A Day With Ket

Ket adalah seorang tuk-tuk driver yang dipertemukan dengan saya di lobby Chhaya Hotel. Dia memang bermarkas disitu dan selalu stand by mengantar tamunya Chhaya keliling Battambang. Tadinya sih.. saya sempat ogah dengan driver tuk-tuk yang nongkrong di hostel, karena dalam benak saya mereka pasti pasang tarif lebih tinggi.

Tapi apa daya.. ketika saya melangkah keluar hostel saya nggak menemukan tukang tuk-tuk yang parkir di pinggir jalan kayak di Phnom Penh. Ya udah deh.. alhasil saya balik lagi ke hostel dan nanya ke resepsionisnya. Akhirnya saya dikenalkan dengan Ket. Dan ternyata, Ket ngasih harga yang standar kok.. Plus dia mau mengupayakan supaya saya bisa mengunjungi enam tempat yang sudah saya targetkan : Gereja Our Lady Of The Assumption, Wat Samrong Knoung, Wat Ek Phnom, Bamboo Train, Wat Banan, dan Phnom Sampeu. Bahkan dia menjanjikan saya untuk bisa menikmati sunset dan melihat kelelawar di Phnom Sampeu.

Dua minggu sebelum perjalanan ini.. Saya menyusun itinerary dan mulai mencari driver tuk-tuk yang bisa mengantar saya keliling kota ini. Di sebuah grup backpacker, ada seseorang yang merekomendasikan seorang driver bernama Dara. Beberapa hari kemudian, sahabat saya juga merekomendasikan orang yang sama. Ia memberikan saya nomor telepon dan alamat emailnya supaya bisa nego dan  mengatur rute. Tapi entah mengapa saya nggak tergerak menghubungi Dara. Saya malahan mikir, nanti pulang dari misa saya langsung nyegat tuk-tuk dekat Central Market saja. Pasti dekat pasar ada banyak tukang tuk-tuk kan.. *sok kepedean

Saya nggak menyangka ternyata saya malah mengalami suatu kejadian bablas sampai Poipet. Hmm.. untung juga saya nggak sempat membooking Dara, coba kalau iya, dia harus nunggu saya yang akan ngaret selama sekian jam dari prediksi semula. Pastilah saya bakalan lebih panik lagi deh…

So.. disinilah saya.. bersama Ket dan siap menjelajah Battambang dalam waktu 13 jam saja.

dscn8305
Selamat pagi.. eh.. siang, Battambang…

Banyak teman yang bercerita bahwa driver tuk-tuk Battambang sangat informatif. Mereka tak hanya menyetir tuk-tuk tapi juga sekaligus menjadi tour guide. Nah, beruntunglah saya, Ket ini tak hanya sopir tuk-tuk dan tour guide, tapi juga seorang pengatur jadwal dan teman diskusi yang berkali-kali bikin saya bergidik.. Hehehehe..

Setelah sempat mampir sejenak di gereja, Ket lalu mengantar saya ke Wat Samrong Knoung. Di gerbang Wat ini, Ket bertanya apakah saya mau masuk ke “Well of Shadows”. Ah, saya baru tahu bahwa yang namanya Wat Samrong Knoung ini memang sungguh komplek peribadatan. Selama ini saya cuma tau bahwa wat ini adalah salah satu killing field di Battambang.

Ket langsung mengantarkan saya ke depan sebuah tanah lapang dengan sebuah stupa di tengahnya. Inilah yang disebut “Well of Shadows”. Ketika saya masing terbengong-bengong menatap jendela kaca stupa yang memperlihatkan tumpukan tengkorak, Ket sudah berdiri di samping saya. Ia bercerita di tempat ini ada 10.800 orang dibunuh dan dikubur massal. Gila kan.. padahal areanya tak terlalu luas. Saya mulai merinding disko dah.

Ket lalu berkisah bahwa ia pun sempat mengalami kerja paksa pada masa Khmer Rouge. Tahun 1975, ketika Khmer Rouge mengambil alih pemerintahan Kamboja, usianya baru 5 tahun. Ia bersama anak-anak lain dipisahkan dari orang tua mereka dan dipaksa bekerja dari pagi sampai sore menggali tanah untuk dijadikan saluran irigasi, membajak tanah seperti kerbau dan sapi, juga membuat bendungan. Sebelum era Khmer Rouge, ayahnya sempat bekerja sebagai pegawai pemerintahan di pinggiran kota. Pada bulan April 1975 mereka sekeluarga dipaksa kembali ke desa mereka di Battambang. Ayah Ket sempat ditangkap bersama para pria dewasa lainnya. Tentara Khmer Rouge membariskan mereka dan memeriksa telapak tangan mereka. Pria yang tangannya halus langsung dibunuh di tempat karena dianggap “new people” : orang kaya, kaum intelektual, antek asing, musuh perjuangan. Untung saja ayahnya Ket pernah bekerja menjadi petani hingga tangannya kasar dan dia tidak jadi dibunuh. Ket dan keluarga intinya bisa bertahan dari rezim Khmer Rouge meskipun mereka sudah kurus kering dan kurang gizi. Banyak anggota keluarganya yang tak bisa bertahan karena sakit, kelaparan, dibunuh, atau menghilang entah kemana. Ket bilang ada banyak ladang pembantaian di sekitar Battambang, dan Samrong Knoung adalah salah satu yang terbesar.

dscn8364
Salah satu dari mereka kini sedang berkisah di depan saya..

Diskusi kami berikutnya betul-betul membuat saya bergidik takut. Bagaimana tidak, Ket berani sekali membicarakan tentang kebobrokan pemerintah saat ini. Ia mengkritisi Hun Sen yang dulunya adalah seorang tentara Khmer Rouge yang membelot, yang dengan bantuan Vietnam bisa merebut kembali Kamboja dari tangan Khmer Rouge. Ia sudah berkuasa lebih dari 30 tahun dan sepertinya masih betah dengan posisinya sebagai Perdana Menteri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintahannya penuh dengan intrik berdarah dan sangat korup. Ket bahkan mendengar bahwa saat ini pemerintah sengaja mendorong orang-orang muda Kamboja untuk studi dan bekerja di luar negeri, lalu pemerintah memasukkan orang-orang dari Vietnam untuk masuk ke Kamboja bahkan memberikan mereka kewarganegaraan Kamboja. Alasannya? Karena sejak dulu orang-orang Vietnam ini punya kaitan erat dengan pemerintahan saat ini, jadi kehadiran mereka bisa memberikan kemenangan bagi Hun Sen dalam pemilihan umum yang akan diselenggarakan tahun depan. Hmm, Ket bilang juga, tak hanya di Kamboja, tapi invasi Vietnam ini juga sudah menerpa Laos. Saya sih nggak tahu ya, ini hanya rumor atau memang nyata adanya. Sejak dulu Vietnam dan Kamboja memang punya sentimen tersendiri sepanjang sejarah mereka bertetangga.

Ket juga berkisah bahwa pemerintah sekarang berani memusnahkan musuh-musuh politiknya secara terbuka seperti kasus pembunuhan Kem Ley yang dilakukan di tengah kota Phnom Penh. Setiap ada pembunuhan seorang tokoh politik, pasti pelakunya tidak bisa terlacak, sementara untuk kasus pembunuhan orang biasa, pasti pelakunya bisa segera terlacak. Ket juga menyinggung nama Sam Rainsy. Menurutnya Sam Rainsy adalah sosok pemimpin yang baik, yang peduli pada rakyat. Saya langsung celingak celinguk, jangan-jangan saat ini ada sniper yang lagi membidik kepala kami.

Ada satu fakta yang diungkap oleh Ket, yang membuat saya teringat percakapan saya dengan Pak Petrus dan Pak Hakim di Warung Bali malam sebelumnya : Anak-anak Kamboja tidak diajarkan tentang sejarah bangsa mereka di masa lalu, termasuk tragedi rezim Khmer Rouge. Mereka malah belajar tentang sejarah bangsa lain seperti Cina dan Amerika. Sejarah mereka sendiri seperti “ditutupi”.

“Kenapa?”, saya bertanya.

“Karena dengan belajar sejarah, anak-anak akan tahu bahwa pemerintah sekarang terlibat dengan tragedi masa lalu, dan akibatnya mereka tidak akan mendukung lagi pemerintah yang sekarang.”, Ket menjawab saya to the point, tanpa basa basi. Lagi-lagi saya ternganga mendengar penuturan Ket yang semakin sinis itu.

Ket bertanya tentang kondisi Indonesia. Tapi tanpa saya perlu jelaskan tentang konflik agama yang sengaja digoreng untuk kepentingan politik, Ket sudah banyak tahu tentang masalah-masalah yang menimpa tanah air saya. Hmm.. Ket ini kok kayaknya cocok jadi jurnalis deh.. Dia bukan tukang tuk-tuk biasa. Cara bicaranya pun menunjukkan intelektualitas yang “lebih”. Ah.. saya jadi tambah merinding..

Sebelum saya menaiki tuk-tuknya untuk meninggalkan wat ini, saya minta izin pada Ket untuk mengajukan satu pertanyaan. Saya bahkan sampai minta maaf dulu atas kelancangan saya mengajukan pertanyaan ini :

“Ket, have you forgiven the Khmer Rouge?”

Ket menatap saya nanar, lalu berkata dengan tegas :

“Never!”

Rasanya dengkul saya lemas mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Ket itu. Ket lalu meminta pengertian saya. Ia tak bisa memaafkan Khmer Rouge karena Khmer Rouge masih ada, masih berkuasa di negerinya, masih membuat ia dan sekian juta saudaranya di Kamboja menderita. Jadi jelas mengapa ia tak pernah bisa memaafkan Khmer Rouge.

Saya berterima kasih karena ia bersedia menjawab pertanyaan saya. Inilah pertama kalinya saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan itu. Ada banyak teman Kamboja di facebook saya, dan dalam tiga kali perjalanan ke Kamboja saya sudah banyak berinteraksi dengan orang-orang asli sini. Tapi saya tak pernah berani bertanya, saya takut pertanyaan itu malah membuka luka mereka. Kali ini saya berani bertanya pada Ket karena Ket sudah terlebih dulu membuka masa lalunya pada saya, meski jawaban yang saya terima sama sekali diluar ekspektasi saya.

Tak jauh dari Wat Samrong Knoung ada seorang ibu penjual Kralan bamboo sticky rice (ketan di dalam bambu). Ketan dicampur dengan kacang merah, nangka, potongan kelapa, gula, dan santan kelapa, dimasukkan ke dalam bambu lalu dibakar selama satu hingga dua jam dengan kayu bakar. Harganya berkisar antara 1000 hingga 3000 Khmer Riel tergantung ukurannya. Ket memberikan saya bambu besar, jadi saya benar-benar kekenyangan makan kralan. Hehehe. Dia bilang saya kan belum sarapan jadi harus makan banyak, apalagi perjalanan kita masih sangat panjang. Ket mengajarkan saya trik mengupas bambu kralan, jadi bambunya ditekan-tekan dulu hingga retak, lalu dikupas seperti mengupas pisang. Kayaknya sih simple yeh, padahal mengupas bambu itu perlu energi loh..

dscn8375
Kralan.. Maknyus…

Kralan berhasil mencairkan suasana tegang kami di Samrong Knoung tadi, meskipun sambil makan Ket bercerita berapa banyak area Kamboja yang dicaplok oleh Thailand dan Vietnam selama bertahun-tahun. Ah, lagi-lagi saya mendengar kisah miris tentang negeri ini. Dalam hati saya bersyukur bahwa Preah Vihear telah ditetapkan oleh Mahkamah Internasional menjadi milik Kamboja pada tahun 2013 yang lalu, setelah menjadi area konflik antara Thailand dan Kamboja selama puluhan tahun.. *Suatu hari nanti aku akan kesana.. Tunggu aku yaa…*

dscn8374
Kursus mengupas kralan ala Ket

Saat makan kralan, saya sempat terlonjak kaget gara-gara petasan yang diledakkan anak-anak di seberang jalan. Jadilah saya ditertawakan oleh anak-anak kecil itu dan juga oleh si ibu penjual kralan. Hahahaha.. Kalian tuh yah.. Ket lalu memberi tahu saya bahwa saat itu adalah musim pernikahan di Kamboja. Jadi kemanapun kita pergi pasti akan ada banyak tenda kawinan. Oh… oke.. semoga saya segera ketularan oleh pasangan-pasangan itu yah.. hehehe..

Ket betul-betul time keeper yang oke banget, setiap singgah di suatu tempat dia selalu mengingatkan jam berapa saya harus keluar supaya bisa mengejar target yang masih tersisa. Oh ya,, kalau keliling kota pakai tuk-tuk jangan melihat prediksi waktu tempuh dari google maps yak.. Secara tuk-tuk nggak bisa ngebut kayak mobil.. hehehe.. Bisa sih ngebut, tapi penuh resiko.. Bisa-bisa tuh tuk-tuk rontok kalau dipacu dengan kecepatan lebih dari 40 km/ jam.

Dalam perjalanan menuju Wat Ek Phnom, Ket mengajak saya singgah juga di sebuah rumah yang memproduksi rice paper. Ket kenal dengan keluarga pemiliknya, dan saya diajak untuk melihat bagaimana kedua gadis di rumah itu membuat rice paper dengan gesitnya. Katanya mereka bisa menghasilkan sekitar 2000 lembar rice paper seharinya, tergantung juga dengan cuacanya karena rice paper ini harus dijemur di bawah terik matahari. Menurut mbah google, rice paper ini dipakai untuk membuat spring roll (lumpia), jadi pikiran saya rice paper ini mirip dengan kulit lumpia sini yang lepek itu. Eh.. ternyata beda denk… rice paper Kamboja ini keras, malah mirip opak mentah. Lah, terus gimana caranya rice paper yang sekaku itu bisa buat membungkus isi lumpia?!?!?!

dscn8378
Seru…
dscn8379
Siap jemur…

Jawabannya saya temukan juga di mbah google : rice papernya direndem dulu pakai air hangat selama 1 menit, jadi lepek gitu lho.. Baru setelah itu bisa dipakai membungkus deh.. *ilmu baru.

dscn8382
Ini jadinyaa… *udah digigit separo..

Ket menyuruh saya mencomot satu rice paper yang sudah kering untuk dimakan. Rasanya? Kayak makan kerupuk mentah tapi ada asin-asinnya gitu. Hahahahaa…

Karena saya masih punya cukup waktu, setelah turun dari Wat Banan, Ket menyuruh saya makan dulu (makan siang yang sudah sangat terlambat.. Ya iyalah wong udah jam 3 sore). Sambil menemani saya makan, Ket bertanya bagaimana pendapat saya tentang Battambang dan tentang Kamboja. Saya bilang saya sangat cinta dengan Kamboja. Moga-moga pemilu tahun depan berjalan aman sehingga saya bisa kembali lagi kesini karena masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi.

Ket lalu bilang bahwa saya sangat beruntung. Bisa travelling ke luar negeri. Ia ingin sekali ke Indonesia tapi rasa-rasanya itu tidak mungkin. Baginya yang seorang driver tuk-tuk, peak time turisme di Kamboja hanya dari bulan Desember hingga Februari saja. Setelah itu Kamboja akan menjadi sepi turis (mungkin pengecualian bagi Phnom Penh dan Siem Reap ya) dan berarti penghasilannya akan menurun dengan drastis. Saya tanya mengapa Ket tak mencoba bekerja di perusahaan. Ket bilang basic pendidikannya tak terlalu tinggi, jadi ia tak akan bisa diterima dimana-mana, selain itu gaji bagi karyawan baru juga sangat rendah di Kamboja. Hmm.. Tapi dia optimis dan berharap pemilu tahun depan bisa membawanya dan bangsanya ke arah yang lebih baik. Amin.. 

Tepat pukul 19.30, kami tiba di depan Chhaya Hotel, tepat sesuai prediksi Ket tadi pagi saat melihat wish list saya. “Are you oke?”, tanya Ket saat melihat saya. Saya ketawa dan bilang saya sangat oke dan puas bisa berkeliling Battambang. Lalu gantian dia yang mengeluh sakit pinggang.. Hahaha.. maaf ya Ket.. Setelah saya hitung, ternyata Ket dan tuk-tuknya sudah saya forsir bekerja selama hampir 10 jam.. *berasa jadi tukang siksa deh ah…

dscn8877
Terima kasih, Ket…

Terima kasih ya, Ket.. Sungguh ini pengalaman yang sangat luar biasa. Saya mendapatkan banyak kisah seru tentang negeri ini..   Bahkan saking serunya saya jadi parno sendiri, jangan-jangan saya bakalan dicegat intel pemerintah nih gara-gara ngobrolin Bang Hun Sen.. *mulai celingak celinguk lagi…

Advertisements

2 thoughts on “A Day With Ket

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s