My Journey...

Dua Kisah dari Angkor Wat

Angkor Wat, 4 Maret 2018.

Terhitung sudah empat kali saya menginjakkan kaki di candi Hindu terbesar di dunia ini. Setiap kunjungan membawa kisah dan kenangannya sendiri. Kali ini, Angkor memberikan dua kisah yang tak akan saya lupakan ^^.

20180304_074621.jpg

“Banjir” Berkat

Ada seorang bikkhu yang selalu stand by di bagian Preah Pean-nya (hall of thousand Buddhas) Angkor Wat. Beliau duduk di depan deretan patung-patung Buddha dan memberkati orang-orang yang singgah di hadapannya. Kita cukup berlutut atau bersimpuh di depan beliau, meletakkan donasi secukupnya di atas wadah logam, lalu bikkhu itu akan mendoakan kita dalam bahasa Pali dan memerciki kepala kita dengan air suci. Ritual itu ditutup dengan pemasangan gelang pada tangan kiri (untuk wanita) atau tangan kanan (untuk pria).

Pada tiga kunjungan saya yang terakhir, saya selalu mampir di tempat itu untuk minta berkat. Saya percaya beliau mendoakan segala yang baik bagi saya meskipun kami berbeda. Entah kebetulan atau tidak bikkhu yang saya temui kali ini adalah bikkhu muda yang sama dengan yang saya temui pada kunjungan saya yang terakhir, Juni 2017. Ketika itu saya minta izin untuk memotret beliau, dan bikkhu itu memberi warna cerah di tengah kelabunya batu-batu candi.

DSCN0357
25 Juni 2017

Tapi kali ini.. saya melakukan sebuah kekonyolan yang membuat saya nyengir sendiri setiap kali mengingatnya. Duhh.. semoga nggak kualat apalagi dosa ya…

Jadi begini ceritanya..

Ketika saya tiba di Preah Pean, bikkhu itu sedang duduk santai. Saya lalu menyapa beliau untuk minta berkat. Mendadak beliau malah tanya asal negara saya dan mulai menebak-nebak. Naaah… langsung deh keluar kejahilan saya. Saya merahasaiakan asal saya, dan bikkhu itu semangat banget menebak. Mulai dari Singapore, Malaysia, Thailand (ok.. entah kenapa saya selalu disangka orang Thai), sampai ke Taiwan, Jepang, Korea. Untung saja beliau ngga menebak “Italia” (wee..ngarep) atau Ethiophia (oh nooooo….). Setelah beberapa kali trial sambil dibantu seorang tour guide, akhirnya beliau menebak dengan benar : INDONESIA (yang dilafalkan sebagai Endonesi). Saya bersorak senang dan beliau tersenyum kalem (as always). Setelah proes tebak menebak berakhir, mendadak muncul keheningan yang aneh. Wajah beliau kembali serius sementara saya masih cengar cengir sendiri.

Saya pun lalu berlutut di hadapan beliau dan mengembalikan semua formalitas yang sempat terabaikan. Saya menundukkan kepala dan beliau mulai mendoakan saya. Ketika tiba bagian pemercikan air suci, entah hanya perasaan saya saja atau memang nyata, kok rasanya beliau banyak sekali memercikkan air suci ke kepala saya. Sampai lebih dari tiga kali tiga percikan (biasanya hanya satu kali tiga) dan air suci itu mengucur dari ujung-ujung rambut saya ke tikar, bersatu dengan keringat saya yang menderas. Lantas saya berpikir, ah.. ini pasti gara-gara iseng tebak-tebakan tadi nih.. Pasti beliau mencap saya “anak bandel” dan perlu dikasih air suci yang banyak supaya bertobat. Yap, beliau sukses membuat kepala saya basah oleh air suci.

Tapi anak bandel ini masih ngeselin aja.. Setelah seluruh ritual selesai, saya meminta kesediaan beliau untuk difoto. Bikkhu yang baik hati ini pun bersedia untuk berpose walaupun tidak memperlihatkan wajahnya ke kamera saya. Duh.. maafkan aku ya, Bikkhu.. Sungguh.. rasanya nyesel banget udah bikin beliau kesal… huhuhuhuhu…

20180304_082607.jpg
4 Maret 2018

Bertemu “Si Baik Hati yang Suka Ngomel”

Saya bersyukur karena saya masih bisa naik ke Bakan (puncak tertinggi Angkor Wat) meskipun sudah kesiangan. Cuma entah kenapa pagi itu saya agak-agak ngga sabaran karena orang-orang di jalur antrian saya nyeleneh semua. Ada wong Indiahe yang seenaknya nyelak, trus di depan saya ada sepasang bule yang ribet banget dan nempel terus kayak mau mati besok. Udah begitu kayaknya antrian bergerak lamaaa bangeeeet.. Padahal udah geraaaah bangeeeet..

Ketika akhirnya si bule couple itu dapat giliran naik, petugas jaga malah melarang mereka. Alasannya sih sepertinya karena si cewek hanya pakai kaus you can see. Si cewek lalu berdebat dengan petugas karena dia merasa sudah pakai selendang untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Nah gregetan kan, pasti bakalan lama deh urusannya. Akhirnya saya memutuskan untuk menyelak mereka. Sabodo ah… ketika saya nyelak itulah, saya melihat seorang pria berwajah Asia (tebakan saya sih orang Jepang) berbincang dengan mereka, sepertinya menawarkan sesuatu. Hmm apa ya? Mbuh lah… Pokoknya saya mau naik ke Bakan. Horeee…

Setelah sampai di atas saya bertemu dengan anak-anak berpakaian orange seperti bikkhu, hmm.. sepertinya mereka ini calon bikkhu kali ya? Saking sumringahnya saya bertemu mereka, saya meminta izin untuk memotret mereka. Eh.. ternyata si pria Asia itu mendadak muncul, diikuti oleh pasangan bule ribet tadi. Eh.. eh.. akhirnya mereka bisa naik juga toh?

Dalam sekilas pandang, si pria Asia itu mirip sekali dengan kakak kelas saya yang “bocah petualang”, dengan rambut gondrongnya yang dikuncir dan wajah ramah dengan garis-garis yang tegas. Eh.. kok jadi penasaran..

Kami akhirnya bertegur sapa di hadapan sebuah bukaan besar yang menghadap ke west gatenya Angkor. Semua dimulai dengan kalimat, “It’s very hot” dari saya ketika saya melihat dia kipas-kipas saking panasnya. (serius.. pagi itu panas banget… jadi bukan sekedar basa-basi saya bilang panas..).

Kata “hot” itu menjadi pembukaan untuk percakapan kami yang panjang lebar. Betul tebakan saya bahwa dia orang Jepang, dan betul juga tebakan saya bahwa dia seorang petualang. Dia sedang mengumpulkan destinasi untuk diving, dan ketika dia tahu saya dari Indonesia, langsung deh saya ditodong untuk mengeluarkan pengetahuan saya tentang tempat diving di Indonesia (untung aja saya lagi gak dodol), saya disuruh menunjukkan tempat-tempat itu di google mapsnya yang pake Boso Kanji (nah kalo yang ini saya terpaksa nyerah deh), jadi saya tulis aja di kertas.

Dua puluh tahun yang lalu, pria bernama Takappy ini sudah berkeliling Asia Tenggara. Dia tiba di Jakarta saat situasi politik sedang panas. Ia melarikan diri dari tentara yang berniat mengawalnya di bandara (dia sih curiga mereka bukan mau mengawal tapi mau mencari “penghasilan tambahan” dari turis yang datang). Dia tersesat di jalanan Jakarta dan merasakan suasana Jakarta yang mencekam. Dua puluh tahun yang lalu dia menjelajah Kamboja dan menikmati Angkor Wat yang masih sepi pengunjung. Bahkan bisa-bisanya dia terlelap di Bakan hingga matahari terbenam.

Ya Tuhan.. dua puluh tahun yang lalu saya masih anak SMP yang imut-imut.. sementara pria di depan saya sudah berkeliling ke banyak tempat. Tapi entah kenapa wajahnya kok kelihatan awet muda ya..

Takappy ternyata sedang belajar masak di Thailand. Ah.. mendadak saya merasa minder. Dia bercerita banyak tentang bumbu-bumbu Asia Tenggara yang unik dan cara memasak tradisional yang menghasilkan taste lebih enak. Dia sampai rela menghabiskan waktunya untuk mengamati seorang ibu pemilik warung makan memasak. Ibu itu tak punya waktu untuk mengajarinya, jadi ya.. hanya itu yang bisa Taka lakukan untuk bisa menyerap ilmunya.

Pembicaraan kami lalu berlanjut ke kondisi perpolitikan Indonesia. Waaah.. tema ini bikin saya deg-degan. Untunglah kami sedang di luar Indonesia. Jadi nggak akan ada yang bakal nyinyir jika kami berpendapat seenaknya.. hehehe.. Nah.. mendadak Taka “ngomel” gara-gara pemerintah Indonesia membatalkan kontrak kereta api cepat Jakarta-Bandung dengan pemerintah Jepang, dan malahan bikin kontrak dengan pemerintah China. Laaaah.. napa jadi ngomel ama sayaaah (sambil pasang muka nyengir salah tingkah….). Aku mah apa atuh…

Kami ngobrol lamaaaa banget, sampai akhirnya Taka clingak clinguk mencari jejak si bule couple itu. Nah…jadilah saya tahu, di bawah tadi Taka menawarkan T-shirtnya ke cewek bule yang pakai you can see itu. Ahhh.. ternyata bule itu bisa naik karena pakai kaosnya Taka toh… Wah.. Taka baik sekali yaa… Baru kali ini saya menemukan orang sepeduli Taka. Hmm.. jadi malu dengan diri saya sendiri.

Kami lalu meneruskan berkeliling Bakan, tak berjalan beriringan namun tetap menjaga jarak agar tak terlalu jauh. Saya melihat jam dan sudah lebih dari dua jam saya berkeliling Angkor. It’s time to go.. Saya lalu turun duluan sambil berharap ada moment untuk say good bye dengan Taka.

Di bawah, saya masih belum melihat jejak Taka. Pasangan bule itu sudah ada di bawah juga dan sepertinya mereka tengah menunggu Taka turun. Saya menimbang-nimbang apakah saya perlu menunggu Taka atau saya langsung keluar saja? Sambil berpikir saya melihat anak-anak muda berpakaian kostum apsara dan raksasa.

20180304_092140.jpg

Tapi tak lama kemudian saya melihat Taka sudah ada di bawah (dih.. cepet banget turunnya…) dan dia langsung dicegat si bule tadi. Saya langsung mendekati mereka dan melambaikan tangan ke Taka. Saya pikir wajar untuk berpisah dengan cara itu karena kami juga kan belum terlalu dekat. Nggak nyangka kejadian berikutnya bikin saya shock setengah hidup (lebay).

Belum sampai sepuluh langkah saya meninggalkan Taka, bahu saya ditahan oleh sebuah tangan kekar. Yap, itu tangannya Taka. Dia lalu “ngomel” katanya seorang pria dan wanita tak boleh berpisah dengan cara seperti itu (hanya melambaikan tangan saja). “Itu gak sopan!” Saya kaget sampe ga bisa berkata apa-apa kecuali minta maaf berkali-kali. Duhhh.. jadi ngga enak.. Masa dalam waktu beberapa jam saya udah bikin banyak dosa sih ah…

PhotoGrid_1524030194440.jpg

Taka lalu tersenyum menerima penjelasan saya. Senyum yang sedikit melegakan saya. Kami akhirnya “berpisah baik-baik” setelah salaman dan foto bareng. Suer.. baru kali ini bertemu orang model Taka yang baik hati tapi suka ngomel.. hahaha… Tapi kami masih berteman kok.. di facebook.. Yeaaaayy.. (Beberapa hari setelah saya pulang ke Indonesia, saya mendengar kabar bahwa Taka kecelakaan di Battambang. Untunglah.. kondisinya tak terlalu parah, sehingga beberapa hari sesudahnya ia sudah beraktivitas normal lagi).

Ah.. Angkor.. begitu banyak kenangan yang kau berikan dan kau janjikan, hingga membuatku selalu ingin kembali .. lagi dan lagi..

20180304_093708_Richtone(HDR)-1.jpg

4 thoughts on “Dua Kisah dari Angkor Wat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s