My Journey...

Lasem : There Are No Strangers

Hujan rintik menyambut kedatangan kami di Lasem ketika jarum jam hampir mendekati pukul enam petang. Tanpa kesulitan kami menemukan Tiongkok Kecil Heritage yang dinding luarnya bercat merah semua. Yap, malam ini kami akan menginap disini, di sebuah rumah tua berarsitektur Tiongkok kuno yang direstorasi dan dijadikan penginapan. 

Pintu masuk Tiongkok Kecil Heritage

Ketika kami memasuki area penginapan, rasanya pintu mesin waktu terbuka membawa kami ke suasana Lasem beberapa abad yang lalu. Seluruh dinding rumah terbuat dari kayu dengan pilar-pilar kokoh dan pintu tua yang tinggi. Patung-patung besar menyambut kami di bagian luar. Ah, seperti ada di Cina sana (padahal saya belum pernah ke Cina.. hahaha)
Bagi mereka yang tak pernah bersahabat dengan keheningan, rasanya tak akan bisa berdamai dengan suasana Lasem yang sungguh sunyi. Jam baru menunjukkan pukul enam lebih sedikit, tapi rasanya di luar sana sudah tak ada tanda-tanda kehidupan. Saya yang tadinya berniat menyusuri gang-gang di Karangturi untuk menemukan lokasi Klenteng Po An Bio akhirnya terpaksa membatalkan niat itu karena jalanan begitu sepi, rasa-rasanya kota ini bagai tak berpenghuni. Bagian kota yang agak ramai hanyalah Jalan Jatirogo, dan tentunya jalan lintas pantura yang dilalui truk-truk besar dari dan menuju Jawa Timur.

Rasanya tak percaya bahwa kota yang sepi ini dulunya pernah berjaya, pernah begitu ramai, pernah menjadi pelabuhan dagang yang besar. Lantas mengapa kini begitu sunyi?

Setelah selesai membereskan barang-barang dan beradaptasi dengan kamar yang bernuansa jaman baheula, kami pun lalu memutuskan untuk keluar mencari gereja dan juga makan malam. Salah seorang tamu Tiongkok Kecil merekomendasikan kami untuk makan di Restoran Hokki dekat hotel. Bapak itu sudah beberapa kali singgah di Lasem dan menginap disini. Dari beliau pula kami mendapat banyak kisah tentang Lasem.

Sisi muka Tiongkok Kecil Heritage

Kami lalu menuju gereja Katolik Maria Immaculata yang letaknya di tepi jalan lintas pantura. Kami sebetulnya sudah menemukan gereja ini sebelumnya, namun karena posisi kami sudah tanggung tak bisa minggir, akhirnya kami terpaksa melewatinya saja. Namun mengingat keesokan harinya adalah hari Minggu yang bertepatan dengan Pesta Keluarga Kudus, maka kami putuskan untuk mengikuti misa Minggu di gereja ini. Kami sudah bolak balik tanya jadwal misa gereja ini ke Mbah Google, tapi tak ada petunjuk yang muncul. Kami juga sudah mengirim facebook messenger ke akun gereja ini, namun (hingga hari ini) tak dibalas. Jadi malam itu kami kembali ke gereja untuk mencari tahu jadwal misa Mingguan.  
Namun ketika tiba di gereja, kami sungguh dibuat bingung. Kami bingung mencari pintu gerbangnya. Mengapa pintu pagar yang persis di depan gereja malah digembok? Lantas kami harus masuk darimana? Setelah maju mundur bingung tanpa petunjuk, akhirnya saya menemukan pintu masuk mobil yang dari depan memang tampaknya bukan bagian dari bangunan gereja. 

Kebingungan lainnya adalah tak ada seorang pun yang saya temui yang bisa memberi informasi tentang jadwal misa Minggu. Satpam yang berjaga dekat gerbang berkata misanya pukul 08.30. Tentara yang berjaga di belakang berkata “sepertinya” misanya sekitar jam delapan. Sakristi kosong dan tak ada koster yang bisa ditanyai. Salah satu ibu yang sedang momong anaknya di depan gereja berkata ia bukan umat gereja itu. Haduh, lantas saya harus bertanya pada siapa? Dalam keputusasaan, akhirnya kami terpaksa meninggalkan gereja itu tanpa jawaban.

Malam itu kami tutup dengan makan malam di Restoran Hokki. Sang pemilik menyambut kami dengan hangat dan menyajikan hidangan yang membuat kami shock karena porsinya yang sangat besar. Kami lebih kaget lagi ketika membayar, karena untuk empat jenis makanan porsi besar plus minum, kami hanya perlu membayar kurang dari seratus ribu rupiah saja. Wow…

Karena suasana kota sudah sangat sepi, kami pun memutuskan untuk pulang. Kami khawatir jika kami pulang terlalu malam, nanti penjaga gerbang penginapan keburu terlelap. 

Menjelang tidur, muncul rasa penasaran dalam benak saya. Sekali lagi saya mengulik facebooknya gereja Maria Immaculata, siapa tahu ada clue yang muncul disana. Hasilnya nihil. Saya lalu menemukan satu leaflet acara persekutun doa, dan akhirnya nekad untuk mengirim sms ke nomor telepon seseorang yang namanya tercantum disana.

Siapa sangka ketika saya sudah hampir terlelap, orang yang saya sms tersebut menelepon saya. Beliau dengan ramah menjelaskan bahwa di gereja Lasem tak ada misa Minggu, adanya hanya Sabtu pukul 18.00 saja. Tak hanya itu, beliau juga menganjurkan kami untuk ikut misa di gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang yang bisa ditempuh sekitar 15 menit berkendara. Saya sangat terperangah dengan kebaikan hati beliau yang rela menelepon malam-malam untuk memberi tahu jadwal misa. Rasanya takjub banget ada seseorang yang bela-belain berbuat kebaikan pada orang yang belum dikenalnya sama sekali.

Pagi pun datang. Untuk mengefektifkan waktu, kami check out dari hotel sebelum berangkat ke gereja di Rembang. Seusai misa kami kembali ke Lasem untuk sarapan dan mulai mengeksplor kota mungil ini.

Sambil menunggu semua selesai sarapan di sebuah gerobak nasi pecel di Jalan Jatirogo, saya mencoba masuk ke “Rumah Oen” yang saat itu pintunya masih terkunci. Saat saya minta izin masuk, seorang pria yang berjualan di depan rumah langsung membukakan pintu dan mengizinkan saya foto-foto tanpa banyak bertanya ini itu. Saya memang tak bisa masuk ke dalam rumah karena sedang direnovasi. Tapi justru di bagian luar rumah ini saya menemukan sebagian kecil kisah sejarah Lasem di masa lampau. 

Perjalanan lalu kami lanjutkan ke Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun (detail perjalanannya akan saya buat dalam tulisan yang berikutnya yaa..). Dalam perjalanan menuju ke sana, google maps menunjukkan satu titik bertuliskan “Lawang Ombo”. Wah.. ini lho rumah yang katanya pernah jadi gudang candu di masa lampau. Saya pernah dengar untuk masuk rumah ini perlu izin dulu dari pemiliknya. Hmm.. semoga saja saya punya kesempatan untuk masuk. 

Usai puas menjadi pengunjung satu-satunya di Klenteng Cu An Kiong, saya nekad menggedor pintu Lawang Ombo yang berwarna kuning. Tak ada respon, hanya ada gonggongan anjing saja. Eh.. jangan-jangan saya salah rumah ya?! Saya menelusuri gang di samping rumah itu dan menemukan deretan rumah-rumah khas Tionghoa dari masa lalu dengan pintu-pintu kayu dan lengkungan atap yang unik. 


Saya pun kembali lagi ke Jalan Dasun untuk mencari seseorang yang bisa ditanyai. Saya lalu menemukan sebuah warung yang dijaga seorang oma. Meskipun baru pertama kali berjumpa, saya dan oma langsung berbincang akrab. Oma punya anak perempuan yang saya panggil “Ci Henny”. Setelah tahu bahwa saya datang dari Bogor, Ci Henny langsung menghubungi istri pemilik Lawang Ombo supaya saya bisa masuk. Beliau saat itu tengah di Semarang dan langsung membolehkan saya untuk masuk, tapi saya harus menunggu pegawainya datang untuk memberi makan anjingnya.
Menurut Ci Henny, biasanya si pegawai memberi makan anjing sekitar pukul satu siang. Saya melirik jam, dan saat itu baru saja pukul setengah sebelas. Ketika saya sedang mempertimbangkan apakah akan menunggu atau tidak, Ci Henny masuk menemani seorang pengunjung warnetnya. Nah.. tak lama kemudan pintu Lawang Ombo terbuka dan ada seseorang keluar dari sana. Sayangnya orang itu tak mengizinkan saya masuk. Hiks.. padahal saya sudah harus lari-larian kesana. Saking juteknya orang itu, saya tak berani mengatakan bahwa saya sudah dapat izin dari istri pemilik rumah itu. Saat saya kembali ke warung Oma, Ci Henny menyesalkan saya yang “nggak ngotot”. Haduh abis daku udah keder duluan Ci..

Pintu Lawang Ombo

Yah.. nasib deh.. Apa daya saya tak bisa masuk ke Lawang Ombo. Tapi kejadian ini memberi saya seorang sahabat baru : Ci Henny. 
Saya lalu pamitan pada Ci Henny untuk mengunjungi destinasi berikutnya, yakni Rumah Tegel. Anehnya Ci Henny sendiri tak tahu ada tempat yang bernama Rumah Tegel. Untung pengunjung warnetnya langsung gesit menjelaskan lokasinya kepada saya. Ahhh.. ternyata warga sekitar mengenal lokasi itu sebagai pabrik tegel (baca : tehel) sebelah tempat praktek drg. Haryanto, di seberang bakso Sipit, sebelum lampu merah. 

Nah, kebaikan berikutnya kami temukan saat tiba di Rumah Tegel. Seorang ibu yang berjualan di depan rumah ini langsung membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilakan kami masuk ke Rumah Tegel. Ehhh… amazing banget ya. Di kota ini sepertinya semua orang siap membuka pintu rumahnya bagi mereka yang bertamu, meskipun hanya untuk foto-foto saja.

Tegel bergambarkan kisah alkitab di Rumah Tegel

Saya hanya sempat menjelajah kota ini dalam beberapa jam saja. Dan saya belum puas! Masih banyak hal yang ingin saya lihat, masih banyak rumah yang ingin saya masuki, dan pastinya saya ingin mendengar banyak kisah tentang kota ini. 
Pengalaman selama beberapa jam itu tak akan pernah terlupakan karena kota kecil ini begitu hangat dan ramah, lengkap pula dengan orang-orangnya yang sangat murah hati. 

Saya jadi ingat sebuah quotes yang disampaikan seorang dosen : “There are no strangers, only friends who haven’t met.”

Yes. Di Lasem ini there are no strangers, only friends who haven’t met.

Lasem.. nantikan aku kembali..

4 thoughts on “Lasem : There Are No Strangers”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s