My Journey...

Jangan Lekas Berlalu : Tanjung Selor – Hari Pertama

Buat kalian mungkin kisah ini nggak penting, hanya buang-buang waktu dan segera berlalu ditiup angin.

Tapi aku ingin ceritakan pada dunia tentang sebuah semangat dari tanah Borneo, yang selama ini mungkin tak pernah kau ingat, bahkan enggan kau dengar. Tentang betapa indahnya negeriku dan betapa kayanya Gereja Katolik.

Aku ingin dunia tahu tentang semangat anak-anak yang dengan lantang mengucapkan janji, bahkan berhasil membuatku terharu mendengarnya. Tentang semangat para legioner dewasa yang mau belajar menjadi orang Katolik yang lebih baik. Juga tentang semangat para imam, biarawan, dan biarawati yang berjuang dan mempersembahkan hidup mereka di tanah misi. Dan aku ingin kamu tahu, mereka yang jauh inilah yang selalu menjadi sumber inspirasi bagiku untuk tetap setia dan gembira.

Dunia di luar sana begitu luas, tak hanya kolom 1 meter x 1 meter di kubikel kantormu. Ada banyak cinta di luar sana, tak hanya dari orang terdekat di kiri dan kananmu saja. Ada banyak kisah yang bisa menggerakkan hatimu, andai saja kau mau mendengarkan dan memberikanku waktu untuk berkisah.



Speed boat Bahagia Express siap melaju membawa kami bersebelas menuju Tanjung Selor. Menjelang berangkat tiba-tiba aku teringat kembali berita kecelakaan speed Malinau – Tarakan beberapa hari sebelumnya yang, konon katanya, terjadi karena motorisnya mengantuk. Awalnya kami berdua nggak terlalu aware dengan berita itu, tapi entah kenapa semua orang yang kami temui di Tarakan bercerita tentang itu sambil mencoba menenangkan kami, dan ini malah bikin kami jadi kepikiran. 😓

Kami diantar oleh driver pastoran menuju Pelabuhan Tengkayu yang hanya berjarak beberapa menit saja dari pastoran. Setiba di pelabuhan, Pak Heri mencoba membaca tanda-tanda alam : langit cerah, gelombang tak tinggi, dan sedikit awan mendung. Kesimpulannya : AMAN!! 😄

Hmm.. Ternyata kecelakaan itu membuat tingkat kewaspadaan bertambah. Seluruh penumpang wajib mengenakan life jacket selama perjalanan. Padahal tahun lalu ketika aku naik speed dari Selor menuju Tarakan, tak ada kewajiban mengenakan life jacket, bahkan jumlah life jacket yang digantung di dinding speed amat sedikit.

Setelah diinspeksi oleh petugas dari Dinas Perhubungan, speed pun melaju pelan menuju Tanjung Selor.

Selamat tinggal Tarakan..

Semoga bisa berjumpa lagi..

Dan aku langsung melancarkan rencanaku : pasang earphone, merem, dan tidur. Hehehe.. lumayan lho.. satu jam..



“Selamat datang di Tanjung Selor.. Selamat berjuang”

Kubisikkan kata-kata itu kepada diriku sendiri. Bayangan harus memberikan rekoleksi di depan sekian banyak legioner dan menyampaikan kata sambutan di depan Bapa Uskup kembali muncul dan membuatku grogi.

Setelah mengambil barang-barang (dan dipalak oleh seorang tukang yang menurunkan barang) kamipun bergegas keluar. Tiba-tiba ada seseorang yang menggiring kami dan berkata, “Mau ke keuskupan kan?” Nah.. kami kira ini driver yang dikirimkan keuskupan untuk menjemput kami (geer dong), padahal dia ini adalah calo “taxi” (taxi adalah sebutan untuk mobil angkot disini). Kami dipaksa untuk sewa 3 taxi dengan tarif Rp. 150.000. Walah.. walah…

Di jalan kami bertanya-tanya, kok calo ini bisa tau kami mau ke keuskupan ya? Selidik punya selidik, si calo mengamati ada “aktivitas luar biasa” yang terjadi di keuskupan sepanjang pagi hari, alias ada dua bus dari Berau yang masuk ke keuskupan. Nah.. si calo langsung deh menyimpulkan bahwa sedang ada acara besar di keuskupan dan pasti akan ada rombongan-rombongan lainnya yang datang dari pelabuhan. Ebused kan? Jadi doi tuh calo atau mata-mata ya?



Setelah satu tahun dua bulan, akhirnya aku kembali ke tempat ini : Rumah Bina Keuskupan Tanjung Selor. Segala kenangan kunjungan sebelumnya muncul kembali, apalagi ternyata aku menempati kamar dan ranjang yang sama dengan sebelumnya. What a funny coincidence 😂

Rasa excited langsung membuncah ketika berjumpa dengan Pastor Steph (pemimpin rohani kuria), Pastor Agus (pemimpin rohani presidium-presidium di Berau), Bruder Sigit (asisten pemimpin rohani kuria), para perwira kuria, dan para legioner. Mereka semua menyambut kami dengan hangat, seperti sahabat yang lama tak berjumpa. Inilah yang selalu membuatku jatuh cinta pada dewan ini.

Cinta yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Cinta yang hanya bisa kau rasakan ketika kau berinteraksi dengan mereka.

Akhirnya momen menegangkan pertama pun terlewati. Legaaaaa rasanyaaa… Pada rekoleksi ini aku meminta para legioner untuk praktek bagaimana mengapresiasi orang lain. Terharu sekali ketika banyak legioner yang antusias ingin maju dan mengapresiasi kawannya. Bahkan Pastor pemimpin rohani pun ikut serta. Aku merasa sangat belum layak untuk bicara di depan banyak orang, tapi tatapan dukungan dari Pastor, Suster, Bruder, dan para legioner membuatku jadi percaya diri.

Dua orang legioner junior belajar memberikan apresiasi

Kejutan muncul saat makan malam. Mendadak Bapa Uskup muncul di ruang makan dan menyapa kami semua dengan ramah. Waaaaa… so happy… 🤗 Beliau sama sekali nggak komplain dengan ributnya anak-anak yang menyanyikan Mars Legio, juga terhadap kami yang bercanda heboh sampai lupa bahwa lokasi kami menginap masih satu kompleks dengan tempat tinggal Bapa Uskup. Beliau malah menyalami kami satu persatu. Sooo wondering 😊

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih sekian menit ketika kami memulai rapat kuria. Tak ada wajah lesu dari para legioner. Bahkan mereka masih lantang ketika menyampaikan presensi. Padahal aku sendiri rasanya sudah ingin nempel ke kasur.. hehehe..

Oh ya, jangan harap bisa langsung tidur usai rapat. Masih ada sesi latihan. Maklum ini adalah momen acies perdana bagi kuria ini, jadi banyak legioner yang masih belum punya bayangan tentang apa itu acies. Disinilah aku menyaksikan ketelatenan para Pastor, Bruder, dan perwira kuria dalam melatih legioner. Dengan detail mereka memberikan petunjuk bagaimana membawa vandel, memegang veksilum, memberi hormat, dan mengucap janji. Kadang diiringi kata-kata yang sedikit keras, tapi hebatnya tak ada yang baper atau menangis.

Jujur.. aku terharu.. Entah sudah berapa banyak acies yang aku ikuti dan semuanya hanya mencontoh dari yang sudah ada. Otomatis.. Bahkan tak jarang tanpa rasa..

Aku sangat mengapresiasi proses belajar ini, proses yang membuat semuanya menjadi lebih khidmat dan syahdu. Semua rebutan ingin berlatih di depan veksilum padahal waktu sudah lewat dari jam 11 malam. Terpaksa kami “mengusir mereka” dari ruang rapat deh.

Oh ya.. Perayaan Ekaristi Acies akan diselenggarakan di Katedral Santa Maria Assumpta yang jaraknya sekitar 7 km dari keuskupan. Kalau jalan kaki bisa kuyup duluan sebelum acies.. hehehe. So Bruder mesti melist kendaraan apa saja yang akan stand by di keuskupan esok pagi. Setelah dilist kami malah jadi shock karena hanya ada empat kendaraan (dua mobil pastor dan dua mobil bak terbuka) yang harus mengangkut 160an legioner dari keuskupan menuju Katedral. Nah lho?!?! Gimana caranya coba??

Akhirnya diputuskan bahwa keesokan harinya semua legioner harus siap pada pukul 07.00 untuk diangkut menuju Katedral. Pastor dan Bruder akan bolak balik mengantar dan menjemput. Yang terlambat? Siap-siap ditinggal yee.. Tak ada toleransi bagi yang terlambat.

Hadeeh.. jadi ingat kejadian tahun lalu, ketika aku ditinggal Pastor Steph gara-gara terlambat dan akhirnya terpaksa merepotkan Pastor Alex untuk mengantar ke stasi. Duhhh.. masih terasa malunyaa…



Malam menjelang..

Rembulan meninggi..

Aku, rekan tugasku, Pastor Steph, dan Bruder Sigit masih asyik mengunyah kacang rebus sambil berbagi cerita tentang umat yang unik di pedalaman Tanah Merah. Ah.. aku jadi teringat Romo Wempi di Paroki Juata Laut yang pernah cerita juga tentang mereka ini.

Kali ini Pastor Steph bercerita tentang perilaku mereka yang membuat mereka dihukum tak mendapatkan pelayanan dari Gereja selama sekitar tujuh bulan.

Alkisah, mereka pernah mendapat sumbangan bak air dari donatur. Bak itu menampung air dari mata air milik warga, lalu dibagi menjadi tiga keluaran : untuk pemilik mata air, untuk gereja, dan untuk umum. Suatu hari keuskupan menerima telepon bahwa bak air itu pecah karena tersambar petir. Pastor curiga, karena selama melayani disana tak pernah bertemu petir yang demikian besar hingga bisa merusak bak air.

Akhirnya Pastor memutuskan untuk turun langsung kesana. Saking gemasnya Pastor, beliau melewatkan rumah-rumah umatnya dan langsung menuju bak air. Ah.. betul saja kecurigaan pastor, pecahan bak itu tampak seperti hasil karya tangan manusia. Pastor lalu memulai investigasi kepada seorang umat yang bisa berbahasa Jawa. Umat ini awalnya menutup-nutupi kejadian sebenarnya, hingga akhirnya pastor menggunakan cara lain: pastor menyebutkan orang yang dicurigainya, dan umat itu cukup menjawab ya atau tidak.

Nah.. in the end ketahuan deh siapa biang keladi di balik pecahnya bak air ini.

Pastor pun terpaksa “marah-marah” dalam perayaan ekaristi. Tetap saja nggak ada yang mau mengaku. Hingga akhirnya keluarlah sanksi dari keuskupan.

Sebulan kemudian, tersangkanya akhirnya datang ke keuskupan untuk minta maaf, tapi untuk memberi pelajaran, sanksi tetap dijalankan selama sekitar tujuh bulan.

Aku bertanya apa sebab orang itu merusak bak air yang menjadi sumber kehidupan bersama? Ternyata semua berawal dari rasa iri. Ia merasa temannya lebih dipercaya oleh Gereja sehingga ia merasa punya alasan untuk marah pada Gereja. Alamakkkk.. tepok jidat daaah…

Pastor Steph juga berkisah bahwa beliau pernah tersesat di hutan selama beberapa jam. Untung saja rombongan beliau dibagi menjadi dua, rombongan yang satu lewat jalan biasa dan rombongan Pastor lewat jalan hutan, jadi ketika rombongan Pastor tak tiba juga di pastoran, rombongan yang lain bersepakat mencari Pastor hingga ke tengah hutan. Terima kasih Tuhan.. Pastor berhasil ditemukan.. Aku tak berani membayangkan andai Pastor tak berhasil ditemukan…

Tuhan tolong lindungilah mereka dalam setiap perjalanan mereka yang hampir semuanya sulit itu.

Di tengah percakapan seru kami, terdengar pintu yang dibuka dari luar. Ah.. ternyata Pastor Alex baru pulang dari susteran. Duhhhh.. rasa nggak enak gara-gara kejadian setahun yang lalu itu masih terasa.. hehehehe..



Aku membaringkan diriku di atas ranjang. Teringat tahun lalu aku terus memicingkan mata bak insomnia dan akhirnya berhasil masuk ke alam mimpi setelah menggenggam kalung ubur-ubur khas Dayak pemberian Pastor sebagai tanda selamat datang di Berau. Entah kenapa.. mungkin karena aku tak terbiasa tidur ditemani suara jangkrik dan tonggeret.

Kalung ubur-ubur ini pernah berjasa mengantarkanku ke alam mimpi..

Selamat malam Tanjung Selor..

Aku tak ingin semua ini lekas berlalu..

1 thought on “Jangan Lekas Berlalu : Tanjung Selor – Hari Pertama”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s