My Journey..., Uncategorized

Mrs Kim Sun : Suatu Pagi Di Phnom Penh

Pukul 05.00

Dan alarm handphoneku berbunyi seperti hari-hari biasanya. Aku mematikannya sambil menggeliat-geliat malas, menikmati kasur hostel yang sangat empuk dan selimutnya yang begitu hangat.

Pukul 05.15

Alarmku berbunyi lagi. Rasanya enggan beranjak. Akhirnya aku memutuskan untuk bangun sambil menyusun rencana : jika langit mendung, aku akan  melanjutkan tidur. Ternyata ketika aku menjulurkan kepala di balkon hostel, langit sudah cerah dan matahari yang baru terbit mulai menyebarkan cahaya keemasannya yang indah.

Akhirnya aku memutuskan untuk turun, memasang muka memelas pada resepsionis agar ia bersedia membukakan pintu, lalu bergegas menuju ke tepian Sungai Mekong.

Aha.. betul saja, langit begitu cerah dan mentari sudah mulai meninggi. Sudah berkali-kali aku menikmati pemandangan seperti ini, tapi setiap kali tetap terasa menakjubkan…

Setelah puas menikmati suasana pagi di tepi sungai (plus ditambah panggilan alam yang mulai terasa), akhirnya aku memutuskan beranjak kembali ke hostel. Namun siapa sangka dalam perjalanan pulang yang harusnya hanya lima menit itu aku berjumpa seseorang yang tak terlupakan.


Berawal dari dua ekor anjingnya. Yang satu berbadan besar, warnanya putih dan tampaknya agak lamban. Yang satunya lagi jenis herder yang kekar, warnanya coklat dan sangat gesit. Wanita paruh baya ini terlihat tak sebanding dengan dua anjingnya. Ia tampak seperti wanita zaman dulu yang rambutnya dikepang, mengenakan topi pancing, dengan postur dan senyum yang sangat anggun.

Anjingnya yang putih begitu jinak dan mau saja kubelai-belai. Wanita itu tersenyum melihatku yang mulai akrab dengan si putih. Namun ketika aku hendak menyentuh si coklat, wanita itu langsung melarangku, katanya si coklat ini karakternya sulit ditebak. Si coklat ini baik, tidak agresif, namun harga dirinya tinggi. Dia tidak nyaman jika ada orang asing yang sok kenal dan sok dekat dengannya..

Namun gara-gara si coklat yang menyeringai itulah kami jadi mengobrol panjang lebar. Wanita ini bercerita bahwa kedua anjing ini ia selamatkan dari jalanan Phnom Penh. Si putih yang gemuk itu ternyata menderita kanker di saluran pencernaannya. Ia diselamatkan dari tengah jalanan Samdech Sothearos yang ramai dalam kondisi tak berdaya dan tak peduli dengan kendaraan-kendaraan yang berkali-kali hampir menabraknya. Ketika wanita ini menyelamatkannya, si putih ini dalam kondisi berdarah-darah. Wanita ini lalu membawanya pulang dan merawatnya. Ia berkata padaku bahwa sebetulnya ia ingin menghibahkan anjing-anjing ini, namun ia tak tega jika mereka malah menjadi lebih menderita di rumah orang lain. Ia sejujurnya sudah merasa tak sanggup merawat empat anjing di rumahnya. Sehari-hari ia hanya sanggup mengajak jalan si putih dan si coklat ini. Jika ia mengajak keempatnya, maka ia akan terseret kesana kemari. Pastilah.. Tubuhnya amat mungil jika dibandingkan dengan anjing-anjing ini.

Dalam perawatannya, anjing-anjing yang tadinya begitu kurus, kumal, dan berkutu berubah menjadi anjing-anjing yang terawat. Sayang sekali si putih ini tak bisa disembuhkan lagi. Kankernya sudah terlalu berat. Ini juga yang menyebabkan berat tubuhnya cenderung meningkat. Maka dia harus diet ketat dan harus setiap hari diajak jalan-jalan.

Di tengah percakapan kami, terjadilah satu hal yang cukup mengejutkan. Si coklat yang tadinya memasang tampang sangar mendadak mendekatiku yang sedang berjongkok mengelus si putih. Si coklat ini terus mendekat lalu menempelkan badannya di badanku, dan ia mulai bersandar ke tubuhku. Ia lalu mulai mengamati wajahku dan mulai mengendus-endus. Wanita itu khawatir si coklat mendadak beringas dan menerkam wajahku, hingga ia menarik tali si coklat dan mencoba mengalihkan perhatiannya. Namun si coklat bergeming dan malah semakin menempel denganku. Aku dan wanita itu tertawa melihat kelakuan si coklat yang mulai menikmati belaianku. Ternyata si coklat ini bernama Clam. Clam makin menempel dan aku makin merasa nyaman memeluk tubuhnya yang kekar.

Perbincangan kami semakin  mengalir. Ternyata wanita ini adalah orang Khmer asli yang lama tinggal di Australia, dan hingga kini putrinya bahkan masih tinggal di Australia. Ia pun punya rencana untuk pindah kesana namun masih merasa berat untuk merelakan anjing-anjingnya.

Kami membicarakan banyak hal, tentang Indonesia, tentang Kamboja, tentang Oudong, tentang scam, dan tentang anjing, tentang kerinduannya untuk bisa ikut senam di tepi Mekong, dan masih banyak lagi. Tak terasa waktu telah menunjukkan waktu pukul 07.00 dan alarmku berbunyi lagi.

Bersamanya waktu terasa berjalan begitu cepat karena berbicara dengan wanita ini rasanya nyaman : aku nyaman mendengarkannya, dan aku merasa ia nyaman bercerita kepadaku. Dan yang pasti si Clam juga nyaman menempel ke kakiku.

Kami akhirnya berpamitan dan saling melambaikan tangan.

Namun baru saja aku berbalik arah, aku baru ingat aku tak tahu nama wanita itu hingga aku memanggilnya dan menanyakan namanya.

Dengan senyumnya yang ramah itu ia berkata, “Kim Sun, dengan Sun yang ditulis ‘Sun’ : Matahari”. Berkali-kali ia telah mengajukan komplain ke dinas kependudukan untuk merevisi namanya yang selalu ditulis Kim San meskipun di aktenya tertulis Kim Sun. Berkali-kali pula ia harus kecewa karena lagi-lagi yang tertulis selalu “Kim San”.

Ah. Mrs Kim Sun.. Apalah arti sebuah nama… Meskipun namamu tak ditulis sebagai “Matahari”, namun dirimu seperti matahari pagi.. Yang memancarkan kehangatan dan membuat orang lain merasa nyaman. Hmm.. tak hanya manusia.. anjing-anjingpun merasa nyaman berada di dekatmu..


Believe it or not sih.. Ketika aku pertama kali melihat Mrs. Kim Sun, aku merasa kok kayaknya pernah bertemu dengan dia dimana ya.. Sampai sekarang masih bertanya-tanya. Mungkin karena secara fisik ia agak mirip dengan almarhumah tanteku. Tapi… entahlah ya….

.. Menyesal sekali aku lupa memotret dirinya dan anjing-anjingnya. Semoga suatu hari kita bisa bersua lagi..

Advertisements

9 thoughts on “Mrs Kim Sun : Suatu Pagi Di Phnom Penh”

  1. “Apalah arti sebuah nama” hanya cocok unt kisah org yg dimabuk cinta, haha.. krn bagi kita “nama” bermakna jatidiri sebuah pribadi..
    Banyak org yg kadung salah nama gegara salah tulis, salah tik di kelurahan, kecamatan, kependudukan, dll

  2. bosen kali ya kalo aku tulis ga ada yang kebetulan ya Na. Aku suka banget dengan tulisanmu ini. Sangat dirimu hahaha…
    By the way, soal si coklat, karena dia tau dirimu baik hati dan tidak sombong makanya dia iri (hahaha) kenapa si putih yang disayang-sayang melulu dan dia engga. Karena dia pikir, aku kan juga punya hak disayang-sayang hahaha….

    1. Itulah Mbak… terlalu banyak kejadian misterius yang mempertemukanku dengan orang-orang baru.. hehe *lebay
      Dan entah kenapa ya Mrs. Kim Sun ini begitu memorable Mbak.. padahal cuman ngobrol ngalor ngidul begitu kan.. tapi sampe sekarang aku masih ingat wajahnya (malahan aku lupa sama guguknya)
      Pasti ada sesuatu di balik semuanya ini.. hehehehe

      1. Hahaha… dipikir-pikir kayaknya dirimu semakin lebih misterius deh daripada aku untuk mengalami hal-hal yang penuh dengan keajaiban itu. Lanjutkan dan terusin aja Na, ntar kan busa kaget2 sendiri hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s