Uncategorized

Izinkan Saya Bercerita…

Dua hari yang lalu saya menerima broadcast tentang penggalangan dana Panti Dymphna di Maumere. Belum sempat saya bertindak apapun, mendadak kemarin siang salah seorang sahabat saya memberi tahu bahwa ada broadcast sanggahan yang menyatakan bahwa penggalangan dana itu hoax, bahkan sanggahan itu muncul pula di sebuah media online yang selama ini sering kami dijadikan referensi.

Sahabat saya itu bilang, “Ini mirip sekali dengan kasusmu..” Jujur saya masih merasa trauma dengan apa yang ia sebut sebagai “kasusmu”, padahal sudah hampir sebulan berlalu. Saya pikir saya harus tuliskan semuanya disini, di blog ini, blog pribadi saya sendiri. Bukan bermaksud untuk membenarkan diri sendiri, tapi semata-mata agar saya bisa pulih dari trauma itu. Bagi saya, curhat di blog ini sudah terbukti menjadi terapi yang ampuh bagi jiwa saya.

Sesungguhnya rangkaian kejadian ini sudah bermula dari beberapa tahun yang lalu..

Mei – Juni 2015 :

Saya mengenal seorang karyawan UNDP asli Pontianak di kursus kitab suci yang diadakan di paroki saya. Ia sering bertugas ke pedalaman-pedalaman seantero Indonesia. Darinya saya tahu bahwa banyak sekali umat Katolik di pedalaman yang minim fasilitas. Mereka hanya bisa merayakan ekaristi sebanyak satu hingga dua kali dalam setahun karena jarak yang jauh dari pusat paroki dan keterbatasan jumlah imam. Kawan saya itu lalu menggalang pengumpulan Madah Bakti dan saya bersyukur bisa ikut serta walaupun jumlah buku yang saya kumpulkan hanya kurang dari 10 buku.

September – Oktober 2015 :

Saya baru saja memulai tugas saya menjadi koresponden kelompok saya untuk para anggota di Kalimantan Barat. Tugas pertama saya adalah mengisi data sensus. Setelah berbagai kondisi “not responding”, akhirnya saya bisa berhubungan langsung dengan mereka yang di daerah. Ada satu hal yang cukup menggelitik saya, karena ada seorang ibu dari pedalaman Begori (Kecamatan Serawai) yang minta tolong dibawakan rosario karena disana banyak anak-anak sekolah yang tak punya rosario. Tanpa pikir panjang, saya mencoba menggalang pengumpulan rosario (dan akhirnya meluas ke alkitab, buku rohani, dan lain-lain). Saya bersyukur sekali respon teman-teman sangat positif. Memang saat itu saya mendapat teguran ringan dari atasan saya karena saya melakukan ini tanpa seizin atasan saya.

Ketika saya berkunjung ke Pontianak pada November 2015, saya dan senior saya membawa total 40 kg benda-benda sumbangan. Puji Tuhan akhirnya kami bisa menitipkan sumbangan itu untuk umat-umat di pedalaman : Begori, Serawai, Sintang, Sanggau, Ketapang.

Dalam proses ini saya belajar untuk tertib administrasi dengan mencatat seluruh total sumbangan yang masuk, mencatat detail distribusinya, membuat bukti serah terima (walaupun hanya berupa foto), dan akhirnya membuat laporan sederhana bagi mereka yang menyumbang.

Beberapa bulan kemudian saya berkesempatan untuk tinggal di Begori selama satu malam. Memang benar disana kondisinya sangat sederhana, bahkan listrik pun belum masuk. Mereka punya kapel namun tak bisa menikmati perayaan ekaristi setiap minggu.

April 2016 :

Saya singgah di Nanga Pinoh sebelum melanjutkan perjalanan ke Begori. Suster Winda, ALMA di Panti Asuhan Bakti Luhur menyampaikan bahwa banyak umat di stasi yang tak punya rosario dan sering meminta dari suster. Sementara suster sendiri tak punya stok rosario yang banyak. Saya berupaya membuat rosario sendiri dari tali namun saya tak bisa konsisten. Akhirnya saya terpaksa mengirimkan bahan manik-manik, herces, dan tali agar suster beserta anak-anak panti bisa membuat sendiri.

Oktober 2016 :

Muncul lagi permintaan yang sama dari Sanggau, khususnya untuk mereka yang menjadi warga binaan di lapas. Sedih sekali menerima info bahwa ada banyak anak-anak yang seumur hidupnya belum pernah memegang butir-butir rosario. Saya dan kawan tugas saya mengggalang pengumpulan rosario. Kali ini hanya rosario saja. Puji Tuhan hasilnya cukup banyak dan kami bisa membaginya untuk Nanga Pinoh, Ketapang, Sanggau, Serawai, dan Begori.

Agustus 2017 :

Kali ini kisah serupa saya dapat dari Rasau. Banyak umat di stasi-stasi di pedalaman yang tak punya rosario. Pada tugas saya yang terakhir ke Kalimantan Barat di bulan November 2017, saya dan teman-teman membawa rosario meskipun tak terlalu banyak untuk Rasau, Nanga Pinoh, dan Begori.

20 Maret 2018

Kawan saya bercerita tentang kunjungannya ke stasi-stasi di Pahauman pada saat Natal 2017, dan betapa miris hatinya melihat kondisi umat disana. Saya paham sekali dengan apa yang ia rasakan, karena saya pernah merasakan hal itu ketika berkunjung ke Begori. Rasa ingin berbuat sesuatu namun tak tahu harus mulai darimana. Setelah berkonsultasi dengan Bruder di Pontianak yang sering bertugas ke Pahauman tentang apa kebutuhan umat, akhirnya kami berdua bersepakat membuat broadcast penggalangan rosario, alkitab, buku doa, kertas doa, dll untuk umat di pedalaman Pahauman. Yang kami minta adalah benda yang tak terpakai, yang bisa menjadi berkat bagi umat di daerah. Kami mulai share broadcast itu ke teman-teman terdekat kami, ke grup mahasiswa Katolik almamater kami, dan ke grup-grup whatsapp yang kami anggap bisa membantu kami. Ini di luar kebiasaan, karena biasanya saya hanya share ke teman-teman di dalam kelompok saja.

21 Maret 2018

Kami terkejut sekaligus mulai khawatir. Kami menerima respon yang sangat luar biasa, tak hanya dari Jakarta, tapi juga dari Riau, Yogya, Semarang, bahkan Samarinda. Awalnya kekhawatiran kami hanya satu : kami tak bisa menghandle semua ini dan kami khawatir sudah membuat kehebohan yang bisa berujung huru hara. Telepon kami mulai sibuk dan pekerjaan kami mulai terganggu. Tapi pada dasarnya kami masih bisa menghandlenya dengan suka cita.

22 Maret 2018

Kami semakin terkejut karena respon yang semakin banyak. Sejak pagi kami tak henti-henti ditanyai oleh orang-orang. Banyak yang mau menyumbang namun banyak juga yang meminta klarifikasi ini itu. Jujur, kami mulai merasa terganggu.

Ada seorang ibu yang menelepon kami minta nomor pastor di Pahauman karena dia mau menyumbang langsung kesana. Ia bilang ia tidak percaya jika sumbangan dititip, karena tidak akan sampai ke umat yang butuh. Padahal jika ia bersedia kirim langsung ke Pontianak, kami sudah memberikan alamat dan kontak Bruder.

Semakin siang kondisi semakin panas. Muncul pertanyaan-pertanyaan untuk memastikan bahwa kami tak menyebarkan hoax. Kami mencoba melakukan klarifikasi dengan tenang. Ada seorang Bapak di seksi Lingkungan Hidup sebuah paroki di Jakarta yang khusus menelepon saya dan memberikan kekuatan. Tapi apa yang terjadi pada sisa hari itu membuat saya tegang setengah mati.

Menjelang malam, saya mendapat telepon dari orang yang sebelumnya meminta nomor pastor. Dia lalu bilang bahwa kami berbohong. Dia menelepon pastor di Pahauman dan katanya pastor tidak tahu menahu tentang pengumpulan ini, pastor dan paroki juga tidak pernah meminta pengumpulan ini. Saya jelaskan padanya bahwa kami melakukan kegiatan ini bukan karena permintaan pastor/ bruder/ paroki. Ini murni inisiatif kami disini. Dia juga menuduh kami “menjual nama” bruder dan ordo. Saya jelaskan lagi, bahwa nama Bruder muncul karena banyak yang bertanya alamat jika hendak mengirim langsung kesana. Berbagai hal ia tuduhkan dan saya jawab semuanya. Tapi tetap ia tak mau mengerti. Bahkan dia bilang kami bisa dituntut karena hal ini. Lho?!! Dia bilang harusnya Bruder membuat proposal jika butuh ini itu. Sekali lagi saya jelaskan bahwa ini BUKAN PERMINTAAN BRUDER. Tapi ya percuma saja. Ia keukeuh tak mau dengar.

Setelah telepon itu, tak lama kemudian senior saya memberi tahu bahwa muncul broadcast sanggahan yang menyatakan bahwa kami telah menyebarkan berita bohong. Bahkan pada sanggahan itu disebut nama seorang pastor. Kata pastor itu kami memalsukan data umat dan menjual nama Bruder. Jadi pasti kami sedang melakukan penipuan/ penyalahgunaan nama paroki untuk keuntungan kami sendiri.

Malam itu saya mulai banjir air mata. Saya bersyukur bahwa kawan saya begitu tenang menghadapi hal ini (Mungkin ini juga karena ia seorang pria). Meskipun saya mulai diserang dari sana-sini, saya masih bersyukur bahwa banyak orang yang memberikan dukungan, termasuk kata-kata dari atasan saya,” Ketika kamu menghadapi serangan dan masalah, itu tandanya iman kamu sedang melakukan pergerakan maju.”

Sebelum tidur saya berdoa, agar saya mendapat kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi hari esok.

23 Maret 2018

Hari ini saya bagai menghadapi tsunami. Saya diterjang ombak tinggi tanpa bisa berlari menyelamatkan diri. Sejak pagi saya ditelepon banyak orang. Kebanyakan mau menyumbang setelah minta klarifikasi. Saya mulai emosi. Ini kok mau nyumbang tapi kelakuannya udah kayak bos. Penuh tuntutan ini itu. Saya mulai ngga enak dengan bos dan teman-teman di kantor karena sibuk melayani yang nelpon.

Makin siang kondisi semakin menggusarkan, kami berdua fix dituduh penipu. Banyak yang menelepon lalu menuduh dan memarahi kami. Lho?!?

Banyak teman dan sahabat yang membela kami di grup mereka masing-masing. Senior yang berangkat dengan saya ke Pontianak tahun 2015 bahkan sampai memberikan peringatan keras di grupnya. Ia memberi kesaksian bahwa kondisi umat di pedalaman Kalimantan Barat memang banyak yang masih memprihatinkan. Ia sendiri juga pernah membagi-bagikan rosario saat bertugas ke pedalaman, beberapa tahun sebelum saya. Saya merasa sangat tidak enak sudah merepotkan banyak orang. Saya bersyukur karena saya dibela oleh mereka yang selama ini mengenal saya. Teman SMA kawan saya juga membelanya di grup yang lain.

Semakin sore, kondisi semakin parah. Muncul lebih banyak tuduhan bagi kami. Bahkan Bruder pun tak henti-hentinya harus menanggapi telepon yang masuk ke handphonenya.

Saat saya mengetik ini, saya sudah bisa tersenyum nyinyir, tapi waktu itu saya sudah betul-betul kalut. Kini dengan kondisi yang sudah normal, saya ingin memaparkan pesan-pesan aneh yang kami terima saat itu :

  1. Broadcast sanggahan yang bertuliskan nama seorang pastor di Pahauman muncul dalam beberapa versi : isinya sama, namun nama pastornya berubah-ubah. Jadi siapa yang sebetulnya menyebarkan hoax?
  2. Muncul berita bahwa Bruder sendiri tak tahu dengan pesan yang kami sebarkan, dan Bruder meminta agar mereka mengabaikan pesan kami. Faktanya : Bruder bilang : jika mereka mau menyumbang, silakan menyumbang, tentu akan diterima dengan suka cita. Jika banyak yang menyumbang maka akan didistribusikan juga ke tempat-tempat lain yang membutuhkan. Tapi jika mereka merasa ragu dan tak mau menyumbang, maka silakan abaikan pesan itu. Nah, jadi terlihat kan.. Apa yang bruder katakan berubah dengan drastis di whatsapp. Jadi siapa yang sebetulnya menyebarkan hoax.

Puncaknya adalah ketika kakak ipar saya menerima berbagai oesan simpang siur tentang saya. Saya terpaksa membuat pesan klarifikasi yang juga sekaligus menghentikan kegiatan kami. Dia membantu saya menyusun pesan klarifikasi karena dia tahu saya sudah kalut dan stress.

Tapi hal yang paling menyakitkan saya petang itu adalah ketika saya dipaksa oleh admin sebuah grup whatsapp untuk memberikan klarifikasi, padahal di grup itu tak pernah ada respon apapun sejak pertama kali saya memposting broadcast pengumpulan itu. Admin itu lalu menuduh saya macam-macam dengan dasar “kata pastor ini” yang tentunya sudah berbeda versi dengan yang sebelumnya saya terima. Dia tak mau terima penjelasan saya, jadi klarifikasi yang saya buat pun tak ada gunanya bagi dia. Lalu buat apa dia minta klarifikasi saya ya?

Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika ada satu orang yang berkata bahwa umat di pedalaman Kalimantan pada tahun 80an juga pernah mendapat bantuan dari pemerintah yang membagi-bagikan alkitab gratis. Ia lalu juga berkata bahwa rosario yang dibagikan juga biasanya hanya menimbulkan euforia sesaat saja, dan tak serta merta membuat orang jadi rajin berdoa. Jujur saya kecewa dengan pandangan itu. Pembagian alkitab gratis itu kan dilakukan pada tahun 80an, sudah 30 tahun berlalu. Sudah seperti apa kondisi alkitab gratis itu? Sudah berapa banyak pertumbuhan jumlah umat? Mengenai rosario. Mengapa dia berasumsi seperti itu? Apa buktinya? Ada rosario saja tak membuat orang serta merta jadi rajin berdoa, lantas apalagi jika tak ada rosario? Mengapa kita tak mendukung dan mendorong mereka untuk lebih rajin berdoa dan menggalakkan kecintaan terhadap alkitab. Mengapa ia tak adil dan tak berkaca dulu. Kita yang di kota punya berapa alkitab? Sudah berapa sering kita membacanya? Berapa banyak rosario yang kita punya? Berapa sering kita berdoa rosario? Berapa banyak rosario yang kita pakai untuk berdoa? Mengapa tak memberikan itu kepada mereka yang tak punya daripada cuma nangkring di rumah menjadi pajangan?

Sungguh saya marah dan kecewa. Tapi ternyata dukungan pun tak henti-hentinya mengalir bagi kami berdua. Mama dari kawan saya bahkan menelepon saya dan bilang, “Jika ada orang yang menyerang kamu, kamu kasih nomor saya, biar saya yang hadapi mereka!” Saya sudah lupa dengan segala kejaiman, saya menangis tersedu-sedu kepada beliau dan kepada orang tua saya. Saya hanya khawatir jika orang tua dan sahabat kami diserang oleh orang-orang gara-gara masalah ini.

24 Maret 2018

Sedikit demi sedikit saya mulai merasa tenang. Dukungan datang silih berganti baik dari orang-orang yang kami kenal maupun yang tak kami kenal. Kami mulai mengontak orang-orang yang masih percaya pada kami dan masih antusias mau menyumbang.

Setiap orang yang mau menyumbang selalu saya sambut dengan “dingin” dan saya minta waktu dulu untuk klarifikasi. Saya ga mau lagi dituduh penipu. Kalau masih percaya ya silakan menyumbang, kalau ngga percaya, ya sudah terserah. Ada satu orang yang sudah mengantar sumbangannya ke rumah kawan saya namun segera ia tarik karena ia tak percaya pada kami. Ya tak apa-apa, lumayan mengurangi beban kiriman kami.

Puji Tuhan dari sekian banyak yang menelepon saya dan awalnya saya judesin malah berakhir menjadi penyemangat bagi saya.

Sore itu saya ke gereja untuk misa. Saya begitu takut, saya merasa bahwa akan ada banyak orang yang memandang saya sebagai penipu tanpa saya punya kesempatan untuk menjelaskan. Puji Tuhan saya mendapat kesempatan itu dari seorang ibu aktivis di paroki saya. Ternyata ia hanya mendapat pesan pengumpulan dan klarifikasi saja, tanpa pernah tahu pesan sanggahan yang menuduh saya penipu. Hingga ia bingung mengapa saya tiba-tiba menghentikan kegiatan pengumpulan itu.

Sejak kasus ini mencuat, saya selalu bertanya-tanya, mengapa kami dituduh? Mengapa niat baik kami malah berujung seperti ini? Kalau boleh hitung-hitungan, kami sudah lelah mengupayakan yang terbaik, tapi malah ini yang kami dapatkan. Dimana kesalahan kami? Kalau kami diam saja pasti kami tak usah terjebak dalam masalah ini kan? Lantas mengapa kami waktu itu harus bergerak membuat kegiatan ini?

25 Maret – 13 April 2018

Semua sudah tenang. Memang masih banyak yang meminta klarifikasi, namun kami sudah bisa menghadapinya dengan kepala dingin.

Kami lelah : lelah dengan mereka yang mau menyumbang tapi penuh dengan syarat dan ketentuan, lelah dengan mereka yang masih menuduh kami, lelah dengan proses membongkar barang-barang sumbangan dan merekap hingga sedetail-detailnya. Lelah menyortir barang-barang yang sebetulnya tak layak disumbangkan namun dikirim kepada kami.

Tapi semua lelah kami hilang, ketika kami memandang foto yang dikirimkan bruder kepada kami. Foto umat disana yang tersenyum sambil memegang rosario dan kitab suci barunya.

Saya pribadi banyak belajar dari kejadian ini. Bagaimana saya harus sabar dan menahan emosi, bahkan ketika kondisi sudah membuat saya seperti bisul yang hendak pecah. Saya belajar banyak tentang karakter orang. Dan akhirnya saya belajar bahwa usia, tingkat pendidikan, juga gelar, bukanlah sebuah jaminan kualitas karakter seseorang.

Refleksi bagi kita : Haruskah kita melihat baru percaya? Bagaimana kita menguji hipotesa kita? Apakah kesimpulan yang kita buat berdasar atas data yang valid dari sumber yang juga bisa dipercaya? Atas pengujian yang benar? Atau jangan-jangan semua hanya berdasar “katanya”, “kata grup sebelah”, “biasanya”, “kayaknya”. Dunia komunikasi begitu maju, fakta harusnya bisa diperoleh dengan cara yang lebih logis daripada sekedar “katanya”.

Sadarkah kita bahwa kini jempol bisa setajam silet. Apakah kecepatan share informasi lebih penting daripada isi informasi itu? Untuk apa cepat tapi tak benar?

Baca juga :

https://rosariountukkalbar.wordpress.com/2018/04/09/update-sumbangan-untuk-umat-di-stasi-stasi-paroki-santo-yohanes-pemandi-pahauman-bagian-1/

https://celina2609.wordpress.com/2016/04/17/dari-desa-terpencil-ini/

http://www.legiomariasenatusbejanarohani.or.id/category/sharing

2 thoughts on “Izinkan Saya Bercerita…”

  1. Wah. Panjang sekali tulisannya. Semoga setelah nulis ini hati jadi lebih lega ya mbak.

    Di zaman digital ini memang orang lebih mudah diajak partisipasi. Tapi, follow-upnya itu yg memang ngribeti.

    Smngt mbak! Niatan baik untuk pekerjaan Tuhan pasti mendatangkan berkat dan damai sejahtera, baik untuk si pemberi maupun yang diberi. Jadi ingat ungkapan teman-teman di Paroki Boro dulu: Gusti Mboten Sare 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s