Golden Rock Kyaiktiyo : Kok Bisa Ya?

Setelah menempuh perjalanan sekitar sembilan jam dari Bagan ke Yangon, kami akhirnya tiba di terminal kedatangan Aung Mingalar. Kami harus naik taxi untuk menuju ke pool bus Win Express yang akan mengantar kami menuju Kyaiktiyo (Kyaikhteeyoe/ Kyaikhtiyo; baca Caiktiyo). Menurut info, butuh waktu sekitar 5 jam untuk sampai kesana. 

Kami lalu membeli tiket dari seorang kenek dengan harga 10.000 MMK (Myanmar Kyats) dengan mengucapkan kata kunci : Golden Rock. Sebaiknya gunakanlah kata kunci ini, karena ada ambigu antara Kyaiktiyo dan Kyaik Hto (Kyaikto), yang jaraknya masih sekitar 28 km dari gunungnya Golden Rock. Dua nama daerah itu sangat mirip dan sering tertukar. Jadi biar aman sebutlah kata sakti ini : GOLDEN ROCK.
Usai memperoleh tiket bus yang akan berangkat pukul 08.00, kami langsung mencari sarapan dan melanjutkan urusan pertoiletan. Kami sarapan di emperan terminal bareng sepasang bule. Bule yang perempuan punya struktur wajah mirip tante saya dan ramah sekali. Berkali-kali ia tersenyum pada orang yang melaluinya.

Tak seperti bus JJ Express jurusan Bagan, Win Express ini mirip dengan bus umum, bedanya kami yang sudah beli tiket di kenek atau di pool akan diberi nomor bangku. Mereka yang naik di tengah jalan (dan  tak kebagian bangku regular), akan diberi bangku tambahan di lorong tengah bus. Bukan bangku baso atau papan kayu kayak disini, tapi jok lipat yang terhubung dengan bangku regular. Hebatnya lagi, semua orang duduk sesuai nomor bangkunya, padahal kami sempat khawatir tak dapat duduk karena saat kami naik bus sudah lumayan penuh. 

Kami tak sempat memasukkan ransel kami ke dalam bagasi karena terburu-buru. Alhasil kami harus memangku ransel kami yang sudah lebih gendut dan berat. Di luar langit tampak mendung, dan AC bus lumayan dingin. Jadilah kami melanjutkan tidur lagi dengan kaki berpijak di atas ransel.

Young Samanera…

Saya terbangun ketika bokap sadar bahwa bus kami sudah memasuki Bago. Kami mencoba menganalisa pemandangan Bago, karena kami membaca tentang Shwemawdaw Pagoda yang katanya mirip Shwedagon. Hmm, kami sempat melihat sebuah stupa emas melatarbelakangi bangunan modern Bago. Entah, itukah Shwemawdaw?
Pemandangan kota berganti dengan pemandangan pedesaan. Hamparan sawah dan ladang berganti-ganti dengan sungai dan pedesaan. Suasananya berasa kayak mau mudik ke Jawa deh. Pukul 12 siang bus berhenti di sebuah rest area untuk makan siang (bayar sendiri lho..) dan bertoilet ria. 

Suasana Sepanjang Jalan

Ada tiga hal yang bikin kami shock di rest area ini : penjual peyek udang berukuran segede piring, penjual belalang goreng, dan toilet yang memusnahkan selera makan.
Disinilah saya berkenalan dengan seorang gadis Perancis bernama Ludivine. Yup, gadis ini adalah gadis ramah yang tadi pagi makan bareng kami di emperan. Dia dan suaminya akan berkeliling Myanmar selama tiga bulan. Setelah Golden Rock, mereka akan ke selatan menuju Dawei dan Myeik. Enak bener yaa…

Ada yang bisa menemukan Ludy dalam foto ini?

Setelah setengah jam berhenti, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Isi bus semakin berkurang dan kami mulai panik. Lama kelamaan isinya tinggal saya dan bokap, Ludy dan suaminya, serta dua cowok bule. Kami mulai bisa melihat Golden Rock yang tampak sangat mungil nangkring di tebing gunung. Bus melewati bundaran dengan tulisan “Welcome To Kyaiktiyo” dan melaju terus.
Menurut banyak sumber, saat low season seperti ini, bus akan berhenti di Kyaikto, lalu kita harus nyambung dengan angkutan lain menuju Kinpun. Nah, saat itu kami ngga tahu apakah kami akan diturunkan di Kyaikto atau di Kinpun. Jadi kami cuma pasrah aja ngikutin bule-bule itu.

Akhirnya bus pun berhenti, Ludy melambaikan tangan. Saya belum ngeh kalau ini adalah akhir perjalanan kami. Ludy yang sadar kebengongan saya langsung bilang, “Yes, this is Kinpun”. Oh.. jadi kami sudah sampai Kinpun.. yeaaay… We are so lucky… 

Saat kami turun dari bus, ada petugas Win Express yang langsung mengawal kami. Lagi-lagi kendala bahasa bikin kami miskom. Awalnya dia menunjukkan seorang ibu yang akan mengantar kami menuju truck station. Tapi lalu dia menawarkan booking tiket bus balik menuju Yangon. Tapi pas kami tanya schedulenya, kok dia jadi bingung sendiri dan malah menggiring kami menuju sebuah kios kecil.

Karena berniat mampir ke Bago dulu sebelum kembali ke Yangon, jadilah kami beli tiket seharga 5000 MMK menuju Bago. Ada dua jadwal yang kami ingat, yaitu pukul 11.00 dan 14.00. Kami lalu memutuskan naik yang jam 11 saja, karena perjalanan ke Bago membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Kalau naik yang pukul 14.00 kami tak bisa puas keliling Bago karena bakal kemalaman. Agen tiket mengingatkan kami agar stand by pukul 11.00. Tak ada jasa penjemputan, dan kalau terlambat silakan tanggung sendiri. Deal!!

Petugas tadi lalu menunjukkan jalan menuju pangkalan truk untuk naik menuju Kyaiktiyo. Oh, ya, demi bisa melihat Golden Rock saat malam hari, kami nekad booking hotel di Kyaiktiyo, dekat dengan Golden Rock. Padahal ratenya bisa dipake buat kami berdua booking tiga malam di Backpacker Myanmar.

Karena kami sudah lapar dan truk masih kelihatan kosong, kami menyempatkan dulu makan di dekat pemberhentian truk ini. Hmm, ada yang aneh.. Gadis penjaga resto tak hentinya memandangi kami makan. Ada apa ya? Apa kami terlihat sangat kelaparan dan rakus? Duh, jadi ngga enak deh makan sambil dilihatin, apalagi makannya terburu-buru karena takut ditinggal truk.

Truk dari Kinpun menuju Kyaiktiyo tak punya jadwal tetap, alias menunggu penuh baru berangkat. Weleh-weleh kan.. Bangku di samping sopir bisa diisi 3 orang, sedangkan di bagian baknya dibuat bangku-bangku besi yang bisa diisi hingga 45 orang. Tarif kursi depan seharga 3000 MMK, sedangkan bak belakang seharga 2500 MMK. Ada satu kenek yang mengumpulkan uang dari setiap penumpang. 

Penampakan Truknya

Aha, ternyata kami satu truk lagi dengan Ludy dan suaminya, serta dua bule di bus tadi. Mereka sepertinya menginap di Kinpun karena saat naik truk mereka tak lagi membawa ransel-ranselnya. 
Setelah satu jam menunggu, truk pun berangkat meski baru terisi 30 orang saja. Sebelum berangkat banyak sekali orang yang menawarkan jas hujan plastik, bahkan seperti memaksa. Kami yang merasa hujan tak akan turun, cuek saja dengan tawaran mereka.

Perlahan-lahan truk bergerak keluar dari stasiunnya, awalnya sih pelan dan santai. Tapi beberapa menit kemudian kami berasa di atas roller coaster. Suer dah… truknya ngebut abis.. Padahal jalannya curam dan kecil, hanya  bisa dilewati satu truk doang. Jadi dari awal perjalanan, para peziarah memang sudah dikondisikan untuk lebih dekat dengan Yang di Atas. Ya iyalah, di atas truk rasa roller coaster ini apalagi yang bisa kita lakukan selain berdoa?

Udara Kinpun dan Kyaiktiyo cukup bersih, meski semakin ke atas kabut semakin tebal. Ah, rasanya saya ingin sekali menghirup dalam-dalam udara yang tak tercemar ini. Tapi.. ketika saya menarik nafas panjang, yang terhirup adalah aroma ket** yang semerbak. Duh, rusaklah kesempurnaan perjalanan ini..

Securam ini…

Beberapa kali truk berhenti untuk mengantarkan paket atau menurunkan penumpang. Di satu perhentian, truk berhenti cukup lama, dan perhentian ini letaknya di luar jalan utama. Jadi kami pikir inilah akhir dari perjalanan si truk. Tapi ketika kami menengok ke belakang, seorang penumpang memberi kode bahwa belum saatnya kami turun. Truk masih melaju lagi selama beberapa menit, dan kabut benar-benar semakin tebal. Ketika truk berhenti dan semua penumpang turun, kamipun ikutan turun. Saya menunjukkan alamat Kyaik Hto Hotel kepada sang driver. Ia menunjukkan sebuah jalan menurun. Dan seluruh penumpang truk memang melangkah ke arah jalan itu.

Terminal Terakhir…

Kami melangkah tanpa arah di tengah kabut tebal dan hanya mengikuti kemana keramaian ini melangkah. Tak lama kemudian kami berjumpa dengan seorang pria yang berdiri di tengah jalan dan mengarahkan gerombolan ini menuju satu pondok kecil. Disini para wisatawan harus mendaftarkan dirinya dan membayar 6000 MMK. Kami lalu diberikan dua lembar name tag untuk digantungkan di leher. “See you on top!!”, itu teriakan Ludy yang sudah selesai mendaftarkan dirinya.

Ikut Arus…

Di pondok ini kami membaca sekilas kisah tentang Si Golden Rock, yang ternyata merupakan salah satu tempat suci di Myanmar. Saya terjemahkan saja ya, semua yang tercantum di papan itu :

Pagoda Kyaiktiyo, yang kini dikenal juga sebagai Pagoda Golden Rock, terletak di puncak Gunung Kyaiktiyo pada ketinggian 3615 kaki (1102 meter) di atas permukaan laut. Gunung ini terletak di daerah Mon, sekitar 130 mil (210 km) dari Yangon.

Pagoda ini dibangun di atas relikwi rambut (Buddha), lebih dari 2500 tahun yang lalu, ketika Buddha masih hidup di dunia. Menurut legenda, Buddha sendiri yang memberikan rambutnya kepada seorang pertapa. Pertapa itu kemudian menyimpan rambut itu di ikatan rambutnya, sampai ia menemukan sebuah batu besar yang bentuknya menyerupai kepalanya sendiri, sehingga ia bisa membangun pagoda di atasnya untuk mengabadikan relikwi itu. Dalam bahasa Mon, Kyaik berarti pagoda, dan Yo berarti menjunjung di kepala. Ithi dalam bahasa Pali berarti pertapa, sehingga Kyaiktiyo yang berasal dari Kyaik-Thi-Yo berarti pagoda yang dibangun di atas kepala pertapa.

Pagoda ini menjadi sebuah penegasan yang berkilau terhadap spiritualitas Myanmar. Meskipun ukurannya kecil, namun pagoda ini adalah salah satu pagoda yang paling terkenal dan dihormati di Myanmar. Pagoda Kyaiktiyo diakui sebagai salah satu keajaiban di Asia Tenggara oleh sebuah publikasi terbaru terbitan Tourism Authorities negara-negara ASEAN. Pagoda ini juga dapat dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia, mengingat fakta uniknya bahwa ia “duduk” di puncak sebuah batu granit besar yang berbentuk hampir menyerupai telur.  Batu besar ini (yang kini seluruh permukaannya telah dicat dengan warna emas) seolah bertengger dengan posisi terhuyung di atas batu landasannya. Batu granit besar dan batu landasannya merupakan dua bagian yang terpisah. Batu besar itu benar-benar menyeimbangkan batas ekstrim dari permukaan miring landasannya, dan lebih dari separuh bagian dasarnya dalam posisi menggantung. Arah kemiringannya adalah tegak lurus menurun menuju lembah di bawahnya. Batu landasan terpisah beberapa kaki dari jurang yang dalam, dan sekarang ditambahkan sebuah jembatan kecil di antaranya. Jika granit besar ini diguncangkan dengan perlahan, maka sehelai benang bisa dilewatkan antara batu ini dengan landasannya.

Jika dilihat dari sudut yang berbeda, celah ini bisa tampak akibat berkas sinar matahari yang berhasil melewatinya.

Hingga kini tak diketahui hukum aneh apa yang bisa menahan batu besar ini dalam posisi canggungnya selama berabad-abad dan bertahan dari beberapa gempa bumi dahsyat, tapi para umat Buddha yang saleh menghubungkan hal itu dengan kekuatan relikwi rambut Buddha yang diabadikan dalam pagoda ini.

Pondok Registrasi

Kami tak langsung menuju Golden Rock, tapi mencari si Kyaik Hto Hotel dan check in. Karena kami memang berniat melihat batu ajaib ini pada malam hari, maka kami memutuskan untuk beristirahat dulu di hotel. Saya melihat jam, hmm.. Hampir pukul 3 sore. Nanti sekitar pukul 5 sajalah kami mulai naik. Toh menurut peta jarak dari hotel ke Golden Rock hanya 15 menit jalan kaki kok, selain itu matahari disini kan terbenam setelah jam 7 malam, jadi kami bisa tidur dulu sebentar.

Kyaik Hto Hotel

Jam 5 kurang sedikit saya membangunkan bokap, lalu kami siap-siap naik. Saking pedenya kami hanya bawa satu payung kecil saja, padahal di kamar disediakan dua payung segede gaban. Kami lalu melangkah di dalam kabut menuju ke Golden Rock yang sudah lama kami angankan. Saya sempat mampir ke halaman belakang hotel yang, menurut foto-fotonya, disana kita bisa melihat Golden Rock dari kejauhan. Tapi coy.. kabutnya tebal banget, sampe nggak kelihatan apa-apa. Sejauh mata memandang hanya ada kabut dan kabut.
Tak sampai lima menit dari hotel, kami langsung bertemu tangga naik yang cukup banyak. Ah, disinilah kami harus melepas sepatu kami. Jadi sisa perjalanan yang masih sekitar sepuluh menit harus kami lalui dengan nyeker. Perlahan-lahan kami menapaki tangga bersama dengan anjing-anjing kurus yang begitu pemalu. Kami sangat bingung karena suasana amat sepi. Kami nyaris tak bertemu siapapun sepanjang perjalanan. Mungkin sebagian besar pengunjung menginap di Kinpun hingga mereka harus mengejar truk terakhir yang turun pada pukul 6 sore.

Welcome To The Golden Rock

Ketika tiba di puncak tangga, hujan rintik mulai turun dan angin menerpa kami dengan kencang. Lantai ubin terasa dingin dan licin, untung saja disediakan karpet karet anti slip. Karpet ini juga menunjukkan arah kemana kami harus melangkah saat kabut semakin tebal dan kami hampir tak bisa melihat apa-apa. Kami sempat tersesat bablas ke Yeo Yoe Lay Hotel yang lokasinya benar-benar di ujung jalan ini. Terpaksa deh berbalik arah lagi. 

Kami nggak mampir ke bangunan di sekitarnya. Ada patung-patung diorama namun tanpa keterangan apa-apa, hingga kami jadi enggan untuk mampir.
Akhirnya setelah perjalanan yang lumayan membuat kami menggigil dan merinding, kami pun melihat si Golden Rock yang seolah nangkring dalam posisi nggak pewe. Sepertinya batu itu dalam posisi hampir merosot, tapi disanalah dia selama berabad-abad, berpijak dengan stabil bagai melawan gravitasi.

Lucky You, Dad…

Sayang.. hanya pria yang boleh mendekat dan menyentuhnya. Begitu saya mendekati pagar, petugas penjaga langsung dengan tegas melarang saya masuk. Yah.. jadi cuma bokap yang bisa meraba-raba si batu ajaib ini. Saya cuma bisa meringis dari kejauhan.  And.. lucky you, Dad.. Setelah bokap puas megang-megang si batu dan keluar dari pintu, eh.. si petugas langsung menutup gerbang dan cabut.. Wow, my dad is the last guest for that day.

Bokap jadi mungil..
Tutup Deh…

Hujan mendadak langsung turun dengan deras.. Alamak…  Padahal langit belum gelap, lampu belum pada nyala. Uh..target kami kan melihat golden rock dalam kondisi kinclong seperti yang ada di majalah. Kami berteduh di hall kuil yang ada di depan si Golden Rock, tapi tetap saja kebasahan karena angin begitu kencang. Bokap bilang, “Tenang aja, kita kan nginep disini, jadi mau nunggu sampe jam berapapun ngga akan ada yang ngusir.” Iya sih.. Tapi, agak horror juga, soalnya suasana benar-benar sepi. Untunglah tak lama kemudian muncul beberapa wajah asing, sepertinya turis Korea yang juga sama-sama terjebak hujan.
Akhirnya, seperti ketika di Bagan, kami nekad menerjang hujan dengan bermodalkan satu payung mini. Ya kebayanglah duo raksasa di bawah satu payung kecil? Perjuangannya masih ditambah lagi dengan menuruni tangga licin untuk menuju bagian bawah Golden Rock, plus kabut dan angin yang membuat payung kami menjadi korban keganasannya. Kami benar-benar hanya berdua disana, jadi suasananya sungguh mencekam. Udah gitu kami tak bisa melihat apapun di bawah pagar pembatas, semuanya kabut. Padahal di bawah itu adalah…jurang… Menurut foto-foto yang kami dapatkan, pemandangan di bawah sana bagus banget, rumah-rumah penduduk berpadu dengan pemandangan yang masih alami. Tapi kami hanya mendapati kabut tebal nan misterius yang tampaknya siap menelan apapun yang memasukinya.

Horor…

Lama kami berkutat di bawah Golden Rock hanya untuk mencari pose yang oke untuk selfie. Rasanya tak pernah puas memotret batu ini dari berbagai pose, karena entah mengapa ketika kami lihat hasilnya, kok foto kami malah membuat batu ini kehilangan sisi dramatisnya ya? Terlalu datar, terlalu nenggak, terlalu silau. Pokoknya jadi aneh deh si Golden Rock ini..

Dari jauh..

Gelap pun datang, kondisi kami sudah kuyup kayak bebek kecebur. Tapi semua itu tak menghalangi kami untuk berkali-kali bilang “WOW” dan “KOK BISA YA?!?!” selama mengelilingi si Golden Rock. Amazing. Benar-benar bisa dikategorikan sebagai salah satu keajaiban dunia deh. Berkali-kali kami hanya terdiam. Bukan hanya karena takjub melihat batu keemasan ini, tapi karena kami kedinginan. Kami juga sebetulnya sedang panik karena seluruh dokumen perjalanan kami, termasuk passport, ada dalam tas yang sudah kuyup ini.

Hari itu, 6 Juli 2016, ketika warga Indonesia merayakan Idul Fitri hari pertama, kami sedang berdiri takjub di puncak Mt. Kyaiktiyo, menatap heran pada batu raksasa keemasan ini sambil menggigil kedinginan. Terbayang aroma rendang dan opor, juga kehangatan rumah.

Dari dekat..

Hujan benar-benar turun tanpa ampun, hingga akhirnya kami memutuskan untuk turun. Barulah terpikirkan nasib sepatu-sepatu kami di bawah sana. Jangan-jangan sepatu kami sudah lenyap tersapu angin dan terbawa hujan. Kalau sampai terjadi, kami ngga tahu harus beli sandal jepit dimana. 

Kami baru saja meninggalkan Golden Rock sejauh beberapa meter, tapi ketika kami berbalik ke belakang, Golden Rock sudah tak terlihat lagi. Hanya siluet lampu saja yang terlihat dari tempatnya berada. Beneran deh rasanya kayak lagi masuk dalam scene film horror.

Di tengah angin badai itu kami tersadar bahwa name tag yang diberikan petugas sore tadi seluruhnya sudah lenyap, dan hanya menyisakan tali biru yang melingkar di leher kami. Kami cuma bisa tertawa ngakak sambil berharap sisa tali itu bisa jadi barang bukti yang cukup valid, andaikan petugas menanyakan mana name tag kami.

Sebuah kesadaran mampir di benak saya ketika kami berjalan turun dengan perlahan-lahan. Saya sangat bersyukur kami berdua bisa mencapai sejauh ini. Jujur saja, sebelumnya saya hampir menghapus destinasi ini dari rencana perjalanan kami. Bukan karena keterbatasan informasi, tapi karena informasi yang ada begitu simpang siur dan membingungkan. Tempat ini begitu indah, namun begitu gelap. Semua yang menulis tentang Kyaiktiyo pasti menceritakan betapa panjang, “tricky”, dan sulitnya perjalanan hingga kesini. Banyak hal yang saya khawatirkan, terutama terkait dengan kondisi bokap. 

Tapi… kami berhasil tiba disini, masih bisa ketawa-ketawa meskipun dihadang hujan badai. Kami bisa menyaksikan keajaiban Golden Rock yang bikin kami speechless. Bokap pun terlihat excited banget meski kami harus beberapa kali berhenti di tengah tangga untuk beristirahat. Dan akhirnya saya percaya pada pepatah, “When there is a will, there is a way.”

Thanks God for this amazing moment

Syukurlah, dua pasang sepatu kami masih di tempatnya semula. Begitu kami tiba di hotel, kami langsung mengubah kamar kami jadi area jemuran. Semua tempat dijadikan tempat menggantung baju, celana, tas, pashmina, dan jaket, plus kertas-kertas yang hampir hancur karena kebasahan. Untung saja passpor dan boarding pass kami aman damai. Kamar kami tak ber-AC, jadi kami pesimis juga semua itu bisa kering dalam waktu satu malam, karena hujan terus turun semakin lebat.

Malam itu, setelah selesai makan malam kami langsung meringkuk di bawah selimut, padahal jam baru menunjukkan pukul 9. Dinginnya benar-benar menggigit, selimut tebal pun tak mempan menahannya. Beberapa kali saya terjaga karena kedinginan, dan mendengar suara hujan yang sangat kencang. Sepertinya langit tak habis-habisnya mencurahkan cadangan airnya.

 Sebelum tidur saya sempat mengecek jadwal matahari terbit. Menurut accuweather, tanggal 7 Juli matahari akan terbit pukul 05.38. Saya pun memasang alarm pukul 5 pagi, berusaha optimis matahari akan muncul pagi nanti.

Ketika alarm berbunyi, saya membuka jendela dan all that I could see was thick fog. Hujan sudah berhenti. Saya jadi malas beranjak deh dan akhirnya ketiduran lagi. Pukul 6 kurang sedikit akhirnya saya membuka mata dan beranjak. Saya keluar kamar dan sadar bahwa hotel ini benar-benar sepi. Hmm, jadi inilah yang disebut low season yah.. Kembali saya menuju ke balkon belakang hotel, sambil berharap kabutnya sedikit bersahabat. Tapi yah.. masih separah kemarin sore.

Saya akhirnya meniatkan diri untuk naik lagi ke Golden Rock. Bokap memutuskan ngga ikut. Karena celana panjang masih basah dan stock kaos tinggal satu lembar, jadilah saya naik dengan hanya memakai kaos tidur, celana pendek, dan lilitan pashmina yang diatur sedemikian rupa (dan ditarik-tarik) supaya panjangnya di bawah lutut (Soalnya kita dilarang pakai celana pendek atau rok pendek di atas lutut. Jadi terpaksa deh pakai kostum antik begini). Saya cuma bawa payung hotel dan kamera saja, tak bawa dompet, passport dan lain-lain. Intinya saya mau sesimple mungkin naik ke atas, supaya ngga ribet kalau hujan turun lagi.
Di halaman hotel saya bertemu dengan seorang Bikkhu yang sedah melakukan ritual paginya meminta sedekah. Aduh.. saya kan ngga bawa apa-apa, jadi saya hanya menundukkan kepala sambil menghormat ketika melewati beliau. Semakin ke atas semakin banyak Bikkhu yang saya temukan, menyesal sekali saya hanya bisa memberikan hormat kepada mereka.

Tangga dan gerbangnya tak terlihat lagi…

Supaya perasaan hati nggak was-was gara-gara ninggalin sepatu di tangga terbawah, saya sengaja menenteng sepatu saya sampai ke atas. Hehe.. Inilah untungnya nggak bawa apa-apa, jadi beneran terasa ringan, simple, dan nggak ribet.
Ternyata hujan tak juga berhenti. Kabut masih sangat tebal. Saya mulai merasa ragu, apakah saya berani naik sendiri ke atas dalam kondisi kabut setebal ini? Tapi kalau saya tak memberanikan diri rasanya kok rugi sekali. Masak sudah sejauh dan sesulit ini tapi hanya sekali saja lihat Golden Rock? So, saya mencoba setenang dan sesantai mungkin melangkah ke atas. 

Di puncak tangga ada banyak polisi berjaga. Matilah.. Name tag saya kan udah lenyap entah kemana. Sisa talinya pun saya tinggal di hotel. Gimana jelasinnya yah kalau ditanya? Makin dekat pos itu saya makin deg-degan. Untunglah satu senyum dan sapaan berhasil membuat saya bisa melewati mereka tanpa ditanya apa-apa. Fyuuhhh…

Ada dua orang bikkhu di bawah pohon. Ketemu?

Saya melangkah mengikuti pola karpet anti slip yang masih ditebar di lantai. Kaki saya terasa kedinginan. Angin masih saja berhembus kencang membuat baju saya mulai basah terkena air hujan yang dibawanya. Ketika akhirnya saya tiba di gerbang Golden Rock, suasana betul-betul seperti in the middle of nowhere. Tak ada orang sama sekali, bahkan penjaga gerbang pun belum menampakkan dirinya. Banyak bangkai kupu-kupu dan serangga bergelimpangan di lantai becek. Mungkin mereka tak bisa bertahan dari angin kencang dan hujan deras semalam.

Good morning, everyone..

Lampu-lampu penerang Golden Rock sudah dimatikan, jadi rasa misteriusnya agak sedikit berkurang. Saya pun berkeliling mengambil foto dari berbagai sudut, mumpung hujannya masih lebih bersahabat dibanding malam kemarin.

Nah.. Ini barulah dramatis…
Ini juga… sayang buram…
Para Bikkhu beribadat pagi

Setelah puas memandangi Golden Rock untuk yang terakhir kali, saya pun turun ditemani kabut yang masih juga tebal dan deru angin yang masih juga kencang. 

Maybe the last time.. I don’t know…

Di depan hotel saya dipanggil oleh seorang bapak yang membawa kotak seperti pedagang asongan. Awalnya saya berniat mengacuhkannya saja karena khawatir kena scam. Tapi bapak itu keukeuh banget mendatangi saya. Ah, ternyata ia menawarkan patung-patung kecil Golden Rock dengan harga 5000 MMK (sekitar Rp. 6000). Saya bilang saya ngga bawa dompet, tapi dia memelas banget. Lantas saya bilang, “Please wait here, I will take the money from my room.” Dia begitu senang dan memastikan bahwa saya akan kembali. Ah.. low season ini pasti membuatnya kesulitan menjual hasil karyanya itu.

Ada siapa disana?

Menjelang pukul 9, kami sudah check out dan menuju ke terminal truk. Kami sempat bingung karena lokasi terminalnya tak sama dengan yang kemarin. Lokasinya jadi sedikit mendekat. Hmm, mungkin karena hari hujan dan terminal yang kemarin tak beratap kali ya.
Nah, barulah kami merasa butuh jas hujan. Ya iyalah.. naik truk terbuka di tengah hujan badai kayak begini trus ngga pake jas hujan itu, sama aja nyari penyakit. Kami mencari jas hujan di warung terdekat. Harganya 1000 MMK, tapi saya cukup lama berdebat nggak nyambung dengan tukangnya.

Jadi begini ceritanya. Waktu kami beli kaos di Bagan, kami bertransaksi pakai USD, dan dapat kembalian dalam USD. Kami tak memperhatikan bahwa USD yang kami peroleh itu dalam kondisi kumal. Lalu ketika kembali dari Bagan, saldo MMK kami sudah menipis dan kami tak menemukan money changer di terminal. Alhasil kami membayar hotel di Kyaiktiyo pakai USD dan minta kembalian dengan MMK. Ketika kami hendak menukarkan USD kami dengan MMK, petugas hotel menolak karena menurut mereka USD kami tak layak. Halah.. begimana coba? Total ada 17 USD yang ditolak karena kucel dan gambarnya sedikit pudar seperti terlalu sering terlipat. Saya lalu mencoba membelanjakan pecahan 5 USD ke penjual jas hujan supaya bisa dapat kembalian MMK. Dan setelah berdebat panjang lebar nggak nyambung, seorang penerjemah akhirnya menengahi kami. 

Awalnya saya bilang, saya bayar pakai 5 USD, dia cukup kembalikan 3000 MMK saja (harga jas hujannya 1000 MMK per potong). Dia menjawab pakai Bahasa Burma sambil menggeleng-geleng. Saya pikir dia tidak setuju dengan tawaran saya itu. Lama sekali kami bolak-balik sahut-sahutan tanpa arah. Sampai akhirnya penerjemah itu menjelaskan bahwa dia ngga bisa menerima USD saya karena kondisinya jelek. Halah…

Dalam kondisi uang sekitar 27.000 MMK, saya cuma bisa berdoa semoga sisa uang kami cukup, minimal hingga di Bago.

Jam 9 teng kami sudah naik truk. Walaupun sudah pakai jas hujan tapi masih saja terkena tampyas air hujan yang memang sangat lebat. Penumpangnya baru ada enam ekor, jadi saya lumayan deg-degan. Bisa-bisa kami terlambat untuk naik bus ke Bago. Truk ini maksimal harus turun jam 10 supaya kami bisa tiba paling telat jam 11 di bawah. Satu demi satu penumpang truk mulai bertambah. Sialnya ketika jumlah penumpang sudah sekitar dua puluhan, ada satu truk lain yang dicarter turis siap-siap berangkat turun, alhasil banyak warga lokal yang pindah dari truk kami ke truk itu. Nah kan,,, truk kami kan jadi kosong lagi.

Pria berjaket merah di bagian depan berasal dari Thailand. Kami naik dan turun pada waktu yang sama dengan truk yang sama.

Tapi, truk kami akhirnya penuh juga dan mulai meluncur turun setelah jam hampir menunjukkan pukul setengah sebelas. Coba.. gimana kaga senewen. Dah gitu truk masih berhenti lama di pos pertama karena ada truk yang sedang naik. Mengingat jalurnya hanya bisa dilalui satu truk saja, terpaksa truk kami mengalah dan berhenti disini. Makin teganglah saya.
Eh, ketika berhenti disini saya baru sadar, di bagian belakang truk yang tak ada bangkunya, ada seorang bikkhu yang berdiri dengan tenang tanpa memakai apapun untuk menutupi tubuhnya dari hujan. Saya langsung speechless dan menyadari bahwa saya udah kebanyakan ngeluh. Akhirnya saya pasrah saja, kalau kami sampai tertinggal bus jam 11.00, mau gak mau kami naik bus pukul 14.00 dan membatalkan rencana ke Bago. Ya sudah.. begitu saja.. Whatever will be will be lah..
Ternyata truk meluncur lebih kilat daripada roller coaster Dufan. Lebih cetar daripada kemarin siang. Para warga lokal sepertinya santai saja dengan truk ngebut dan tetesan hujan yang menerpa wajah mereka. Beberapa kali tubuh kami terpojok karena tikungan tajam. Lagi-lagi saya teringat bikkhu yang berdiri di belakang kami. Sakti sekali ya bikkhu itu..

Karena saya membawa ransel dan handbag, maka saya harus berpikir keras supaya tak ada yang basah. Handbag saya pangku lalu saya lingkupi dengan jas hujan, ransel saya taruh di atasnya tapi tak bisa terlindungi karena ukurannya yang segede gaban. Saya memeluk ransel berharap dia tak kena hujan. Tapi… kok rasanya punggung saya basah ya? Padahal kan sudah pakai jas hujan? Aih.. ternyata jas hujannya sobek tepat di samping ketiak. Yaelah.. sama aja boong yak.. Gara-gara ini kami berdua bisa tertawa ngakak di bawah hujan lebat sampai dilihatin penumpang yang lain.

Dan.. dalam waktu 30 menit, sampailah kami di bawah. Gila ya? Beneran bikin kita lebih dekat sama Tuhan deh.. Suer…

Setelah kami menunaikan urusan pertoiletan, kami pun langsung menuju pondoknya si Win Express. Kami kira busnya ada disana, eh taunya kami disuru naik minivan (baca : mobil bak terbuka yang ditutupi terpal) sampai ke Kyaikto. Disini kami disuru lagi menunggu bus di sebuah rumah makan. Nah..bus baru datang jam 12 sedangkan perjalanan ke Bago butuh waktu sekitar 2 jam.

Hmm.. gimana ya? Jadi nggak nih turun di Bago? Cukup ngga ya untuk keliling Bago dan ngejar kereta jam 6 sore? Dah gitu badan sudah kuyup semua.. Duuh… Galauuuu….

Nantikan kelanjutan cerita kami pada posting berikutnya….


10 thoughts on “Golden Rock Kyaiktiyo : Kok Bisa Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s