Uncategorized

When You Love Someone, You Gotta Learn to Let Them Go..

Sharing seseorang pada Hari Minggu Panggilan Sedunia.


“He’s sooo perfect..”, itu kata sahabatku tentang dia.

“Dia ganteng, baik, pinter. Cocok deh sama elu! Gue jodohin elu sama dia yah?” Ternyata sahabatku masih belum puas meledekku.

“Ih.. Aku belum pernah ketemu lho sama dia..”, Jawabku sambi berpikir keras mencari tema pembicaraan yang lain supaya sahabatku ini berhenti membicarakan tentang “dia”.

Sahabatku tak pernah tahu, bahwa rasa itu memang sudah ada disini. Di dalam hatiku.


Aku dan pria itu baru pernah bertemu sekali. Itupun hanya sekedar berkenalan sekilas saja di sebuah resepsi pernikahan. Aku, dan juga sahabatku, justru lebih mengenal mamanya. Aku hanya bisa membayangkan wajahnya hanya dari foto-fotonya di sosial media saja.

Herannya meski kami tak saling kenal, namun kami berdua bisa tercebur dalam satu proyek amal bersama yang kami lakukan hanya via komunikasi jarak jauh. Dan kami langsung nyambung dan akrab seperti dua orang kawan yang sudah kenal lama.

Beberapa minggu bekerja bersamanya ternyata membuatku kagum pada pria itu. Ketenangan dan kehangatannya bisa membuatku tertawa saat aku panik dan kalut. Aku bisa bertahan hanya karena aku tahu dia ada disana, dia tidak akan membiarkan aku kesulitan sendirian. Aku bisa meneleponnya kapan saja aku perlu, dan ia tak pernah merasa terganggu.

Ia memaksaku untuk istirahat dan mengambil alih seluruh tugasku saat aku begitu lelah. Ia selalu memastikan bahwa aku baik-baik saja. Dan ya.. aku merasa nyaman bekerja bersamanya.. bicara dengannya..

Ia berbeda dengan yang lainnya, karena ialah satu-satunya yang mengajakku berdoa bersama ketika kami menghadapi masalah.

Ya.. Aku tahu dia memang sempurna.


Sometimes.. All the world can seem so friendless and the road ahead so endless, and the dream so far away.
Sometimes.. When I’m almost to surrender, then I stop and I remember : I have you to save my day.

(I Have You – The Carpenters)


Kami akhirnya bertemu untuk melakukan finalisasi proyek kami. Benar sekali yang sahabatku bilang : “He’s so perfect.”

Dia berhasil membuatku meleleh. Tak hanya dengan perhatian-perhatian kecilnya padaku, tapi yang utama adalah hatinya yang begitu besar dan punya kepedulian yang sama denganku.

Ah.. mengapa aku menjadi tambah kagum padanya? Mengapa aku merasa nyaman di dekatnya? Jarang sekali aku bisa langsung nyambung dan nyaman dengan orang yang baru kukenal.

Mendadak aku berharap bisa melakukan karya-karya berikutnya bersama dia. Karena dia membuat hal yang tampak tak mungkin ini menjadi mungkin. Ia bisa membuat aku mengeluarkan sisi terbaik diriku untuk proyek ini.

Apakah aku sudah jatuh cinta padanya?

Tapi beberapa jam kemudian aku harus berupaya keras menekan rasa yang baru saja tumbuh di dalam dadaku.

Rasa itu layu sebelum berkembang.


“Aku ingin masuk biara dan menjadi seorang imam. Aku prihatin dengan orang-orang di pedalaman yang hanya bisa merayakan Ekaristi setahun dua kali. Aku ingin menjadi imam supaya bisa melayani mereka, supaya mereka bisa setiap minggu menerima Tubuh Kristus. Ini cita-citaku dari kecil. Dulu aku pernah hampir masuk biara, tapi akhirnya aku putuskan untuk menyelesaikan dulu kuliahku. Aku rasa sekarang waktu yang tepat..”

Dengan jujur semua itu ia katakan padaku, membuatku merasa kenyang dan tak ingin lagi menyantap makan malam di hadapanku.

Aku tersenyum. Ia juga.

Tanpa ia tahu hatiku bertanya-tanya penasaran, “Are you serious?”


There are some things that I guess I’ll never know..
When you love someone, youu gotta learn to let them go..

(Dream About You – Stevie B)


Ia serius. Sungguh serius dengan apa yang ia katakan. Kurang dari dua minggu sejak hari itu, ia berangkat ke tempat yang jauh di seberang pulau untuk menjalani live in di sebuah seminari.

Ia bahagia. Aku tahu dan aku merasakannya.

Ia menceritakan semua pengalaman live in itu lewat pesan-pesan whatsappnya.

Ia kerasan dan merasa nyaman disana.

Dan ia katakan, “Aku akan masuk novisiat tiga bulan lagi..”


I’m caught between goodbye and I love you, never knowing quite where I stand.
I’m caught between goodbye and I love you. Falling both ways nowhere to land..

(Between Goodbye and I Love You – The Carpenters)


Satu malam sebelum Hari Minggu Panggilan Sedunia. Jari-jariku yang penat membuka halaman Instagram di atas kereta yang melaju lambat.

Halaman Instagram itu mengantarku pada sebuah video yang diupload di youtube. Video* itu entah mengapa seperti sengaja ditujukan padaku.


“Saya harus seperti apa sekarang? Apakah saya harus senang? Apakah saya harus sedih? Saingan saya Tuhan.. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi.. Saya sudah benar-benar cinta sama dia..”

Wanita itu menangis tersedu-sedu di hadapan seorang pastor yang menatapnya dengan tenang.

Bijak, pastor itu memberikan kalimat-kalimat yang menenangkan :

“Kamu sayang bener sama dia? Kalau sayang pasti dong kamu pengen dia bahagia? Apapun pilihan dia kalau itu membuat dia bahagia, kamu bahagia ga? Bersyukurlah karena dia bukan milik perempuan lain. Kamu ga diduain, tapi dia memilih jalan yang lebih mulia, dan ini cita-citanya dia dari kecil. Mungkin ada maksud tertentu dari Tuhan. Berdoalah dan tenangkan diri kamu. Pasti nantinya kamu belajar sesuatu dan dia juga belajar sesuatu.”

“Tapi saya sayang sama dia Pastor..”

Ya, Pastor.. aku pun sayang sama dia..

Tapi pastor menjawab dengan lugas kepada wanita itu, juga kepadaku, ” Tapi kamu juga pengen kan dia bahagia? Malah bagus kalau kamu akhirnya jadi pendukung dia, kamu jagain dia dan bangga ga kalau dia jadi pastor akhirnya?

Wanita itu menganguk. Aku juga.

“Pasti kamu akan bangga. Seseorang yang pernah hidup dalam hidup kamu, dia menjadi bukan cuma cinta sama satu orang tapi dia membagikan kasihnya sama semua orang, yaitu umatnya dia nanti.”


Jleb…

Aku teringat betapa bangganya aku ketika aku menghadiri upacara kaul kekal seorang frater yang pernah menjadi pembimbing rohaniku. Bahagia yang tak terkatakan kurasakan ketika aku menghadiri misa perdananya. Menyaksikan dia di depan sana, menyampaikan homili dengan kata-kata yang begitu mendalam.

Mungkin sembilan atau sepuluh tahun lagi, ketika melihatmu disana aku akan berkata, “Aku bangga padamu. Seseorang yang pernah dekat denganku, yang pernah membuat dunia ini begitu indah bagiku, kini membawa sukacita yang lebih besar bagi banyak orang.”


Pergilah kasih kejarlah keinginanmu selagi masih ada waktu.
Jangan hiraukan diriku, aku rela berpisah demi untuk dirimu.
Smoga tercapai sgala keinginanmu..

(Pergilah Kasih – Chrisye)


Sejak ia pergi live in, kami malah menjadi semakin dekat. Setiap malam ada saja hal yang ia bagikan kepadaku. Cerita hari itu, foto-foto bersama kawan-kawan barunya disana, perjumpaannya dengan para magister ordo yang hendak ia masuki, tugas-tugas yang harus ia kerjakan, dan banyak hal lagi yang ia ceritakan hingga malam berganti pagi.

Ya.. aku tahu ia sudah serius menentukan pilihannya. Apalagi yang bisa aku lakukan selain mendukungnya dan mendoakannya. Aku tak akan menjadi penghalang untuknya.

Selamanya aku tak bisa memilikinya apalagi memeluknya. Tapi aku tahu ia menjagaku dalam doa dan akupun akan selalu memeluknya dalam doa-doaku.


Tepat pada Hari Minggu Panggilan ia mengirimiku sebuah pesan kejutan, “Aku rasa kamu juga seharusnya masuk biara.. Bukankah itu juga cita-citamu sejak dulu? Berdoalah, tanyakan padaNya, dirimu hendak diserahkan pada siapa..”


Thanks untuk seorang sahabat yang sudah mengizinkanku menuliskan kisahnya.

*Special thanks untuk Pastor Ferdinand Ketupapa, OSC. Video lengkapnya silakan klik disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s