My Journey...

Cincin Kayu Itu..

Ia menarik tangan kanan saya, mengambil sebuah cincin kayu dan memasangkannya di jari manis saya. Sebuah perbuatan sederhana namun berhasil membuat saya terharu hingga tak dapat berkata-kata..

Nama “Banteay Prieb” yang berarti “Center of The Dove” pertama kali saya ketahui dari tulisan Mispan Indarjo di www.sesawi.net, tiga hari setelah saya kembali dari Kamboja, Juli tahun lalu. 

Ah.. mengapa saya terlambat mengetahui tempat ini. Mengapa saya baru tahu tempat ini setelah saya pulang, padahal sebelumnya saya punya banyak waktu untuk bisa berkunjung ke tempat ini. Tapi saya kemudian berpikir bahwa penemuan Banteay Prieb ini adalah alasan bagi saya untuk bisa kembali ke negeri itu.

Tulisan yang saya baca itu berkisah tentang seorang Frater muda bernama Richard Michael Fernando, yang lebih dikenal dengan panggilan Richie Fernando. Ia adalah Jesuit Filipina yang ditugaskan menjadi guru dan pendamping para siswa difabel di Banteay Prieb yang didirikan oleh Jesuit Refugee Service pada 1991. Tempat ini sejak awal ditujukan sebagai pusat pelatihan bagi orang-orang cacat akibat perang saudara yang melanda Kamboja sejak dekade 70an. Ketika itu banyak sekali orang Kamboja yang harus kehilangan alat gerak karena terkena ranjau darat. Saat ini meski perang telah berakhir, namun masih banyak area di negeri ini yang masih belum bersih 100% dari ranjau darat.

Richie tewas pada 17 Oktober 1996 akibat granat yang terjatuh dari tangan seorang siswanya, Sarom. Bayangkan.. pada masa itu begitu mudahnya seseorang memiliki senjata dan bahan peledak. Richie bermaksud mencegah Sarom yang tengah marah dan hendak melempar granat itu ke dalam kelas yang berisi siswa-siswa difabel. Tanpa sengaja granat itu terjatuh dan meledak, melukai Richie pada bagian kepalanya hingga ia tewas di tempat.  

Richie adalah seorang muda yang sangat “all out”. Ia tak sekedar melaksanakan tugasnya, namun sungguh-sungguh menaruh hati pada murid-muridnya di Banteay Prieb. Sepanjang sejarah, orang-orang yang cacat selalu dianggap menjadi beban sosial. Mereka tak hanya ditolak oleh masyarakat, tapi juga dikucilkan oleh keluarga mereka sendiri. Kematian Richie menjadi bukti bahwa mereka, meskipun cacat, juga berharga dan layak untuk dicintai. Kisah Richie inilah yang selalu disampaikan kepada seluruh siswa di Banteay Prieb agar mereka tetap optimis dan tidak merasa bahwa hidup mereka hanyalah menjadi beban bagi orang lain.

“I know where my heart is. It is with Jesus Christ, who gave all for the poor, the sick, the orphan … I am confident that God never forgets his people: our disabled brothers and sisters. And I am glad that God has been using me to make sure that our brothers and sisters know this fact. I am convinced that this is my vocation.” 

(Surat Richie kepada Totet Banaynal, SJ, beberapa hari sebelum kematiannya.)

Richie begitu menginspirasi saya hingga saya ingin mengenal dan mengunjungi Banteay Prieb. Cintanya pada Kamboja membuat saya merasa “punya teman” dan “jatuh hati” kepadanya. Saya berjanji, jika saya punya kesempatan untuk mengunjungi Kamboja lagi, maka Banteay Prieb harus ada dalam itinerary saya.


Akhirnya kesempatan itu datang. Awal Maret lalu saya bisa kembali ke Kamboja dan memenuhi janji saya untuk singgah ke Banteay Prieb. Bersyukur sekali ada Channy, seorang driver tuktuk yang mau mengantar dan menunggui saya, padahal jarak tempat ini dari pusat kota sekitar 30 km dan jalan yang harus dilalui pun cukup padat. Kami membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menempuh perjalanan dari Phnom Penh ke tempat ini.


Ketika memasuki area Banteay Prieb, kita akan langsung melihat sebuah ruangan tempat produk hasil karya para siswa dijual : ada patung, ukiran, dan berbagai hasil jahitan yang begitu menarik hati. Hasil karya yang paling terkenal dari tempat ini adalah patung “Mary of The Inclusive Love” dan “Jesus with The Missing Leg”. Kedua karya ini sungguh menggambarkan perpaduan yang harmonis antara Gereja Katolik dengan Budaya Khmer. Yesus yang kehilangan salah satu kakinya menggambarkan kedekatan dan solidaritas Yesus dengan mereka yang cacat dan menderita. 

Di ruangan itu saya disambut dengan ramah oleh seorang gadis manis yang bertugas menjaga toko dan merangkap sebagai kasir. Keramahan hatinya membuat saya tak menyadari bahwa ia duduk di kursi roda. Kami sempat bercakap-cakap dan berkenalan meski terkendala Bahasa. Ia berkata bahwa saya adalah orang (awam) Indonesia pertama yang pernah mengunjungi Banteay Prieb. Saya terpaksa memintanya menuliskan namanya karena nama dalam Bahasa Khmer itu begitu sulit saya cerna. Hehehe. Ternyata namanya adalah Prom Sophea. Saya lalu menyerahkan kepadanya sebuah poster Maria Bunda Segala Suku yang saya bawa dari Indonesia. Kejadian berikutnya membuat saya ingin menghentikan waktu di tempat itu. 


Ia menarik tangan kanan saya, mengambil sebuah cincin kayu dan memasangkannya di jari manis saya. Saya berusaha menolak namun ia terus menarik tangan saya. Ternyata cincin yang ia pilihkan itu tidak cukup di tangan saya. Kami pun tertawa, lalu ia kemudian mencari cincin lain yang lebih besar dan akhirnya berhasil masuk di jari manis saya. Sebuah perbuatan yang sederhana namun berhasil membuat saya terharu hingga tak dapat berkata-kata. 


Bagi Sophea, Indonesia itu sangatlah asing dan jauh. Jarang sekali ia mendengar nama Indonesia (yang ia lafalkan sebagai Endonesi), bahkan ia tak mengenal Jakarta. Ah.. betapa ingin saya mengajaknya melihat Indonesia. Saya lalu bergegas pamit kepada Sophea sebelum ia melihat air mata yang menggenang di sudut mata saya. 

Saya lalu melangkahkan kaki menuju sebuah monumen berbentuk empat wajah seperti kita lihat pada Bayon Temple. Monumen itu adalah monumen peringatan untuk Richie Fernando juga menjadi penanda bagi tempat darahnya dimakamkan. Ya, jasad Richie memang dimakamkan di Manila, namun darahnya yang tertumpah dikumpulkan dan dimakamkan di tempat ini.

Suasana Banteay Prieb siang itu amatlah sepi meskipun di kelas-kelas ada banyak siswa siswa yang tengah belajar. Setiap kali mereka melihat saya, mereka langsung tersenyum dan bersompeah (memberi salam dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada). 

Di depan monumen saya berdiri sendirian, meski saya tahu Channy memperhatikan saya dari jauh. Saya mengingat kembali segala hal yang pernah saya ketahui tentang Richie. Saya merasakan rasa damai, ah.. mungkin rasa ini pernah Richie rasakan juga dulu. Saya menatap sekeliling dan merasakan bahwa Richie pernah berjalan dan tinggal disini, ia pernah mengajar di salah satu kelasnya, dan ia pernah menelusuri lorong-lorongnya. 

Ah Richie.. kematian telah membuatmu abadi dalam kenangan setiap orang. Kau tak akan menua dan selamanya akan menjadi Frater Jesuit muda berusia 26 tahun yang begitu hidup dan penuh semangat.

Satu hal yang amat ingin saya lihat adalah lubang bekas ledakan granat, karena disitulah Richie meninggal dunia. Saya akhirnya kembali ke tokonya Sophea dan bertanya mengenai lokasi lubang itu. Ada salah satu pria bernama John (saya awalnya mendengar namanya sebagai Chan dan Shan..hehehe) yang bersedia menemani saya ke tempat itu.

Brother John, begitu saya kemudian menyapanya, adalah seorang kandidat Yesuit dari Korea Selatan. Ia sedang magang di Banteay Prieb sejak bulan Februari lalu. Tak hanya mengantarkan saya ke lubang ledakan, Brother John juga berkenan menyediakan waktunya menjadi guide saya berkeliling Banteay Prieb. What a lucky me!

Kami mengawali semuanya dari tempat ini :

Ini adalah lubang ledakan granat yang menewaskan Richie. Setiap tanggal 17 Oktober warga Banteay Prieb pasti mengadakan upacara peringatan di tempat ini. Brother John menceritakan dengan detail tentang apa yang terjadi pada 17 Oktober 1996 itu pada saya. Ia lalu memberi saya waktu untuk sendirian di depan lubang itu. Saya tertegun bagai tak percaya bisa berada di tempat ini dan menjadi begitu dekat dengan tragedi itu.

Kami lalu menuju kelas tata boga, dimana Brother John menunjukkan buku resep yang dibuat sedemikian rupa dalam bentuk foto-foto supaya mudah dipahami. Sepertinya saya harus belajar masak dengan buku resep ini deh, supaya saya ngga bingung lagi dengan kalimat “dipotong dadu” atau “dirajang” atau “dipotong korek api”. Saya juga melihat jadwal kegiatan dari masing-masing siswa yang dibuat dengan gambar-gambar. Salah satu aktivitas mereka adalah berbelanja ke pasar agar mereka terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat. Memang terkadang mereka masih harus diikuti oleh pembinanya saat berbelanja. Kelas tata boga ini rencananya akan membuka restoran, dan lulusan-lulusannya akan dipekerjakan disini. Saat inipun mereka telah terbiasa melayani bagi para siswa atau pengajar yang ingin memesan kopi. Para pemesan tinggal membunyikan lonceng di jendela cafe. Kemudian salah satu siswi akan mencatat pesanan dan siswi yang lain menyiapkan pesanan itu. 

Oh iya, saat ini Banteay Prieb tak hanya mendidik orang dengan cacat fisik saja, tapi juga mereka yang memiliki kelainan mental. Mereka yang cacat fisik pun bukan lagi berasal dari korban perang, melainkan juga korban kecelakaan lalu lintas. 

Brother John menunjukkan kelas-kelas lain : kelas kecantikan, elektronik, service gadget, dan kelas yang paling menarik adalah pembuatan kursi roda by order. Menarik sekali karena kursi roda dirancang beroda tiga seperti sepeda. Mengapa? Karena jalanan Kamboja yang tidak mulus sehingga kursi roda yang hanya menggunakan dua roda akan membuat penggunanya tidak nyaman. Tak hanya itu, disana ada berbagai macam rancangan kursi roda : ada yang kursinya lebar, ada yang dikayuh dengan tangan. Intinya, kursi roda ini dibuat sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Setiap tahun ada 1000 kursi roda yang dipesan di tempat ini. 

Di akhir perjalanan kami, Brother John menunjukkan tempat tinggal para guru pendamping dan siswa yang juga disesuaikan dengan kondisi fisik mereka. Mereka hidup dalam kelompok kecil dan memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Ini adalah latihan hidup bagi mereka di tengah komunitas dan juga orang-orang normal. Di salah satu dari dua belas pondok itulah, Richie dulunya pernah tinggal.

Meskipun mereka ini cacat, tapi mereka mau belajar dan hasilnya tak kalah hebat dari orang-orang normal. Mereka bisa berolah raga, bisa menghasilkan karya yang berkualitas. Banyak yang setelah lulus berhasil membuka bisnis mereka sendiri dan banyak pula yang kembali mengabdi menjadi pendidik di tempat ini. Tapi ada pula yang kembali ke keluarga mereka dan malah dianggap beban. Mereka dikurung dan dikucilkan. Maka Banteay Prieb juga memberikan pendampingan kepada keluarga agar mereka bisa memahami anggota keluarga mereka yang difabel agar diberi ruang untuk berkarya.

Christoph, relawan asal Jerman sedang mengamati para siswa berkebun

Ketika saya kembali ke Phnom Penh bersama Channy, saya menyadari satu hal : seseorang yang telah meninggal ternyata bisa mempertemukan saya dengan orang-orang hebat ini, bisa membawa saya ke Banteay Prieb yang begitu jauh dari rumah, bisa menunjukkan kepada saya bahwa masih ada cinta yang berlimpah di atas bumi ini.

Banteay Prieb adalah bukti bahwa masih banyak cinta di dunia. 

“Terima kasih, Brother Richie..”

See you again..
Advertisements

6 thoughts on “Cincin Kayu Itu..”

  1. Tulisan ini menyentuh hati. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan,” kata Rasul Paulus. Kasih inilah yang menjadi kekuatan bagi banyak orang untuk terus menebar kebaikan, meski harus menderita dan bahkan mati, seperti Fr Richie.

    Aku baru tahu nih setelah baca tulisan ini bahwa Jesuit jg turut berkarya di Kamboja.

    Aku jadi ingat, dulu kalau pergi ke Boro, Kalibawang, Jogja, aku mampir ke pabrik tenun Santa Maria. Di sana kain-kainnya dihasilkan dari para anak panti. 😊
    Semoga di dunia yg makin suram ini, semakin banyak kasih yg ditebar

    1. Iya Mas.. ketika kita mengalami sendiri betapa banyaknya kebaikan di dunia ini, harusnya kita jadi lebih optimis menjalani hidup ya.. ☺😉

      Menurut Brother John, ada 2 Jesuit Indonesia di Kamboja, Pastor Greg Priyadi dan Pastor (atau Bruder ya?) Hari. Beliau berdua mengelola sebuah sekolah yang baru dibuka di Sisophone. Nah.. aku kaget juga pas Brother John cerita ini.. ngga nyangka ada pastor dari Indonesia disana..

      Wah.. aku jadi penasaran mas.. Boro itu yg dekat Sendang Sono bukan? Duh..jadi pengen kesana…

      1. Iyap! Betul sekali, Boro itu di dekat Sendang-Sono, sekitar 7 kilometer ke arah selatan.

        Aku masih sering ke sana sih kalau ke Jogja karena punya ibu angkat di sana hehehe.

  2. Baru sempat baca hari ini euy…. pengalaman luar biasa yah, congratz..

    Kamboja memang menerima warisan “manusia cacat” begitu banyak akibat perang saudara, atau perang sipil yang berkepanjangan pasca penggulingan Norodom Sihanouk tahun 1970.
    Dikenal juga sebagai negeri kaum cacat, atau bahkan lebih seram, dijuluki negeri neraka dunia, haha..

    1. Waah.. Romo.. terima kasih banyak sudah singgah dan membaca tulisan ini.. 😊

      Iya Romo.. sejarah negeri itu begitu mengerikan ya.. Kalau tak salah dulu pernah ada buku yang judulnya “Neraka Kamboja” ya Mo..
      Semoga sejarah gelap itu tak akan terulang lagi dimanapun juga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s