My Journey...

Belajar Hidup dari Mereka yang Pernah Hidup

Sejak tahun lalu saya menetapkan program untuk diri saya sendiri : do a solo journey on my birthday. Tahun ini momen ulang tahun yang singkat itu saya manfaatkan untuk mengunjungi negeri favorit saya : Kamboja. 

Secara khusus saya merencanakan untuk mengunjungi dua tempat yang.. hmm.. bisa dikatakan bukan tempat yang tepat dikunjungi pada momen ini. Yap.. Saya berniat mengunjungi Choeung Ek dan Tuol Sleng. Saya selalu merasa “dipanggil” oleh dua tempat itu. Entah mengapa. Mungkin kali ini kedua tempat itu memanggil saya agar saya bisa belajar tentang makna kehidupan dari mereka yang pernah hidup. 

Bangau Kertas di Stupa Cheoung Ek : Doa Untuk Perdamaian

Iya.. saya memang aneh.. Saya sadari itu. Kalau boleh memilih, saya memang lebih menyukai tempat-tempat seperti ini dibanding dengan pusat keramaian. Mereka yang pernah hidup itu memang tak bisa bicara lagi, tapi mereka berkisah dengan caranya sendiri. Dalam diam mereka memberikan saya keleluasaan untuk ber-refleksi, tanpa menyela. Membiarkan saya sibuk dengan benak dan perasaan saya sendiri, tanpa menghakimi. 

Setelah mendapat kejutan di Royal Palace (nantikan posting berikutnya ya…), saya segera mencari tuk-tuk untuk mengunjungi Choeung Ek. Rasanya saya tak perlu mengisahkan lagi sejarah tempat ini ya, karena telah saya tuliskan disini

Saya tak tahu jalan yang ditempuh oleh si tuk-tuk driver dari Royal Palace menuju Choeung Ek. Tapi saya merasa perjalanan ini lebih panjang daripada yang pernah saya tempuh tiga tahun yang lalu. Mungkin karena kali ini saya terjaga penuh dan tak terbuai kantuk seperti kala itu. 

Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya saya melihat puncak stupa yang menandakan bahwa Cheoung Ek sudah dekat. Ada rasa berdebar karena akan menginjakkan kaki lagi di tempat itu. 

Usai membeli tiket dan meminjam audio guide (dan ditoel oleh seorang bule karena lupa mengambil uang kembalian), saya mulai berkeliling mengikuti petunjuk pada audio guide. 

Karena sendirian, saya menyimak setiap kisah dalam audio guide dengan seksama, melangkah dengan tenang, memperhatikan setiap petunjuk di sekeliling, tanpa mencoba merekonstruksi atau membayangkan apa yang terjadi disana 40 tahun yang lalu. 

Di halaman samping stupa utama saya melihat sebuah area yang dibatasi tonggak bambu, disana terlihat sisa persembahan upacara yang berbentuk kerucut daun. Ah, sepertinya baru saja diadakan upacara Pchum Benh (upacara bagi mereka yang telah meninggal). Memang ketika itu adalah periode sembahyang Pchum Benh bagi warga Kamboja.

Sebelum berangkat ke Kamboja, saya sudah menyiapkan tiga gelang untuk diletakkan pada tonggak bambu yang mengelilingi kuburan masal, dan khususnya saya ingin menggantungkan salah satunya pada pohon yang dulu digunakan Khmer Rouge untuk membunuh bayi dan anak-anak kecil.

Dan disinilah saya dengan gelang-gelang itu di saku celana. 

Siang itu cuaca amat panas, kepala mulai pening dibuatnya, ditambah lagi karena saya kurang tidur dan hanya sarapan sekedarnya di pagi hari. Akhirnya saya nekad melilitkan syal krama di kepala, meniru gaya berpakaian para wanita Khmer di masa lalu. Krama kotak-kotak putih merah itu sangat membantu mengurangi tusukan panas matahari ke ubun-ubun dan tengkuk saya. 

Meskipun sudah pernah kesini, sudah sering membaca tentang kekejian Khmer Rouge, dan sudah berkali-kali membaca kisah yang terdengar dalam audio guide yang bercerita di telinga saya, namun tetap saja berkeliling Choeung Ek terasa menggetarkan jiwa. 

Saya menyempatkan untuk duduk diam sendirian di tepi telaga, mendengarkan kisah para penyintas yang berhasil selamat dari kekejaman Khmer Rouge, sambil berupaya menahan kantuk akibat hembusan angin sepoi. Katanya di tempat yang sekarang adalah telaga itu masih tersimpan satu lubang pembantaian yang tak dibongkar hingga kini. 

Di depan stupa, saya membeli beberapa tangkai bunga, meletakkannya di dalam guci dan berlutut di atas keset yang terasa panas. Saya berdoa bagi mereka yang telah pergi, mereka yang mungkin tak pernah mengerti mengapa hidup mereka harus berakhir dengan cara seperti itu.

Saya lalu melangkahkan kaki ke dalam stupa. Menatap rongga mata yang kosong dari tengkorak-tengkorak di dalam rak kaca. Sebagian besar tengkorak itu kini sudah diidentifikasi gendernya dan apa penyebab kematiannya. 

SADIS. Ya, memang hanya kata itu yang terbersit dalam benak saya saat itu. Dan BODOH adalah kata berikutnya yang teringat ketika saya sadar bahwa hingga kini, dimanapun, bahkan di negeri saya sendiri, masih ada orang yang tega menghabisi nyawa orang lain hanya karena “perbedaan”. 

Karena rasa lapar sudah mendera dan teringat tukang tuk-tuk yang telah begitu lama menunggu, maka saya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di Cheoung Ek dan melanjutkan perjalanan hari itu menuju ke Tuol Sleng. 

Sepanjang perjalanan ke Tuol Sleng saya sibuk membalas ucapan selamat ulang tahun yang bertubi-tubi masuk melalui berbagai media di handphone. Entah mengapa setelah berkeliling Cheoung Ek, saya jadi mati rasa membaca dan membalas pesan-pesan itu. Seolah hari ulang tahun yang harusnya spesial telah berubah menjadi hari yang biasa saja. 

Tukang tuk-tuk itu menurunkan saya di Tuol Sleng, lalu meninggalkan saya sendiri. Ia menganggap saya terlalu lama hingga tak sabar menunggu. Baguslah. Saat ini saya hanya butuh sendirian dan waktu yang panjang untuk bisa menyerap lebih banyak lagi. 

Tuol Sleng telah dilengkapi juga dengan audio guide. Awalnya saya tak ingin menyewanya, tapi akhirnya saya putuskan untuk menggunakan audio guide, karena saya ingin mendapatkan lebih banyak kisah yang selama ini hanya terlewatkan begitu saja. 

Kemudian saya duduk diam di hadapan nisan-nisan putih di halaman Gedung A, sebagai perhentian pertama, mencoba menyimak setiap kata yang disampaikan oleh audio guide. 

Rute perjalanan saya kali ini memang terbalik. Seharusnya Tuol Slenglah yang dikunjungi pertama, baru setelah itu ke Cheoung Ek. Tapi, kali ini, di hari istimewa ini biarlah saya melawan aturan yang  saya buat sendiri. 

Saya lalu mulai memasuki setiap ruangan, menaiki setiap lantai. Ada kalanya saya hanya sendirian berdiri, dan tak jarang merinding sendiri. Menatap foto-foto para korban yang terakhir ditemukan, menatap sisa-sisa jejak kehidupan dan kematian mereka. Memandang foto-foto yang memandang tepat di mata, seolah mereka bertanya dan menuntut keadilan. 

Sebuah kisah berjudul Bophana membuat saya terdiam. Saya menatap foto wanita itu yang bagaikan menatap balik dengan berani. Bophana, hanyalah sebuah bukti bahwa kebebasan mencintai sangat diharamkan pada masa itu. 

Bophana

Pada sebuah ruangan di lantai atas terpampang fakta-fakta yang berhasil dikumpulkan tentang praktek kawin paksa pada masa Khmer Rouge. Begitu berat, begitu sulit, dan lagi-lagi kaum perempuan yang menjadi korban. 

Mereka terpaksa bersedia menikah hanya supaya bisa bertahan hidup. Ada yang kemudian mampu bertahan sekian puluh tahun hidup tanpa cinta, ada pula yang tak tahan. Perkawinan tanpa cinta adalah neraka. Namun ternyata cinta ternyata bisa tumbuh kapan saja dan dimana saja. Ada pula mereka yang akhirnya belajar untuk mencintai pasangan hidupnya. 

Di ruangan luas ini, saya tercenung menatap dua helai krama hitam putih di atas meja. Krama itu dikenakan pada leher pasangan pada hari pernikahan mereka bagai sebuah simbol ikatan dalam ketakberdayaan. Bersyukur bahwa hari ini saya bisa hidup dalam kebebasan, meski hingga hari ini belum bisa menemukan pasangan hidup. 

Tapi lebih baik sendiri, daripada menjerumuskan dirimu ke dalam neraka karena hidup bersama orang yang tak mencintaimu. 

Lelah. Itu yang saya rasakan ketika saya mengakhiri kunjungan di Tuol Sleng. Tak hanya karena saya memaksa menaiki setiap lantai dan memasuki setiap ruangan dengan kondisi kaki yang kurang fit, namun rasanya emosi pun terkuras dan tersedot habis. 

Saya beberapa kali terpaksa berhenti sejenak untuk sekedar duduk atau berdiri memandang pemandangan. Saya bersyukur di beberapa ruangan saya tak berdiri sendirian, bahkan sempat ada seseorang yang tampaknya menunggu saya termenung, meski akhirnya ia tak sabar juga.

Tapi kelelahan itu berakhir manis. Di dekat pintu keluar saya melihat kerumunan orang. Ternyata disitu ada sebuah stand penjual buku. Yang istimewa, orang yang menjual buku adalah Chum Mey, salah satu dari tujuh korban yang selamat dari Tuol Sleng. 

Ah, lagi-lagi saya mendapat kejutan di hari ulang tahun ini. Saya membeli buku dengan tanda tangan Chum Mey sendiri, bahkan diizinkan berpose dengan beliau. 

Chum Mey

Chum Mey berhasil hidup ketika tak ada lagi alasan untuk hidup. Istri dan anaknya habis dibantai ketika mereka telah melihat sinar terang menuju kebebasan. Meski berat, Chum Mey akhirnya paham bahwa ia hidup untuk menjadi saksi untuk mengisahkan betapa kejamnya sebuah rezim. Dan bahwa semua kejadian mengerikan itu sungguh terjadi, bukan dusta seperti yang disangkal banyak orang. Ia hidup untuk memberi peringatan bahwa sebuah manusia bisa buta karena sebuah ideologi.

Stupa Memorial

Kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan naik tuk-tuk menuju ke Central Market. Pikiran saya masih terasa blank dan rasanya ada bayangan gelap di atas kepala saya. 

Awan mendung bergantung menutupi langit kota Phnom Penh. Ah.. sungguh.. suasana ini begitu menyesakkan jiwa.. Untung saja keramaian Central Market akhirnya bisa menghalau kemuraman itu. 

Semoga semua makhluk berbahagia.

Stupa Perdamaian pada ruangan terakhir Tuol Sleng
Advertisements

5 thoughts on “Belajar Hidup dari Mereka yang Pernah Hidup”

  1. Setiap habis membaca postingan apapun tentang dua tempat itu, pasti deh saya menarik nafas panjang. Mungkin ingat bagaimana berat aura disana dan perlu waktu untuk mengembalikan hati seperti semula. Ngalami juga duduk bengong dengan hati hollow banget tp aku ngalaminya di Choeung Ek (lengkap rasanya dari Tuol Sleng lalu ke Choeung Ek). Inget juga aku setengah lari tuh di Choeung Ek depan telaga untuk melepas diri dari aura ‘berat’ wkwkwkwk…
    Tapi Na, tempat-tempat seperti ini memang perlu ya buat kasih pelajaran buat orang-orang yang keblinger (tapi apa mereka sadar yak?) *hopeajah

    1. Walah…sampe setengah lari mba.. aku udah gak kuat lari.. panaaasss…. hehehee…

      Iya mba.. kalau mereka mau melihat, belajar, merasakan, dan sedikit saja memberi hati.. Semoga mereka bisa belajar ya.. dan lalu tahu bahwa keblingeran mereka itu bodoh..

      Mba..aku baru nemu quotes ini dr Soe Hok Gie : “Saya sadar betapa sulitnya untuk menanamkan kembali rasa hormat manusia Indonesia yang dibesarkan dalam suasana “mass murder” ini terhadap hidup. Bagi saya, kehidupan adalah sesuatu yang agung dan mulia (1967)

      1. Bagus banget ya quotesnya Soe Hok Gie susah cari orang kayak dia sekarang ini.
        BTW, aku baca2 blogmu lagi saat pertama ke kamboja, saat ‘pulang’ hahaha… luar biasa ya hidup ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s