Saya Tahu Bagaimana Rasanya…

“Saya ngerti, Na.. Saya tahu banget perasaan kamu.. Karena saya pernah ada di posisi kamu..”

Dengan lembut sahabat saya mengatakan semua itu sambil merangkul bahu saya. Kami sedang berjalan santai dari Taman Topi menuju Kebun Raya Bogor. Tapi selalu ada topik berat yang kami bicarakan meskipun kami tengah berjalan santai. 

Entah kenapa pagi itu ia seperti tahu apa yang sedang membebani pikiran saya, ketika ia tiba-tiba membahas tentang diskriminasi dan betapa rendahnya toleransi beragama di negeri ini. 

Akhirnya mengalirlah sebuah kisah dari bibir ini, tentang kejadian beberapa hari lalu ketika saya menyaksikan seseorang dihina di depan umum karena perbedaan agamanya.

“Cerita aja, Na.. Gak usah ragu-ragu..” Ia tersenyum penuh pengertian. Ia menatap saya dengan tatapan melindungi. Sejak pertama mengenalnya saya sudah tahu, perbedaan tak akan pernah menjadi penghalang persahabatan kami.

Ia lalu bercerita pengalamannya pada awal studinya di Spanyol. Bagaimana ia begitu sulit mendapatkan tempat tinggal hanya karena ia berbeda. “Saya muslim, dan saya orang Asia.” Dua perpaduan yang sempurna untuk jadi alasan orang-orang menolak saya. Ditambah nama saya Islami banget. Ketika mendengar nama saja mereka langsung tahu saya Muslim, orang Asia pula. Langsung pada nyinyir deh dan memandang saya dengan aneh.”

Saya terkejut. Inilah kali pertama ia membicarakan kesulitannya ketika belajar di tanah Eropa. “Bukankah di Spanyol juga banyak orang Islam?”, saya menyela ceritanya.

“Hmm.. iya.. tapi kebanyakan mereka, dan juga orang-orang Asia, hidup di bawah garis kemiskinan dan disubsidi oleh negara. Itulah mengapa mereka dianggap sebagai beban negara. Ditambah lagi dengan isu terorisme yang selalu dikaitkan dengan Islam. Padahal saya berangkat ke Spanyol ketika Eropa dalam kondisi cukup tenang. Entah bagaimana sulitnya jika saya berangkat saat ini kesana.”

Saya tak terbayang betapa sulit dirinya kala itu. Usianya baru 20 tahun dan harus menghadapi stigma negatif itu. Sendirian.  

“Nggak enak sih, Na. Dulu juga saya marah dan gak terima. Tapi semua itu yang membentuk dan menguatkan saya. Saya tahu diperlakukan seperti itu sangat menyakitkan. Makanya saya janji nggak akan berlaku seperti itu ke orang lain. Saat itu saya janji dengan diri saya sendiri, saya nggak akan melihat orang lain hanya dari agama atau sukunya aja. Kalau kita hanya berhenti pada kemarahan dan keinginan balas dendam, selamanya dunia ini nggak akan damai, Na. Selamanya perbedaan itu akan jadi hal yang bikin perang. Kita harus jadi orang yang berani memutuskan rantai amarah itu. Waktu itu akhirnya saya sadar, nggak semua orang Kristen dan orang Eropa diskriminatif. Saya bahkan bisa bersahabat dengan mereka, seperti dengan kamu sekarang.”

“Tuhan itu satu, apapun panggilan kita padaNya. Ia hanya ingin kita saling mengasihi dan bukan saling membenci.”

Percakapan kami berakhir beberapa meter dari gerbang Kebun Raya. Ah.. andai semua orang seperti dia, pasti pabrik senjata sudah banyak yang menghentikan produksinya.

Kapan negeri ini bisa maju ya, kalau kita bisanya cuma curiga lalu menghakimi dan mendiskriminasi orang lain?


6 thoughts on “Saya Tahu Bagaimana Rasanya…

  1. bahwa sesungguhnya perbedaan itu indah.. saya juga punya beberapa sahabat yang berbeda agama,justru mereka yang ga bosen buat ingetin saya ibadah. Gak ada yg menganggap salah satu itu lbh baik. Saat ini karena satu orang yang berbuat maka yang lain jadi ikutan jelek, mendeskriminasikan satu golongan, padahal tidak semua seperti itu yahh🙂

  2. Aku baru paham bahwa perbedaan itu ada dan gak masalah setelah (akhirnya) punya temen yang lebih beragam. Kalau biasa gaul sama yang relatif homogen, bertoleransi pun emang gak kebayang gimana bentuk realnya.

  3. Aku kebetulan dari dulu punya teman yg heterogen, mulai dari agama, sampe jenis kelamin. Punya temen deket yg beda agama juga.

    Waktu berangkat sekolah, paling sekali dua kali dapat perlakuan rasis. Susah memang.. Apalagi pas saya di Jerman ini, pas kejadian krisis pengungsi. Sering bgt diliatin di bus/kereta/tempat umum krn pake jilbab. Sering dikira pengungsi yg dateng ke eropa cuma karena mau nyari dana sosial.Cape ga sih? Yang capenya lagi juga, sikap saya yang memang akrab dengan teman2 yg heterogen malah dibilang orang “liberal” lah..”kebablasan” lah.

    Iya banget..kapan negara ini mau maju kalo kayak gini terus ya?

    1. Kak Tatat… terima kasih banget sudah mampir dan berbagi cerita yang sangat luar biasa ini.. Cerita Kak Tatat melengkapi kepingan cerita sahabatku itu.. Boleh kushare ya dengan sahabatku itu?
      Kak Tatat.. emang ya sering jadi serba salah.. Setiap tindakan kita pasti akan banyak pro dan kontra. Yuk kita sama2 jadi agen perubahan yang memutus dan ngga mewariskan hal-hal buruk ke anak cucu kita… *ahsayahsotoy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s