Uncategorized

Aku dan Websitemu

Entah kesambet apa.. Mendadak saya mengajukan diri untuk mengurusi website organisasi yang saya ikuti, yang sudah sekian tahun gak keurus. Bermodal hobby saya yang suka nulis dan curhat nggak jelas di blog sendiri, ujug-ujug saya nekad menggantikan kawan saya yang sudah give up dengan website itu.

Saya pikir semua akan menjadi lebih mudah karena platform website itu sama dengan blog saya ini, alias pakai wordpress. Lalu saya pikir saya cukup hanya mengumpulkan artikel dan mempostingnya saja, karena ibarat rumah, ruangan-ruangannya sudah tersedia dan (katanya) saya cuma cukup menambah perabotan saja plus merapikannya sedikit. Ah.. masalah artikel bisa diatur lah.. Beberapa tahun lalu saya pernah handle buletin organisasi ini, dan ada beberapa artikel yang masih nangkring belum sempat diposting.

Tapi… ternyata kejadiannya gak sesederhana itu, bahkan sangat-sangat-sangat menguras emosi dan saya nyaris membuat petisi untuk menghapus keberadaan website ini.

Setelah saya mendapat seluruh username dan password website, saya baru ngeh bahwa wordpress gratisan dan berbayar itu membutuhkan management yang berbeda. Bahwa ngeblog itu beda dengan memanage website. Ditambah lagi dengan rule-rule organisasi yang sangat banyak dan sangat membatasi. Bacanya aja udah bikin sesak napas dah.

Bersyukur saya punya sahabat-sahabat di luar sana yang memberikan bantuan dalam berbagai bentuk. Sahabat ngeblog saya memberikan beberapa referensi blog profesional yang tampilannya cakep banget. Masalahnya adalah saya masih blank banget dan udah terbiasa pasrah pake template gretongan tanpa mikir untuk nambahin ini itu.

Seorang sahabat di pabrik betul-betul membantu saya untuk belajar dari nol. Dia sabar sekali mengajarkan saya apa itu hosting dan domain, serta membuka jeroannya cpanel. Bahasanya yang sederhana berhasil menjembatani gap antara orang IT dan blogger abal-abal.

Masalah mulai muncul ketika saya membuka email milik website. Ada banyak pesan menumpuk yang sekian tahun tak pernah dibuka. Sebagian besar pesan-pesan itu sangat penting. Dan saya membatin, “Kemana aja nih tim website selama ini? Apa aja kerjaannya sampai email aja ngga pernah dibuka? Padahal mereka inilah yang dulunya ditraining sekian lama, tapi kenapa saya yang harus tanggung jawab.” Berbagai rasa kecewa berkecamuk dalam diri saya. Apalagi ada salah satu rekan saya yang begitu “menggampangkan”. Sungguh saya sangat kecewa dan ingin mogok saja.

But.. life must go on.. Saya sudah berkata “Ya” dan saya sadar saya ga boleh berhenti saat belum memulai.

Satu persatu saya membaca dan merespon email-email itu. Ada yang isinya kritikan yang membangun. Ada yang bilang bahwa tampilannya kurang menarik dan norak. Ada permintaan dari Peru untuk mengirimkan buku dan doa dalam Bahasa Indonesia. Juga permintaan dari seseorang di Dublin untuk menjadi guide selama mereka di Jakarta. Dan semuanya itu gak pernah dibaca. Gak pernah direspon hingga berujung menjadi satu hal yang basi. 

Satu persatu saya kirimkan permintaan maaf kepada mereka. Menawarkan berbagai hal yang semoga saja masih bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dan inilah awal dari komunikasi saya dengan warga Peru yang, sama dengan saya, gagu sekali dalam berbahasa Inggris. (Next story yaa..).

Kritikan mengenai tampilan website yang ngga menarik dan cenderung norak amat menganggu saya. Saya lalu nekad membongkar template lama dan berujung pada sebuah kehancuran. Ya Tuhan.. begimana ini ya.. Dalam semalam saya mencoba memperbaikinya, namun tetap gagal hingga akhirnya saya putuskan untuk mengubah template dengan yang sangat basic dan simple. Itu saja berhasil membuat saya begadang sampai jam 4 pagi. 

Dan yang nyinyir tetap saya nyinyir.. Yang nggampangin tetap saja cuma bisa ngomong. Muncul lagi rasa kecewa bahwa saya “kecebur” dan “ditinggalkan sendirian”. Apalagi tim lama sama sekali tak mau tahu dan tak mau peduli. Lelah rasanya. 

Setelah punya tampilan baru yang sederhana banget, saya mulai memposting artikel yang justru berasal dari teman-teman yang jauh di Borneo sana. Lantas saya mandek. Mentok. Mogok kerja. Saya pasif menunggu ada yang kirim artikel lagi. Kalau tak ada yang kirim ya sudah. Bodo amat. Toh ga ada yang peduli kok.

Tapi saya salah.. Ternyata DIA peduli. Dan DIA mengatur dengan segala macam cara supaya saya semangat lagi.

Perjumpaan dengan seorang sahabat pada awal September mengubah segalanya. Ia adalah seorang Frater skolastikat Ordo Salib Suci di Bandung. Ia mengajak adik-adik tingkatnya ketemuan dengan saya pada suatu jam bebas, ketika saya sedang ada acara di Bandung. 

Dua minggu kemudian, saya bertemu lagi dengan salah satu adik tingkat sahabat saya itu, kali ini di facebook. Ternyata Frater ini adalah pengelola websitenya Ordo Salib Suci. Nah.. pas bener kan.. 

Setelah sesi sharing panjang lebar bersama Frater ini, saya mendapatkan banyak inspirasi baru. Saya lalu ngubek-ngubek websitenya OSC yang sekarang jadi keren, informatif, dan menarik. Saya pun jadi terpacu untuk melakukan sesuatu buat website asuhan saya. 

Ada perasaan bahwa saya tak sendirian puyeng bergelut dengan website ini, karena saya punya sahabat disana yang juga sedang bekerja keras, apalagi beliau itu masih harus mengerjakan tugas-tugas kuliah yang berjibun plus menyiapkan tesis. Perasaan ini memantik semangat saya. Saya mulai belajar menampilkan video dari link youtube, membuat slide show. Setelah itu ide-ide baru muncul satu persatu di kepala, dan kali ini gak pakai begadang lagi..hehehe

DIA yang peduli itu juga menggerakkan banyak orang untuk mulai mengirimkan tulisan mereka untuk website. Sedikit demi sedikit website mulai ramai dan mendapatkan respon positif. Kini saya punya tugas baru : belajar menjadi editor dan belajar mempromosikan website ini supaya dikunjungi oleh lebih banyak orang. 😁

DIA juga mengutus satu orang sahabat lainnya, yang selalu sadar bahwa ada yang aneh dalam tampilan website. Ia langsung sigap memperbaiki keanehan itu (meski sampai sekarang saya juga ngga ngerti apa yang aneh sih.. hehehe). Dia juga yang rela meluangkan waktunya untuk mengetik dan menyalin kisah-kisah sejarah organisasi dari buku kenangan. 

Perjalanan masih panjang. Website ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak hal yang harus dipelajari. Masih banyak yang harus dilengkapi. 

Walaupun tim saya tidak peduli, tapi saya tahu DIA peduli. Dan DIA mengupayakan banyak cara untuk merayu saya supaya saya nggak mogok kerja lagi.. 😁😁

1 thought on “Aku dan Websitemu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s