Seporsi Nasi Goreng

Matahari baru menampakkan berkas cahayanya yang berwarna jingga, sementara motor yang kutumpangi bergerak ke arah barat yang masih gelap gulita. Lalu lintas kota masih belum ramai, tak ada kemacetan seperti yang kutemui tiga petang yang lalu.

Debu dari proyek pembangunan jalan membuatku menarik krama (scarf khas Khmer) yang melingkari leher agar bisa menutupi wajahku. Di tengah terpaan angin dingin yang menerpa tubuhku, aku merasakan kehangatan dari kantong plastik yang kuletakkan di atas paha kiriku.

Di dalam kantong plastik itu ada sebuah kotak styrofoam berisi nasi goreng. Bungkusan itu kugenggam erat, aku takut dia akan terjatuh ke jalan raya bila aku lengah sedikit saja.

Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, tibalah aku di Phnom Penh International Airport. Pegawai Warung Bali yang mengantarku dengan motor sudah melaju kembali menuju Confederation de la Russei street meninggalkanku di pelataran bandara bersama ransel belelku dan si handbag berukuran ekstra besar. Bungkusan nasi goreng itu akhirnya aku masukkan dengan paksa ke dalam handbag bersama dokumen-dokumen dan buku-buku yang kubeli dua hari yang lalu di Siem Reap. Aku akan menyembunyikan bungkusan ini sedemikian rupa sehingga petugas security tak akan berhasil menemukannya. Jangan sampai aroma harum nasi goreng ini dianggap sebagai aroma yang mengganggu penumpang lain, lalu berakhir sebagai barang sitaan.

Setelah melalui petugas security dan proses check in, aku tak lekas-lekas naik menuju area keberangkatan. Masih ada cukup waktu untuk duduk tenang dan menikmati nasi goreng ini. 

Perlahan kubuka bungkusan itu seperti membuka kado ulang tahun berisi kejutan. Aromanya semakin mengundang rasa laparku. Ketika kotak styrofoam itu akhirnya terbuka, akupun tak sanggup lagi menahan luapan emosiku. Mataku mulai buram tertutup air mata. Nasi goreng itu tak hanya dimasak dengan sepenuh hati, tapi juga ditata dengan penuh perasaan. 

Nasi goreng itu masih hangat karena dibungkus lagi dengan alumunium foil. Sebagai pelengkapnya ada seplastik kerupuk dan sekantong acar. Tak lupa sendok plastik juga diselipkan di antara bungkusan-bungkusan itu.

Aku semakin sulit menahan air mata, hingga akhirnya aku terpaksa menyekanya sambil berharap tak ada orang yang menyadarinya. Inilah kali pertama dalam hidupku ketika seporsi nasi goreng berhasil membuatku menangis.

Kusibakkan alumunium foil perlahan-lahan. Aku melihat telur ceplok yang digoreng matang menutupi seluruh permukaan nasi, lalu ada potongan-potongan ayam berukuran cukup besar serta potongan sayuran. Porsi besar seperti biasanya. Aku tersenyum membayangkan Pak Kasmin yang bangun pagi-pagi dan memasak nasi goreng ini untuk bekal perjalananku. Meski aku menolak namun ia memaksa. Ia tak mau aku menahan lapar sepanjang perjalanan, apalagi setelah tahu waktu transitku sangat singkat hingga tak sempat mampir makan.

Kunikmati suapan demi suapan. Pelan-pelan tanpa tergesa karena aku tak ingin nasi goreng ini segera habis. Dalam setiap suapan ada ingatan tentang kebaikan hati, dan dalam setiap kunyahan terasakan begitu banyak perhatian dan kepedulian.

Aku hanya sanggup menghabiskan separuh porsinya saja. Sisanya kurapikan kembali ke dalam handbag sambil berharap jangan sampai terendus pada pemeriksaan akhir menuju gate. 

Nasi goreng itu tersimpan dengan aman hingga aku transit di Kuala Lumpur. Ia ikut merasakan guncangan ketika aku harus melangkah cepat-cepat mengikuti setiap prosedur yang menguras energi. Untunglah aku masih punya banyak waktu untuk menunggu di gate, dan kuputuskan untuk menghabiskan nasi goreng itu di sebuah sudutnya.

Meskipun sudah dingin namun rasa nikmatnya tak berkurang sedikit pun. Lagi-lagi aku menyantapnya dengan perlahan, berharap nasi ini tak segera berlalu. Masih saja mataku basah ketika menatap nasi goreng yang sudah tak utuh lagi, dan masih saja aku tak rela membuang bungkus styrofoamnya ketika nasi goreng itu telah berpindah seluruhnya ke perutku.

Hanya seporsi nasi goreng, begitu sederhana dan apa adanya. Namun nasi goreng ini membuatku merasa diperhatikan dan dikasihi. Cukuplah seporsi nasi goreng untuk mengingatkanku bahwa masih banyak orang yang peduli pada hidupku. 

PS : Jika ada kesempatan singgah di kota Phnom Penh, Kamboja, mampirlah ke Warung Bali yang terletak di Eo 25 Street 178. Letaknya persis di samping Frangipani Hotel dan di seberang halaman kosong di depan National Museum. Warung ini menyediakan berbagai makanan halal khas Indonesia dengan rasa yang bikin kita serasa makan di rumah. 


9 thoughts on “Seporsi Nasi Goreng

  1. Ini extraordinary way to enjoy nasi goreng..
    Kaya yg lg viral itu…how a rich dad teach his son
    Teach them an extraordinary way to enjoy this life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s