Sejuta Kisah dari Tarakan : Hanya Punya 20 Jam Saja

19 Maret 2017

Tepat pukul 13.15 speed boat meninggalkan pelabuhan Tanjung Selor. Tadinya saya ingin sekali duduk di bagian belakang speed dekat motornya, tapi apa daya… Saya diusir oleh petugas karena menghalangi jalan masuk. Huh,, padahal kan saya ingin melihat pemandangan luas sepanjang perjalanan. Akhirnya terpaksa deh saya duduk di bagian dalam dan memilih yang jendelanya paling lebar supaya bisa dapat sudut oke untuk motret.

Dari balik jendela..

Tapi.. lama kelamaan saya malah terbuai kantuk. Apalagi semakin jauh dari kota sinyal pun semakin melemah. Setelah mengetik semua laporan via whatsapp (walaupun tak ada satupun yang terkirim), akhirnya sayapun menyerah dan terlelap. 

Rasanya saya baru saja terlelap ketika sayup-sayup terdengar suara ramai di dalam speed. Ah, ternyata speed sudah tiba di Pelabuhan Tengkayu Tarakan dan saya nyaris menjadi penumpang terakhir yang belum keluar dari speed. Bahkan saya belum benar-benar sadar ketika membereskan seluruh bawaan saya dan melangkah keluar dari speed (dan nggak ada yang nolongin pas saya harus naik ke atas dermaga.. sedihnya..). Maka di atas dermaga saya mengambil waktu sejenak untuk diam dan mengumpulkan nyawa yang kayaknya masih tertinggal di sepanjang Sungai Kayan.

Selamat datang di Tarakan

Dalam proses pengumpulan nyawa itu tiba-tiba saya dicolek seseorang. Butuh waktu lama untuk meloading bahwa yang mencolek saya itu adalah Pak Heri, legioner Tarakan yang bertugas menjemput saya. Ternyata beliau berhasil  mengidentifikasi saya dari lambang veksilum di kaos yang saya pakai.. hehehe.. Baru deh saya poll sadar.. hahaha

Saya melirik jam, ternyata perjalanan dengan speed tadi hanya memakan waktu 1 jam 30 menit. Cepet juga yah.. pantes aja saya masih belum puas bobok.. hahaha..

Pak Heri yang super duper ramah lalu mengantar saya menuju ke gereja Maria Imakulata yang letaknya di Jalan Sudirman Tarakan Tengah. Karena masih ada waktu sebelum rapat presidium jam 4, beliau mengajak saya mengelilingi bangunan gereja yang unik. Sangat unik dan istimewa..

Pintu gerbang gereja Maria Imakulata

Gereja ini didirikan pada tahun 2002 menggantikan gereja lama yang terletak di Jalan Marconi. Pastor Antonio Bocchi, OMI merancang bangunan gereja ini lain daripada yang lain. Ia memasukkan nuansa budaya Dayak ke dalam bangunan gereja ini. Bahkan dari samping gereja ini terlihat mirip dengan rumah panjang. 

Motif ukiran Dayak memenuhi seluruh jendela gereja.
Tampak samping.. Mirip rumah panjang

Beliau juga mengumpulkan teks doa “Salam Maria” dari berbagai bahasa daerah dan bahasa internasional lalu memasangnya di tembok di belakang gereja untuk memperingati Tahun Rosario pada 2002-2003. 

Pak Heri bercerita, pastor Toni ini meninggal dunia di Italia, namun beliau telah mewasiatkan bahwa jenazahnya harus dimakamkan di gua Maria Mentogog Tarakan karena cintanya yang besar pada umat yang ia rintis di tanah Borneo. Ketika beliau disemayamkan di aula paroki, ada ribuan umat yang melayatnya dari berbagai agama dan suku, bahkan pemuka suku Dayak meminta agar diadakan ritual penguburan dengan adat Dayak bagi beliau. Ah, saya jadi merinding mendengarnya. Beliau seorang Italia namun bisa diterima oleh warga asli Indonesia, bahkan kematiannya menimbulkan kehilangan besar bagi masyarakat luas.

Ciri khas OMI

Singkat cerita.. Hehehe.. Usai rapat presidium, kami lalu berfoto bersama di depan bangunan gereja yang ah, benar-benar luar biasa. Yang lebih luar biasa lagi adalah para legioner berlatih menyanyikan lagu mars Legio Maria di tangga depan gereja. Suasana sore itu tak akan pernah terlupakan seumur hidup saya dan saya juga tak akan lupa semburat sinar mentari senja yang membuat gereja Imakulata terlihat semakin megah. 

Kami lalu makan sore bersama di pastoran bersama Pastor Domi. Ternyata mereka semua membawa masakan masing-masing untuk disantap bersama petang ini. Aduuh.. kompak sekali ya.. Saya didaulat untuk menghabiskan seekor ikan pepes buatan istri Pak Heri. Hehehe.. Meskipun mereka semua masuk kategori senior, namun mereka semua begitu ramah dan hangat, membuat saya tak  malu-malu menghabiskan pepes  ikan itu. hehehee..

Pak Heri dan Bu Tio lalu membawa saya keliling Tarakan, mulai dari melihat sekolah Frateran Don Bosko, dan melihat gereja tua : bangunan gereja pertama yang dibangun di pulau ini pada tahun 1934 dan terletak di jalan Markoni. Para Frater CMM yang saat itu sedang beristirahat di halaman gereja berkenan menyalakan lampu gereja dan mengantar kami melihat altar gereja tua. Ah, lagi-lagi sebuah unforgettable moment. Terima kasih Frater..

Kala senja di gereja tua

Oh, ya, Tarakan ini ternyata sebuah pulau penuh sejarah lho. Pulau kaya minyak ini mulai dieksplorasi pada tahun 1896 oleh sebuah perusaahaan minyak Belanda. Ladang minyak Tarakan adalah salah satu target utama yang ingin direbut Jepang pada saat Perang Pasifik. Menjelang akhir perang, pasukan Australia masuk ke pulau ini dan menghancurkan batalyon Jepang. Jadi ketika saya bilang ke ayah saya mengenai rencana kunjungan ke Tarakan, ayah saya langsung deh bercerita panjang lebar tentang Perang Pasifik. Nah, makanya saya juga jadi ikut penasaran deh dengan pulau ini. Beberapa hari sebelum berangkat saya membuat list tempat di Tarakan yang “must see”. Saya juga niat-niatin beli tiket pulang yang agak siang supaya bisa sempat mengunjungi sebagian dari list saya yang puanjang itu. Iyalah.. Udah di Tarakan mosok ga kemana-mana. Saya membayangkan Tarakan itu seperti Corregidornya Indonesia. Keren yoo…

Setelah dari gereja Markoni, pak Heri mengarahkan mobilnya menuju bekas ladang minyak. Sayangnya tak ada penerangan sama sekali hingga saya hanya melihat tanah kosong nan gelap. Kami lalu menuju ke Islamic Center, kantor walikota, mampir ke SMPN 1 tempat Pak Heri mengajar, dan sempat melihat Grand Tarakan Mal yang pernah menjadi mal terbesar se-Tarakan namun kini kosong  melompong.

Islamic Center

Tarakan, kota terkaya ke-17 di Indonesia, tampak sangat hidup jika dibandingkan dengan Tanjung Selor dan Tanjung Redeb. Hingga kami selesai berkeliling pada pukul 8 malam, kota ini masih begitu ramai. Sarana pendidikan juga sudah sangat maju, lengkap, dan kualitasnya sudah diakui. 

Menurut teman saya yang juga pernah kunjungan ke Tarakan, salah satu komoditas terkenal kota ini adalah barang-barang buatan Malaysia yang harganya lebih murah dan kualitasnya lebih bagus daripada buatan Indonesia, salah satunya adalah MILO. Sedih sih mendapati kenyataan ini, tapi ya senang juga karena bisa mencicipi produk impor dengan harga murah. Hehehe..

Jadi malam itu setelah Pak Heri dan Bu Tio meninggalkan saya di pastoran, saya langsung menyisir area sekitar gereja untuk menemukan toko yang menjual MILO MADE IN MALAYSIA. Untung saja tak jauh dari gereja masih ada toko yang buka. Jadilah saya kalap.. hehehee.. 

Saat saya kembali ke pastoran, saya mendapatkan kejutan dari Pastor Domi. Awalnya pegawai rumah tangga pastoran menyuruh saya tidur di wisma paroki bersama dengan ibu-ibu Wanita Katolik. Lokasinya sih tinggal nyeberang gedung saja dari pastoran. Tapi malam itu saat saya menggendong ransel dan mengangkat bawaan saya yang sudah beranak pinak, Pastor Domi malah menyuruh saya tidur di kamar tamu pastoran, tepatnya di sebuah kamar yang berjudul “KAMAR KHUSUS PASTOR”. Wuih.. wuih.. tak hanya itu, saya dikasih password wifi pastoran.. hahahahaha.. Terima kasih Pastor Domi.. 

Dilarang ganggu.. hahaha

Lebih mantab lagi, dari belakang kamar itu saya bisa melihat gereja secara utuh. Surprise…

20 Maret 2017

Selamat pagi Tarakan…

Ini adalah hari terakhir saya di Tarakan yang juga menutup rangkaian perjalanan tugas saya. Masih ada satu agenda lagi yang harus saya laksanakan hari ini, yakni bertemu Romo Wempi di Pastoran Juata Permai yang jaraknya sekitar 30 menit dari Pastoran Imakulata. Tapi sebetulnya.. saya masih punya satu hidden agenda.. mengunjungi tempat-tempat di wish list saya. Hehehe…

Bu Tio sudah mengajari saya rute menuju rumah bundar yang ternyata lokasinya dekat banget dari gereja. Rumah bundar ini didirikan oleh tentara Australia pada tahuan 1945 sebagai tempat tinggal mereka setelah mengalahkan tentara Jepang. 

Jam 5.30 pagi ternyata langit masih gelap, namun setelah saya cuci muka dan sikat gigi, matahari mulai muncul malu-malu. Ah, ternyata tadi malam hujan lebat dan saya nggak ngeh sama sekali. 

Bukti dukungan warga Tarakan pada para pahlawan pertempuran Surabaya

Saya lalu mengikuti instruksi Bu Tio : keluar gereja belok kiri, lalu setelah ketemu kantor DPRD belok kiri lagi. Tadaa.. ketemu deh Rumah Bundar yang legendaris itu. Sepiii sekalii dan masih tutup.. ya iyalah, wong baru jam 6 lewat sedikit. *manusia yang nggak bersyukur deh, dikasih rame protes, dikasih sepi malah bingung. Hahaha..

Rumah Bundar

Next target : Tugu Australia, tapi ternyata jauh.. Lokasinya dekat kantor walikota, walah.. jauh bener kan.. kemarin saja kami kesana dengan mobil. Saya bodoh banget.. di tengah jalan antara rumah bundar dan persimpangan Jalan Sudirman, Jalan Sumatera dengan Jalan Diponegoro ada tukang ojek yang menawari saya. Entah kenapa saya malah refleks menolak. Setelah beberapa meter berjalan, saya baru merutuki kebodohan saya itu. Padahal kalau tadi saya mengiyakan, saya sudah bisa sampai ke Tugu Australia dan Makam Jepang yang letaknya dekat gereja Markoni. 

Di persimpangan..

Pukul 06.40, dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke gereja karena jam 8 nanti Pak Heri akan menjemput saya. Ah, benar kata Bu Tio, tak cukup sehari saja untuk mengeksplor Tarakan. Saya memang harus kembali lagi kesini.. Masih banyak yang belum saya kunjungi nih : Bunker, pilbox, situs Peningki Lama, Loopghraf, wash tank, dan banyak peninggalan perang lainnya. 

Pukul 07.30 Pastor Domi mengetuk kamar saya dan mengajak saya sarapan.. Duh.. Pastor baik sekali.. Saya sarapan bersama Pastor Domi dan dua orang suster dari Kabupaten Tana Tidung. 

Dari belakang kamar..

Pastor banyak bercerita tentang sulitnya kehidupan warga di pedalaman. Ada tempat-tempat, yang untuk mencapainya kita hanya bisa naik pesawat Susi Air berkapasitas beberapa belas orang. Kita juga harus mengalah kalau ada pejabat atau orang sakit. Booking tiket harus dilakukan paling lambat satu bulan sebelumnya. Lalu harga BBM bisa mencapai 15.000 per liter, harga semen 500.000 hingga 600.000 per sak. Ikan dan ayam adalah barang mewah bagi mereka dan hanya dijadikan menu makanan jika ada acara istimewa saja. 

Ini Indonesia? Ya.. Inilah wajah Indonesia yang mungkin tak pernah kaulihat.. *Mendadak sarapan pagi itu menjadi begitu hambar..

Beberapa menit sebelum pukul 8, Pak Heri menjemput saya di pastoran. Setelah berpamitan dengan Pastor Domi, kamipun beranjak menuju Juata Permai untuk menemui Romo Wempi. Dalam perjalanan ini barulah saya melihat wajah lain Tarakan yang “tidak kota” dan “sepi”. 

Sepanjang jalan Pak Heri bercerita bahwa Tarakan ini sangat terlindungi, karena di keempat sisinya ada posko militer dan kepolisian. Namun pada tahun 2010 sempat pula terjadi kerusuhan antara dua suku yang mengakibatkan kota Tarakan menjadi mencekam. Walah, tak menyangka juga kota setenang ini ternyata pernah kisruh. Untung saja rumah beliau “terlindungi” karena letaknya di belakang komplek perumahan angkatan laut. 

Kami sampai di Juata Permai pukul 08.30, persis seperti prediksi Pak Heri. Romo Wempi sedang berdoa dan membriefing para karyawannya. Namun tak lama kemudian saya sudah larut dalam ceritanya Romo yang berkali-kali membuat saya tegang dan merinding.

Romo berkisah tentang umat transmigran di stasi Tanah Merah yang ternyata masih belum bisa mapan meski telah bertahun-tahun tinggal disitu. Tentang umat yang kadang masih harus dipaksa dan didorong-dorong, bahkan untuk melaksanakan misa saja pastor bisa menunggu umatnya hingga 2 jam, dan tentang misa yang batal karena anggur untuk misa diminum oleh koster di stasi. Yang paling seru adalah kisah tentang tegangnya medan perjuangan beliau, mulai dari naik speed dalam cuaca buruk dan tak kebagian pelampung hingga berpapasan dengan ular gendut yang sedang menggantung di pohon atau babi hutan yang menyeberang jalan saat beliau sedang ngebut. Jiah… entah sudah berapa banyak beliau mengalami kejadian-kejadian yang hampir merenggut nyawanya.. 

Seperti yang Pastor Steph bilang, para pastor di daerah mengurusi mulai dari garam hingga roti anggur. Salut sekali dengan perjuangan mereka mewartakan Kristus tanpa kenal lelah. 

Romo Wempi bercerita dengan sangat ekspresif dan membuat kami terperangah mendengarnya, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.15. Waduh, padahal penerbangan saya pukul 11.50. Untung saja jarak pastoran Juata ke bandara hanya sekitar 20 menit saja, hingga Pak Heri masih bisa membawa saya keliling perumahan di dekat  Juata Permai. 

Bandara Juata

Tepat pukul 10.40 saya diturunkan Pak Heri di bandara Juata. Berakhirlah pula perjalanan saya di Tanah Borneo ini. 

Ah.. Borneo.. mengapa kau selalu membuatku jatuh cinta lagi?

Selamat tinggal Tarakan..

Sampai jumpa lagi..

Advertisements

One thought on “Sejuta Kisah dari Tarakan : Hanya Punya 20 Jam Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s