My Journey...

I Am In Berau : 20 Jam di Tanjung Redeb

Jumat, 17 Maret 2017

Hutanku..

Biasanya “Merpati tak pernah ingkar janji”, namun kali ini Garudalah yang tak ingkar janji. Sesuai schedule yang ditentukan, bahkan lebih cepat beberapa menit dari pukul 10.05 WITA, saya sudah berdiri dengan manis di lobby kedatangan Bandara Kalimarau, Berau. 

Sambil menunggu bagasi keluar, saya sempat memotret poster ini di bandara. Hmm, tulisannya I 4M in Berau, apa maksudnya? Apakah bisa dibaca sebagai “I Am in Berau”? Oke, anggap saja begitu.

“Selamat datang di Berau, selamat berjuang, jangan malu-maluin yah..”, saya ucapkan pada diri saya sendiri. Saya akan menempuh perjalanan selama empat hari mulai dari Tanjung Redeb, Tanjung Selor, dan akhirnya Tarakan untuk mengunjungi para legioner di Keukupan Tanjung Selor. Meski sendiri, namun saya merasa sangat excited dengan perjalanan ini. Ini adalah untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, dan akhirnya saya bisa meninggalkan jejak saya di tempat-tempat yang selama ini hanya saya kenal lewat cerita. 

Tak sampai lima menit, bagasi sudah mulai meluncur melalui conveyor belt. Saya menyingsingkan lengan baju bersiap-siap mengangkat bagasi saya yang sebesar kerbau (itu istilah sahabat saya ketika saya kirimkan foto tumpukan bagasi saya). Satu peti kayu berisi empat patung Bunda Maria dengan berat 12 kg, satu travel bag ukuran jumbo dengan berat 16 kg berisi buku-buku dan tetek bengek lainnya, satu ransel yang entah berapa beratnya, dan satu paper bag overload yang ditata sedemikian rupa supaya bisa menampung semaksimal mungkin.

Masih lebih kecil dari kerbau kok…

Finally, done. Barang-barang itu sudah tersusun manis di atas trolley dan saya segera meluncur keluar menunggu tim penjemput dari legioner Berau yang entah mengapa tak menjawab whatsapp saya dari tadi.

Sebuah lambaian dari seorang ibu cantik menyadarkan saya bahwa dia inilah Bu Ita yang saya tunggu sejak tadi. Tapi dia tak sendiri, ada tiga pria dan satu wanita yang menyertainya. Dengan baik hati mereka semua mengangkat muatan saya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Karena ketambahan satu penumpang, alhasil mobil Suzuki Freed disesaki kami berenam. Saya sih nikmat saja duduk di depan, tapi di deretan tengah ada empat orang yang berdesakan.. namun penuh keceriaan. Ah,  keceriaan yang membuat saya merasa tenang berada di tengah lima orang asing ini. 

Pria yang menyetir mobil ini sejak tadi diam saja. Sambil basa basi saya bertanya padanya, “Habis hujan ya, Pak?” dan dia pun menjawab singkat saja. Tak lama kemudian para penumpang di belakang memberi tahu saya bahwa yang menyetir itu bukan “seorang bapak biasa”, dia adalah seorang Pastor. Halahh… rasanya pengen hilang seketika. Tapi Pastor Agus malah bercanda dan saya gak jadi menghilang.. Hahaha.. Kejutannya tak berhenti disitu, seorang pria muda yang ikut nyempil di jok belakang itu ternyata seorang Frater.. Jiaaahh… kalian tuh yaaah.. *langsung jaim berat.

Sungai Segah

Kami lalu mampir ke rumah Ibu Ita untuk meletakkan barang bawaan saya yang makan tempat dan membebani si Freed. Lalu sebagai welcome party, kami minum es kelapa dan dilanjutkan dengan makan soto Banjar Pak Husni di tepi sungai Segah. Biasanya saya kurang suka makan soto, tapi untuk yang satu ini saya bilang MAKNYUS!! Soto Banjar dilengkapi dengan bihun dan tak lupa potongan lontong, kentang, dan rebusan telur. Jangan lupa memberikan perasan jeruk limau. Beuh.. pengen nambah deh ah.. Tapi malu.. hahahaha

Setelah kenyang, kami lalu mengantar Pastor dan Frater ke gereja St. Eugenius de Mazenod Tanjung Redeb sambil mengecek persiapan aula untuk acara pertemuan Legioner sore nanti.

Gereja tua ini katanya tak lama lagi akan diganti dengan gereja baru yang lebih besar dan lebih megah. Entah apakah akan dirobohkan atau tetap dipertahankan keberadaannya. Hmm, sebetulnya sayang sekali jika gereja tua ini dilenyapkan begitu saja. Sejak tahun 1979 gereja tua inilah yang menjadi saksi pertumbuhan umat Katolik di Tanjung Redeb. 

Gereja St. Eugenius de Mazenod

Bakal Gereja Baru

Lalu saya dan Bu Ita pulang ke rumah beliau untuk merem sejenak. Benar-benar sejenak.. dan saya kaget banget waktu alarm berbunyi.. bahkan sampai lompat dari ranjang.

Pertemuan legioner se-Tanjung Redeb dihadiri oleh sekitar 40 orang. Meskipun seluruhnya adalah wajah-wajah asing dan saya tiba-tiba disuruh memberi sepatah dua patah kata, namun berada di tengah mereka rasanya sangat istimewa. 

Saya tak akan lupa dengan berkas sinar matahari yang menerangi aula pertemuan kami, juga dengan singkong rebus dan singkong goreng yang dimakan dengan sambal kacang khas NTT, juga dengan urap daun singkong dan teri. Makanan yang sangat sederhana namun sangaaaat nikmat. Entah berapa kali piring saya diisi ulang. Kata Bu Ita, rahasia kelezatan sambalnya terletak pada ebi khas Berau. Yah.. kalau begini sih susah banget bahannya..

Waktu sudah menunjukkan jam enam kurang sedikit, kami pun bergegas menuju gereja untuk mengikuti ibadat jalan salib. Sebelum mulai jalan salib, saya berjumpa dengan Pastor Anggras yang ternyata pernah studi di seminari menengah Stella Maris Bogor dan kenal dengan beberapa Pastor di paroki saya. Jiah.. dunia sempit khan.. 

Ternyata petang itu ibadat jalan salibnya puanjang sekaleee, hingga salah satu misdinar semaput.. hehehe, ternyata tak hanya hari ini saja ibadat jalan salib panjang itu “memakan korban”. Dua minggu sebelumnya beberapa umat juga terkulai lemas karenanya.

Kami baru menyelesaikan ibadat pada pukul 19.30 lalu dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Syukurlah Pastor Agus tak memberikan khotbah lagi.. hehehe. Kata beliau, “Saya lihat muka kalian sudah jelek semua, jadi tak usahlah saya kasih renungan lagi..”

Ternyata perjalanan saya malam itu belum selesai. Usai ibadat jalan salib dan misa, Bu Ita mengajak saya nongkrong di tepi Sungai Segah. Tak hanya kami berdua, tapi juga Pastor Agus, Pastor Anggras, dan Frater Bernard. Kami makan ikan rebus di sebuah warung tenda lalu menuju ke tepi sungai menikmati live music sambil minum sarabba (susu jahe). Kami ikutan bernyanyi mengikuti irama, hingga pada lagu terakhir yang membuat saya tertegun : 

“Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan. Setelah aku jauh berjalan dan kau kutinggalkan. Betapa hatiku bersedih mengenang kasih dan sayangmu, seturut pesanmu kepadaku, engkau kan menunggu.”

Lagu itu bagai menyuarakan isi hati saya malam itu. Esok pagi saya sudah harus pergi ke Tanjung Selor. Waktu saya di Tanjung Redeb ini ya hanya malam ini hingga esok subuh. Padahal Tanjung Redeb menawarkan keindahan lautnya. Padahal Derawan dan Kakaban belum sempat saya jelajahi. Padahal saya belum kenal dengan banyak orang di tempat ini. Padahal saya belum puas.. Padahal saya masih betah.. Padahal.. Padahal.. 

Langit malam itu penuh dengan bintang, menunjukkan luasnya yang tanpa batas. Tak bosan kupandangi langit mencoba mengidentifikasi rasi bintang yang terpampang di hadapanku..

Bu Ita tiba-tiba ingat bahwa ini hari Jumat, jadi masih ada perahu ketinting yang bisa membawa kami menyeberangi Sungai Segah. Walah.. menyeberang sungai saat gelap begitu. Hmm.. hmm.. Tapi.. marilah kita menyeberang.. Kapan lagi kan?!

Dan benar.. masih ada ketinting yang akan lewat.. haha.. Tapi saya heran, setiap saya menjejakkan kaki pada ketinting, perahunya langsung oleng. Sumpah.. malu-maluin. Sangking paniknya, saya terpaksa menghentikan langkah dan duduk di tengah-tengah dengan arah yang berbeda supaya ketintingnya berhenti bergoyang. Konyol sangad…  

Mungkin tak akan terulang lagi dalam hidup saya, naik ketinting malam hari saat permukaan sungai seluruhnya berwarna hitam, ditemani seorang ibu, dua pastor, dan satu frater. Amazing deh… Saya tak akan pernah melupakan pengalaman ini seperti saya juga tak akan lupa langit berbintang dan bulan separuh yang malu-malu menutupi dirinya dengan awan.

Teryata ketinting itu membawa kami ke dekat Keraton Islam Gunung Tabur. Sayangnya karena kemalaman kami tak bisa masuk keraton, pasar malam di jalan depan keraton pun sudah tutup, panggung hiburan di halamannya sudah bubar. Tapi ya.. setidaknya kami masih bisa foto-foto deh.. hehee.. Teuteup..

Keraton Gunung Tabur

Ketika kami hendak menyeberang balik, kejadian ketinting oleng itu terulang lagi.. haduh.. beneran deh.. Malu-maluin… Untung aja kedodolan saya itu ngga menceburkan kami berlima ke dalam sungai. 

Penyeberangan pulang ini terasa lebih mistis karena diiringi musik instrumental dari Kitaro yang entah berasal dari mana. Saat perahu kami merapat barulah kami sadar suara itu dari hape Pastor Anggras.. 

Hebatnya.. yang punya hape malah ngga ngerasa.. hihihi…

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 23.00 WITA, namun petualangan kami belum berakhir. Kali ini kami berupaya mencari ebi Berau buat saya bawa pulang ke Bogor. Walaaaah…

Kami berputar di dalam kota dan tak ada toko yang masih buka (ya iyalah.. wong dah malem banget..). Mereka semua lalu mengambil keputusan yang ekstrim : menuju  pasar induk Berau yang jaraknya sekitar 9 km dari pusat kota. Ya ampyunn.. kalian baik sekalii… 

Pasar induk ini konon ditetapkan sebagai pasar terbaik se-Indonesia karena kerapihan dan kebersihannya. Meskipun judulnya pasar induk, namun penataannya sudah seperti pasar modern. Maka pemerintah Tanjung Redeb berkomitmen tidak akan membangun mal supaya pasar ini tetap hidup. 

Ternyata oh ternyata.. Pasar induknya sudah tutup (eh, apa belum buka ya?) yang ada pedagang biasa yang menghampar sayur di halaman belakang pasar. Yah.. maafkan daku yaa…

Menjelang jam 12 malam barulah kami kembali ke kota, mengantar para pastor dan frater. Bagi saya dan Bu Ita malam itu belum berakhir. Kami masih harus membongkar peti kayu berisi patung Bunda Maria. Kenapa? Karena keesokan paginya kami akan berangkat ke Tanjung Selor naik mobil Pastor yang akan diisi full penumpang. Jadi, tak akan ada ruang yang cukup untuk peti itu. So, malam itu kami berdua dengan hanya bermodalkan kunci Inggris (iya.. kunci Inggris dan bukan linggis) berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan empat patung itu dari petinya. 

Selamat malam Tanjung Redeb.. Hanya tinggal hitungan beberapa jam saja waktuku bersamamu..


Sabtu, 18 Maret 2017

Alarm saya berbunyi pukul 04.30. Pastor Agus akan menjemput saya di rumah Bu Ita pukul 05.30. Kepala saya terasa berat dan masih ingin tidur. Tapi saya memaksa diri untuk turun mandi dan bersiap-siap. Bu Ita sudah membelikan sarapan nasi kuning hangat yang nikmat sekali. Beda banget dengan nasi kuning di Jawa. Entah apa ya yang membedakan? Mungkin karena pakai serundeng? 

Pukul 05.45 mobil Pastor datang menjemput, kami sibuk menata bagasi. Dan betul saja, setelah dibongkarpun barang-barang yang saya bawa tak cukup masuk bagasi, alhasil kami kebagian memangku apapun yang bisa kami pangku. Delapan orang dalam mobil Toyota Rush, ditambah barang-barang sebanyak itu. Ah.. semoga mobil pastor tak kenapa-napa. 

Di satu tepi jalan besar kami menunggu seorang kawan yang menyusul dengan motornya. Saat tengah menunggu itulah, Pastor mengambil sebuah gantungan manik-manik yang selama ini tergantung manis di kaca spionnya. Ternyata itu adalah sebuah kalung. Beliau mendapatkannya ketika pertama kali berkunjung ke stasi. Ooh, jadi kalung itu adalah kalung untuk menyambut tamu. 

Tapi saya sangat terkejut ketika Pastor Agus mengalungkannya ke leher saya. Saya sempat ingin mengembalikannya karena itu kan diberikan untuk beliau, tapi beliau bilang itu untuk saya sebagai ucapan selamat datang di Berau. Aduuhhhh.. saya terharuuu.. 

Kalung itu cantik sekali.. Pastor menyuruh saya memakainya saat pertemuan di Tanjung Selor nanti. Hahaa.. nggak lah.. bisa-bisa semua orang memandang saya dengan aneh. Lagipula saya ingin menyimpan kalung itu di tempat seaman mungkin.. Takut putus seperti ramiang saya.

Perjalanan menuju Tanjung Selor kami lalui dalam waktu tiga jam. Mendaki gunung, melewati lembah, menembus kabut pagi. Jalannya berbelok-belok khas jalan menuju pegunungan. Jalan ini diapit oleh tebing warna hitam. Itulah batu bara muda. Batu bara inilah yang menyebabkan suasana di Tanjung Redeb terasa puanasss… 

Kadang di tengah jalan kami menemukan jebakan : lubang besar. Untung saja Pastor Agus menyetir dengan sigap dan jago memilih jalan. Ada beberapa bagian jalan yang longsor dan sempat pula kami harus melewati jembatan darurat karena jembatan yang aslinya runtuh akibat longsor.

Hanya Tuhan.. dan Pastor Agus yang tahu..

Perjalanan itu memakan korban : ibu-ibu yang duduk di baris tengah mabuk semua. Ketika kami singgah sejenak untuk sarapan menjelang perbatasan provinsi, ada satu ibu yang sudah lunglai. Lewat batas propinsi, dua ibu yang lain mengeluarkan bunyi-bunyian pertanda isi perut yang mendesak dikeluarkan. 

Batas Provinsi

Jalanan antar provinsi yang kami lalui bagaikan peta buta. Tak ada petunjuk arah, tak ada pal penunjuk jarak ke kota terdekat. Hanya Tuhan dan Pastor Agus yang tahu kemana dan berapa lama lagi kami akan tiba di Tanjung Selor.Untung saja mobil Pastor full music, mulai dari music pop Indonesia sampai lagu berbahasa Ambon yang ditranslate khusus buat kami oleh Pastor.

Sepanjang jalan Pastor bercerita tentang banyak hal. Tentang dua petani miskin yang dipenjara karena membuka ladang dengan membakar. Padahal itulah cara mereka untuk membuka lahan urun menurun. Masalahnya perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan musim pembukaan ladang itu dengan ikut membakar hutan. Mengapa? Karena murah, mudah, dan cepat. Banyak petani yang datang bertanya kepada Pastor mengenai apakah mereka boleh membakar untuk membuka lahan? Pastor bertanya balik, “Apakah ada yang memberi kalian beras untuk makan jika kalian tidak buka lahan?”

Jadi kehadiran perkebunan sawit memang bagai pedang bermata dua. Di satu sisi mereka membuka lapangan kerja bagi masyarakat, membuka akses jalan, memberikan sarana-sarana pendidikan. Tapi sawit juga merusak alam dan membawa efek negatif bagi kehidupan sosial. 

Setelah perjalanan yang panjang dan tampak tak berujung, akhirnya Pastor Agus bilang, ” Lima belas menit lagi kita sampai”. Nah..benarkan hanya Tuhan dan Pastor yang tahu..hehe

Selamat tinggal Tanjung Redeb.. Selamat datang di Tanjung Selor.

Advertisements

1 thought on “I Am In Berau : 20 Jam di Tanjung Redeb”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s