Bago : Akhirnya Kami Disini..

Setelah menunggu dalam ketegangan di sebuah rumah makan, akhirnya bus Win Express yang akan membawa kami ke Bago tiba sekitar pukul 12. Busnya penuh, dan kami sudah pasrah jika harus berdiri atau duduk di lorong bus selama dua jam ke depan. Tapi… tadaaa… kenek menunjukkan dua bangku kosong sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket kami. Fyuhh.. Kami bisa melanjutkan tidur walaupun badan kami basah kuyup sampai ke lapisan terdalam.

Di tengah perjalanan, kami dibangunkan. Ah.. bus ini singgah di rest area yang sama ketika kami berangkat. Karena kami sudah lapar, akhirnya kami terpaksa makan walaupun harus terlebih dahulu mampir ke toilet yang bikin selera makan jadi lenyap.

Sekitar satu jam dari tempat makan ini, sang kenek berteriak “Bago” (walaupun kedengarannya nggak kayak Bago..), saya melirik jam, sudah hampir jam 3. Masih ada waktu 3 jam untuk keliling Bago. Semoga cukup deh.

Kami diturunkan di pinggir jalan dan bukan di terminal. Langsung saja kami didatangi seorang bapak berwajah sangar. Dia menawarkan jasa ojek keliling Bago. Tarif yang ditawarkan memang sama dengan yang kami baca dari berbagai referensi, yaitu 10.000 MMK atau 10 USD per orang. Dia mau mengantar kami ke empat tempat, yaitu ke Shwethalyaung, Kyaik Pun, Kanbawzathadi Palace, dan Shwemawdaw. Saya tanyakan apakah ia juga akan mengantar kami ke stasiun untuk naik kereta jam 18.00 menuju Yangon? Dan dia bilang kereta terakhir dari Bago adalah pukul 15.30. Jiah.. saya beneran bingung deh dengan jadwal kereta ini. Tak ada info yang seragam tentang jadwal kereta dari Bago menuju Yangon. Dia menjanjikan akan mencarikan bus ke Yangon dan kami harus membayar 5000 MMK per orang.  Ya sudahlah, toh ini destinasi terakhir kami sebelum pulang.

Karena sisa Myanmar Kyats saya sudah tinggal 27.000 MMK, maka saya membayarnya dengan 20.000 MMK dan 10 USD. Untung saja 10 USD kucel itu mau dia terima. Dia segera menelepon anak-anaknya. Mereka inilah yang akan mengantar kami berkeliling Bago.

Kota Bago (Pegu) adalah tempat tinggal etnis Mon selama berabad-abad sebelum jatuh ke tangan orang Burma pada abad ke-16. Etnis ini pernah menjadi etnis mayoritas di bagian selatan Burma, namun kini jumlahnya sudah sangat berkurang karena sebagian besar bermigrasi ke Thailand setelah Bago direbut Burma. Namun permusuhan lama antara etnis Mon dan Burma telah berakhir pasca kemerdekaan Myanmar, bahkan telah dibentuk negara bagian Mon.

Sungai yang membelah Kota Bago

Bago terletak 85 km di timur laut Yangon. Nama Bago berasal dari bahasa Mon “Bagow” yang berarti cantik. Kota ini juga memiliki nama Pali Hamsavati yang berarti Kota Hamsa. Hamsa adalah sejenis unggas Ruddy shelduck yang bermigrasi dari Himalaya menuju India dan Burma. Menurut legenda,  ketika itu Buddha terbang melintasi Burma selatan yang masih tertutupi air. Buddha melihat sepasang hamsa, yang betina duduk di atas punggung sang jantan. Mereka berdiri di atas tanah sempit yang kering. Buddha meramalkan bahwa area tersebut akan menjadi kerajaan yang maju pada 1500 tahun yang akan datang. Sesuai dengan ramalan Buddha, pada tahun 825 dua pangeran Mon mendirikan kerajaan Hanthawaddy di tempat itu.

Hamsa

Pada abad ke-11 kerajaan ini berada di bawah pengaruh kerajaan Bagan, namun pada abad ke-13 orang Mon mempertegas kembali posisi mereka di selatan Burma dan menjadikan Bago sebagai ibukota pada masa pemerintahan Raja Banya U (1369-1384). Bago memperoleh masa kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Dhammazedi (1470-1492). Sayangnya pada tahun 1538 kerajaan ini direbut oleh Burma dan inilah awal kejatuhan orang Mon di selatan Burma. Pemimpin Burma terhebat yang pernah memerintah Bago adalah Raja Bayinnaung (1552-1581) yang berhasil melakukan ekspansi hingga Ayutthaya, Chiang Mai, dan sebagian area milik China.
Orang Mon di Bago dihancurkan pada masa Raja Alaungpaya (pendiri Dinasti Konbaung) tahun 1757, namun ketika putranya, Bodawpaya, memerintah, ia mengajak orang Mon kembali ke Bago dan memperbaiki tempat ibadah utama mereka, yaitu Shwemawdaw. Pada saat terjadi perang Inggris-Burma yang kedua tahun 1950, Bago sekali lagi dijadikan ibukota hingga tahun 1862 ketika ibukota dipindahkan ke Yangon.

Kembali ke Bago masa kini.

Sambil menunggu anak-anak bapak itu, kamai bermain tebak-tebakan dengan si bapak. Dia penasaran dengan negara asal kami. Hmm.. tebakan awal dia adalah Thailand, lalu Malaysia, lalu Singapura. Saya berkali-kali menggelengkan kepala sambil nyengir yang bikin dia makin penasaran. Dia lalu menebak Laos karena saya pakai kaos Laos. Lagi-lagi saya menggelengkan kepala dan kali ini dia melas-melas ke bokap. Akhirnya kami bilang bahwa kami orang Indonesia. Hmm… Menurut si bapak belum banyak orang Indonesia bertandang ke Bago. Ah.. masa sih, Pak?

Akhirnya kami dijemput oleh minivan (baca : mobil bak yang ditutup terpal) dan diantar ke tempat tujuan kami yang pertama : Shwemawdaw.

Shwemawdaw Pagoda

Benarlah dugaan saya sebelumnya.. Shwemawdaw iniah yang saya lihat dalam perjalanan menuju Kyaiktiyo kemarin. Bentuknya agak-agak mirip dengan Shwedagon di Yangon. Shwemawdaw ini dikenal juga dengan nama Golden God Temple atau Great Golden God.

Gerbang Shwemawdaw

Disini kami diminta membayar entrance fee sebesar 10.000 MMK per orang. Fee ini tak hanya berlaku di Shwemawdaw saja tapi untuk seluruh tempat di Bago. Karena sudah tak punya Kyats, terpaksa saya membayarnya pakai USD pecahan besar. Untung penjaga tiketnya bersedia menerima. Kalau nggak, nasiblah kami harus nyari money changer dulu. Oh ya, tiketnya jangan sampai hilang ya, karena akan dicek di setiap tempat yang kita datangi.
Shwemawdaw ini adalah tempat yang dianggap paling suci di Bago dan merupakan stupa paling tinggi se-Myanmar. Sejarah awal pendiriannya masih belum terlalu jelas, namun banyak yang mengatakan stupa ini didirikan pada abad ke-10.

Shwemawdaw.. Mirip Shwedagon?

Sebuah tulisan berbahasa Pali dan Mon mengisahkan kunjungan Buddha ke Thaton dan Ia memberikan helaian rambutnya kepada enam pertapa. Tulisan itu juga mengisahkan tentang penyimpanan 33 relik gigi Buddha pada 33 stupa batu. Gigi ini diperbanyak oleh Gavampati, murid Sang Buddha, dari satu gigi yang diberikan kepada Raja Thaton. Gavampati ini adalah kakak Sang Raja pada kehidupan sebelumnya. Berabad-abad kemudian, tepatnya pada tahun 982,  dua bikkhu bernama Sona dan Uttara dikirim ke Thaton dan mereka menemukan relik gigi-gigi yang stupanya sudah hancur dan runtuh. Relik-relik itu kemudian diangkat lalu dipindahkan ke berbagai tempat. Salah satunya adalah Shwemawdaw (Madhava/ Mudhava).
Namun legenda yang lazim diceritakan saat ini adalah tentang dua pedagang bernama Maha Thawaka (Mahasala) dan Sula Thawaka (Cullasala) yang berasal dari Zaung Tu (46 km di utara Bago). Mereka berkunjung ke Rajagaha, India, dan mempersembahkan makanan pada Sang Buddha. Buddha tidak menerima persembahan mereka namun memberikan dua helai rambutnya. Ia meminta mereka mengabadikan relik itu di atas bukit Thudathana (Sudhasana). Kedua saudara ini awalnya tidak bisa menemukan lokasi yang tepat, namun dewa-dewa membantu mereka dengan cara menggoncangkan bumi ketika mereka menemukan tempat yang seharusnya. Mereka lalu membangun stupa setinggi 22,8 meter. Inilah awal mula stupa Shwemawdaw.

Catatan orang Mon yang muncul pada tahun 1710 mengatakan bahwa terdapat sembilan helai rambut Sang Buddha di dalam Shwemawdaw yang diberikan oleh Buddha kepada Gavampati. Gavampati memberikan relik ini kepada dewa Thagyamin untuk diabadikan. Namun versi kisah ini dilupakan sejalan dengan semakin pudarnya kebudayaan orang-orang Mon di selatan Burma.

Sejarah mencatat, pada tahun 1796 Raja Bodawpaya meninggikan stupa hingga  mencapai 91 meter. Pada tahun 1917 terjadi gempa besar yang merobohkan sebagian stupa besar ini. Setelah dibangun kembali, stupa ini roboh lagi akibat gempa bumi 1930. Antara tahun 1952 hingga 1954 dilakukan pembangunan kembali dan stupa ini ditinggikan hingga 114 meter, 15 meter lebih tinggi daripada Shwedagon. Pada pembangunan yang terakhir ini ditemukan sembilan kotak penyimpanan di dasar stupa. Hmm.. sepertinya legenda orang Mon memang tepat ya?

Bongkahan batu bata yang runtuh pada saat gempa bumi 1917

Suasana Shwemawdaw memang mirip dengan Shwedagon walaupun tidak seramai Shwedagon. Di setiap sisinya kami menemukan planetary post, tapi sayangnya tak ada tulisan hari-hari dalam Bahasa Inggris. Jadi kami berdua harus rempong mencari hewan pelindung kami. Nah, binatang pelindungnya bokap kan naga, jadi gampang dicari. Sementara saya sempat lupa apa binatang pelindung saya. Saya ingatnya beruang (padahal harusnya tikus), jadilah saya bingung mencari patung yang serupa beruang. Duh.. salah deh.. Semoga doanya tetap manjur walaupun planetary postnya salah.. hehehe..
Saat kami sedang asyik foto-foto, tiba-tiba saya didekati seorang pria. Dia menunjukkan sebuah tiket dan bilang saya tak boleh memotret. Saya langsung pasang taring dan mengira dia scam. Saya bilang kami kan sudah beli tiket, kenapa diminta bayar tiket lagi?  Dia bilang ini tiket yang beda. Karena saya udah yakin dia scam, saya jadi jutek banget dan bilang ke dia bahwa saya akan segera keluar dari pagoda ini.

Tapi… ketika saya sampai di bawah tangga, saya baru ingat sesuatu. Di Shwemawdaw ini memang ada pungutan sebesar 300 MMK untuk memotret. Duh.. langsung saya menyesal setengah mati. Cuma 300 MMK dan saya menyakiti hati orang lain.. Maafkan aku…

Di luar Shwemawdaw kami sudah ditunggu oleh dua putra si bapak yang akan mengantar kami ke tempat berikutnya, yaitu Kanbawzathadi Palace. Duh.. masih merasa berdosa..

Kanbawzathadi Palace

Lokasi istana ini cukup dekat dari Shwemawdaw, bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja kok. Dari halaman istana kita masih bisa melihat puncaknya Shwemawdaw. Tapi karena kami naik ojek, jaraknya jadi terasa lebih dekat. Hehehe…

Kanbawzathadi Palace

Istana ini adalah replika dari istana Raja Bayinnaung yang menjadikan Bago sebagai pusat pemerintahan yang dikelilingi oleh dinding dengan dua puluh gerbang. Raja ini juga yang berhasil melakukan ekspansi ke Thailand dan China, serta memiliki gajah putih sebagai lambang kekayaan dan kekuasaan. Didirikan tahun 1553, istana ini memiliki luas 70 acre.

Pilar-pilar kayu yang ditemukan tahun 1990an

Sebetulnya pendirian replika istana ini masih penuh dengan kontroversi. Berawal dari penemuan 176 pilar kayu yang terkubur pada tahun 1990, muncullah dugaan bahwa di lokasi itu dulunya berdiri istana Raja Bayinnaung. Dari seluruh pilar yang ditemukan, hanya bagian bawahnya saja yang masih utuh, dengan panjang rata-rata sekitar dua meter. Pada bagian atas tiang terlihat bekas jejak api. Memang ini sesuai dengan kisah bahwa istana raja Bayinnaung dihancurkan dan dijarah pada tahun 1599 karena konflik angkatan bersenjata. Namun bisa jadi kayu-kayu ini berasal dari istana Banya Dala (1753) yang dihancurkan tahun 1757 saat Bago jatuh ke tangan Alaungpaya. Hmm.. jadi mana yang benar?

Replika tahta raja

Kalau boleh bilang, istana ini seperti kosong.. Isinya didominasi oleh pilar-pilar kayu, dan ada beberapa replika seperti replika tahta dan kereta raja. Sisanya? Hanya papan-papan informasi dan cerita saja. Jadi kami tak lama berkeliling di istana ini deh.

Kami lalu meluncur menuju lokasi yang ketiga, yakni Shwethalyaung.

Shwethalyaung

Shwethalyaung adalah patung Buddha tidur yang paling terkenal di Bago. Patung ini tak sengaja ditemukan tahun 1881 ketika perusahaan kereta sedang membangun jalur kereta api. Setelah penemuannya, patung ini malah menjadi sasaran para pencari harta. Patung dihancurkan untuk mencari relikwi yang tersimpan di dalamnya. Proses restorasi baru dimulai tahun 1892 untuk memperbaiki kembali patung yang rusak dan membangun atap untuk melindunginya.

Kami menempuh perjalanan dari Kanbawzathadi menuju Shwethalyaung dalam suasana gerimis. Saya cuma bisa berdoa agar kami jangan sampai kehujanan lagi. Stock baju dan celana saya sudah habis, padahal masih ada satu malam lagi yang tersisa.

Menemukan menara jam ini di tengah perjalanan

Menjelang Shwethalyaung saya melihat patung Buddha tidur yang keren banget. Ukurannya besar dan diletakkan di tempat terbuka. Di depan patung itu ada sebuah danau. Duh, kalau difoto pasti hasilnya mantab banget. Tapi sayang, hujan malah turun semakin deras. Kamipun bergegas ngebut menuju Shwethalyaung.
Hujan turun sangat deras ketika kami memasuki hall Shwethalyaung. Untung saja.. Fyuhh.. Tapi sedih banget waktu melihat banyak tiang-tiang bambu di depan patung Buddha ini. Ah.. ternyata patung ini sedang dicat ulang.. Huhuhuhu…

Patung Buddha tidur ini memiliki panjang 55 meter dan tinggi 16 meter, menggambarkan kondisi terakhir Sang Buddha menjelang wafat dan memasuki nirvana. Nah, di belakang patung ini ada seri lukisan yang menceritakan latar belakang pembangunan patung ini.

Alkisah…
Raja Migadeikpa, yang memerintah Bago pada abad ke-13, memiliki seorang putra. Pangeran ini bersama pengikut-pengikutnya berburu ke hutan dan bertemu dengan seorang gadis Mon bernama Dala Htaw yang menjalankan ajaran Buddha. Keluarga Raja Migadeikpa, termasuk sang pangeran, masih menyembah patung raksasa. Tapi demi mendapatkan hati gadis itu, sang pangeran berjanji untuk mengikuti ajaran Buddha.

Raja yang tak menyukai kepercayaan menantunya menjadi murka. Ia memerintahkan untuk membunuh menantunya lalu dipersembahkan kepada raksasa sembahannya. Di hadapan patung raksasa, wanita itu berdoa kepada tiga permata Buddha (Buddha, Dharma, dan Sangha) dan mendadak patung raksasa itu meledak dan pecah menjadi kepingan. 

Patungnya meletus.. Dor…

Raja yang terkejut dengan kejadian itu menjadi takut dan bertobat menjadi pengikut Buddha. Ia memerintahkan untuk mendirikan patung Buddha tidur sebagai simbol devosi yang baru. Patung ini sempat dihancurkan pada saat Alaungpaya merebut Bago tahun 1757 dan terlupakan selama berabad-abad di balik rimbunya pepohonan hingga penemuannya pada tahun 1881.

Oh iya, di halaman Shwethalyaung ini banyak pedagang souvenir. Disinilah saya akhirnya mendapatkan gantungan kunci Myanmar dengan harga lebih murah daripada di Yangon.. hehe.

Saat kami keluar Shwethalyaung , hujan sudah reda. Tapi kedua sopir ojek kami hanya melalui saja patung Buddha outdoor di sebelah kompleks Shwethalyaung. Uhh.. mungkin karena sejak awal kami hanya janjian untuk ke empat tempat saja jadi mereka tak mau mampir disini. Saya juga memang tak bilang ke mereka untuk mempir disini sih.
Setelah pulang, saya yang masih penasaran dengan Buddha outdoor itu mencari tahu lewat mbah google. Nama patung itu ternyata Myatharlyaung. Tak lama setelah penemuan Shwethalyaung, di dekatnya ditemukan tumpukan batu bata memanjang yang tertutupi tanaman. Meskipun tak pernah diketahui apakah tumpukan batu itu berasal dari sebuah patung Buddha tidur atau bukan, pemerintah memerintahkan agar tumpukan batu itu segera direkonstruksi menjadi sebuah patung Buddha tidur. Itulah kisah pembangunan Myatharlyaung.

Kyaik Pun

Tujuan kami yang terakhir adalah Kyaik Pun. Dari kejauhan saya sudah bisa melihat patung Buddha duduk yang menjulang begitu tinggi. Inilah icon terkenal dari Bago : empat patung Buddha duduk dalam pose Bhumisparsha Mudra dan masing-masing menghadap empat arah mata angin yang berbeda. Empat Buddha ini adalah empat Buddha terakhir pada era sekarang, yakni Buddha Gautama, Kassapa, Konagamana, dan Kakusandha.

Ketika kami datang, petugas tiket sudah hendak pulang. Tapi ia masih menyempatkan diri mengecek tiket kami dan menanyakan asal negara kami. Hmm, ternyata memang sudah hampir jam lima sore.. Untung saja kami masih diizinkan masuk.
Monumen ini didirikan oleh Raja Dhammazedi pada tahun 1476. Pada saat itu Raja mensponsori pembangunan monumen-monumen besar untuk meniru berbagai situs Budddha di India. Tinggi dari masing-masing patung adalah 27 meter dan berada pada tempat terbuka. Hingga kini tak pernah diketahui nama Buddha dari masing-masing penghuni mata angin.

Siapa Dimana?

Ada satu legenda terkait dengan Kyaik Pun ini. Konon monumen ini dibangun oleh empat saudara perempuan yang berjanji tidak akan menikah seumur hidupnya. Tapi salah satunya melanggar janji dan menikah. Akibatnya?  Patung Buddha Kasappa roboh ke tanah. Wew.. serem juga yaa..

Udah berhasil cari perbedaanya?

Saking saya terkagum-kagum dengan empat patung ini, saya sampai dua kali mengelilingi kompleks ini sambil mencoba mengidentifikasi apa ciri khas yang membedakan masing-masing patung. Semua terlihat mirip, tapi kalau diperhatikan lagi, wajah keempat patung itu berbeda semuanya. Penasaran kan? Sama.. saya juga masih penasaran…
Selain memandangi wajah patung-patung itu, saya pun lagi-lagi melakukan ritual di planetary post yang berhewan beruang. Duh, iya.. saya masih kagak inget binatang pelindung saya tuh tikus bukan beruang.

Setelah puas mengelilingi Kyaik Pun, kami pun mengakhiri perjalanan di Bago. Sebetulnya masih belum rela sih, karena masih penasaran dengan Myatharlyaung. Tapi mengingat waktu sudah hampir jam 6 dan perjalanan ke Yangon membutuhkan waktu sekitar 2 jam, maka saya cuma bisa pasrah saja dengan para abang ojek itu.

Kami lalu diturunkan di sebuah pool bus. Tapi belum sempat kami duduk, kedua abang ojek itu (yang salah satunya bernama Ko Ye) mengajak kami berjalan menuju ke jalan utama. Ah.. ternyata mereka miskom. Mereka kira kami hendak naik bus menuju Bagan padahal kami hendak menuju Yangon. Kami lalu dibawa ke halte di pinggir jalan, dan salah satu dari mereka kemudian mencegat bus dan mobil yang lewat. Yaelah.. untung saja ada mereka. Coba kalau kagak? Gimana caranya kami bisa mendapat angkutan menuju Yangon?

Karena mereka terburu-buru pulang, kami pun dipasrahkan kepada temannya yang bertugas jadi pak ogah (a.k.a. polise cepek) disitu. Untunglah tak lama kemudian ia berhasil memberhentikan sebuah mobil van jurusan Yangon. Pembayaran van langsung diurus oleh si pak ogah dan kenek van, jadi kami tak perlu bayar apa-apa lagi di atas van.

Saat saya menghempaskan diri ke bangku paling belakang, saya akhirnya bisa menarik nafas lega.. Akhirnya Bago berhasil dijelajahi meskipun hanya tiga jam dan empat tempat saja. Tapi setidaknya kami sudah mengunjungoi spot-spot yang utama. Fyuhh.. Berakhirlah rangkaian perjalanan kami ke Myanmar..

Golden Land.. Terima kasih untuk pengalaman yang sangat tak terlupakan selama satu minggu ini.. Sayang sekali aku berkunjung ketika hujan badai menerpamu. Tapi di tengah badai sekalipun kau tak akan pernah kehilangan kilaumu..


4 thoughts on “Bago : Akhirnya Kami Disini..

  1. Aku inget aku ngakak sendirian di Reclining Buddha yg outdoor itu Na… abis aku kan baru ke indoor dan udah terkagum krn gedenya. Eh pas di luar yaaa ampun ga kalah gedenya. Kayak lomba gede2an deh. Aku suka yg outdoor krn lebih terbuka dan terasa gedenya hahahahah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s