My Journey..., Uncategorized

Mencari Jejakmu : Kisah Gereja Katolik Kamboja

Seorang imam yang tengah menjalani tahun sabatikal di Paris mendadak dipanggil pulang ke negerinya. Ia berkata kepada kawannya, “Aku pulang untuk mati.”

220px-Mgr_Joseph_Chhmar_Salas

Ia adalah Pastor Joseph Chmar Salas yang ditahbiskan menjadi uskup koajutor atas Vikariat Apostolik Phnom Penh pada 14 April 1975, tiga hari sebelum Khmer Rouge menguasai dan mengosongkan Phnom Penh. Uskup sebelumnya, Mgr Yves Ramousse terpaksa pulang ke Perancis karena Khmer Rouge sangat menolak keberadaan orang asing di Kamboja.

Dengan hanya dihadiri oleh sekitar dua ratus umat, uskup asli Khmer pertama ditahbiskan di gereja Preah Meada Phnom Penh. Dua roket jatuh di dekat gereja, tepat menjelang Litani Para Kudus dinyanyikan, bagaikan pertanda buruk bagi masa depan Gereja Katolik Kamboja.


Seorang Prefek Apostolik yang sedang berlibur di Eropa segera kembali pulang untuk mendampingi umatnya dalam masa sulit. Firasatnya berkata, “Dalam waktu tiga minggu yang akan datang, aku bisa saja sudah mati.”

6141102

Ia adalah Mgr. Paul Tep Im Sotha, yang memimpin Prefektur Apostolik Battambang, yang ketika itu areanya meliputi provinsi Battambang, Kampong Chnnang, Pursat, Oddar Meanchey, Preah Vihear, Siem Reap, dan Kampong Thom.


Tinggal di Kamboja? Atau mencari perlindungan ke luar negeri? Hanya itu pilihan yang tersisa bagi para imam, biarawan, dan biarawati pribumi. Tetap tinggal berarti mengantarkan nyawa mereka ke ladang pembantaian.

CAMBOGIA_-_martiri
Para Martir Kamboja, sejak perang sipil tahun 1970 hingga rezim Khmer Rouge 1975-1979

Mereka akhirnya memutuskan tetap tinggal untuk mendampingi umat Katolik dalam masa-masa yang amat sulit dan mereka harus membayar keputusan itu dengan nyawa mereka sendiri.

Para imam tak menyangka,itulah rapat imam terakhir dalam  hidup mereka.


Sebuah Katedral megah di pusat kota yang menaranya mencapai 60 meter dihancurkan dengan dinamit. Besi-besinya dilebur dan dicetak  menjadi paku. Batu-batunya dihancurkan dan digunakan untuk membangun tanggul. Yang tersisa dari Katedral itu hanyalah lima loncengnya. Entah mengapa lonceng-lonceng itu tak ikut dilebur.

Itulah akhir dari kisah Katedral Notre Dame Phnom Penh..


Dua juta penduduk Kamboja tewas selama Pol Pot berkuasa antara April 1975 hingga Januari 1979. Praktek keagamaan dilarang. Rumah ibadat dihancurkan tanpa pandang bulu. Seluruh imam, biarawan dan biarawati yang berkarya di Kamboja dalam rentang waktu tersebut tewas, baik karena kelaparan, sakit, kelelahan akibat kerja paksa, maupun karena dibunuh secara langsung.

Agama Katolik pada masa itu (bahkan hingga kini) dianggap sebagai agama bawaan penjajah, simbol imperialisme, dan selalu dipandang sebagai “agamanya orang Vietnam”. Sejarah panjang menunjukkan orang Khmer memiliki konflik yang tak pernah berakhir dengan bangsa Vietnam, hingga mereka membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Vietnam.




Kilasan-kilasan kisah itu bergantian singgah di benakku sepanjang aku mengikuti misa berbahasa Khmer pagi itu. Berulang kali konsentrasiku terpecah dengan berbagai bayangan masa lalu Kamboja, yang pernah menjadi neraka di abad ini.

20170625_075952

Aku ikut misa ini hanya dengan bermodal nekad dan rasa ingin tahu. Tak sedikitpun aku memahami Bahasa Khmer, namun aku senang dengan cara Pastor berkhotbah dan merasa terhanyut oleh setiap kata yang didaraskan dan oleh setiap nyanyian yang disenandungkan umat di sekelilingku. 

Aku harus berganti-ganti posisi duduk, mulai dari bersimpuh, bersila, bersimpuh, bersila, dan begitu seterusnya. Ya, misa disini dirayakan sambil duduk di lantai. Aku tak berani meluruskan kakiku karena akan dianggap tak sopan. Aku teringat pesan seorang guide untuk tidak meluruskan kakiku di hadapan patung Buddha, jadi tentu saja aku harus melakukan yang sama di hadapan Yesus.

Tak banyak warga Phnom Penh yang mengetahui lokasi St. Joseph Church yang terletak di National Road No. 5. Sopir tuk-tuk yang membawaku harus berkali-kali bertanya, dan aku terpaksa mengeluarkan senjata andalan : google maps. Puji Tuhan hanya butuh waktu 15 menit dari tempatku menginap di Street 178 hingga aku masih punya waktu 45 menit untuk mengeksplor area gereja dan berhasil menemukan bangunan mana yang digunakan untuk merayakan perayaan ekaristi.

Gereja ini adalah gereja utama di kota Phnom Penh. Awalnya lokasi  ini adalah  bekas seminari yang digunakan sebagai gereja sementara pasca pembebasan Kamboja dari cengkeraman Khmer Rouge (Khmer Merah), dan kemudian dibangunlah sebuah gereja permanen di area ini.

Inkulturasi Gereja dengan budaya Khmer sungguh terasa disini, mulai dari sosok Yesus dan Maria yang digambarkan sebagai orang Khmer, penggunaan dupa, alat-alat liturgi bernuansa Khmer, hingga tata cara liturgi yang disesuaikan sebagian dengan tradisi Khmer dan Buddhisme. Misa di atas tikar adalah salah satu implementasinya. Sebetulnya gereja ini tak hanya menyelenggarakan Perayaan Ekaristi berbahasa Khmer, tapi juga berbahasa Inggris dan Perancis, namun karena aku sungguh ingin berada di tengah umat Katolik Kamboja, maka aku memberanikan diri untuk mengikuti misa berbahasa Khmer.



Sepanjang mengikuti misa, tak henti-hentinya aku mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang silih berganti muncul di benakku. Bagaimana iman orang-orang ini bisa bertahan setelah melalui kesulitan, bahkan pembantaian yang begitu mengerikan? Aku melihat banyak umat yang sudah lanjut usia. Ada dimanakah mereka pada periode empat tahun kegelapan itu? Bagaimana mereka melewati masa itu? Setelah gereja mereka dihancurkan, pastor-pastor mereka dibunuh, keluarga mereka dibantai, mengapa mereka masih tetap mengikuti Yesus?

Mengapa anak-anak muda yang memadati gereja ini mau memilih Yesus? Siapakah mereka yang ada di sekelilingku ini, apakah mereka orang Khmer asli, atau apakah mereka keturunan Vietnam?

Imajinasi liar lalu menyergap benakku. Bagaimana jika aku ada di posisi mereka? Bagaimana jika Gereja Katedralku dihancurkan? Bagaimana jika imam-imam yang aku kenal dan aku sayangi dibunuh? Bagaimana jika aku harus kehilangan sebagian besar keluargaku? Bagaimana jika aku sendiri harus menyerahkan nyawaku? Apakah aku masih bisa tetap mempertahankan imanku? Atau apakah aku akan merasa bahwa Tuhan telah meninggalkanku?



Seusai misa, aku ikut mengantri minta berkat bersama umat lainnya yang membentuk pagar sepanjang jalan yang dilalui Pastor. Sebelum pulang aku sempat bercakap-cakap sejenak dengan Pastor Chatsirey Roeung yang mengejutkanku dengan berkata, “I think I’ve ever met you before.”

Sejak pertama kali mendengar tentang kisah tragis Gereja Katolik Kamboja, ada beberapa hal yang selalu ingin aku lakukan setiap berkunjung ke negeri ini : mencari jejak Katedral Notre Dame; mengunjungi Gereja di Taing Kok yang menjadi tempat tinggal terakhir Mgr Salas, Pastor Salem, dan Pastor Chamroeun; mengunjungi memorial tempat Mgr Tep Im dibunuh, serta mendatangi gereja-gereja Katolik seantero Kamboja yang aku yakin jumlahnya pasti lebih sedikit jika dibandingkan gereja se-Keuskupan Bogor. Ya, mungkin terdengar aneh, namun aku ingin sekali menelusuri jejak-jejak Gereja Katolik di negeri ini dan mendengarkan kisahnya yang kelam.

Pada awal tahun 2017 ini aku berkesempatan singgah di gereja Our Lady of The Assumption Battambang. Meskipun tak sempat mengikuti perayaan ekaristi karena tragedi tersesat hingga ke Poipet, namun aku beruntung bisa berjumpa dengan Pastor Ros Moung. Kala itu sebetulnya beliau sedang terburu-buru karena hendak memberikan sakramen pengakuan dosa pada anak-anak sekolah yang akan mengikuti AYD di Yogyakarta tahun ini. Tapi beliau menyempatkan diri untuk bercakap-cakap denganku dan berkisah tentang Mgr. Tep Im serta gereja Battambang yang dihancurkan oleh Khmer Rouge. Beliau bahkan mengajakku untuk ikut misa di stasi tempat Mgr. Tep Im dibunuh. Ah, sayang sekali waktuku hanya semalam di Battambang, sehingga dengan berat hati aku terpaksa menolak ajakan beliau.

20170121_100353_richtonehdr-1.jpg

Kali ini dengan waktu selama tujuh hari di Kamboja, aku ingin sekali bisa menemukan jejak Katedral Notre Dame. Dan aku memulai pencarian itu dari National Museum Phnom Penh, dimana lonceng-lonceng Katedral itu kini disimpan.

Di bagian depan museum ada tiga lonceng, dua dalam kondisi masih utuh dan satu tinggal bagian atasnya saja. Lonceng yang keempat aku temukan di bagian dalam museum. Meski aku tak tahu apakah lonceng yang terakhir ini adalah lonceng Katedral atau bukan, namun yang pasti gambar-gambar yang terukir di permukaannya menunjukkan bahwa lonceng ini berasal dari gereja Katolik.

Melihat dan menyentuh lonceng-lonceng itu membangkitkan rasa haru dalam hatiku. Rasanya tak dapat tergambarkan.. Ya… secara indrawi lonceng ini memang sama seperti lonceng-lonceng yang lain. Namun mengingat kembali bagaimana lonceng ini bisa bertahan dari gempuran dinamit kala Katedral diruntuhkan membuatku merinding. Ah.. Andai saja lonceng-lonceng ini bisa bicara..

Namun, dimanakah sebenarnya bekas lokasi Katedral Notre Dame? Menurut beberapa artikel yang pernah kubaca beberapa tahun yang lalu, area bekas lokasi Katedral terletak di Monivong Boulevard yang berada di tengah kota; dekat dengan Wat Phnom. Sebuah tulisan di harian The Phnom Penh Post mengatakan bahwa bekas lokasinya kini ditempati oleh gedung Pemerintah Kota Phnom Penh atau sering disebut city hall. Ada pula tulisan yang menyebutkan kini di atas lokasinya berdiri Kementrian Pos dan Telekomunikasi. Jadi dimana sebenarnya? Aku tak tahu harus memulai pencarian dari mana, aku tak tahu jalan, dan tak tahu harus bertanya pada siapa.

Jawaban atas pencarian itu kutemukan beberapa hari kemudian, tepatnya beberapa jam sebelum aku kembali ke Indonesia. Setelah singgah sejenak di Wat Phnom, aku berjalan tanpa arah karena hari masih sangat panjang. Aku ingat di sekitar Wat Phnom ini ada banyak bangunan tua yang selamat dari penghancuran Khmer Rouge, salah satunya adalah Raffles Hotel Le Royal.

Setelah melewati hotel tua itu dan memfoto bagian depannya, aku melangkah hingga ke ujung jalan dan tak sengaja melihat tulisan “Ministry of Post and Telecommunication”. Aku tersentak melihat tulisan itu. Seharusnya di situ atau di sekitar situlah bekas lokasi Katedral Notre Dame.

20170630_084837
Ministry of Post and Telecommunication

Sedihnya, kuota internetku habis. Aku tak bisa mencari data pendukung. Jadilah aku hanya bisa mengabadikan semuanya dalam foto. Di sebelah Kementrian Pos ada dua bangunan yang tak ada namanya. Yang satu adalah bangunan tua, sedangkan satunya lagi adalah gedung bertingkat. Namun satu hal yang menarik perhatianku adalah pagar putih dengan ornamen salib. Eh, jangan-jangan itu hanya bentuk yang “mirip salib” saja? Deretan salib-salib itu bagai “mengganggu”, Apakah itu bekas lokasi Katedral? Aku terpaku di depannya, mulai merasa yakin bahwa salib-salib itu ada hubungannya dengan gereja Katolik.

Setelah mengabadikan semua tempat itu dalam kameraku, aku bergegas kembali ke hostel untuk mencari koneksi wi-fi. Dari sebuah video di youtube, akhirnya kutemukan jawabannya.

Ternyata Katedral terletak persis tegak lurus Wat Phnom, pada lokasi yang sekarang ditempati oleh Kementrian Pos dan Telekomunikasi. Bangunan berpagar salib itu adalah kantor pemerintah kota Phnom Penh yang dulunya adalah bekas rumah tinggal Uskup. Entah bagaimana rumah besar itu bisa luput dari penghancuran Khmer Rouge. Rumah uskup dan pagar salibnya masih sama seperti sebelum tahun 1975.

Akhirnya tanpa sengaja aku berhasil menemukan jejak Katedral Notre Dame. Rasanya begitu mengharukan meski tak ada sedikitpun yang tersisa dari bangunan Katedral itu, seperti yang dikatakan oleh Mgr. Destombe,

“Now there is nothing. You can not know what was there..”



Mgr Joseph Chmar Salas meninggal di Rumah Sakit Tek Thla pada tahun 1976 karena sakit akibat kelaparan dan kerja berat. Mgr. Paul Tep Im tewas ditembak bulan Mei 1975 saat hendak menuju ke perbatasan Thailand. Seluruh imam, biarawan, biarawati yang memutuskan tetap tinggal di Kamboja tak ada yang tersisa pasca Khmer Rouge.. Seluruh praktek liturgi dan bentuk-bentuk ekspresi iman ditiadakan.. Bangunan gereja hampir seluruhnya dihancurkan..

Nampaknya tak ada yang tersisa bagi mereka.. Inilah yang mereka namakan “The night of the cross”

Sungguh.. Umat Katolik Kamboja harus memulai kembali semuanya dari nol.. Mengatasi segala rasa sakit akibat kehilangan.. 



Setelah pulang ke rumah, aku kembali membaca buku The Cathedral in The Rice Paddy; The 450 year long History of the Church in Cambodia karya Francois Ponchaud dan menemukan kesaksian iman yang menggetarkan hati.

“I have hidden Him in my heart!” (Aku menyembunyikan Dia di dalam hatiku). Itu adalah jawaban seorang wanita Katolik di Moat Krasas ketika diinterogasi dan disiksa oleh kader Khmer Rouge.

“When they criticized me, I kept quiet thinking of Jesus who had suffered because He loved all men. That soothed my heart. My despair was transformed into hope. I was resurrected.” (Ketika mereka mengecamku, aku terus mengingat Yesus yang telah menderita karena kasih-Nya kepada semua manusia. Itu menghiburku. Keputusasaanku telah diubah menjadi harapan. Aku telah dibangkitkan), ujar seorang pria Katolik di Battambang.

Sopheap, adik dari Mgr Salas, bersaksi, “If I was to die, I asked Him to let me die in His hands. At night, during guard duty, I recited the rosary until the end of guard duty. So, I was not afraid like my companions were because the Lord was my protector.” (Jika aku harus mati, aku meminta pada-Nya agar Ia mengizinkan aku mati dalam tangan-nya. Selama tugas jaga malam, aku selalu mendaraskan rosario hingga akhir tugasku. Maka aku tak merasa takut seperti teman-temanku yang lain, karena Tuhanlah pelindungku.)

Seorang katekis percaya, bahwa seluruh umat Katolik di dunia akan mendoakan mereka agar bisa melalui penderitaan itu. “In Cambodia we are unhappy but the other Catholics in the world were praying for us. There is a church that does not abandon its brothers, even if they do not see us.” (Di Kamboja, kita memang tengah menderita, namun umat Katolik di seluruh dunia sedang berdoa bagi kita. Gereja tidak mengabaikan saudaranya, meskipun mereka tidak melihat kita)

‘They have destroyed all our churches, but they have not suceeded in uprooting our faith. We have clung to our faith. We have lived in hope and in the love of God. Every one celebrated the feast days individually in their heart, through the great sorrow.” (Mereka telah menghancurkan semua gereja kita, namun mereka tidak berhasil mencerabut iman kita. Kita tetap berpegang teguh pada iman kita. Kita hidup dalam pengharapan dan kasih Tuhan. Setiap orang merayakan hari raya secara pribadi di dalam hati mereka, dalam suasana kesedihan yang amat besar.)

Ternyata.. mereka tak harus memulai dari nol karena mereka masih punya iman yang berakar di dalam hati mereka. Iman ini ternyata sangat kuat untuk menghidupkan kembali Gereja Katolik di Kamboja.

“Faith is seeing light with your heart when all your eyes see is darkness.”

Catatan : Saat ini ada sekitar 20.000 umat Katolik di Kamboja yakni  0,2% dari populasi penduduk Kamboja. Dua per tiga dari jumlah itu ternyata adalah orang Vietnam atau keturunan Vietnam. Di Phnom Penh terdapat dua presidium Legio Maria dan seluruhnya berbahasa Vietnam.

Referensi :

Video mengenai sejarah Gereja Katolik Kamboja diambil dari account youtube Radio Veritas Khmer, diakses tanggal 24 Juli 2017.

Video mengenai Katedral Phnom Penh tahun 1965-1968 diambil dari account youtube Lulu Yovo, diakses tanggal 30 Juni 2017.

Ponchaud, Francois. 2012. The Cathedral in The Rice Paddy; The 450 year long History of the Church in Cambodia. Phnom Penh : Catholic Catechetical Centre Cambodia.

-. 1987. Cambodia Telecommunications. http://www.country-data.com diakses tanggal 24 Juli 2017.

Paul Reeve. Heretics and Heritage : The Destruction of The Catholic Phnom Penh in 1975-1979. http://www.phnompenhpost.com diakses tanggal 30 Juni 2017.

Post Staff. Vanquished in the 70s, Catholic Church still on the mend. http://www.phompenhpost.com diakses tanggal 30 Juni 2017.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Mencari Jejakmu : Kisah Gereja Katolik Kamboja”

  1. Speechless baca postingan ini Na, Ga bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat menjalaninya di PP kemudian tambah informasi dari Internet. Sungguh tidak mudah, walaupun akhirnya bisa lega karena banyak yang terungkap. Kita memang perlu hanya satu langkah untuk memulai dan upaya satu langkah itu membukakan pintu-pintu yang lain…

  2. Iya mbak..saat aku sudah give up dan ngga tau harus mencari kemana, tiba2 semuanya ditunjukkan di depan mataku..

    Pagi-paginya aku menemukan lokasi city hall dan ministry itu, lalu siangnya aku diajak jumatan sama pak kasmin dan mas fir, lewatin lokasi itu lagi.. duh..sampe merinding banget pas lewatinnya lagi..

    Aneh ya mbak.. kok aku sampe sebegitu penasarannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s