Nostalgia SMP Kita…

Dulu di tengah lapangan itu ada sebuah kursi beton yang dinaungi rindangnya pohon akasia. Di lapangan kecil itulah kami melakukan segala aktifitas, mulai dari upacara bendera hingga segala macam lomba ala class meeting. Di kursi itulah kami belajar kelompok, makan siang, bergosip, ngobrolin sepak bola, tim basket sekolah, menyanyikan lagu-lagu terhits masa itu, dan mengarahkan mata pada si dia yang sedang ada di depan kelasnya. 

Beberapa bulan lalu saya kembali ke sekolah. Pohon akasia dan kursi beton itu sudah tak ada. Wajah sekolah sudah berubah total, kini sudah ada hall basket indoor yang menggusur bekas kelas kandang ayam penuh kenangan. Meskipun wajahnya berubah drastis, namun saya masih mengingat setiap kejadian yang pernah terjadi disana.

Orang bilang masa SMA adalah masa paling menyenangkan dan penuh kenangan. Tapi buat saya masa SMA adalah masa penuh tekanan. Justru masa SMP adalah masa yang selalu saya kenang hingga kini. 

Sejak TK hingga SMP saya bersekolah di sekolah yang sama. Sekolah ini adalah sebuah sekolah swasta yang tak terlalu besar dan dikelola oleh para biarawati. Nama sekolah saya tak begitu populer, selalu tenggelam dari sebuah sekolah swasta ngetop di Kota Bogor. Satu-satunya hal yang membuat nama sekolah kami dikenal adalah tim basket putranya. Untuk masalah akademis? Hmm.. sepertinya kami tak pernah bertanding di luar deh..

Tapi di sekolah yang tak terkenal inilah saya mengumpulkan banyak kenangan. Mungkin ini karena sekian belas tahun selalu dalam suasana yang hampir sama, dengan teman-teman yang itu-itu saja. Andai saja sekolah kami membuka SMA dan Universitas, pastilah selamanya saya tak akan beranjak dari sana.

*hmm..  Ketika saya menuliskan kisah in, dari playlist mengalun lagu Flying Without Wings yang ngetop waktu saya duduk di kelas 3 SMP. Pas benerr…

Saya masih mengingat dengan jelas hari-hari MOS (Masa Orientasi Siswa). Ketika itu saya ngebet banget sama seorang kakak kelas yang guanteeeng banget.. (dulu sih ganteng tapi kok sekarang biasa aja ya…). Saya juga masih ingat cover buku tulis yang dipakai dari tahun ke tahun. Buku paket pinjaman dari diknas yang pinggirnya dipaku supaya jilidnya gak rontok. Kakak kelas yang hampir selalu duduk sebangku saat ulangan umum yang saking baiknya suka bantuin ngasih jawaban ulangan.. hehehe..Persami Pramuka yang horor tapi selalu dinantikan.

Awal-awal duduk di bangku SMP saya nggak masuk kategori anak baik. Nggak pernah sampe bolos sekolah atau dipanggil guru sih. Tapi saya ngga pernah belajar. Bahkan ketika mau ulangan umum pun saya kaga pernah nyentuh buku pelajaran. PeeR juga sering buat di kelas, itupun nyontek.. Parah yak? 

Hasilnya nilai saya pas-pasan. Saya juga sering pulang sore dengan alasan ngerjain tugas bareng temen. Padahal sih saya nongkrong di rumah sahabat saya. Boro-boro belajar..

Menjelang akhir kelas satu ada sedikit perubahan. Saya ujug-ujug sadar dan tobat. Entah karena apa. Mungkin karena ditegur Tuhan kali ya.. Pokoknya saya mendadak sadar dan jadi rajin belajar. Udah rajin aja saya masih terancam gak naik kelas karena nilai PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) saya merah. Untunglah pak gurunya baik hati. Beliau memberikan tugas tambahan yang bisa bikin saya naik kelas dengan nilai hanya 6. 

Di kelas 2 saya pernah merasakan nikmatnya kelas dekat toilet yang sering beraroma semerbak, laku kelas kandang ayam yang panasnya bukan main dan dindingnya hanya terbuat dari kawat (itulah mengapa ia dijuluki kelas kandang ayam). Selama kelas 2 ini saya beneran sudah tobat. Jadi rajin belajar (dan berdoa..hahaha) dan jadi anak baik yang nurut sama guru. Perubahan drastis ini membuat saya menjadi dekat dengan beberapa guru dan mulai serius menjalani hidup.. hahaha…

Selama SMP inilah saya menemukan sahabat yang benar-benar sahabat. Kami berbagi dalam banyak hal, bahkan berbagi contekan.. hehehehe. Kami bisa bertengkar hebat tapi lalu baekan lagi tanpa mengungkit-ungkit masa lalu. Inilah masa ketika persahabatan tak diwarnai dengan modus. Sahabat ya sahabat.. Tulus dan ngga pernah berpikir untuk mencari keuntungan buat diri sendiri. Kami juga nggak pernah punya rahasia. Semua dibuka, termasuk siapa yang lagi naksir siapa. Hehehe…sebenarnya sih salah satu sahabat saya ngga pernah tahu siapa yang saya taksir. Karena… dialah yang saya taksir.. Beberapa kali dia sempat curiga sih.. Tapi untunglah sampai sekarang dia (kayaknya) ngga pernah tahu.. psssstt… 

Sekolah kami punya program karyawisata ke Yogyakarta buat siswa-siswa kelas 3. Setelah dihentikan beberapa tahun pasca kerusuhan 1998, angkatan kami mendapat kehormatan untuk memulainya kembali. Inilah momen yang paling kami tunggu-tunggu. Meski kami tahu setelahnya harus buat makalah dan presentasi. Yang penting senang-senang dulu.. Makalah bisa dipikirkan nanti ajalah..

Yogya adalah momen paling berkesan bagi angkatan kami. Apalagi ketika kami diberi kebebasan untuk bebas menelusuri Malioboro setiap malam tanpa kawalan guru-guru. Merdeka….

Salah satu kejadian konyol adalah ketika kami naik becak dari hotel ke Malioboro. Jumlah kami ganjil, jadilah terpaksa saya naik becak bertiga dengan sahabat saya dan cowoknya. Tukang becaknya udah agak tua dan beberapa kali dia harus turun untuk dorong kami yang berat ini. Setelah tiba di Malioboro dia menuding saya sambil ngomong, “Pasti beratnya 90 kilo..” Sahabat saya dan cowoknya udah ngakak sementara saya cuma bisa pasang muka bete.. Tega bener mereka semua😦

Sepulang dari Yogya, angkatan kami terasa makin solid. Tapi sayang ujian akhir sudah dekat. Itulah pertama kali saya merasakan bahwa perpisahan itu menyedihkan. Kami berjanji untuk tetap bersahabat meskipun pisah sekolah. (Beberapa belas tahun kemudian kami masih bersahabat walau hanya lewat medsos). Momen perpisahan SMP adalah momen ketika untuk kedua kalinya saya menangis tersedu-sedu di sekolah. Momen pertamanya sih waktu hari pertama masuk TK.. gara-gara ga mau ditinggalin nyokap.. hehehe…

Dalam setiap momen reuni dan percakapan di medsos, pasti kami selalu mengungkit kenangan tentang Yogya. Tentang cowok-cowok yang main kartu sampe ketiduran di kamar cewek trus ketahuan guru-guru dan dihukum gak boleh ke Malioboro. Tentang jadian dadakan sebelum berangkat biar ada yang bisa digandeng di Yogya. Ada juga yang punya julukan baru setelah pulang dari Yogya. Saya dan sahabat saya punya kenangan tentang seorang Ibu pengamen di lesehan Malioboro. Ibu itu mukanya lempeng, nyanyinya datar. Setelah kami kasih uang pun beliau masih tetap nyanyi dengan lurus bikin kami mati gaya. Oh ya.. tragedi tukang becak 90 kg itu pun ternyata masih dikenang dan selalu bikin ketawa hingga kini. 

Selain sahabat-sahabat itu, salah satu yang paling saya syukuri pernah bersekolah di SMP itu adalah guru-gurunya. Saya sangat beruntung pernah dididik dan diajar oleh mereka semua yang sangat sederhana, gaul, dan nggak matre. 

Ada seorang guru sepuh bernama Bu Andi. Beliau ini mengajar matematika. Galak sih tapi kami gak pernah sakit hati. Bu Andi pernah bilang begini, “Kalau nilai kalian buruk, saya nggak akan tanya kenapa pada kalian. Saya akan introspeksi diri saya, mungkin cara saya mengajar yang salah. Saya akan ulang terus pelajaran itu sampai kalian benar-benar paham.” Beliau ini adalah seorang guru yang pernah bicara empat mata dengan ibu saya, hanya untuk bilang, “Anak ibu mampu kok, tapi suka ngga pede aja.” Sampai hari ini saya masih sering berjumpa beliau di gereja. Beliau masih ingat saya dan selalu bilang, “Kamu hebat sekarang.” Kalau ketemu beliau, saya selalu berkaca-kaca.. bombay…

Lalu ada pula Ibu Tri.. Guru fisika killer yang akhirnya malah jadi guru yang paling dekat dengan saya. Beliau ini ngajak saya taruhan nilai NEM. Hasilnya saya kalah.. hehehe.. Bu Tri ini adalah satu-satunya guru fisika yang membuat saya cinta fisika. Guru fisika saya yang lain (di SMA dan kuliah) malah sukses bikin saya gatel-gatel dengan fisika

Bu Leonie adalah guru geografi dan ekonomi. Guru paling gaul seantero sekolah. Bersama beliau kami bisa ngobrolin banyak hal tanpa jaim (bahkan sampai ngobrolin gebetan or pacar). Bu Leonie ini tau banget modus kami nyontek kalau kuis ekonomi : tukeran kalkulator.. hehehe.. 

Selain mereka ada pula Pak Sihono, guru sepuh yang mengajar PPKn dan sejarah. Beliau sangat sederhana. Setiap hari berangkat dan pulang ditemani motor vespanya. Rumah beliau pun sangat mungil di tengah kampung yang kumuh. Beliau galak dan sangat disiplin. Tapi beliau inilah yang menyelamatkan saya saat momen kritis di akhir kelas 1. Sampai saat ini saya masih menyimpan sedikit ingatan tentang pelajaran sejarah yang beliau ajarkan : Revolusi Industri, Revolusi Perancis, Perang Dunia, dan Pergerakan Nasional. 

Selain para beliau, masih banyak guru-guru lain yang saya sangat rasakan jasanya dalam hidup saya. Guru-guru yang bisa menjadi pendidik sekaligus orang tua dan sahabat bagi siswa-siswinya. 

Pohon akasia dan kursi betonnya sudah hilang. Kelas kandang ayam sudah diruntuhkan. Para guru sudah banyak yang berganti. Tak ada lagi wajahku, wajahmu dan wajah kita di antara kerumunan itu. 

Tapi tetap kukatakan.. Masa SMP adalah salah satu masa terindah dalam hidupku. Karena sekolah ini. Karena kalian. Karena guru-guru kita. Karena aku mengalami masa remaja yang tak terlupakan.


10 thoughts on “Nostalgia SMP Kita…

  1. Masa SMP emang berkesan sekali.. Karena masa peralihan dari anak-anak ke remaja. Banyak melakukan hal konyol dan lebay. Ada 1 penyesalan… Kenapa dulu belum ada camdig? Minim dokumentasi.. 😥

    1. Ah..akhirnya menemukan kawan yang sependapat bahwa masa SMP sangat berkesan… hehehe…
      Iya Teh.. jaman itu cuma ada kamera yg pake roll film.. boros.. hahahaha..
      Tengkyu dah mampir ya Teh Chika…

  2. Satunya dari tema posting aku dan sekolah jadi kebayang kira2 tmen nulis di grup angkata berapa aja😀
    Kayanya kita sejamanan karena dulu waktu SMP juga lagi cinta2nya sama Westlife, dan menang paduan suara juara 2 nyanyi lagu Flying Without Wings😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s