My Journey...

Perjalanan Penuh Kejutan

Suara Whitney Houston berkumandang keras dari kafe yang merangkap meja resepsionis di luar sana. Aku sedang sibuk menyusun ulang barang-barang supaya semuanya muat di dalam ransel. Hmm.. barang-barangku sudah beranak pinak menjadi begitu banyak, jadi aku terpaksa membongkar dan menyusun ulang. Berkali-kali.

Phka Raing Phnom

Tak ada tamu lain di hostel ini, dan pastinya aku pun hanya sendirian di dormitori ini. Sambil merapikan barang-barang yang terserak di atas ranjang, aku mencoba mengingat semua kejutan yang Tuhan berikan sepanjang hari ulang tahunku ini.



Pagi tadi, bus Giant Ibis yang membawaku dari Siem Reap tiba di Phnom Penh tepat sebelum matahari terbit. Setengah berlari sambil menahan hasrat ingin pipis, aku segera beranjak menuju tepi sungai Mekong. 

Benar saja, berkas cahaya jingga mulai muncul menembus awan gelap, menciptakan paduan warna yang begitu ajaib. Aku hanya bisa berkali-kali berterima kasih pada Tuhan. Bersyukur atas hadiah ulang tahun yang begitu indah pagi ini. Bersyukur bisa merayakan hari istimewa ini di kota yang sangat istimewa bagiku.

Tapi, hari istimewa tak lantas membuatku tidak tersesat. Aku kebingungan mencari letak hostel. Tak ada petunjuk di lokasi yang semestinya. Google map malah menunjukkan bahwa aku harus berjalan kembali menuju arah utara, ke arah terminal bus. Tapi aku tak juga berhasil menemukan hostel itu. Aku malah terdampar di depan sebuah toko peti mati, tepat di tepi sungai Mekong. 

Setelah bertanya kesana kemari, aku akhirnya mendapat pertolongan dari kolaborasi banyak orang : seorang waitress, tukang ojek, tukang tuk-tuk, dan pejalan kaki. Si tukang ojek akhirnya menelepon hostelku dan mengantarku ke tempat yang benar.

Decho Meas dan Decho Yat

Ya, aku sudah melalui tempat itu berulang kali. Itulah tempat yang aku asumsikan. Jadi apa yang salah? Aku salah karena tak melihat ke atas. Hostelku terletak di lantai 4 alias lantai teratas, dan papan petunjuknya hanya ada di lantai itu saja. Hahaha, aku dan si tukang ojek hanya bisa bertukar tawa karena kami sama-sama tak menyangka jawaban teka-teki ini sebetulnya begitu mudah.

Pemandangan dari Mekong Panorama Hostel

Kejutan berikutnya harus kuhadapi ketika aku mulai menaiki tangga menuju ke lantai 4. Ya.. tak ada lift atau eskalator. Padahal kakiku sudah mulai tak bersahabat, dan ranselku rasanya semakin berat. Ditambah hasrat ingin pipis yang semakin mendesak. Serba salah. Melangkah lebih cepat berakibat telapak kaki terasa akan lepas. Tapi kalau pelan-pelan, aku sudah tak tahan lagi menahan hasrat yang terpendam. 

Akhirnya setelah urusan pertoiletan dan check in selesai, aku bergegas menuju ke Royal Palace, padahal jam bukanya masih cukup lama. Aku menunggu waktu sambil duduk di trotoar depan Victory Gate dan kemudian menyadari ada banyak polisi dan PM disana. Wah, jangan-jangan ada acara di istana dan aku tak bisa masuk. Yaah…

Victory Gate
Kapan lagi motret tanpa gangguan figuran.. hehehee

Tapi karena tak ada yang menegur, aku cuek saja duduk disana hingga akhirnya seekor anjing bernama Sam dan tuannya menyapaku. Tuannya Sam (lupa namanya) bilang, kalau ada banyak polisi begini dan rumput di seberang istana dipangkas, pasti ada orang penting yang akan keluar dari istana. Wow, siapakah gerangan yang akan keluar dari istana? Tuannya Sam juga bilang, perhatikan saja apakah ada pegawai museum yang masuk lewat pintu tiket, jika ada maka bisa dipastikan Royal Palace akan buka. Setelah Sam dan tuannya berlalu, aku segera menyusur jalan menuju pintu masuk tiket, jam sudah menunjukkan pukul 08.05. Kalau memang buka, seharusnya ya sudah buka, karena sudah lewat dari jam bukanya.

Inilah si Sam…

Ternyata Royal Palace memang dibuka. Ketika aku sedang berjalan di selasar menuju area Royal Palace, aku mendengar sirine. Ini membuat radar penasaranku langsung naik dan aku bergegas masuk kesana. 

Di dekat Victory Gate ada sebuah mobil hitam dengan sirine menyala. Ah, benar kata tuannya si Sam, ada orang penting yang akan keluar dari Istana. Aku deg-degan juga menanti siapa orang penting itu. Dengan berlagak tenang aku berkeliling memotret-motret, tapi tetap sambil memantau siapa yang akan keluar. 

Area sekitar Preah Tineang Tevea Vinichhay (Royal Throne) sudah diisolasi oleh para penjaga yang sangar banget dan aku dipaksa menyingkir. Aku baru sadar bahwa para pengunjung sudah tak diizinkan lagi masuk ke area Royal Palace. Wow, beruntungnya aku masih bisa masuk kesini. Aku lalu menjauh sedikit dan mencari tempat berteduh untuk stalking.. Hehehe…

Soooo lucky….

Tak lama kemudian (meskipun rasanya seperti berjam-jam), suasana menjadi begitu hening. Lalu ada dua mobil keluar dari kediaman Raja. Para pengawal sangar langsung berlutut dan menunduk ketika mobil kedua lewat, ah sepertinya itu Queen Mother, terlihat dari rambutnya yang memutih khas beliau. Lalu mobil ketiga lewat dan … di dalamnya seperti si Akang… eh.. maksudnya King Norodom Sihamoni.. Terlihat dari kepalanya yang plontos (duhh.. ada gak sih istilah yang lebih sopan…). Saking terpananya, aku jadi melongo.. Bener gak sih itu Raja? Aku cuma bisa terdiam blank sambil mengatupkan tangan di depan dada.. Ah… andai saja ada mesin yang bisa menghentikan waktu.. Ingin aku mengabadikan momen ini…

Ini lho Rajanya Kamboja…

Setelah tiga mobil itu keluar dari Victory Gate, aku malah berpikir, andai saja tadi tak masuk ke Royal Palace, aku mungkin akan bisa melihat Raja lebih jelas dari trotoar. Eh, tapi bisa jadi aku malah bakal diusir yah..

Alhasil aku malah nggak konsen selama di Royal Palace. Bendera biru di kediaman Raja masih berkibar, berarti Raja tak pergi jauh dan lama. Nah, jadilah aku bolak-balik melihat Victory Gate. Siapa tahu Raja pulang saat aku masih disitu. Double surprise kan? *ngarep..

Benderanya masih mengangkasa

Eh, betul saja, tak lama berselang, Victory Gate kembali dibuka, dan lagi-lagi kami digebah para pengawal. Hanya kali ini area Royal Throne tak diisolasi. Ketika ada mobil hitam masuk melalui Victory Gate, aku malah mendekat ke tangga Royal Throne, berusaha melihat siapa yang akan masuk. Ternyata, penumpang mobil itu adalah Putri Norodom Arunrasmy, adik bungsu King Sihamoni dari ibu yang lain. Beliau sangat ramah dan melambaikan tangan pada setiap orang yang dilewatinya. Aduh.. lagi-lagi kejutan yang sangat WOW..

Rombongan Putri Norodom Arunrasmy

Meskipun aku masih ingin bertahan disana menunggu Raja pulang, namun hari telah semakin siang dan aku harus beranjak menuju Choeung Ek dan Tuol Sleng. (Baca ceritanya disini).

Silver Pagoda
Sowan ke Stupa King Sihanouk

Setelah mengakhiri kunjungan di Tuol Sleng, aku berupaya menyingkirkan awan gelap di benakku dengan berkunjung ke Central Market. 

Sayang ketika itu sebagian besar kios sudah akan tutup. Akupun melanjutkan perjalanan ke arah Independence Monument. Hari masih terang walaupun awan gelap menggantung di langit Phnom Penh, hingga aku memutuskan untuk berjalan santai dari Central Market ke Independence Monument melalui Norodom Boulevard. Aku bahkan sempat mampir untuk makan di KFC sambil menunggu malam datang dan lampu-lampu di monumen dinyalakan. 

Tapi apa daya… Sekitar 100 meter sebelum Independence Monument, hujan turun tanpa ampun, seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Untung aku sempat mengamankan isi tasku dengan meminta kantong kresek pada penjaga di dekat perempatan street 240 (walaupun memintanya harus dengan bahasa Tarzan.. Tapi terima kasih ya Pak..). Meski berupaya berlari, namun aku akhirnya harus minta izin berteduh di bawah terpal milik tentara yang berjaga di trotoar Norodom Boulevard. 

Tentara-tentara berkupluk mirip densus 88 itu ternyata sangat ramah meskipun menyeramkan karena mengokang senjata laras panjangnya. Mereka memberikan kursi plastik supaya aku bisa duduk. Tak lama kemudian, orang yang berteduh bertambah banyak, dan kami beramai-ramai harus mengangkat terpal jika genangan air sudah membuat si terpal doyong ke bawah. 

Ah, ternyata.. Apapun bangsanya, ketika hujan turun, pasti semua akan mencari tempat berteduh.. Hehehehe.. Dan ternyata.. ketika tentara-tentara tadi membuka kupluknya.. baru keliatan muka mereka yang guantenggg… hehehe 

Dari tempatku berteduh, sudah terlihat Independence Monument yang bercahaya. Ah,, pasti cantik sekali seperti yang sahabatku pernah ceritakan. Aku jadi tak sabar menunggu hujan reda. Ketika hujan sudah mulai bersahabat aku segera menutup kepalaku dengan krama, mengucapkan terima kasih pada para tentara baik hati, berpamitan dengan para rekan berteduh, lalu berlari menuju ke Preah Sihanouk Boulevard.

Lagi-lagi aku membeku dalam takjub ketika memandang Independence Monument yang bercahaya di tengah keramaian lalu lintas, apalagi ketika aku menyaksikan figur Raja Sihanouk yang terpantul nyaris sempurna pada genangan air hujan. Ahh.. terima kasih hujan.. kau membuat semuanya menjadi lebih indah…

Ternyata Tuhan masih memberikan satu kejutan manis di penghujung hari. Oh ya, beberapa hari sebelumnya, aku sudah menyembunyikan tanggal ulang tahunku di facebook. Tapi ada satu orang yang sadar dan mengucapkan selamat ulang tahun di wallku. Hingga malam datang, tak ada lagi yang mengucapkan di facebook, hingga aku merasa strategiku berhasil,, hehehe.. 

Tapi aku salah. Ketika kepalaku muncul di pintu Warung Bali, aku disambut dengan seruan “panjang umur, yang ulang tahun nongol…” Aih… Langsung saja aku disambut dengan hangat dan disalami oleh Pak Petrus, Pak Kasmin, Pak Firdaus, dan Pak Hamid.. Lalu aku disuruh memotong kue bolu talas sebagai kue ultah dadakan.. hehe..

Mereka inilah yang selalu bikin Phnom Penh terasa homey…

Hingga hari ini aku selalu tersenyum lebar sambil berkaca-kaca jika mengenang momen itu. Ini akan menjadi momen ulang tahun yang tak akan terlupakan dalam hidupku. Momen ketika aku merasa di rumah meski sesungguhnya aku tengah berada ribuan kilometer dari rumah. Kota ini memang tak pernah membuatku merasa kesepian dan sendirian.

Lantunan suara Whitney Houston sudah tak terdengar lagi. Sebagian besar barangku sudah berhasil masuk ke dalam ransel, dan akupun bersiap-siap untuk tidur. Tak habis-habisnya aku berucap syukur pada Tuhan atas begitu banyak kejutan manis yang Ia berikan sepanjang hari ini, juga untuk orang-orang baik yang membuatku merasa dikasihi dan diperhatikan..

Goodbye Phnom Penh

Phnom Penh.. aku akan kembali..
 

 

Advertisements

4 thoughts on “Perjalanan Penuh Kejutan”

  1. Aduh ikut berbahagia merasakan bagaimana hari besarmu berlangsung dengan limpahan berkatNya yang terus menerus, disana lagi. Benar-benar tak terlupakan ya Na, blessed banget rasanya…

      1. Wah…iya mba..udah minum air Mekong dijamin gagal move on selamanya… hahahahaa…
        Nah itu mba.. itu foto subuh2 dr atas hostel pas mau pulang.. jadi ga mampir di depannya dulu.. wat Phnom juga cakep banget mbaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s