Belajar Mengapresiasi

Menurut KBBI, salah satu arti dari kata “mengapresiasi” adalah memberi penghargaan. Just two simple words, right? Tapi sadarkah kita bahwa tindakan mengapresiasi itu tak sesederhana yang dituliskan dalam KBBI?

Memberi apresiasi terkait erat dengan memberi penilaian positif pada sesuatu atau seseorang. Ya, tentu saja, bagaimana bisa memberikan penghargaan jika kita tak bisa melihat sesuatu yang positif dari objek penghargaan itu. 

Masalahnya, seberapa bisa kita memberi penilaian positif pada sesuatu atau seseorang? Oke, saya batasi ocehan ini pada lingkup manusia. Jadi, bisakah kita memberi penilaian positif pada seseorang atau hasil karyanya? 

Kalau orang itu memang baik, benar, normal, “lurus”, berprestasi, bisa diajak kerja sama, bisa memperbaiki situasi, taat prosedur, dan dalam kondisi yang serba baik, pasti mudah mengapresiasinya. Segala pujian pasti diberikan dengan bertubi-tubi padanya.

Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika orang itu bikin kita ngga sreg, kerjaannya gak mencapai target, attitudenya minus, bahkan ngga bisa diajak kerja sama. Masih bisakah kita memberikan apresiasi baginya? Mungkin bisa. Tapi kemungkinan besar hanya lip service dan hanya sekedar basa-basi saja.

Sadar ngga, kita tumbuh dalam suasana minim apresiasi. Kita hanya mendapat pujian jika kita mencapai sesuatu yang baik, itupun jarang. Jika tidak kita hanya mendapat kritik bahkan kecaman. Kebanyakan orang menganggap pujian dan penghargaan sebagai sesuatu yang bersifat basa-basi dan ngga penting. Apalagi budaya kita kurang memberi tempat untuk ekspresi seperti ini. Jadilah kita orang-orang yang kaku, yang sulit mengucapkan kata-kata pujian. Karena katanya kalau kebanyakan dipuji nanti bakalan jadi besar kepala.

Coba deh.. Orang tua kita jaman dulu jarang sekali berkata bahwa ia bangga pada anaknya. Atau atasan kita jarang sekali bilang bahwa ia puas dengan hasil kerja kita. Nah..kitapun terbawa dalam tradisi pelit apresiasi itu.

Saya pernah berhadapan dengan rekan kerja yang “unik”. Dia itu bekerja dengan caranya sendiri plus punya attitude yang rada-rada aneh. Itu bikin kami semua ngga nyaman, terutama bagi saya yang berhubungan langsung dengan dia. Kami sering sekali berkonflik karena saya selalu melihat pekerjaan dia tidak perfect, tidak sesuai dengan kemauan saya, dan tidak sesuai dengan apa yang dituntut darinya.

Dalam sebuah training, saya ditantang untuk melihat tiga hal positif dari tiga teman yang ada dalam ruangan itu. Entah kenapa saya ingin sekali memperbaiki hubungan dengan rekan kerja saya yang aneh itu. Sulit sekali. Dalam kondisi hubungan yang tak harmonis, sangat berat untuk bisa melihat hal positif dari dirinya. Tapi.. kalau tidak sekarang, kapan lagi saya bisa punya kesempatan untuk berbaik-baik dengannya. Jadi meskipun berat karena harus menurunkan ego serta keangkuhan saya, akhirnya saya berhasil menemukam tiga hal positif dalam diri rekan kerja saya itu.

Ketika saya berhadapan dengannya dan menyampaikan tiga hal positif itu, saya hampir menangis. Saya mendadak sadar bahwa dia punya banyak hal positif. Sayalah yang tak pernah mau memahaminya. Sayalah yang tak pernah mau melihatnya. Sayalah yang tak pernah menyadari hal besar di balik dirinya. Dan sayalah yang tak pernah berupaya mengarahkan keunikannya itu jadi hal yang menguatkan tim kami. Saya terlalu egois, hanya berfokus pada hasil yang ingin kami capai tanpa peduli bahwa dia pun berjuang untuk itu, meskipun caranya berbeda. 

Kejadian itu ternyata membuat hubungan kami menjadi lebih baik. Suasana kerja jadi lebih enak. Kami bisa bercanda dan tertawa bersama.Saya juga jadi tahu bagaimana cara membuat suasana hatinya ON untuk menghasilkan pekerjaan yang ok. Sayangnya tak lama kemudian dia resign.

Bertahun-tahun berikutnya saya berjumpa dengan seorang senior di Gereja. Dibalik ketegasannya ternyata dia memiliki sebuah kebiasaan yang berbeda dari orang lain : dia selalu memberikan apresiasi bagi setiap orang. 

Dalam kondisi sulit dan mengecewakan pun dia masih bisa memberikan penghargaan. Saya kagum melihatnya. Disaat saya bersiap memberikan kritik dan instruksi, senior saya itu malah memberikan apresiasi yang tulus, dan barulah memberikan kritik yang membangun. Inilah yang membuat ia menjadi sosok idola bagi kami para juniornya.

Suatu hari saya bertanya, apa rahasianya bisa begitu mudah memberikan apresiasi. Jawabannya singkat.

Dia bilang memberi apresiasi itu harus dibiasakan. Menghadapi orang seperti apapun biasakan untuk bisa melihat sisi positifnya. Ketika menilai hasil kerja seseorang, lihatlah dulu sisi baiknya. Intinya selalu mencari sisi positif dalam segala situasi. 

Dia sudah merasakan sendiri betapa manis buah dari proses mengapresiasi. Pertama, tak ada orang yang merasa sakit hati. Karena dengan memulai semuanya dengan mencari hal yang positif, emosi kita akan turun dengan sendirinya, meskipun harus menghadapi hal paling buruk sejagad raya. 

Kedua, orang-orang akan merasa lebih nyaman bekerja dengan kita dan merasa dihargai kerja kerasnya, meskipun mereka gagal. Dengan apresiasi yang tulus, orang akan merasa dirinya dimanusiakan. Perasaan apa yang lebih membahagiakan selain perasaan bahwa diri kita dihargai dan dimanusiakan? Dengan perasaan itu kita akan berupaya untuk memberikan sesuatu yang lebih baik lagi kan? Nah.. manfaat ketiga adalah output yang lebih baik dari orang-orang yang kita apresiasi itu. Orang-orang yang bekerja bersama kita jadi nggak merasa dipaksa melakukan kewajiban dan pekerjaannya.

Keempat, dengan mengapresiasi, kritik dan instruksi paling keras pun tidak akan terdengar keras. Karena orang yang mendengarnya sudah terlebih dahulu merasa dihargai dan tidak direndahkan. 

Keempat, relasi yang baik. Ya iyalah, males banget kan berhubungan dengan orang yang senangnya hanya memerintah dan mengkritik saja. Dan kelima, kebiasaan ini mengajarkan kita untuk jadi sosok yang lebih rendah hati, mengesampingkan ego, menahan emosi, selalu berpikir positif, dan jadi pribadi yang lebih menyenangkan.

Saya akhirnya belajar tentang kebiasaan mengapresiasi ini. Memang sulit sih.. pake banget.. Tapi saya merasakan bisa menjalin kerja sama yang lebih baik dengan orang-orang di sekitar saya. Saya jadi belajar untuk berhenti mencari kesalahan atau menyalahkan orang lain. Kalaupun orang itu memang salah, itu tidak lagi membuat saya murka seperti dulu. 

Saya memang tidak memperbesar batas toleransi untuk hal-hal terkait kualitas pekerjaan. Tapi dengan belajar mengapresiasi, saya bisa memperbesar batas spesifikasi kesabaran saya. Jadi kalau bisa memperbaiki kesalahan dan mengubah orang-orang dengan sabar tanpa marah, kenapa nggak? Iya kan? 

 


4 thoughts on “Belajar Mengapresiasi

      1. Santai saja Na, ga usah dipikirkan terlalu dalam karena semua ada waktunya.
        Maaf juga sih Na, mungkin ngagetin ya… (bisa juga karena aku mau bagi-bagi bingung juga hahahaha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s