My Journey...

Tolong… Saya Bablas…

Setelah berulang kali saya terjaga dan terlelap sepanjang perjalanan ini, akhirnya kali ini saya benar-benar ON. Di luar sana langit hitam kelam telah berubah warna menjadi biru tua. Saya melirik jam tangan, sudah pukul 05.20. Hmm.. Mengapa van ini belum juga tiba di Battambang? Menurut statistika, rata-rata waktu tempuh Phnom Penh-Battambang adalah selama 6 jam. Harusnya dalam waktu 10 menit lagi saya sudah akan tiba di Battambang. Ah, semoga saja masih keburu untuk ikut misa jam 6.15 di gereja Our Lady of The Assumption.

Tapi.. Mengapa tak ada tanda-tanda kehidupan kota? Mengapa van ini masih terus tancap gas? Jam menunjukkan pukul 05.30 dan akhirnya saya mulai panik. Kalau begini sih kayaknya gak akan keburu ikut misa deh. Aih, padahal van ini lumayan ngebut, tapi kok belum sampai Battambang juga seh..

Saya menatap keluar van dan menemukan pal di seberang jalan. Tahu gak apa tulisan di pal itu? Nih tulisannya : “Poipet 19 km”. Jreng jreng.. Dengan otak yang belum loading, saya mencoba mengingat-ingat.. Poipet ntuh dimana yah.. Eh.. tunggu.. Poipet itu bukannya perbatasan Kamboja dan Thailand?

Eh?? *makin panik.. Jadi.. Battambangnya dimana ya?

Sebagian otak saya bilang bahwa Battambang sudah terlewat, sedangkan sebagian lagi masih mencoba logis : Battambang kan memang sudah dekat perbatasan Thailand. Bisa jadi pal itu menunjukkan Poipet sebagai patokan, karena Poipet adalah kota yang lebih besar daripada Battambang. Tapi? Tapi? Kayaknya logika saya kali ini salah deh..

Akhirnya saya mengeluarkan jurus terakhir : cek google maps. Bingung juga mau tanya siapa, orang yang duduk di sebelah saya masih terlelap dengan pewenya.

Sial.. gak ada sinyal!! Saya mencoba menonaktifkan mobile data lalu menghidupkannya lagi.. Hmm.. gak efek. Saya lalu merestart handphone saya.. Dan lagi-lagi gak efek. Sementara pal di seberang sana menunjukkan Poipet tinggal 16 km lagi. Dooh, ni hape kenapa lemot banget pula!?!?

Setelah momen-momen tanpa sinyal yang bikin frustasi, akhirnya sinyal pun muncul. Dan.. google maps menunjukkan bahwa…

Battambang sudah terlewati 116 km di belakang saya.

Atau dalam bahasa Khmernya : “Saya kebablasan…”

Tapi gilanya.. kok ga nanggung-nanggung amat bablasnya sampe 116 km alias 2 jam perjalanan…

Hmm.. Pantesan dari kemarin sore perasaan saya ngga enak banget. Jadi ternyata bakalan kayak begini yeh?!?!?!

Saya mencoba mensugesti diri untuk tidak panik.. Tapi gak berhasil.. Saya mulai berupaya memikirkan rencana selanjutnya, dan otak saya yang sekarang sudah beneran melek memberikan saya beberapa opsi :

1. Ikutan aja sekalian ke Bangkok. Trus pulangnya naik pesawat dari Bangkok. Tapi terus saya mikir lagi “Ebused.. mahal banget keleus tiket Bangkok-Jakarta.. Lagian sayang banget tiket pulang yang sudah saya booking dari Phnom Penh..” Opsi ini segera saya hapus, karena saya lebih mencintai Kamboja daripada Thailand.. *halaah…

2. Balik lagi naik van dari Poipet ke Battambang. Haduh.. menurut bookmebus, jadwalnya baru ada jam 06.30 dan akan tiba di Battambang jam 08.30.. Harganya 8 US$. Hmm.. lagi-lagi Mekong Express, sama dengan van yang saya naiki saat ini.

3. Naik taxi, supaya bisa lebih cepat. Saya browsing tarif taxi Battambang-Poipet. Wow.. mahal gilaaaa.. 30 US$. Saya mencoba mengingat sisa uang yang saya punya tanpa harus membuka dompet, lalu menghitung apa saja pengeluaran yang masih mungkin terjadi. Sepertinya cukup. Tapi saya harus ngirit sengirit-ngiritnya selama di Battambang.

Setelah mempertimbangkan masak-masak, saya memutuskan opsi nomor 3. Pokoknya saya harus cepat kembali ke Battambang karena waktu saya terbatas. Jam 11 malam ini juga, saya harus naik bus kembali ke Phnom Penh dan esok pagi saya sudah harus terbang dengan penerbangan pertama Air Asia dari Phnom Penh menuju Kuala Lumpur.

Tak lama kemudian van berhenti di sebuah pom bensin. Pria yang duduk di sebelah saya akhirnya bangun dan saya langsung nyerocos nanyain dia : “Ini udah di Poipet ya? Saya mau turun Battambang, tapi kelewatan. Menurut kamu saya harus naik apa?”

Si doi yang belom loading langsung gelagapan diberondong begitu. Ternyata dia ini kenal dengan drivernya. So.. dia datengin drivernya dan ngomong sesuatu pake Bahasa Khmer. Lalu si driver mendatangi saya. Dia bilang pas tadi di Battambang dia udah kasih tau kok. Saya bilang dengan ngotot (dan dengan Bahasa Inggris pas-pasan) : “Nggak.. kamu ga bilang udah sampai Battambang..” Eh..si driver malah bilang, “Bagian ticketing di Phnom Penh ga ngasih tau siapa aja yang turun di Battambang..”

Ya Tuhan..

Masih dengan Bahasa Inggris pas-pasan, saya nyolot, “Sekarang saya harus naik apa untuk bisa ke Battambang? Tolong kalian carikan saya taxi karena saya harus segera tiba di Battambang!”

Mereka akhirnya mempersuasi saya untuk naik lagi ke van dan ikut sampai pool mereka di Poipet. “Disini sepi dan kamu ngga akan bisa menemukan taxi”. Hmm..iye juga sih.. Ini berasa kayak in the middle of nowhere gitu..Ya udahlah..saya naik lagi ke van sambil diliatin penumpang lain yang kebingungan.

Selama di perjalanan singkat menuju pool, saya mengingat lagi.. Mimpi apa saya semalam sampe kebablasan gila kayak begini.. Saya mengingat lagi, apa emang si driver udah ngasih tau pas kita sampai di Battambang? Rasanya nggak deh.. Tapi ada satu potongan adegan yang akhirnya saya curigai. Begini nih..

Sekitar jam 4 pagi, van berhenti. Ada satu penumpang turun dengan bawaannya yang lumayan banyak. Saya melihat keluar dan mendapati tempat itu adalah tepi jalan besar yang sangat sepi. So..saya yakin itu bukan Battambang karena drop off point saya ada di tengah kota Battambang, dan saya sudah melihat di google maps bahwa pool Mekong Express itu dekat dengan Central Market, jadi seharusnya jalannya ga terlalu lebar dan pasti ada banyak bangunan.

Lalu penumpang di sebelah si driver mengatakan sesuatu yang bunyinya seperti “Battambang”, dan si driver lalu bertanya, “You want to stop Battambang?” Trus rangkaian percakapan selanjutnya saya nggak simak lagi karena saya gak ngerti apa yang mereka katakan.

Jadi.. Jadi.. Sebetulnya van sudah berhenti di Battambang tapi sayanya yang kagak ngeh.

Ya Tuhan…

Ingatan saya kembali pada kejadian malam kemarin di pool Mekong Express Phnom Penh. Ketika saya menunjukkan print out bookingan saya di bookmebus, salah seorang petugas ticketing langsung nyerocos dalam Bahasa Khmer ke temannya. Ada kata-kata “Bangkok”, “Battambang”, yang bikin saya berharap ada teknologi bernama “konyaku penerjemah” (sambil bayangin backsoundnya Doraemon). Saya juga mendengar salah satu penumpang yang bertanya dengan kata-kata “Bangkok”, lalu si petugas bilang “Two people to Bangkok”. Begonya saya, dengan sotoynya saya berasumsi bahwa – Van yang akan saya naiki adalah tujuan Bangkok yang akan singgah di Battambang, trus si petugas itu bilang hanya ada 2 penumpang ke Bangkok, so, sisanya ke Battambang-. Tanpa saya ingat, bahwa kota perbatasan Kamboja-Thailand adalah Poipet, dan bukan Battambang.Tumben juga saya gak grecehan kayak biasanya.. Gak ngomong apa-apa ke si driver atau ngajak ngobrol penumpang lain. Kok saya kayak kena virus kepedean tingkat tinggi yak..

Akhirnya saya cuma bisa merutuk berkali-kali, “Duh.. gue bego amat yaaaa…”

Beberapa menit kemudian, van akhirnya tiba di pool Mekong Express Poipet. Si driver menyerahkan saya ke bagian ticketing. Eh..emang gue barang.. bisa diserahterimakan begitu aja.. Waktu menunjukkan pukul 6 lebih sedikit. Oke, kalau saya ga dapat taxi sebelum jam 6.30, berarti saya sebaiknya naik van Poipet-Battambang yang jam 6.30, sesuai dengan opsi kedua saya tadi.

Tapi, hingga jarum jam melewati pukul 06.30, tidak ada tanda-tanda bus masuk ke pool. Juga tak ada tanda-tanda bahwa saya akan dicarikan taxi. Saya mulai down. Rasa lelah akibat tidur yang tak nyenyak diperparah dengan frustasi karena waktu yang tersisa bagi saya untuk menikmati Battambang semakin berkurang. Saya merasakan mata saya mulai memanas, tanda air mata ini akan segera turun. Duh, mana suasana pool masih ramai. Saya mencoba menguatkan diri dan melayangkan tatapan maut ke petugas ticketing yang berjanji akan mencarikan taxi. Tapi.. yang ada saya malah semakin ingin menangis.

Jadi begini ya rasanya sendirian di tempat antah berantah.. Beneran bikin depresi…

Seorang ibu yang tadi satu van dengan saya menyodorkan sesisir pisang. Saya awalnya menolak pemberian itu karena saya sedang fokus menyusun kata-kata untuk mengingatkan petugas ticketing mengenai janjinya untuk mencarikan taxi. Tapi, si ibu mendesak saya untuk mencicip pisangnya itu. Dan itulah momen makan pisang “paling berkesan” sepanjang hidup saya. Saya berterima kasih pada beliau sambil berkaca-kaca. Pagi itu segala keramahan saya bagai menghilang ditelan bumi. Sisanya hanya kemarahan dan segala macam emosi negatif saja. Pisang itu seolah menegur saya untuk mengembalikan sedikit saja sopan santun saya.

Saking udah kesel banget dicuekin, akhirnya saya mengangkut ransel saya dan keluar dari pool. Siapa tahu saya bisa menemukan taxi yang mau mengangkut saya ke Battambang, plus modus juga.. supaya petugas ticketingnya sadar bahwa saya udah BETE tingkat akut.

Sebetulnya pemandangan pagi itu sangat indah, warna langit terlihat bergradasi, pertanda matahari baru saja terbit. Papan nama Mongkul Poipet Market terlihat di seberang jalan. Sungguh, seharusnya saya bisa menikmati pagi ini. Tapi saya bahkan tak bisa bersyukur atas pemandangan pagi yang menakjubkan itu.

Nah.. ternyata taktik saya berhasil. Si petugas mendatangi saya. Dengan bahasa campur-campur antara Bahasa Inggris, bahasa kalbu dan bahasa tarzan, dia bilang bahwa susah banget untuk cari taxi, dia menganjurkan saya ikut van ke Battambang yang jam 07.30. Saya mulai nyolot bin ngotot, “Saya gak bisa naik van yang jam segitu, saya harus buru-buru karena malam ini saya sudah harus berangkat lagi ke Phnom Penh.” Dia bilang kalau saya keukeuh naik taxi, saya harus nunggu lama. Saya bilang lagi, kalau ga ada taxi, apakah ada alternatif transportasi lain menuju Battambang (sambil mikir, kalau tiba-tiba saya disuruh naik ojek motor, begimana ya??). Karena udah desperate banget saya sampe nyoba aplikasi grab dan uber. Sedihnya, dua-duanya gak bisa dipake disini.. *yaeyalaaah…

Si petugas, yang mungkin udah sama keselnya dengan saya, lalu curhat ke seseorang yang duduk di depan pool. Pria itu membawa kardus besar seperti kerangka lemari atau apalah itu. Mereka ngobrol dengan akrab seperti sudah kenal lama. So, saya berasumsi, orang ini pastilah petugas Mekong Express juga deh. Saya cuma pasang muka jutek, karena saya yakin pasti si petugas nyeritain saya yang tidur segitu nyenyaknya sampe ngga sadar udah sampe Battambang. Uhhhh.. beneran deh.. saya butuh konyaku penerjemah…

Jam 7 lewat sekian menit.. Akhirnya si petugas memanggil saya dan bilang bahwa dia sudah dapat taxi yang  mau mengantar saya ke Battambang. Dia bilang tarifnya 7US$. Waaah.. ternyata lebih murah dari prediksi saya.. Pria yang tadi dicurhatin si petugas juga naik ke taxi itu. Oh.. jangan-jangan dia ini bosnya Mekong Express ya? Mbuhlah.. Yang penting akhirnya saya bisa kembali ke Battambang. Titik.

Menit-menit awal perjalanan kami hanya diisi dengan pembicaraan pria itu dengan si driver. Yes, tentunya pakai Bahasa Khmer. Konyaku..mana sih konyaku… Akhirnya ketegangan saya sedikit demi sedikit meluruh, dan efek sampingnya adalah : ngantuk. Jadilah saya tertidur sejenak. Ciyus.. sebentar doang.. Gila juga ya saya.. semobil dengan dua orang asing, di tempat yang saya kagak kenal, dan masih berani molor.. Ckckckckck… entahlah saya harus bangga atau prihatin..

Ketika saya akhirnya terjaga, akhirnya si pria itu membuka suara dan menyapa saya dengan ragu-ragu, “Are you OK?”. Dia lalu menyampaikan pertanyaan si driver yang penasaran sama saya : “He asked, are you going to attend a meeting in Battambang?” Dan pertanyaan ini bikin saya kaget. Meeting? Saya bilang saya cuma mau travelling di Battambang, ga mau ketemuan sama orang, apalagi business meeting. Pria itu ngangguk-ngangguk sambil bilang, si driver dikasih tau petugas pool bahwa saya lagi buru-buru karena mau meeting di Battambang.

Akhinya… saya bisa nyengir kuda.. setelah sekian jam cemberut dan tegang..

Setelah saya bisa nyengir, dia lalu bikin saya bete lagi dengan mengungkit “Kenapa kamu bisa terbawa sampai Poipet?”, dah deh saya ceritain aja : saya tidur dan ngga ngeh udah sampai Battambang, plus ga ada yang ngasih tau juga saat udah sampai Battambang. Dia ketawa kecil (saya  makin yakin pasti tadi petugas pool bus udah ceritain kedodolan saya ini deh.. ). Tapi dia malah bilang, “Mungkin ketika sampai di Battambang, sopirnya ngga tega nurunin kamu karena suasananya masih gelap dan kamu perempuan.” Sambil nyinyir saya jawab dia, “Bukan begitu.. sopirnya nggak tahu bahwa saya mau turun di Battambang..”

Percakapan kami lama-lama semakin cair, dia bercerita tentang pekerjaannya di Bangkok. Setiap Jumat malam dia pulang dari Bangkok menuju Battambang, dan Minggu sore kembali lagi ke Bangkok. Ebuset kan?!?! Dia juga cerita bahwa dia penganut Kristen dan pernah belajar khotbah di Phnom Penh. Dia lalu bercerita banyak tentang Battambang dan bertanya rencana saya disana.

Beberapa kali kami kehabisan kata-kata karena Bahasa Inggris kami sama-sama parah. Kocak banget waktu dia cerita tentang Phnom Sampov (Phnom Sampeu), dia bilang saya harus kesana pada saat sunset karena saya bisa melihat….. (dia mendadak diam), lalu dia bilang “bird”, “black” “fly” dan dia nyengir sambil bilang “ah, how to say the name”. Saya lalu nyeplos “batman ya?” Terus dia ketawa dan bilang, “Ah.. yaa.. batman… fly form the cave”

Kami lalu saling meng-add facebook dan saya memuji istrinya yang cantik. Eh.. dia malah bilang, “When you smile to other people, they will see your kindness..” Walah.. jadi tertohok.. Oh iya, gara-gara facebook, saya jadi tahu namanya : Khanra Leng. Khanra sangat helpful, dia menjelaskan lokasi hostel saya ke si driver. Untung saja saya bareng dia, kalau nggak saya bakalan kerepotan menjelaskan banyak hal ke si driver yang ternyata ngga bisa berbahasa Inggris sama sekali.

Percakapan dengan Khanra membuat perjalanan menuju Battambang jadi terasa singkat. Ketika kami memasuki kota Battambang, Khanra menunjukkan pool Mekong Express. Sambil senyum-senyum ga jelas dia berkata tadi subuh seharusnya saya sudah sampai di tempat ini. Saya ikutan nyengir saja, karena saya makin yakin bahwa tadi pagi van saya nggak masuk ke dalam kota.

Kami berpisah di halaman Chhaya Hotel di street 3, saat waktu menunjukkan pukul 9 lewat sedikit. Saya pikir mereka akan segera meninggalkan saya. Eh.. ternyata.. mereka menunggu saya dan memastikan bahwa saya sudah bisa check in (saya booking hotel ini supaya bisa mandi dan beristirahat sejenak sebelum naik bus malam menuju Phnom Penh). Khanra bahkan berteriak dari luar “Oke??”, dan setelah saya berteriak balik “Oke.. Thank you…”, barulah mereka yakin dan meninggalkan saya.

Eh.. gara-gara kejadian ini saya malah dapat teman baru.. Hmm.. mungkin ini blessing in disguisenya kali yaa…

Setelah pulang ke rumah.. Sambil tertawa saya bercerita kepada orang tua saya tentang kedodolan saya ini.. Nah, barulah kata-kata Khanra terngiang di telinga saya, “Mungkin si drivernya ngga tega nurunin kamu karena masih gelap dan karena kamu perempuan..” Barulah saya mikir, bukan sopirnya yang ga tega, bukan karena sopirnya ga tahu juga, tapi karena Tuhan sudah atur semua.

Saya yakin sekali saat itu bus berhenti di National Road no.5 dan nggak masuk kota Battambang. Waktu itu sekitar jam 4 pagi dan langit masih gelap gulita. Belum tentu ada tuk-tuk atau apapun di tempat pemberhentian itu, karena lokasi berhentinya van bukan di pool, tapi hanya di pinggir jalan, sepi pula.. Nah, kalau waktu itu saya turun disitu, bisa jadi saya malah bakalan lebih panik karena sendirian, ga tau harus naik apa dan ga tau jalan. Malah potensi bahayanya bakalan lebih besar. Beuh.. saya jadi merinding membayangkannya.

Justru Tuhan membuat saya nggak sadar dan malah meneruskan tidur hingga ke Poipet, menurunkan saya di tempat asing ketika hari sudah terang, mengirimkan malaikat-malaikat untuk menemani perjalanan saya, dan bahkan salah satunya kini menjadi teman facebook saya. Dia memperkaya saya dengan satu pengalaman unik yang membuat perasaan saya campur aduk, mulai dari marah, panik,  bingung, pengen nangis, merasa bodoh, merasa sendirian, buntu, hingga akhirnya saya bisa bersyukur atas semua yang telah terjadi (walau telat banget sih bersyukurnya…). Jadi sebetulnya Dia sedang turun tangan untuk melindungi saya.. Saya aja yang gak nyadar…

Tahu gak? Walaupun saya “terlambat” tiba di Battambang, namun Tuhan mengatur semuanya dengan baik. Saya bisa menjelajahi seluruh tempat yang ingin saya kunjungi tanpa kekurangan waktu. Semua target dan wish list saya menjadi kenyataan dalam waktu 13 jam saja. Saya sangat menikmati perjalanan bahkan bisa menjelajah setiap tempat dengan santai.

Pikiran saya melayang pada sebuah momen, dua minggu sebelum keberangkatan saya ke Kamboja. Sore itu, di kantor, saya mulai menyusun itinerary dan membooking bus rute Phnom Penh-Battambang dan Battambang-Phnom Penh via aplikasi bookmebus. Ga ada masalah dengan bus Phnom Penh-Battambang. Tapi, bus jurusan sebaliknya yang saya pilih (Mekong Express pukul 21.30) sudah penuh. Bookmebus menawarkan perjalanan pagi yang saya tolak mentah-mentah. Lah, wong saya baru sampe di Battambang pagi, mosok saya udah harus naik bus balik ke Phnom Penh.

Akhirnya saya mempertimbangkan dua opsi : Virak Buntham 16.30 atau Virak Buntham 23.00. Nah.. saya agak-agak trauma nih dengan nama Virak Buntham. Terkenang trip empat tahun lalu dengan Virak Buntham yang ngga pernah on time. Bahkan bisa ngaret hampir dua jam.

Saya lalu memilih Virak 16.30 setelah menghitung jarak tempuh antar tempat dan memperkirakan berapa lama maksimal saya harus berada di satu tempat. Dengan asumsi saya akan tiba di Battambang jam 05.30 pagi dan ikut misa jam 06.15-07.15, lalu keliling gereja, saya akan memulai trip saya pukul 08.00. Kasarnya saya hanya punya waktu 8 jam untuk keliling Battambang. Dengan bantuan google maps yang memprediksikan jarak dan waktu tempuh, saya ternyata hanya bisa mengunjungi 3 tempat : Bamboo Train, Phnom Sampov, dan Wat Banan. Itupun mepet banget.

Tapi.. daripada saya ketinggalan pesawat jika nekad naik bus jam 23.00, ya mau gak mau deh.. Terpaksa saya harus memangkas separuh target saya.

Setelah saya memilih schedule itu dan mengemail si bookmebus, saya mengontak sahabat saya. Dia bilang sayang banget di Battambang hanya sebentar, karena suasana Battambang bikin betah. Lagian, flight pulang saya kan di hari Minggu, dan hari Minggu itu jalanan Phnom Penh gak akan macet, jadi harusnya saya gak akan terlambat apalagi ketinggalan pesawat. Dia malah cerita dulu pernah sampai di bandara tepat pada saat boarding time.

Hmmm.. saya menimbang-nimbang.. Berpikir ulang.. Si bookmebus sih pede banget Virak bakalan on time. Tapi saya kan masih trauma.. Gimana ya.. Saya masih punya satu kesempatan untuk reschedule jadwal bus. Saya kembali menghitung. Kalaupun si Virak terlambat 2 jam dan baru berangkat jam 1 pagi, saya akan tiba di Phnom Penh jam 7 pagi, lalu ke bandara butuh waktu setengah jam. Oke, masih keburu lah harusnya dengan schedule flight saya yang jam 08.20.

Akhirnya.. saya mereschedule bookingan saya menjadi Virak jam 23.00. Sambil berdoa novena selama 9 hari sebelum keberangkatan supaya jangan sampai si Virak telat dan saya ketinggalan pesawat.

Ya.. kini saat saya mengingat semua rentetan kejadian itu, saya tak henti-hentinya mengucap syukur. Andai saja waktu itu saya ngga mendengarkan saran sahabat saya, dan tetap keukeuh pulang ke Phnom Penh dengan bus jam 16.30, sudah pasti dengan kejadian bablas ini saya harus memangkas target saya lagi karena saya hanya punya waktu sekitar 7 jam saja. Kebayang deh pasti saya bakalan senewen banget sepanjang perjalanan dan udah pasti nggak akan bisa menikmati. Untung aja, akhirnya saya booking Virak jam 23.00 jadi saya punya spare waktu cukup banyak untuk mengunjungi 6 tempat (gereja, Wat Samrong Knoung, Wat Ek Phnom, Bamboo Train, Wat Banan, Phnom Sampov). Syukur Puji Tuhan Virak sekarang udah berubah banyak, hanya ngaret 15 menit dari jadwal dan saya bisa sampai di Phnom Penh tepat waktu.

Tak ada yang kebetulan.. Tuhan sudah mengatur semuanya.. Dengan berbagai cara.. Lewat banyak orang.. Melalui berbagai kejadian..

Oh iya.. saya juga diingatkan lewat kejadian ini.. Jika hati merasa nggak enak.. berdoalah.. Jangan malah tidur nyenyak kayak saya.. hehehehe..

Advertisements

11 thoughts on “Tolong… Saya Bablas…”

  1. Bwahahahahaha….. dari awal baca aku ngakak terus nih… mau dicari-cari kenapanya tapi kalo emang harus bablas ya bablas aja deh Na… kayak aku lari2 di Incheon itu. Tapi seru banget Na cerita bablasnya wkwkwk…

    1. Hehehe.. Dia emang penuh kejutan ya Mbak..berhasil bikin adrenaline rush.. hahahaa.. Jadi kepikir.. setelah kejadian nyasar, bablas, salah perhitungan dll, kita jadi punya tambahan satu pengalaman berharga dalam hidup yang bisa diceritakan dengan rasa “Gile yaaa… syukur banget hari ini saya bisa menceritakan ini semua dengan tawa dan rasa syukur…”

      1. Benar Na… makanya aku bisa ketawa bacanya karena pernah ngalami sendiri. One day, dirimu pasti akan senyam’senyum juga kalo baca peristiwa serupa dari orang lain. Bukan ngetawain tapi nanti kamu bilang, been there hahahaha… walaupun saat ngalami sendiri sih rasanya itu campur aduk ga terkatakan hahaha…

  2. Cerita yang seru dan manis serta bikin tertampar di akhir, kadang-kadang saya butuh waktu lama banget buat mengerti apa arti dari semua hal yang sudah saya alami sepanjang perjalanan. Dan butuh waktu yang lebih lama lagi buat memandang “kesialan” dari sisi yang berbeda. Tapi tulisan ini mengajari saya dan saya sangat berterima kasih untuk itu. Kerenlah. Saya jadi merasa cetek banget pengalaman perjalanannya, soalnya pasti masih suka uring-uringan jika rencana tidak berjalan sesuai yang diinginkan, terus suka menyalahkan semuanya, akhirnya sedih sendiri. Betulan, dari tulisan ini saya belajar banyak. Semoga kita semua bisa jadi orang yang lebih tenang dalam menyikapi segala sesuatu, ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s