Uncategorized

Memories of Pak Uca

Saya tak pernah menyangka bahwa Pak Uca begitu punya makna yang dalam bagi hidup saya.

Pak Uca adalah seorang driver HIBA, bus jemputan karyawan yang setiap hari setia mengantar dan menjemput kami dari dan menuju pabrik. Mungkin bagi banyak orang, Pak Uca hanyalah seorang driver. Tapi setelah sepuluh tahun dua bulan berinteraksi dengannya, tak bisa saya pungkiri, Pak Uca bukan hanya sekedar seorang driver bagi saya.

Pada awal-awal saya bekerja, saya tak sadar bahwa ada dua driver yang mengemudikan bus jemputan kami, yakni Pak Uca dan Pak Pena. Yah.. mungkin ini menunjukkan bahwa seringkali saya nggak peka dengan lingkungan sekitar. Lama kelamaan saya akhirnya sadar bahwa mereka biasanya berganti shift di hari Rabu. Namun tak berapa lama setelah saya ngeh itu, Pak Pena mengundurkan diri dan pindah ke perusahaan lain. Jadilah Pak Uca yang setiap hari sepanjang minggu mengantar dan menjemput kami.

You don’t know what you’ve got til it’s gone. Ya.. selama ini saya selalu berpikir bahwa Pak Uca akan selalu ada, membunyikan klaksonnya saat menjemput saya. Membuat saya terburu-buru memasukkan buku saya ke dalam tas, atau handphone saya ke dalam saku. Saya pikir Pak Uca akan selalu ada, memastikan kami semua sudah duduk manis di dalam bus dan mengantar kami pulang dalam lelah setiap sore. Saya pikir selamanya ia akan bersama-sama kami menaiki tanjakan hore PLTU Suralaya (yang tak banyak driver bisa melaluinya dengan mulus tanpa membuat kami panik) dan melalui kemacetan Cilegon setiap tanggal muda.

Tak saya sadari, ia semakin menua, bahkan akhir-akhir ini ia sering tidak masuk kerja karena sakit. Dan akhirnya, kemarin siang ia resmi mengundurkan diri dari HIBA Utama. Pak Pena berkata bahwa anak Pak Uca juga sudah tak mengizinkan ayahnya bekerja lagi karena khawatir bisa mencelakakan dirinya dan kami semua.

Pagi ini, Pak Uca menelepon untuk berpamitan. Ternyata beliau sudah pamit dengan teman-teman yang lain ketika saya tak masuk kerja. Dan saya tahu, saya merasa kehilangan dirinya.

Sepuluh tahun ini begitu banyak hal yang terjadi di atas bus jemputan. Saya yang ceroboh pernah kehilangan jarum dan menjatuhkan hakken di atas bus. Pak Uca yang menyapu seluruh bus hingga berhasil menemukan benda-benda kecil itu. Pernah juga saya ketinggalan barang di jok bus dan saya malah tak sadar hingga Pak Uca menelepon saya.

Pak Uca juga yang selalu menelepon menanyakan apakah saya kerja atau tidak jika saya tak muncul di tempat biasa pada jam yang juga biasa. Pak Uca yang kadang-kadang suka jahil kadang menakut-nakuti saya dengan cerita seram saat Kamis malam tiba.

Pernah kami sebus mendadak sangar ketika membela Pak Uca yang dituduh menabrak sebuah mobil, padahal jelas mobil itu yang menabrak bus kami. Kesangaran kami lumayan membuat gentar si penuduh itu, meskipun akhirnya masalah tak bisa diselesaikan saat itu juga. 
Ternyata interaksi driver dan penumpang ini melahirkan banyak kenangan. Bisa dikatakan Pak Uca sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian kami. Pak Uca sudah seperti rekan kerja kami.

Awal Oktober lalu, pada rangkaian perayaan HUT TNI yang dirayakan di Pelabuhan Indah Kiat, bus kami terkena macet berhari-hari. Banyak teman yang memilih turun bus, menuju di mesjid terdekat sambil menunggu waktu adzan magrib, dan ada juga yang memilih lanjut naik angkot atau ojek hingga ke rumah mereka. Pada suatu momen macet, saya duduk di belakang Pak Uca dan Pak Uca bercerita sedikit tentang hidupnya. 

Dulu, Pak Uca dan adiknya sama-sama melamar masuk RPKAD. Namun sayangnya menjelang tes fisik, Pak Uca kecelakaan, tulang kakinya menjadi bengkok dan ia tak bisa melanjutkan cita-citanya. Kadang ia iri dengan adiknya yang sukses menjadi tentara sementara ia hanya bisa menjadi sopir. Tapi ia selalu ingat bahwa “rejeki sudah ada yang mengatur”. Tahun ini Pak Uca sudah 48 tahun menjadi driver. Ia pernah menjadi driver para petinggi TNI hingga ia hapal sekali dengan pangkat-pangkat ketentaraan, ia tahu bagaimana membaca plat nomor kendaraan TNI, dan ia punya relasi yang baik dengan para purnawirawan tentara. Ternyata itulah momen sharing terakhir kami di bus jemputan.

Satu hal yang sangat membuat saya merasa kehilangan adalah, wajah dan perawakan Pak Uca begitu mirip dengan almarhum kakek saya, yang tak kebetulan juga adalah seorang driver semasa mudanya. Jadi selama ini saya merasa kakek saya sendiri yang ada di kursi kemudi itu. Itulah yang membuat saya tak pernah was-was meski kadang Pak Uca suka ngebut juga.

Sampai jumpa lagi Pak Uca.. Terima kasih dan maaf atas segalanya selama sepuluh tahun ini. 

Semoga masa purnakarya ini bisa memulihkan Pak Uca dari sakitnya.. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s