Uncategorized

Near Miss… 

Akhirnya saya terpaksa menuliskan kisah ini disini.. Semoga hal-hal yang berlarian di benak saya sepanjang hari ini bisa sejenak teralihkan..

Beberapa bulan yang lalu..

Sebuah tugas ke luar pulau mempertemukan saya dengannya. Ya.. sebut saja namanya Mr. Q. Sahabat sayalah yang memperkenalkan saya padanya dan merekomendasikan saya untuk bertemu dengannya saat saya bertugas di sana.

Menjelang keberangkatan, saya dan Mr. Q semakin sering berkomunikasi via whatsapp. Saya pun berhasil menemuinya setelah berbagai rentetan kejadian yang hampir saja membuat saya harus pulang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, dan nyaris menggagalkan pertemuan kami.

Tugas selesai dan sayapun kembali ke Bogor. Kontak yang telah terjalin dengan Mr. Q dan orang-orang lain yang saya jumpai dalam tugas, saya upayakan agar tak terputus. Memang kami akhirnya semakin dekat, dan dia kerap memanggil saya “Adek”.

Beberapa kali dia menelepon saya, dan dua kali kami bervideo call hingga tengah malam. Entah mengapa setelah itu saya merasa tak nyaman. Setiap malam saya berharap (dan berdoa juga) supaya dia tak menelepon saya. Simple : karena dia mengganggu jam tidur saya. 

Syukur Puji Tuhan.. dia tak menghubungi lagi. 

Namun itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Beberapa minggu kemudian dia mengontak saya.. Memang sih hanya bercerita tentang suatu kegiatan besar yang baru diikutinya. Well.. it’s still oke lah. Meski saya agak cemas juga karena sejak itu, beberapa kali dia meminta untuk video call. Saya selalu menolak dengan berbagai alasan : sedang di perjalanan, sedang bersama keluarga, dan berbagai alasan lain. Saya tahu, seharusnya saya tegas berkata, “Kamu mengganggu!”, tapi ternyata saya tak pernah tega untuk mengatakan itu.

Dua bulan yang lalu.

Dia mengontak lagi dan berkata bahwa dia mendapatkan cuti panjang sebelum pindah ke tempat tugas yang baru. Selain mudik, ia merencanakan juga untuk bertemu dengan saya. Bukan.. bukan hendak menemui saya di tempat keluarga saya di Bogor, tapi ia ingin bertemu di kota tempat saya bekerja. 

Rencana ini membuat saya merasa sangat tak nyaman. Apalagi dia terkesan memaksa ingin menginap di mess pabrik yang saya tempati. Saya merasa sangat bodoh pernah bercerita bahwa di mess itu saya sendirian. Saya merasa bodoh karena saya tak pernah tegas menjauhi dia. Saya lalu katakan bahwa saya tak bisa mengambil keputusan karena mess itu milik pabrik.

Intuisi saya mulai bekerja. Saya mulai merasa takut dia punya niat jahat pada saya. Harusnya dia paham bahwa sebagai dua manusia yang beda gender dan bukan muhrim, tak benar jika tinggal serumah walau hanya untuk beberapa hari. Meskipun selama ini dia bersikap baik dan terkesan menganggap saya adik, tapi saya tak terima dengan rencananya itu.

Saya mencoba mencari solusi dan jalan untuk kabur. Terpaksalah saya melontarkan sebuah kebohongan : Ada karyawan baru yang akan tinggal di mess saya, so HRD tak mengizinkan si Mr. Q untuk menginap. Itu adalah kebohongan yang berlipat ganda, tapi saya rasa itu adalah jalan yang terbaik untuk menyelamatkan diri saya. 

Akhirnya saya memutuskan jalan tengah : silakan datang tapi harus tinggal di hotel. Saya yang akan mencarikan dan membayar hotelnya. Saya pun akhirnya berani berkata bahwa selama dia disini, saya hanya akan bisa menemaninya selama satu atau dua hari saja. Sisanya, saya minta maaf karena saya harus bekerja dan meninggalkan dia sendirian, mengingat cuti saya sudah berstatus fakir miskin. Dia mengeluh bahwa dia tak tahu jalan, dan saya meyakinkan bahwa kota tempat saya bekerja sangatlah mudah dijelajahi. So.. dia gak perlu khawatir.

Akhirnya dia merencanakan tanggal kunjungannya. Entah mengapa hati saya jadi semakin tak tenang. Muncul rasa takut dengan dia dan rencananya. Jujur.. baru kali ini saya merasa begitu terancam. Saya bingung harus menempuh jalan atau mencari alasan apalagi untuk bisa membatalkan rencananya. Saya sungguh takut dan rasa takut itu betul-betul meneror saya. Mungkin bisa dikatakan masa itu adalah masa paling mencekam dalam hidup saya.

Dalam kondisi itu, tanpa sengaja seorang sahabat mengingatkan saya tentang “Membicarakan semua dengan jujur kepada Tuhan.” Dan itulah yang saya lakukan saat perasaan takut itu semakin menyiksa dan saya tak tahu harus berbuat apa. Rasa itu terasa semakin berat karena saya tak bisa membagi masalah ini dengan siapapun. Saya tak mau dituduh memfitnah dan saya juga tak mau dicap sebagai “si negatif thinker”.

Saya sungguh mohon ampun pada Tuhan karena saya punya pikiran yang begitu negatif pada si Mr. Q itu, padahal selama ini dia tak pernah berbuat hal yang buruk kepada saya. Dalam doa rosario, saya juga memohon bantuan Bunda Maria untuk melindungi saya. Bahkan saya ingat pernah berkata, “Jika semua ini akan berujung pada hal yang buruk bagi kami berdua, hamba mohon bantuan Bunda untuk membatalkan semua rencana si Mr. Q”.

Suatu pagi, saya membaca renungan tentang “Memilih teman yang bisa dipercaya”, yang dikirimkam seorang Pastor ke whatsapp saya. Tanpa pikir panjang saya langsung mohon bantuan doa beliau. Saya katakan bahwa saya sedang “merasa takut dan ga nyaman dengan orang yang selama ini saya anggap sahabat..”.

Seorang Saudara di seberang sana juga mengajarkan saya untuk “menjadi kuat dan mensugesti diri dengan hal positif.” Karena semakin sering saya berkata bahwa “saya takut”, itu artinya saya merasa diri saya lemah dan rasa takut itu akan semakin besar. Saudara itu mengajarkan saya untuk mensyukuri kejadian ini, dan percaya bahwa Tuhan akan melindungi saya. 

Betul sekali. Saat saya mensugesti pikiran saya bahwa Tuhan dan Bunda Maria pasti melindungi saya, hidup saya mulai terasa tenang, meski hari demi hari saya masih khawatir si Mr. Q menghubungi saya untuk melanjutkan rencananya berkunjung kesini. Beberapa kali ia mengontak saya via BBM dan saya tak langsung menjawab sapaannya. Untunglah tak ada fitur “last seen” di BBM. 

Dan.. Tuhan sungguh baik.. Bunda sungguh melindungi. Mendadak si Mr. Q harus mempercepat kepindahannya ke tempat tugas yang baru. Ia minta maaf karena tak jadi mengunjungi saya. Tak henti-hentinya saya bersyukur atas karya Tuhan yang amat ajaib meskipun saya berupaya agar saya tak terlihat senang dengan gagalnya rencana dia itu. 

Saya lalu tertawa sendiri, merasa diri saya terlalu parno. Tapi jauh di dalam hati kecil saya, saya merasa bahwa tak ada yang salah dengan keparnoan ini. Sekali lagi saya minta maaf pada Tuhan karena sudah memandang salah satu ciptaannya dengan amat negatif.

Setelah itu dia masih mencoba menghubungi saya di BBM, dan saya selalu berkata bahwa BBM saya lebih sering sakit daripada sehat. Padahal BBM saya sehat walafiat dan hanya butuh diupdate saja. Saya tahu dia beberapa kali kirim “Ping”, tapi saya mencoba tak menggubrisnya. BBM, please don’t add the “last seen” feature to your application.

Tak digubris di BBM, dia mencoba mengontak saya di fb messenger dan whatsapp. Lagi-lagi dia mengajak video call. Saya pun berkali-kali menolaknya dengan sejuta alasan. “Seluas-luasnya alas (hutan), masih lebih luas alasan.” Hidup saya saat tidak berkomunikasi dengannya ternyata jauh lebih damai. So.. mengapa saya harus mengacaukan kedamaian hidup saya sendiri dengan memenuhi keinginan dia?

Pagi ini.

Hari saya dibuka dengan sebuah kejutan yang membuat saya melek 100% karena shock. 

Dua notifikasi facebook memberi tahu saya bahwa ada seseorang yang berkomentar di sebuah foto yang saya unggah beberapa bulan yang lalu. Ya.. foto itu adalah foto saya berdua dengan Mr. Q ketika saya bertemu dengannya untuk pertama kali. 

Komentar itu dari seorang pria (yang tak saya kenal dan juga bukan teman facebook saya). Isinya sangat mengerikan, penuh dengan caci maki yang sangat kasar. 

Pria itu menuduh Mr. Q merusak rumah tangganya!

Rasa kesal dan penasaran membuat saya nekad mengirim pesan pada pria itu. Mengapa dia menuduh Mr. Q dengan sesadis itu? Saya ingin tahu dan saya ingin bersikap adil. Dan saya terpaksa membuat foto itu menjadi “private” hingga saya mengetahui duduk masalah yang sebenar-benarnya.

Tak berapa lama pria itu menjawab dan menceritakan kronologisnya : Mr. Q berselingkuh dengan istri pria itu. Sampai sekarang. Menurutnya korban Mr. Q tak hanya istrinya saja, tapi banyak juga ibu-ibu muda yang terperangkap oleh Mr. Q. 

Saya sangat ngeri membaca tulisan pria itu. Sungguh ngeri.. Dan saya merasa belum cukup umur untuk membacanya. Saat ini pria itu tengah mengurus perceraian dengan istrinya di pengadilan, padahal tahun ini usia perkawinan mereka sudah memasuki 15 tahun. 

Pria ini pernah melabrak Mr. Q di telepon. Mr. Q bilang dia khilaf, tapi entah mengapa sampai hari ini si Mr. Q masih menghubungi istri pria ini? Bahkan nomor pria ini diblokir oleh Mr. Q. Jadi???!!!

Saya tahu saya seharusnya mendapatkan cerita versi Mr. Q. Tapi saya enggan menghubunginya meskipun tadi sore dia malah mengontak saya duluan lewat BBM (dan masih saya cuekin hingga saat ini).

Saya ngga tahu siapa yang benar dan siapa yang lebih benar. Mungkin istrinya si pria ini yang keGRan atau pria ini yang terlalu baper. Entahlah.. 

Mungkin saja si pria ini yang salah atau mungkin juga si Mr. Q memang sebejat yang dituduhkan pria itu. Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.

Sekali lagi saya mohon ampun pada Tuhan karena saya tak mau tahu kelanjutan kasus ini. Karena saya tak mau bersikap adil pada Mr. Q. Karena saya bersyukur Tuhan dan Bunda telah menggagalkan rencana pertemuan kami dua bulan lalu. 

Dan saya sungguh mohon ampun.. Karena saat ini saya merasa bahwa intuisi saya sangat tepat : Mr. Q bukan orang yang benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s