My Journey...

Kala Sepi Mengisi Senja : Tanjung Selor – Hari Kedua

Pagi pun akhirnya datang.

Tepat pukul 05.00 alarm berbunyi dan aku segera lompat dari ranjang, padahal semalam kami baru bisa terlelap menjelang dini hari karena vampir-vampir bersayap yang bergantian menggigiti kami.

Ketika kami membuka pintu kamar tampaklah para legioner junior sudah berdandan rapi dan tengah menghabiskan sarapan mereka. Ya ampun.. hebat sekali mereka ini… Bahkan sudah banyak legioner yang sudah siap berangkat..

Tak lama kemudian kloter pertama telah berangkat menuju Katedral padahal jam baru saja lewat sedikit dari pukul 6 pagi. Angkat jempol untuk semangat mereka semua..

Di halaman keuskupan kami melihat anak-anak dan ibu-ibu tengah menaiki mobil bak terbuka milik seorang legioner Berau. Tak ada sedikitpun raut takut atau ekspresi ragu di wajah mereka. Mereka hanya sedikit kerepotan naik ke atasnya, tapi setelah itu tawa ceria segera kembali menghiasi wajah mereka.

Tak lama kemudian, Bruder datang dengan mobil bak terbuka lainnya. Aku dan rekan tugasku saling berpandangan dan langsung paham bahwa ini kesempatan bagi kami berdua untuk ikut dalam keceriaan para legioner. Dengan bantuan sebuah kursi plastik, kami beserta beberapa anak dan ibu segera menaiki mobil itu. Ada sedikit rasa takut mendesir di dadaku, maklum terakhir kali aku naik mobil bak begini adalah ketika masih TK.. hehehe.. Sebetulnya tak hanya takut tapi juga ribet, karena pagi itu aku memakai dress selutut, jadi yaa ribet.. (susah jelasin dengan kata-kata gimana ribetnya pakai dress dan naik mobil bak terbuka).

Seorang suster, ketika kami sudah tiba di gereja, mendekatiku dan berkata bahwa beliau sempat ingin memberikan kain kepadaku saat naik mobil bak, tapi sayangnya bruder sudah terlanjur injak gas poll. Makasih ya Suster.. 😊

Perjalanan sepanjang 7 km ternyata terasa amat lamaaaaa… Apalagi Bruder kadang lupa bahwa beliau sedang mengangkut banyak manusia di belakangnya.. hahahaha..

Aku tak akan pernah bisa melupakan momen ini. Mentari pagi baru saja naik dari peraduan dan memancarkan sinar hangatnya. Wajah para ibu, gadis remaja, dan anak-anak yang minim pulasan. Tawa hangat mereka. Genggaman tanganku di pundak seorang ibu. Kaki yang tak bisa berganti posisi karena khawatir dress akan terbawa angin. Make up yang luntur dan rambut yang terurai terbawa angin. Semua begitu indah dalam bingkai pagi itu.

Rombongan kami tiba di Katedral menjelang pukul 07.00 padahal Tessera baru akan dimulai pukul 08.00 dan misa bersama umat akan mulai pada pukul 09.00. Yang datang lebih pagi dari kami hanyalah para bapak densus 88 yang sudah stand by di gerbang Katedral entah sejak jam berapa.

“Puji Tuhan sudah ada kesadaran untuk disiplin waktu, Mbak.. Gak ada satupun yang ketinggalan..”, Itu kata Bruder ketika aku memastikan apakah semua legioner sudah tiba di Katedral.

Hebat.. Aku membatin betapa hebatnya orang-orang ini. Kami yang di kota kalah jauh dari mereka.

Beberapa jam setelah acies usai, bruder menceritakan satu hal lagi yang membuatku tertegun. Banyak legioner yang sudah bangun sejak jam 3 pagi. Mereka sudah sibuk mandi dan beberapa yang tidur di area luar keuskupan sudah mengetuk-ngetuk pintu pada pukul 04.30 untuk mencari sarapan. Sementara kami.. masih ada di alam mimpi.. Duh.. malu..



Sambil menunggu waktu, Pastor Agus dan Bruder Sigit kembali melatih dan menyiapkan para legioner junior mengucapkan janji. Kali ini lebih keras dari sesi semalam. Beberapa kali Pastor meminta mereka untuk mengulang jika suara mereka terlalu pelan, juga mengingatkan agar tangan mereka tetap di dada saat meninggalkan altar. Hebatnya, anak-anak itu tegar. Gak ada yang cengeng. Orang tua mereka pun tak ada yang protes anaknya dimarahi Pastor.

Karena mereka tahu ini semua untuk kebaikan..

Untuk kekhidmatan Acies perdana mereka..



Menjelang pukul 09.00, Bruder menyampaikan kata pembuka kepada seluruh umat sambil memperkenalkan seluruh presidium di bawah Kuria Bejana Kerahiman. Ah.. aku saja yang bukan pemilik kuria ini merasa bangga, apalagi mereka ya.. Aku berjanji tak mau kalah semangat dari mereka ini.



“Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanMu.”

Tuhan.. entah sudah berapa banyak momen Acies yang aku lewati. Tapi Acies kali ini, di tempat ini, mungkin adalah Acies terindah bagiku. Suara lantang para legioner kala mengucapkan kalimat itu bagaikan rangkaian doa litani yang amat merdu.

Bunda.. betapa kuingin momen ini tak lekas berlalu..



Acies perdana ini memang sungguh-sungguh spesial. Selain karena “perdana” bagi Kuria, namun juga istimewa karena dipimpin oleh Bapa Uskup, Mgr Paulinus Yan Olla, MSF yang baru ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Tanjung Selor pada tanggal 5 Mei lalu. Legio Maria juga adalah kelompok kategorial pertama dari seantero keuskupan yang merasakan kebersamaan dengan Bapa Uskup, dan lebih istimewa lagi karena Bapa Uskup berkenan menyediakan waktunya untuk wawanhati bersama kami semua.

We are so lucky and blessed..

Apalagi ketika dalam sambutannya beliau menyatakan dukungan bagi kami semua. Beliau meminta para legioner untuk menyebarkan Semangat Maria hingga ke seluruh pelosok Keuskupan Tanjung Selor supaya Maria tidak kehilangan keindahannya dan terlupakan.



Ada satu hal yang membuatku dan rekan tugasku terkejut. Ketika kami menyalami Bapa Uskup dan memperkenalkan diri, beliau bertanya asal daerah kami, dimana kami tinggal, dan kapan kami akan pulang. Ternyata kami akan pulang ke Jakarta bersamaan dengan jadwal Bapa Uskup ke Jakarta. Bahkan pesawat kami pun sama (maklum dalam satu hari hanya ada satu penerbangan pp Jakarta – Selor – Jakarta). Beliau langsung berkata, “Kalau begitu nanti kita berangkat sama-sama ya. Kalian tidur di keuskupan kan? Nanti kita bisa ngobrol lagi di rumah (keuskupan) ya..”

Dan aku pun membeku dalam ketakjuban.

Duh.. Kami mah apa atuh.. Hingga Bapa Uskup begitu baik kepada kami..



Tawa siang itu akhirnya pun berakhir. Seluruh rangkaian Acies dinyatakan selesai meski tugas kami masih belum selesai..

Ketika kami tiba kembali ke keuskupan bersama Pastor Agus dan rombongan Berau, mulai terasalah keheningan yang menyiksa itu. Satu persatu para legioner pulang. Rombongan Tarakan bahkan sudah berangkat ke pelabuhan. Kala bus-bus yang membawa legioner Berau meninggalkan halaman keuskupan, semakin terasalah kesunyian itu.

Rombongan terakhir yang meninggalkan Keuskupan adalah Pastor Agus, Etty, dan Suster Benedikta. Kulambaikan tangan kepada mereka bertiga sambil melirik spion mobil pastor yang kini kosong karena kalung ubur-uburnya sudah pindah ke rumahku. Ah.. kepergian mereka sempurna membuatku nelangsa.

Petang yang cerah untuk jiwa yang sepi. Bruder masih melatih kelompok THS/THM. Pastor Steph sudah kembali ke Katedral. Para perwira kuria masih beres-beres di Katedral. Memang masih tersisa rombongan dari Selimau dan Silva Rahayu, namun mereka juga tengah sibuk menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Jadilah kami berdua bengong di ruang tengah keuskupan sambil melihat-lihat foto Acies yang mulai meramaikan grup whatsapp. Ah.. dua orang kaki gatal ini sungguh ingin pergi.. Tapi tak seperti Pastoran Tarakan, Rumah Keuskupan ini sungguh jauh dari mana-mana. Alhasil kami mati gaya..

Hingga.. menjelang jam 5 sore…

Kami mendapat kejutan ketika Bapa Uskup mendadak duduk di sebelah kami. Nah lho.. Saking gugupnya kami berdua mendadak jadi pendiam di hadapan beliau meski beliau sudah bilang, “Santai saja..”

Boro-boro santai, kami malah semakin gugup. Alhasil aku malah membicarakan cuaca dengan beliau, dan trust me, it works. Tema cuaca sungguh berhasil mencairkan kekakuan, meski hanya beberapa menit saja. πŸ˜‚

Ternyata beliau hendak pergi rapat di Katedral. Sebelum beliau beranjak aku sempat minta waktu untuk berfoto bersama beliau, tapi beliau menolak. Tunggu.. jangan sedih dulu, beliau janji akan berfoto bersama kami keesokan hari usai misa pagi saat beliau memakai jubah lengkap. 😊😊



Bapa Uskup pergi, kami kembali glundang glundung ga jelas. Tepat ketika kami memutuskan mandi, bruder malah mengajak kami makan malam.. Haha… Rekan tugasku sih sudah sempat mandi, tapi aku masih bau asem..

Kami bertiga makan malam di ruang makan keuskupan. Awalnya Bruder membebaskan kami untuk duduk di kursi manapun, tapi setelah Bruder memberi tahu dimana Bapa Uskup dan Pastor Alex biasanya duduk, kami serta merta menjauh dari dua kursi panas itu. πŸ˜„

Betul saja, tak lama kemudian dua beliau itu pulang.. hahaha.. Untung saja kami gak duduk di kursi mereka.. πŸ˜‚πŸ˜‚

Suasana langsung berubah canggung ketika beliau berdua hadir. Kami yang semula bercanda santai dengan bruder kembali ke kejaiman semula. Bapa Uskup lagi-lagi menyampaikan apresiasi dan dukungan beliau bagi Legio. Beliau juga bercerita tentang banyak hal hingga akhirnya kami menyadari bahwa di balik sosoknya yang tampak misterius, beliau juga bisa bercanda meski kami belum berani tertawa lepas. πŸ˜”

Rasanya sesi makan malam itu berlangsung lamaaa sekaliii.. hehehehe..



Malam menjelang, keuskupan sungguh sunyi senyap. Kami berdua bersama Bruder masih berdiskusi di ruang tengah. Kusampaikan kepada beliau tentang rasa nelangsa di hati ini. Ternyata Bruder pun pernah mengalami hal yang sama denganku.

“Makanya, Mbak.. setiap ada ramai-ramai disini saya ngga pernah mau berinteraksi intens dengan tamu yang hadir. Karena saya tahu saat mereka pulang saya pasti akan merasa kesepian.. ”

Yah Bruder.. kenapa ngga bilang dari kemarin seh.. πŸ˜“πŸ˜”

Selamat malam Tanjung Selor, terima kasih untuk segala keajaiban sepanjang hari ini. Kuingat kembali suara lantang para legioner, wajah ceria mereka, semangat mereka kala berjoged ala Timor, dan aku tertawa sendiri mengingat tadi siang aku nyaris dipaksa joged oleh bapak MC.

Malam ini kami punya senjata penangkal nyamuk : Autan πŸ˜„

So.. sampai jumpa esok pagi..

1 thought on “Kala Sepi Mengisi Senja : Tanjung Selor – Hari Kedua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s