Bertumbuhlah Di Tempat Kau Ditanam : 28 Jam di Tanjung Selor

18 Maret 2017 

Tanjung Selor adalah ibukota Kalimantan Utara, sekaligus ibukota Kabupaten Bulungan. Hmm, bukan Bulungan yang di Blok M itu lho ya.. 

Ekspektasi saya tentang Tanjung Selor sebagai ibukota provinsi yang (seharusnya) punya sarana transportasi jempolan sudah bubar jalan sejak saya hendak booking tiket untuk perjalanan ini. Jumlah dan pilihan penerbangan dari dan ke Tanjung Selor ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan ke Berau atau Tarakan. Hmm, untung saja rute perjalanan saya bisa disesuaikan dengan kondisi tersebut atas bantuan berbagai pihak. 

Saya mencapai Tanjung Selor setelah menempuh perjalanan darat selama lebih dari tiga jam bersama Pastor Agus dan para legioner dari Tanjung Redeb. Kami terlambat sekian menit untuk sesi pertama acara pagi itu yang dimulai pada pukul 9 di Rumah Bina milik Keuskupan Tanjung Selor, dan saya masih mengantuk akibat kurang tidur semalam sebelumya.

Singkat cerita.. hehe.. Acara rekoleksi dan rapat akhirnya selesai sekitar pukul 4 sore. Rombongan dari Tanjung Redeb sudah pulang dan rombongan dari Tanjung Selor pun satu persatu meninggalkan tempat acara. Akhirnya saya betul-betul sendirian di rumah keuskupan itu dan mulai mati gaya. Setelah ganti baju dan cuci muka, saya akhirnya duduk di tangga depan menunggu Pastor Steph yang hendak mengajak saya jalan-jalan.

Namun yang muncul bukannya Pastor Steph, melainkan para seminaris yang akan rekoleksi di rumah keuskupan ini juga. Para seminaris yang ramah didampingi oleh seorang Pastor yang tak kalah ramahnya. Ah, setidaknya malam ini saya tidak akan kesepian sendiri di rumah ini. Setelah mereka masuk, sayapun kembali sendirian duduk di tangga depan. 

Menjelang pukul 5, akhirnya Pastor Steph datang dengan membawa mobil plat merah.. Nah, jadilah untuk pertama kalinya saya menikmati perjalanan naik mobil pemerintahan yang dikendarai seorang Pastor. Ternyata, pihak keuskupan Tanjung Selor mendapat izin untuk kendaraan dinas dari pemerintah daerah selama 5 tahun dengan menanggung sendiri biaya operasionalnya. Pemerintah meminjamkan dua mobil, satu untuk operasional di keuskupan, sedangkan yang satu adalah untuk operasional di paroki Katedral. 

Beliau lalu mengajak saya ke daerah yang disebut sebagai pusat kota Tanjung Selor yakni tepian Sungai Kayan dan membawa saya mengintip pelabuhan speed boat menuju Tarakan. Sepanjang perjalanan Pastor banyak bercerita tentang kota ini. 

Tugu Cinta Damai.. Sayang tak sempat berfoto di depan tulisan “Tanjung Selor”

Tanjung Selor, meskipun berstatus ibukota provinsi namun secara fasilitas masih kalah jika dibandingkan dengan Tarakan. Memang sih.. sudah ada banyak perbaikan sejak provinsi Kalimantan Utara dibentuk. Kondisi jalan raya sudah baik, pom bensin yang tadinya hanya satu kini ditambah satu menjadi dua (dan saya sangat kaget mendengarnya… Wow banget kan di ibukota provinsi hanya ada dua pombensin), lalu sarana pendidikan pun sudah banyak bertambah.

Pastor bercerita tentang pengalaman buruknya beberapa tahun yang lalu saat menempuh perjalanan menuju Tanjung Redeb. Ketika itu, Pastor bersama dua rekannya terpaksa menginap di tengah jalan gelap karena jalur Tanjung Selor-Tanjung Redeb macet parah gara-gara ada truk yang kecelakaan. Semua ransum sudah habis tanpa ada kejelasan kapan mereka bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya mereka terpaksa membeli pop mie mini di warung terdekat dengan harga LIMA PULUH RIBU RUPIAH (kali ini saya benar-benar berteriak kaget). Ajegile… aji mumpung banget yah. Bahkan ketika itu ada bayi yang meninggal karena ibunya tidak makan sehingga air susunya tidak keluar. 

Sebelumnya, pada saat rekoleksi Pastor pun sempat bercerita, suatu pagi beliau hendak pergi ke Tanjung Redeb dan hujan turun dengan lebat, daun-daun terlihat menutupi jalan dan menurut pengalaman, biasanya akan ada pohon tumbang di jalan trans Kalimantan. Jadilah beliau membawa parang di mobilnya. Benar saja, beliau menemui antrian panjang kendaraan. Setelah dicari tahu, penyebabnya adalah pohon roboh. Beliau menggedor kendaraan-kendaraan yang mengantri di belakang pohon itu untuk minta bantuan mereka memotong batang pohon tersebut. Ah,, ternyata mereka semua membawa parang di kendaraan masing-masing. Tapi MEREKA TAK PUNYA INISIATIF untuk mulai memotong pohon itu, padahal jelas pohon itu tak akan punya inisiatif untuk menyingkir sendiri dari jalanan.

Oke.. mari kita kembali ke Tanjung Selor..

Tepi sungai Kayan petang itu sangat istimewa. Matahari terbenam dengan cantiknya bagai dipeluk oleh lebatnya pepohonan di seberang kami. Pantulan warna langit tergambarkan dengan jelas di permukaan sungai. Ah, sempurna sekali petang ini.


Kami lalu bercakap-cakap di bawah tugu Cinta Damai. Pastor bercerita tentang keluarga dan masa kecilnya di Lampung, bagaimana orang tuanya sangat demokratis dan memberikan kebebasan bagi anak-anaknya untuk memillih iman mereka sendiri. Saya kagum sekali dengan cara pandang ayah beliau yang sangat terbuka pada masanya. Ayah beliau berkata meskipun anak-anaknya memilih agama yang sama dengannya, tak ada jaminan bagi beliau untuk  masuk surga. Andai saja semua orang seperti ayah beliau yang begitu demokratis dan terbuka, pasti dunia ini damai yah? Urusan iman adalah urusan kita dengan Sang Pencipta, bukan?

Cinta Dama(i)?

Pastor pun bercerita tentang prosesnya menjadi seorang Katolik : menjadi katekumen selama 3 tahun sebelum akhirnya dibaptis, menjadi legioner junior di Pringsewu, memilih masuk seminari meskipun ditolak oleh sang kakak. Dengan tekadnya yang bulat, beliau bisa membuktikan bahwa beliau mampu menjaga komitmen atas apa yang telah dipilihnya. 

Ketika mentari sudah terbenam, kami akhirnya beranjak menuju Katedral Maria Assumpta untuk menyalakan lampu. Seorang pastor di daerah harus siap mengurus segalanya, mulai dari garam dapur (urusan rumah tangga) hingga ke roti anggur. Bahkan untuk menyalakan lampu saja harus pastor.. Wah..wah..

Altar Katedral Maria Assumpta Tanjung Selor

Tak hanya itu, pastor juga merangkap driver dan tukang antar jemput. Bahkan dalam kondisi terpaksa, pastor bisa lebih preman dari seorang preman.. Hehehe.. Ketika bertugas di Tarakan, beliau mengurus pass bandara dan pelabuhan supaya bisa masuk ke ruang check in dan boarding (bahkan pernah sampai ke apron) agar bisa leluasa mengantar dan menjemput Bapa Uskup dan tamu-tamu keuskupan. Maka beliau bisa bergaul sangat dekat dengan para portir di bandara dan pelabuhan, bahkan bisa sangat galak kepada portir yang suka memalak tamu. 

Ada satu pengalaman beliau yang membuat saya merinding mendengarnya. Suatu malam sepulang dari stasi, ada seorang preman yang menggedor kaca mobil pastor. Kala itu pastor tak membawa si mobil putih plat merah. Preman itu minta uang dan minta minuman, namun pastor tak mau memberi. Ia lalu mengancam Pastor. Dia tak tahu bahwa Pastor Steph punya senjata rahasia : sangkur di bawah jok sopir. Jadilah posisinya kemudian berbalik, pastor yang balik mengancam si preman dengan sangkur  : “Ingat mobil ini!! Awas kalau kamu berani macam-macam lagi dengan mobil ini. Mati kamu!!”  Gileee beneeer… Salut sekali dengan Pastor satu ini.. 

Karya pelayanan Keuskupan Tanjung Selor berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia. Ketika ditugaskan di daerah perbatasan pulau Sebatik, Pastor Steph miris sekali merasakan wilayah Indonesia yang gelap gulita sambil menyaksikan wilayah Malaysia yang terang benderang. Seperti berada di garis batas yang memisahkan langit dan bumi. Banyak penduduk Indonesia yang tak punya KTP, tapi punya ID Card Malaysia. Lho kok bisaaaa…. *disitu kadang saya merasa sedih..

Menurut saya, Pastor Steph ini adalah salah satu Pastor anti mainstream. Lahir dan tumbuh di Lampung, melanjutkan seminari menengah di Palembang, lalu seminari tinggi di Yogyakarta, tapi kok mau ya menjadi imam diosesan di Tanjung Selor yang notabene memiliki medan tugas yang berat? Karena penasaran, saya memberanikan diri bertanya pada beliau. Jawabannya makjleb :

“Bertumbuhlah dimana kamu ditanam. Saat kamu sudah memutuskan untuk melayani umat di tempat yang terpencil, bertumbuhlah disitu, nikmatilah pilihan itu, dan jangan membayangkan kehidupan di kota yang serba enak. Jangan sampai tubuhmu ada di Tanjung Selor, tapi hati dan pikiranmu ada di Jakarta. Itulah yang bikin hidup tidak bahagia.”

Pesan ini selalu saya ingat hingga hari ini, apalagi pada hari-hari pertama setelah pulang dari Tanjung Selor, dimana badan saya ada di Cilegon tapi hati saya tertinggal di Borneo sana.. 

Sisa petang itu kami habiskan dengan makan ikan kakap bakar di sebuah warung di tepi Sungai Kayan. Nikmat sekali.. Terima kasih ya, Pastor Steph..

Menjelang pukul 19.30, Pastor mengantarkan saya kembali ke rumah keuskupan karena saya punya janji bertemu dengan Pastor Alex, Vikjen Keuskupan Tanjung Selor. 

Kami pun lalu menyusun jadwal untuk keesokan harinya. Pastor Steph akan berangkat jam 8 dari Katedral, menjemput saya di keuskupan, lalu beliau akan menurunkan saya di stasi Jelarai. Beliau akan menjemput saya lagi pada pukul 11 dan mengantar saya ke pelabuhan speedboat. Siap Pastor..

Malam itu begitu hening. Para seminaris tak ada di rumah karena sedang gladi resik untuk tugas koor misa Minggu di Katedral. Hanya suara jangkrik dan tonggeret yang mengiringi perjalanan saya ke alam tidur.

19 Maret 2017

Saya terbangun oleh suara merdu para seminaris. Ah, mereka sedang latihan terakhir sebelum tugas di Katedral. Kadang nyanyian mereka dihentikan ketika pelatihnya mendengar ada nada-nada yang salah. Tetes air hujan disertai suara jangkrik membuat pagi itu begitu sempurna.. Duh, sepertinya saya mulai betah tinggal disini. What a perfect morning..

Malam sebelumnya saya berjanji pada Pastor Alex untuk ikut misa di kapel keuskupan pada pukul 07.00. Saya masih optimis waktunya bisa pas dengan jadwal Pastor Steph. Saya pun mengabari Pastor Steph lewat whatsapp bahwa saya akan ikut misa pagi dulu di kapel.

Masalah muncul setelah whatsapp itu terkirim : kuota internet habis, pulsa saya pun habis. Tak ada sisa serupiah pun. Wah kacau. Mana tak ada koneksi wifi pula.. panik berat… Pukul 08.10 misa selesai dan saya langsung pamitan ke Pastor Alex. Saya berlari turun ke halaman dan tak menemukan mobil Pastor Steph. Saya mencoba menenangkan diri, hmm.. mungkin pastor Steph belum tiba. Estimasi saya, jarak 7 km dari Katedral ke Keuskupan tak akan bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 15 menit, jadi mungkin.. mungkin.. pastor Steph belum tiba. Tapi setelah jarum jam menunjukkan pukul 08.20 saya jadi yakin Pastor Steph sudah lewat.

Setengah berlari saya menuju ke jalan raya, mencari tukang pulsa. Duh, di tempat sesepi ini apakah ada yang jual pulsa ya? Setelah bertanya kesana kemari, dan diingatkan pula bahwa “pulsanya tak bisa cepat masuk”, akhirnya saya menemukan tukang pulsa. Dan puji Tuhan, pulsanya langsung masuk saat itu juga. Dengan gemetar saya menelepon Pastor Steph.. Benarlah beliau sudah lewat.. Waduh.. matilah awak.. kaki ini lemas jadinya…

Yang lebih bikin stress lagi, beliau menyuruh saya mencari Pastor Alex untuk minta diantar ke stasi. Haduh… padahal tadi udah pede banget pamitan.. Maluuuu… tapi mau bagaimana lagi dong!?!

Setelah menimbang, memutuskan, meruntuhkan ego, menebalkan muka, dan menguatkan hati, saya pun mencari Pastor Alex yang sedang makan pagi bersama para suster KSSY dan anak-anak panti. Beliau terkejut melihat saya yang masih nyangkut belum berangkat ke stasi. Nggak dimarahin sih, malah diketawain ramai-ramai. Terus malah disuruh sarapan (lagi) deh. Sebelum saya sempat meminta, beliau sudah langsung menawarkan untuk mengantar saya ke stasi.. Aduh.. maafkan daku Pastor.. Pastor baik sekali..

Jadilah saya diantar oleh Pastor Alex dan anak-anak panti ke stasi Jelarai yang sebetulnya hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari keuskupan. Saya duduk di depan memangku seorang anak yang anteng banget.. Pada saat sarapan, seorang suster menemukan celana anak ini basah padahal sudah pakai pampers. Jadilah suster menyimpulkan si adek ini habis menduduki tumpahan air. Nah, selama si dedek ini duduk di paha saya, saya merasa celana saya juga mulai basah. Saya cuma mikir, duh nih anak dudukin tumpahan air dimana ya? Kok banyak begini sih..

Sementara anak-anak yang duduk di jok belakang rusuh banget, si adek ini tenang banget bahkan nyaris tertidur. Pastor Alex bilang, anak ini memang bisu tuli.. Oh, pantesan.. Hmm.. meskipun saya merasakan dingin di paha saya yang basah, tapi saya merasakan nyaman sekali memeluk anak ini. Badannya begitu hangat, dan saya tak ingin lekas-lekas menurunkannya dari pelukan saya. 

Waktu sudah menjelang pukul 10 ketika saya tiba di stasi. Ternyata saya sudah ditunggu-tunggu sejak jam 9 pagi.. Haduuh.. maafkan daku..

Setelah duduk mengikuti ibadat, barulah saya sadar ada bau tak enak yang berasal dari.. celana saya.. Bau pesing.. Hahaha.. jadi beneran itu anak ngompol.. Sambil nyengir saya mencari tissue basah dan melap celana saya untuk menyamarkan bau pipis itu.. Hahahaaha… bener-bener yaa.. Semoga mobil Pastor tak bau pesing juga ya Dek.. 

Dulu umat stasi Jelarai beribadat di gereja mungil ini dengan beralaskan tanah dan pasir. Puji Tuhan sekarang mereka sudah punya gereja stasi yang jauh lebih baik…

Pukul 11, pastor Steph sudah menjemput saya tapi saya belum selesai rapat dengan para legioner junior, dan jadilah saya ditinggal lagi. Karena Pastor kebetulan ada tamu di pastoran, beliau tak bisa menjemput saya lagi, Pastor Alex pun ada tugas misa sore. Jadilah Pastor Steph mengutus seorang pegawai keuskupan menjemput saya di stasi.

Sepanjang perjalanan dari Stasi ke Keuskupan, saya tak henti menyeka air mata saya. Saya mulai jatuh cinta dengan tempat ini, dengan keheningannya yang menenangkan, dengan semua yang menganggap saya bagian dari keluarganya, dengan anak-anak lugu yang membuat saya berpikir banyak tentang hidup saya. 

Patung Bunda Maria yang melintasi sekian propinsi ternyata masih utuh dan baik-baik saja. Pagi itu, patung Bunda berdiri tegak di atas meja altar, memberikan semangat baru bagi para legioner junior di stasi Jelarai. Saya baru tahu juga, selama ini anak-anak berdoa dengan kertas doa hasil print out dan baru hari itulah mereka menerima lembar doa yang “sebenarnya”. Banyak pula dari mereka yang tak punya rosario dan baru hari itu memegang rantai rosario untuk pertama kalinya. Betapa saya diingatkan untuk bersyukur atas apa yang saya miliki selama ini dan saya pun berpikir untuk berbuat sesuatu bagi anak-anak ini. 

Sungguh, rasanya berat sekali meninggalkan tempat ini. Ternyata saya punya penyakit “Mudah jatuh cinta pada suatu tempat”. Tapi lalu saya mengulang kembali pesan Pastor Steph : “Bertumbuhlah dimana kau ditanam”, dan mencoba menarik-narik hati saya yang masih ingin tinggal di Tanjung Selor. Untung saja saya bisa menahan tangis ketika berpamitan dengan Pastor Alex dan Pastor Steph. 

Di pelabuhan speed boat, saya akhirnya sendiri(an) lagi. Saya membeli tiket untuk speed boat pukul 13.15. Masih ada 45 menit sebelum speed akan berangkat dan saya sibuk menguatkan hati untuk menjalani sisa hari ini di Tarakan. 

Ini lho penampakaan speednya…

Selamat tinggal Tanjung Selor..

Selamat datang di Tarakan..

Advertisements

6 thoughts on “Bertumbuhlah Di Tempat Kau Ditanam : 28 Jam di Tanjung Selor

  1. Aku like dulu baru baca, lalu ikut merasakan betapa damai perjalananmu disana. Mungkin lelah dan minim fasilitas tp kaya nilai ya Na. Bersyukurlah bisa memiliki kesempatan mengalaminya karena ga semia orang punya kesempatan itu. Stay blessed Na…

    1. Iya Mbak.. aku bersyukur banget bisa dapat kesempatan menempuh perjalanan seperti ini, meskipun aku belum sampai menyentuh apa yang dinamakan “pedalaman”, dan semoga suatu hari aku akan mencicipi rasanya pedalaman itu.. hehehe..
      Orang-orang yang hebat, yang memberikan inspirasi justru banyak kutemukan di tempat yang jauh dari kota. Ketika mereka dengan segala keterbatasan dsn kesulitan mampu membawa sukacita bagi banyak orang.. *ah..jadi berat gini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s