi Sunha akan memastikan dulu kondisi cuaca, jika buruk, maka ia akan menunggu hingga cuaca membaik baru membuka candi. Namun jika seharian hujan turun, ia memilih untuk terus menutup pintu candi. Dari atas candi ia menunjuk perkampungan tempat rumahnya berada. Setiap hari ia harus berjalan sekitar 10 menit dari rumah menuju candi.

Htilominlo dari kejauhan

Sunha bercerita bahwa candi ini berasal dari abad ke-13. Pada bagian atap candi masih terlihat sisa ornamen asli yang bisa bertahan dari gempa bumi tahun 1975. Saya sempat menanyakan apa nama candi ini. Sunha menjawab “Zedi”. Hmm, baiklah, nanti saya akan cari di bukunya Stadner. 

Sisa ornamen abad ke-13

Setelah puas memotret (meskipun rasanya tak pernah puas), saya mengikuti Sunha turun kembali ke lantai bawah. Ia menawarkan lukisannya. Saya sangat tertarik, tapi saya takut lukisan itu rusak karena dimasukkan ke ransel, jadi dengan berat hati saya menolak tawarannya itu, dan memberikan sedikit tip untuk jasanya sebagai guide.

Sunha, nice to meet you.. Sayang saya lupa mengambil fotonya Sunha.

Sebuah Pencarian

Sebelum saya melanjutkan cerita perjalanan kami di Bagan, izinkan saya untuk mengisahkan upaya pencarian nama si unknown temple yang dijaga Sunha itu. Saat beristirahat di hostel saya mencari nama “Zedi” di peta, buku, dan google. Akhirnya saya tahu, namua candi itu bukan “Zedi”. Zedi (cheti/ceti) adalah kata kuno yang berarti stupa. Rasanya pengen nangis deh begitu tahu kenyataan itu. Padahal candi “Zedi” inilah yang begitu membuat saya jatuh hati pada Bagan, hingga tak sabar untuk menuliskan kisahnya.

Saya mencoba mengingat lagi lokasinya : setelah jembatan sungai, jalan kecil di sebelah kanan, ada tiga candi berdekatan, dekat perkampungan, dan pastinya sebelum Htilominlo, alias sebelum memasuki Old Bagan. Berdasarkan ingatan itu saya mencoba mencari lagi di peta dan google maps. Hasilnya nihil.

Ketika kami menunggu boarding di Yangon International Airport, saya menemukan peta lipat tentang Bagan. Dari ancang-ancang lokasi yang saya buat, saya menemukan kode 2101. Jadi candi itu memang tanpa nama ya? Hiks.. Candi no. 2101 itu tak diceritakan sama sekali di buku Ancient Pagan yang saya miliki.

Saya akhirnya sampai pada titik putus asa dan bingung mau mencari kemana lagi.

Hingga dua minggu setelah kami pulang dan saya mulai menuliskan sedikit demi sedikit tentang perjalanan kami ke Myanmar. Saya kembali bertanya ke si mbah google tentang candi no. 2101. Hmm, sepertinya memang ini candi yang waktu itu saya naiki. Ada blogger bule yang menuliskan kunjungannya ke candi ini dalam bahasa Perancis. Saya melihat foto-fotonya, dan ada foto Sunha disana. Tapi kok saya belum 100% yakin ya?

Ah.. Mendadak saya ingat.. Setiap candi diberikan nomor pada dindingnya. Saya ubek-ubek lagi foto-foto yang saya ambil di candi ini. Dan.. Tadaaa… ketemulah foto sisi depan candi, yang setelah di-zoom menunjukkan tiga angka Burma pada suatu pelat putih yang melekat dekat pintu candi. Untung saya sudah punya catatan angka-angka Burma. Oke, singkat cerita, candi itu bernomor 249, dan candi kecil di sebelahnya bernomor 250. Langsung deh nanya si mbah, dan web bagan.travelmyanmar.net memberikan jawabannya. 

Nama candi ini Thagya Hit Temple. Didirikan pada abad ke-13, dan belum diketahui siapa yang mendirikannya. Foto-fotonya cocok dengan foto-foto saya. Saya mencoba browsing sumber lain, dan menemukan foto-foto serupa, plus ada juga fotonya Sunha. Ah… setelah dua minggu, akhirnya terjawab sudah rasa penasaran saya tentang si unknown temple ini. Thaghya Hit harus dimasukkan dalam list must see nya Bagan. 

Kembali ke cerita perjalanan.

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Perjalanan kembali ke jalan raya adalah bagian menyenangkan, sepeda kami meluncur dengan kencang. Tapi setelah kembali menggelinding di jalan raya, kami kembali harus megap-megap. Ah, inilah akibat dari pelit.. 

Nice view to dry our sweat

Kami lalu mengayuh sepeda pelan-pelan menuju ke hotel kami, beristirahat setiap usai menanjak, memotret candi tak bernama lainnya, hingga akhirnya kami mampir di sebuah biara yang terletak di petigaan jalan. Sedihnya sampai hari ini saya belum mendapatkan nama biara ini. Ada dua nama yang muncul : Alo Dawpyi Kaung dan Jetawun Monastic Education. Entah mana yang betul. Sepertinya sih Jetawun itu deh.

Bikkhu yang ramah banget…

Disini kami mondar-mandir bingung mencari toilet. Yang ada hanya kamar mandi umum dengan tembok setinggi setengah badan saya. Lalu ada bangunan yang saya kira toilet tapi ternyata tempat parkir. Eh.. taunya toilet-toilet itu berjajar dengan rapi di seberang tempat kami duduk. Haduh…

Hai… garuk perutku dong…

Kami juga numpang mengisi minum di fasilitas pemurnian air milik biara. Segaaar… Beberapa saat sebelumnya kami sempat mampir di depan sebuah candi tanpa nama. Disitu ada beberapa tempayan tanah liat berisi air dan disediakan gelas pula di atas tutupnya. Tapi karena takut bertemu cacing, maka kami urungkan niat untuk minum dari tempayan itu. Di biara ini kami bertemu anjing-anjing yang super duper manja,  serta seorang Bikkhu yang sangat ramah. Suasana biara amat sepi, mungkin karena saat itu sedang jam belajar yaa..

Singgah sejenak di depan candi no.263

Kami lalu nekad meneruskan perjalanan menuju pasar Nyaung Oo. Di tengah jalan kami menemukan satu sekolah yang ramai, dan sempat meminta beberapa anak sekolah untuk berfoto. Tapi kami ditolak. Ah.. kenapa toh ngga mau difoto?

Pasar Nyaung Oo tak terlalu besar tapi isinya beragam. Mulai dari penjual kain dan longyi hingga penjual bumbu dapur. Dari tukang jahit sampai penjual daging dan ikan. Aromanya pun mirip dengan pasar tradisional disini. Saya hanya berkeliling sebentar saja di dalam pasar ini, karena saya sudah tak ada ide mau belanja apa.. Hehe..

Pintu Pasar Nyaung Oo

Setelah makan siang di sebuah rumah makan sederhana tak jauh dari pasar, kami memutuskan untuk istirahat di hotel. Cukup lama kami beristirahat, yup ini efek dari kecapekan bersepeda. Saya sendiri sebetulnya masih bersemangat untuk mengeksplor Bagan, tapi saya tak bisa memaksa bokap untuk bergerak non stop.

Menjelang pukul 3 sore, barulah kami on lagi. Kami mengayuh sepeda hendak mencari Gubyaukyi yang letaknya di Jalan Anwrahta dan mencari area tepi Sungai Irrawaddy yang lebih oke. Kami berencana untuk ke Anwrahta dulu. Menurut peta, kami cukup kembali ke pertigaan sebelum biara, lalu belok kiri. Tapi ketika melewati koridor panjang Shwezigon, kami malah berbelok ke jalan kecil di samping kiri koridor itu. Lagi-lagi labil.. hehehe.

Setelah kebingungan baca peta yang terpasang di setiap persimpangan jalan, dan berkali-kali berhenti karena kelelahan, kami menemukan petunjuk bertuliskan “CAVE”. Wah, boleh nih nanti disinggahi setelah menemukan sungai. Kami lalu mengayuh sepeda dengan mengandalkan feeling saja hingga akhirnya bertemu tangga berpasir menuju ke tepi sungai. Ah.. akhirnya ketemu juga.. Meskipun tepiannya sempit namun setidaknya kami bisa lebih dekat dengan Irrawaddy.

Bukit Tangyi
Kalau minum air sungai ini.. Nanti bisa balik lagi ke Bagan.. hehehe

Kami disambut dengan tatapan aneh para ibu yang sedang mandi dan memandikan anaknya. Waduh, jangan-jangan kami bakal diusir karena mengganggu mereka. Tapi ketika saya memberi kode minta izin untuk memotret mereka, mereka tersenyum lebar dan langsung berpose. Para ibu mengumpulkan anak-anaknya agar bisa dipotret bersama. Ah… mata saya sampai berkaca-kaca. Kami memang orang asing yang tak bisa berkata-kata dalam bahasa mereka.. Tapi.. mereka menyambut kami dengan keramahan yang luar biasa. Tak tersirat sedikitpun curiga dalam gerak-gerik mereka. Mereka mau berdekatan dengan kami dan mau berfoto bersama. Tanpa kata.. Hanya senyum dan tawa.

Cheese….

Tak jauh dari sungai kami menemukan satu bangunan sekolah. Ada beberapa murid sedang berjalan sambil bercanda. Kali ini mereka semua bersedia difoto meski malu-malu. Hmm.. beberapa anak membawa rantang bersusun khas oma-oma di masa lalu. Mungkin itu bekal makan siang mereka kali ya…

For The Brighter Myanmar

Kyanzittha Umin (North)

Petunjuk menuju Kyanzittha Umin

Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat yang ditunjukkan dengan pelang bertuliskan “CAVE” tadi. Lagi-lagi kami menemukan suasana yang sepi dan disambut oleh salakan pelan seekor anjing. Ketika kami memarkir sepeda-sepeda kami, tiba-tiba seorang nenek keluar dari gubuknya dan melangkah pelan menuju candi yang bernama Kyansithar Umin ini. kami pikir ia mau mengangkat cucian atau mengambil sesuatu dari area candi, karena ia membawa keranjang belanja. 

Kyansithar ( Kyanzittha) Umin

Kami awalnya tak hirau dengan beliau, dan malah asyik membaca papan petunjuk tentang candi ini. Untung bokap sadar bahwa beliau melambaikan tangannya memanggil kami. Ah, ternyata beliau sudah duduk menunggu di pintu candi yang sangat kecil. Ketika kami hendak masuk, ia menyodorkan dua buah senter. Beliau melakukan semua itu tanpa bicara sepatah katapun.

Meskipun di dalam candi ini tak boleh memotret, namun kami mencuri-curi foto dengan kamera hp yang dibantu dengan penerangan senter. Bagian dalam candi ini sangat gelap dan dindingnya dipenuhi gambar-gambar aneh, bahkan tampak menyeramkan. Ada koridor panjang dan relung di dindingnya. Saya ingat penjelasan Sunha bahwa relung-relung itu dulunya dipakai para Bikkhu untuk bermeditasi. Kami merasa sangat takjub sambil merinding disko di dalam candi gua ini. 

Gambar apa ini?
Butuh dua senter untuk menerangi gambar ini

Entah bagaimana, nenek itu sadar kami sedang mengambil foto. Terdengarlah suaranya untuk yang pertama kali, “No photo!!” Upppsss…. Setelah kami keluar, nenek itu mengunci lagi pintu candi dan bersedia difoto di depan candi yang dijaganya.

Nenek penjaga Kyanzittha Umin

Bertemu dengan nenek ini adalah satu kejutan lagi bagi saya. Mungkin beliau sama dengan Sunha yang turun temurun menjadi penjaga candi ini. Padahal nenek itu  sudah amat tua, langkahnya pun tak bisa cepat. Saya sempat khawatir beliau tersandung, hingga kami mengawasi langkahnya hingga beliau masuk ke gubuknya. Salut sekali ya.. Sudah setua itu tapi masih setia menjaga dan melindungi peninggalan nenek moyangnya.

Nek… hati-hati ya…

Oh ya, Kyansithar Umin (atau Kyanzittha Umin) berarti “Gua Kyanzittha” (U-min berarti terowongan/ gua). Candi berbentuk terowongan yang tersusun dari batu bata ini memiliki koridor sepanjang 23.5 meter dan atap yang rendah. Sebagian tubuh candi dibangun lebih rendah dari permukaan tanah. 

Penyangga terowongan

Kemungkinan besar candi ini dibangun sejak masa Raja Anwrahta, meskipun secara resmi dikatakan milik Raja Kyanzittha. Sejak awal, bangunan ini memang didirikan sebagai tempat meditasi para Bikkhu. Lukisan aneh pada dindingnya dianalisa sebagai gambaran invasi Mongol terhadap Bagan pada tahun 1287.

Nek, semoga nenek sehat selalu ya dan mewariskan kesetiaan itu pada anak cucu nenek…

Kami lalu meluncur ke Jalan Anwrahta, dan bertemu dengan Kubyaukyi Wetkyi Inn yang bagian atapnya mirip dengan atap Mahabodhi. Kami tidak memasuki candi ini, melainkan mencari jalan tembus menuju hotel untuk kembali meluruskan kaki 

Kubyaukyi Wetkyi Inn

Berkeliling Bagan dengan sepeda ternyata cukup menyiksa kami. Padahal kami banyak bertemu dengan para turis yang kayaknya santai-santai saja mengendarai sepeda. Huh.. Efek obesitas nih kayaknya.

Back to the past..

Sambil bersantai, saya iseng mencari tahu tentang kolam kecil di Shwezigon yang tadi pagi dikerumuni orang. Di flickr saya menemukan jawabannya. Ternyata kolam itu bisa memantulkan puncak stupa Shwezigon dengan sempurna. Fotonya cakep bener dah. Setelah saya cek foto-foto yang saya ambil, ternyata hasilnya aneh, ada banyak bayangan termasuk bayangan saya sendiri. Wedeh…

Saking penasaran, saya langsung minta izin untuk kembali ke Shwezigon sendirian. Saya memacu sepeda dengan ngebut lalu mengambil jalur koridor selatan seperti kemarin sore. Lagi-lagi saya bertemu dua ibu gembrot yang memanggil-manggil dengan jutek. Tadinya saya sempat berpikir untuk parkir dekat pintu selatan ini, tapi karena dua orang itu, saya langsung berakting pura-pura budek dan ngebut ke batas koridor sebelah timur seperti tadi pagi.

Dengan setengah berlari saya mendekati kolam itu. Mencoba berbagai posisi dan pose untuk mendapatkan bayangan stupa. Tapi yang saya dapatkan hanya bayangan hitam berbentuk kerucut, tak seperti foto di flickr yang kinclong bin mengkilap. Ah.. iyalah, puncak stupa kan sedang ditutupi tikar, jadi pasti tak akan mengkilap. Tapi kok foto di flickr itu kelihatan detail sekali ya.. Sedangkan foto saya benar-benar hanya memberikan siluet bayangan saja. Kenapa ya?

Jadinya begini? *geleng-geleng

Tak sampai 10 menit saya sudah kembali lagi di hotel sambil mengumpulkan nafas. Ketika saya tunjukkan hasil foto itu, bokap cuma nyengir. Analisanya sama : puncak stupa yang ditutup tikar tidak memantulkan cahaya dengan sempurna, selain itu suasana langit juga mendung jadi pencahayaannya kurang. Duh.. kenapa sih Shwezigon harus sedang berdandan saat kami datang?!? Kenapa juga kami datang pas musim hujan!?!

Only in the darkness you can recognize the light. (Kyanzittha Umin)

Malam itu di atas bus menuju Yangon, saya tersadar, Tuhan telah mengajarkan banyak hal dengan mempertemukan saya dengan orang-orang sederhana yang amat menginspirasi. Ia berhasil mengubah pikiran negatif saya menjadi kejutan tak terduga. Ia mengobati trauma saya melalui banyak orang baik yang menyentuh hati saya.

Duh, kenapa saya jadi ngga rela meninggalkan Bagan ya… Sepertinya saya mulai jatuh hati pada Bagan nih..

Tolonggg… Babi ini pengen nyium sayaaa…..

Simak juga kisah hari pertama kami di Bagan : Babak Pertama dan Babak Kedua.


5 thoughts on “Bagan Hari Kedua : Sejauh Kaki Mengayuh

  1. Mungkin karena aku kesananya pas terik banget sampai ga bisa jalan di lantai kuil krn panasnya, makanya aku merasa panas dan lelah ngliat tripmu Na… apalagi naik sepeda… Bagan kan segede gaban… salut deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s