My Journey...

Terima Kasih Kenangan : 27 Jam di Tarakan

“Aku memilih untuk mengingat kenangan yang indah, dan tersenyum karenanya..”

Gereja Maria Imakulata Tarakan

Pesan itu kukirim untuk membalas renungan dari Romo Har pagi ini. Beliau menulis : “Kenangan bisa membuat seseorang terpuruk tapi juga bisa memacu seseorang untuk move on.”

Kenangan. Kata itu menggema di kepalaku beberapa hari ini. Banyak hal yang mendadak masuk dalam kategori kenangan setelah aku kembali dari Tanah Borneo bagian utara, dan Romo Har adalah bagian dari tumpukan kenangan itu.



Berawal dari undangan Acies yang dikirimkan oleh Kuria Tanjung Selor beberapa minggu yang lalu dan disusul oleh penugasan yang diberikan kepadaku untuk hadir dalam acara itu. Siapa sangka ada banyak drama yang mengiringi jawaban “Ya” atas penugasan itu : gejala typhus yang membuatku berkali-kali drop ditambah dengan permintaan kuria untuk mengisi rekoleksi yang berhasil membuatku stress.

Aku hanya bisa memohon agar badanku cukup fit untuk bisa menunaikan tugas ini, karena aku telah jatuh cinta pada dewan ini sejak pertama kali mengenalnya. Tiket pesawat baru kubeli tiga hari sebelum keberangkatan, itupun masih harap-harap cemas, khawatir demam melandaku lagi. Ya.. Bisa kubilang ini adalah perjalananku yang paling nekad.

Sangat.. sangat.. sangat nekad..



Jumat, 25 Mei 2018, akhirnya aku dan rekan tugasku bisa melangkahkan kaki lagi di Bumi Paguntaka, Tarakan, yang merupakan satu-satunya kotamadya di provinsi Kalimantan Utara. Tanah yang pernah kaya minyak ini sekarang menjadi kota terkaya ke-17 di Indonesia.

Kami dijemput oleh Pak Heri, ketua presidium Tachta Kebijaksanaan, dan kemudian diantar ke pastoran Paroki Maria Imakulata tempat kami akan bermalam. Kami sangat bersyukur atas kebaikan hati beliau, mengingat kami membawa bagasi yang amat banyak. Inilah awal mula dari rentetan kebaikan yang tak henti-hentinya mendatangi kami selama lima hari berikutnya.

Sore itu, Pak Heri mengajak kami mampir ke hutan mangrove yang menjadi habitat bekantan. Sayangnya kami sedang tak beruntung, tak satupun bekantan bersedia menjumpai kami disana. Hiks.. Padahal biasanya para pengunjung bisa menemui bekantan yang sedang bersantai di dahan pohon atau berloncatan dari satu dahan ke dahan yang lain. Mungkin mereka minder lihat kami yaa…

Kami juga diajak keliling Tarakan, melihat pompa angguk bekas ladang minyak Belanda yang masih bisa beroperasi hingga saat ini, melihat Islamic Centre, berkunjung ke gereja pertama di Tarakan yang terkenal dengan nama Gereja Markoni (dibangun tahun 1934), dan membeli takjil di pinggir jalan, padahal tak satupun dari kami yang berpuasa.. hehehe.. Ketika mentari semakin surut, kami kembali ke pastoran untuk siap-siap mengikuti misa harian.

Gereja Markoni

Beberapa jam sebelumnya, aku menerima pesan dari Romo Har. Beliau ini adalah seorang imam Keuskupan Agung Semarang yang tengah bertugas di Seminari Menengah Santo Yosep – Tarakan. Kami berkenalan tanpa sengaja setahun yang lalu di Tanjung Selor dan sejak saat itu beliau selalu setia mengirimkan renungan harian yang sangat inspiratif dengan judul Swara Bersahabat. Kami mengatur janji agar bisa bertemu tanpa mengganggu jadwal kunjunganku dan jadwal mengajar beliau. Akhirnya kami putuskan untuk berjumpa sebelum misa harian malam itu. Pas sekali hari itu Romo Har yang bertugas memimpin misa.



“Setia dan Gembira.”

Itulah pesan dalam homili beliau yang akan kuingat selalu. Betapa seringnya kita bertindak setia hanya karena terpaksa atau hanya karena nggak enak hati. Tanpa sadar kita melakukan karya kita tanpa suka cita, tanpa kegembiraan. Maka jadilah setia namun jangan lupa untuk tetap gembira dalam melakukan karya kita.



Sebelum misa kami sempat mengobrol sejenak, dan Romo Har memberikan kami kejutan dengan berkata, “Besok pagi kalian kujemput ya.. Aku ajak kalian jalan-jalan..”

Kalau tak ingat suasana, mungkin saat itu aku sudah teriak kegirangan. Jujur.. kami berdua adalah para pemilik kaki gatel, yang gak betah berdiam diri dan ngga ngapa-ngapain. Jadi diajak jalan-jalan itu rasanya WOW banget…

Kami gak pernah berani berharap bisa punya kesempatan untuk jalan-jalan di Tarakan. Paling kami hanya bisa mengelilingi gereja Maria Imakulata yang unik dengan doa Salam Maria berbagai bahasa terpasang di tembok belakang gereja, atau hunting Milo Malaysia yang tokonya tak jauh dari gereja, yah syukur-syukur kami bisa mengintip museum Rumah Bundar yang juga letaknya tak jauh dari gereja. Maklum disana belum ada ojek atau taksi online.. hehehe..

Malam itu kulalui dengan rasa campur aduk : excited karena akan jalan-jalan, deg-degan karena harus menghadapi pertemuan dengan legioner Tarakan, dan tegang karena tiba-tiba diminta memberikan kata sambutan di hadapan Bapa Uskup pada Acies nanti. Duh..metong akika..



Esok paginya kami sudah terjaga sejak pukul 6 pagi, padahal Romo Har baru akan menjemput pada pukul 9. Hehehe.. kami berkali-kali mengintip ke luar jendela seperti anak kecil yang resah mau berangkat piknik.

Romo Har tiba tepat waktu, namun ternyata beliau tak sendirian. Beliau mengajak seorang Frater dan beberapa OMK yang menjadi tim dokumentasi pada momen tahbisan Uskup Tanjung Selor awal Mei lalu. How lucky we are!! Setelah menunggu semua komplet, kami pun berangkat menuju tempat pertama : Baloy Adat Tidung.

Baloy adat Tidung ini adalah rumah adat suku Tidung, suku asli Tarakan. Dibangun dengan menggunakan kayu ulin, rumah ini bertipe rumah panggung yang dibangun tidak berpijak langsung ke tanah. Ada beberapa bagian rumah yang dibuka untuk umum dan kami langsung nangkring cari spot keren untuk foto.

Kami berdua jadi model dadakan bagi para fotografer itu.. hehehe.. asyik kan?! Kami yang awalnya masih canggung lama-lama mulai ikutan rame juga. Thanks buat Romo Har yang sudah menjadi katalis untuk suasana hangat itu. Kebetulan salah satu dari mereka pernah studi di Seminari Stella Maris Bogor, so kami bisa langsung nyambung ngobrolin tentang Bogor.

Tak butuh waktu lama hingga kami bisa saling bully dan nyela-nyela tanpa malu-malu.. hehehe.. malah makin lama semakin malu-maluin.. 😁

Usai puas berfoto di Baloy Tidung, kami bergegas ke Pantai Amal. Tau gak? Ternyata Pantai Amal itu singkatan dari “Area Militer Angkatan Laut” hahaha.. ngga nyangka kan?!?!

Suasana pantai amat sepi, mungkin karena bulan puasa. Untung saja warung makan di tepinya masih ada yang buka. Sebetulnya kami kesini bukan untuk menikmati suasana pantai sih, tapi untuk makan kerang kapah yang konon katanya ga ada di Jakarta (apalagi di Bogor 😁😁). Rasanya? Enaaaaakkkkk.. walaupun cangkangnya gede banget dan berat. Makannya pakai sambal khas Tarakan.. hmmm.. maknyusss… pengen nambah lagi dan lagi, syukurlah masih ingat sama yang namanya “jaim” dan “ancaman gejala typhus”. πŸ˜‰

Kali ini rasanya waktu berlari begitu cepat, padahal aku belum rela berpisah dari kawan-kawan baruku. Aku, frater, kawan tugasku, dan para legioner Tarakan akan naik speed boat menuju Tanjung Selor pada pukul 14.05. Jadi ketika waktu menunjukkan pukul 12.15, kami bergegas kembali ke kota dan menyempatkan diri untuk singgah sejenak di seminari mengambil tasnya Frater.

Ah.. mengapa tak bisa aku menghentikan waktu?



Setiap meninggalkan suatu tempat, aku selalu dipenuhi perasaan mello. Begitu juga kali ini.. Di benakku muncul rasa tak ingin beranjak. Aku bertanya-tanya, jika nanti aku kembali lagi ke tempat ini, apakah aku akan bisa berjumpa dengan mereka lagi? Apakah kebahagiaan hari ini bisa terulang lagi?

Apakah?

Apakah?



Dan kini aku hanya bisa menggenggam kenangan, beserta 2 kg Milo Malaysia dan 2 pak ikan asin Tarakan. πŸ˜‚

Terima kasih banyak untuk Romo Har, Frater Dita, Ci Kelly, Kak Jufry, dan Kak Wisok atas kehangatan kalian semua. Semoga kita bisa berjumpa lagi di Bumi Paguntaka, atau di manapun juga.

1 thought on “Terima Kasih Kenangan : 27 Jam di Tarakan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s