My Journey...

He’s Our Father and Brother : Tanjung Selor – Hari Ketiga

Senin, 28 Mei 2018

Rekan tugasku membuka matanya sambil berkata, “Sudah hari Senin ya? Yah.. besok kita pulang dong?”

Sebetulnya itu juga yang ada dalam benakku ketika aku terjaga pagi ini.

Mengapa waktu berjalan begitu cepat?



Jadwal kami hari ini bisa dibilang padat merayap. Setelah misa pagi kami akan membantu Bruder membereskan kursi-kursi di ruang rapat. Lalu pukul 10 nanti kami akan kunjungan ke legioner di Stasi Selimau II, kembali ke keuskupan untuk makan siang, lalu berangkat lagi ke Stasi Silva Rahayu. Rasanya excited karena selain kami bisa melihat sisi lain Tanjung Selor, kami juga bisa bertemu para legioner langsung di “rumah” mereka. Selain itu ada satu kabar gembira lagi, hari ini Pater Anggras (baca kisah pertemuan kami disini) dan para imam MSF akan menginap di keuskupan untuk berangkat turne esok hari. Jadi malam ini keuskupan pasti tak akan sepi, plus aku bisa berbagi cerita dengan Pater juga.

Misa pagi itu dipimpin oleh Bapa Uskup di sebuah kapel yang amat mungil, mungkin hanya berukuran 2 m x 2 m. Kami duduk saling berdekatan dengan tujuh “penghuni asli” keuskupan. Suasana begitu hening dan tenang hingga aku begitu waspada, takut perutku berbunyi 😁. Tapi syukurlah bukan perutku yang berbunyi melainkan Si Kumis, anjing keuskupan, yang ikut bernyanyi dari luar.

Usai misa, kami terkejut karena Bapa Uskup mengajak kami untuk foto bersama. Wow.. Ternyata beliau ingat.. Duh.. surprise banget.. Lagi-lagi aku membatin, “Aku mah apa atuh.. Sampai Bapa Uskup ajak foto bareng.

20180528_071424.jpg
Kami bersama Bapa Uskup dan Sr. Desi, KSSY

Nah.. momen foto bareng itu berhasil mengurangi sedikit rasa canggung saat kami makan pagi bersama. Bapa Uskup dan Bruder berganti-ganti berbagi kisah, tentang pengalaman bertugas di daerah terpencil, pengalaman ziarah ke tanah suci, hingga ke kisah-kisah yang agak “gimana gitu” alias tentang pertoiletan.. hahaha..

Dan kami? Kami masih jadi si jaim yang pendiam, yang hanya bisa tertawa dan sedikit menanggapi. Saking kikuk dan jaimnya kami hanya bisa makan dua potong roti dengan selai. But.. this power of jaim berhasil membuat kami kenyang hingga 6 jam ke depan.. hihihi..

Duh.. maafkan kami, Bapa Uskup.. Bukannya kami ga mau makan.. Tapi kami masih canggung.. Padahal Bapa Uskup sudah berniat memperpanjang waktu kunjungan kami supaya bisa jadi Ibu dapur.. hahaha.. Secara Suster yang biasanya masak sedang liburan, jadilah pria-pria ini harus berjuang deh. Untungnya kalau siang ada ibu-ibu yang memasak untuk para beliau ini.

Usai beberes ruang rapat yang berhasil membuat kami mandi untuk kedua kalinya pagi itu, kami pun meluncur menuju stasi Selimau II bersama Pastor Steph, Bruder Sigit, Pak Bene dan Pak Irwan (ketua dan wakil ketua kuria). Jaraknya sih hanya sekitar 5 km dari Keuskupan, tapi butuh waktu hampir satu jam menempuhnya. Masalahnya kualitas jalan pada paruh akhir perjalanan lumayan parah. Pastor Steph yang mengemudi terpaksa harus meliuk-liuk mencari jalan yang mulus. Hmm.. kalau gak kuat sih bisa langsung berbunyi hoeekk.. 😂

Dan hoeekk itu pula yang dialami Pak Bene dan Pak Irwan beberapa tahun yang lalu, ketika mereka menempuh perjalanan 14 jam dari Tanjung Selor menuju Bontang. Baru sampai di Berau (3 jam perjalanan) saja mereka sudah minta ampun pada Pastor.. Haduh.. ga kebayang.. 😅 Udah gitu Pastor melarang penumpang ya pakai minyak angin pula.. hahaha

Tapi beneran deh.. lama-lama kepala ini mulai pening juga. Untung saja beliau berempat selalu punya tema pembicaraan dan candaan seru jadi pening ini bisa sedikit terobati. Beberapa menit sekali Pastor selalu melirik kami dan berseru, “Aman??” dan kami kompak menjawab “Aman!!”, meskipun kepala mulai terasa vertigo.. hahaha..

Pak Bene di depan kapel stasi St. Antonius Selimau II

Ketika kami tiba di kapel stasi, Pastor menyampaikan sebuah cerita sambil berbisik. Alkisah, umat disini semuanya adalah para transmigran dari NTT pada tahun 90an. Mereka mendapat jatah rumah dan tanah sebesar 1 sampai 2 hektar dari pemerintah. Entah mengapa, mereka menjual rumah dan tanah itu lalu kembali ke kampung halaman mereka. Beberapa tahun kemudian, entah mengapa lagi, mereka kembali ke Selimau dan menjadi pengontrak atau penyewa di rumah dan tanah yang dulunya milik mereka. Lho?!?! Pastor hanya menggelengkan kepala melihat kebingunganku..

Memang sih nggak semua transmigran ikut program transmigrasi dengan “rela”, banyak yang terpaksa atau ikut-ikutan saja. Salah satu transmigran visioner adalah Pak Bene dan Bu Rina Lazar. Mereka rela ikut program transmigrasi pada tahun 1991 dengan dua tujuan : supaya anak-anaknya bisa sekolah dan supaya Legio Maria bisa berkembang di Tanah Borneo.. Serius.. Itulah yang membuatku selalu merinding kala mendengar kisah Pak Bene dan keluarganya.

Aku terdiam di halaman depan kapel sambil menunggu kelanjutan cerita Pastor. Tapi Pastor malah menyuruhku segera masuk. Yah.. Pastor.. aku kan masih penasaran.. 😣

Seorang ibu lalu menunjukkan rumah-rumah dimana umat Katolik tinggal. Total ada 34 keluarga Katolik di stasi ini yang hidup berdampingan dengan umat Kristen dan Muslim.

Dua jam kemudian kami habiskan bersama para legioner senior dan junior di Stasi Santo Antonius Selimau II. Waktu sungguh berjalan cepat. Kebersamaan dan sharing mereka membuatku lupa akan jam makan siang yang sudah terlewat.

Hujan turun dengan lebat mengiringi tawa dan cerita kami. Saat semuanya sudah usai aku berdiri di samping kapel memandangi hujan sambil mengingat kembali cerita Pastor tadi.

Suara langkah yang berat mengejutkanku. Ternyata Pastor sejak tadi juga ada di samping kapel. Beliau lalu bercerita bahwa sudah ada perubahan positif dari umat di stasi ini. Mereka kini disiplin waktu bahkan berani komplain jika pastor datang terlambat. Pastor juga berkata, Imam disini mengurus semua hal, mulai dari roti anggur sampai garam dapur. Pastor harus menjadi pendorong dan inisiator dalam banyak hal karena umat belum terlalu mandiri hingga banyak inisiatif yang masih harus muncul dari para kaum berjubah. Disana pastorlah yang menyalakan lampu gereja dan membuka tutup pintu gereja. Beda sekali dengan kita yang di kota, dimana umat sudah punya inisiatif mengurus operasional paroki.

Miris? Iya.. Tapi begitulah keadaannya..



Usai makan keladi, roti goreng, dan bakpao yang disediakan di stasi, kami kembali ke keuskupan untuk makan siang. Di mobil aku bertanya pada Pak Bene tentang mata pencaharian penduduk Selimau II. Jawaban Pak Bene membuatku tertegun : “Kerja mereka serabutan..” Entah apa makna serabutan yang dibilang Pak Bene itu..



Menjelang pukul 14.30 kami langsung tancap gas lagi menuju ke Silva Rahayu. “Perjalanannya panjang Mbak… kalau dengan motor bisa satu jam lebih..”, ujar Pak Irwan. Hmm.. betul-betul bikin makin penasaran aja nih…

Ternyata Pak Irwan salah.. hehehe.. Kami butuh dua jam untuk tiba di Silva Rahayu. Selama satu jam perjalanan pertama kami menikmati jalanan mulus namun penuh tanjakan, turunan, dan tikungan. Persis jalan menuju ke puncak namun lebih ekstrim. Aku berhasil memejamkan mata sejenak dan terlelap dengan nikmat meskipun terasa seperti di atas roller coaster.

Tapi.. ketika aku membuka mataku, betapa shock dan malunya aku.. Ternyata Pastor sedang melihatku dari kaca spion sambil nyengir meledek. Dooohh.. ini sih namanya terciduk atuhhh… 😅

Dan sejak itu aku tak berani merem lagi deh.. Khawatir terciduk untuk kedua kalinya.

Selepas stasi Pimping yang dulunya punya kapel stasi warna pink (tapi kini sudah berubah jadi warna kuning), jalan yang mulus berubah total menjadi jalan berbatu. Rasa naik roller coaster berubah menjadi rasa naik kuda. Guncangannya wow banget, apalagi buat kami berdua yang duduk di jok paling belakang.

20180528_155958.jpg

Pastor tak henti-hentinya membuat kami merasa nyaman. Beberapa kali beliau menanyakan, “Aman??” Atau sekedar melirik sambil tersenyum dari spion depan. Hahaha.. Tenang Pastor.. kami aman..

Semakin lama jalanan semakin “seru”, tak hanya batu tapi juga lumpur tebal dan jembatan kayu nan horor yang harus kami lewati. Aku betul-betul menahan napas saat kami harus melewati jembatan kayu yang ukurannya hanya pas untuk satu mobil saja. Eh.. kok serem jadinya yaaa…

Dulu untuk mencapai stasi ini pastor harus menggunakan speed kecil dari Selor menuju Tanjung Palas hingga ke pelabuhan yang juga kecil, lalu melanjutkan perjalanan ke stasi dengan berjalan kaki. Pelabuhan speed itu sudah tak lagi digunakan sejak jalan ini dibangun, tapi ya.. begini deh kualitas jalannya..

Akhirnya di horison tampak menara BTS dan itulah patokan lokasi stasi yang kami tuju. Yeayyy.. kami sudah dekat.. Rasanya ingin segera turun dan meluruskan kaki.

Kapel Stasi St Fransiskus Asisi Silva Rahayu

Kami disambut dengan jagung dan kacang rebus hasil kebun. Asli.. rasanya nikmat banget, apalagi dipadu dengan teh manis hangat. Feels like heaven on earth. Hahaha.. Trus mantabnya lagi semua itu baru saja dicabut dari ladang mereka. Nah..jadi rasanya manis banget.. Kayak aku.. 😍

Pastor Steph membagikan jagung rebus pada para legioner.

Kebersamaan bersama para legioner lagi-lagi membuat kami lupa waktu. Menjelang pukul setengah delapan malam kami baru akan meninggalkan stasi. Barulah terpikir horrornya perjalanan pulang nanti. Jreng jreng..

Benar saja.. rembulan yang hampir purnama tak bisa menerangi jalan yang nyaris nihil penerangan. Truk-truk yang melewati jalan sebelum kami membuat lumpur semakin menumpuk hingga mobil kami selip. Haduh.. benar-benar horror.. Untung Pastor hebat, mobil kami berhasil lolos..

Tanpa dikomando dan tanpa janjian kami berdua langsung melancarkan doa andalan kami : Rosario. Sungguh perjalanan ini amat mencekam meskipun Pastor mengemudi dengan tenang sambil tak henti bersenandung.

Kabut yang mulai turun di beberapa ruas jalan semakin mengurangi jarak pandang. Kami lagi-lagi nyaris selip di tumpukan kerikil. Pastor betul-betul harus waspada dan kami hanya bisa membantu doa. Tapi.. tetap saja beliau mengecek kami.. “Aman??”, dan itu berhasil membuat kami tertawa..

Ada satu kejadian yang membuat kami berdua bertanya-tanya hingga kini. Di satu ruas jalan mendadak pastor banting stir ke arah kanan, ternyata di sisi kiri jalan ada sesosok manusia berbaju hitam, tapi kok orang itu seperti sedang merangkak ya? Kami yang di belakang sampai balik badan saking penasaran. Siapa dia? Kenapa dia ada di tengah kegelapan ini? Tapi Pastor tenang saja seperti tak ada kejadian apa-apa.

Kami sempat singgah di Pimping untuk makan malam lalu melanjutkan perjalanan. Meskipun jalannya mulus tapi kami sudah tak berhasrat lagi untuk tidur.. hehehe..



Akhirnyaaaaaa… satu jam kemudian kami berhasil tiba lagi di Tanjung Selor dengan selamat. Sebelum pulang kami mengantar Pak Irwan dan Pak Bene dulu ke Jelarai (KM. 2). Dengan susah payah aku menahan rasa haru ketika melihat papan bertuliskan “Presidium Bunda Pengantara Segala Rahmat”. Begitu cintanya beliau pada Legio hingga rumahnya jadi base camp Legio.. Aku terharuuuuuu…

Kami tiba di keuskupan menjelang pukul 21.30. Malam ini pula kami harus berpisah dengan Pastor Steph. Beliau tak bisa mengantar kami pulang esok karena harus mengunjungi “domba-domba di tengah hutan” (calon stasi KM. 52) yang letaknya di perbatasan Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

Terima kasih Pastor Steph. You are our father, our brother, and also our best friend. Terima kasih sudah memberi kami teladan pelayanan yang sungguh. Terima kasih untuk cinta dan persembahan diri bagi para umatmu. Terima kasih sudah memperhatikan kami seperti anak-anakmu sendiri. Terima kasih untuk membuat kami selalu merasa nyaman dan aman. Last but not least, terima kasih untuk dua sendok madu asli Sekatak yang kau paksa untuk kuminum.. Mungkin kau bisa melihat entah bagaimana caranya bahwa tubuhku memang membutuhkannya.

Kami bersama Pastor Steph dan Pak Irwan


Suara tawa terdengar dari ruang tengah keuskupan. Itu pastilah Pater Anggras dan para pastor MSF yang esok akan turne ke Stasi Long Yin di Paroki Mara I. Ingin hati menyapa beliau semua, tapi tak enak juga rasanya menyela percakapan mereka yang sepertinya seru sekali. Lagipula badan sudah menuntut ingin diluruskan di atas kasur nih..

Semoga masih ada hari esok bagi kita untuk saling berbagi kisah.

1 thought on “He’s Our Father and Brother : Tanjung Selor – Hari Ketiga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s