My Journey...

Akhirnya : I Am Home

Ternyata, bagi sebagian orang, kisah kunjunganku hanyalah buang-buang waktu saja, alias gak penting. Menurut mereka, cukuplah aku laporkan apa yang terkait dengan dewan disana. Padahal buatku, aku harus kisahkan hal-hal yang menarik sebanyak mungkin, supaya mereka semua bisa tahu bahwa perutusan ke daerah adalah hal yang menyenangkan, yang menyemangati. Tapi, ya sudahlah. Cukup tahu..

Setelah kami pulang, masih banyak kisah yang berlanjut, dan ini sukses bikin kami gagal move on…

1. Kiriman foto para “domba di tengah hutan”

Hari Selasa malam, ketika aku sudah tiba di rumah, Pastor Steph menjawab pesan whatsappku yang kukirim sejak siang. Ternyata beliau baru saja pulang setelah mengunjungi domba di tengah hutan (calon stasi di KM 52, yang terletak di perbatasan Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Mereka ini sejak lama tinggal disana sebagai peladang. Karena lokasi mereka jauh dari mana- mana dan terletak di batas paroki, maka mereka kebingungan. Sekitar setahun yang lalu, mereka datang ke keuskupan untuk minta pelayanan Sakramental. Baru pada Mei tahun inilah akhirnya kerinduan mereka bisa dipenuhi.

Lokasi mereka sungguh-sungguh terpencil. Dari jalan poros Kalimantan yang menghubungkan Tanjung Selor dan Berau, Pastor harus berjalan kaki sejauh 7 km. Kendaraan roda dua pun konon tak bisa digunakan karena tanahnya merah dan berlumpur sehingga sangat membahayakan pengemudinya. Sungguh… inilah perjuangan seorang pastor di pedalaman untuk melayani umatnya.

Ini beberapa foto kiriman pastor yang membuatku terenyuh…

Pastor menuliskan pesan ini padaku:

Hatiku gembira banget bisa memberi hal kecil tapi membahagiakan. Sejumlah umat yang sudah 4 – 5 tahun di tengah hutan tidak misa. Rasa lelahku untuk mencapai tempat itu sirna melihat mereka happy banget..

Aku sungguh tak henti belajar dari beliau, betapa cintanya yang tulus melahirkan pengorbanan. Ia sungguh-sungguh melayani hingga ke tempat tersulit tanpa kenal lelah.

Keesokan harinya Pastor mengirimkan sebuah list yang isinya kebutuhan pokok “rohani” bagi umat disana. Mulai dari taplak hingga buku-buku liturgi dan patung. Inilah gembala sejati yang tak pernah berhenti memikirkan domba-dombanya.

Jangan pernah berhenti mendoakan para gembala kita!!

2. Keracunan Lagu

Tahun lalu, sepulangnya aku dari kunjungan kesana, aku keracunan lagu “Ale pung nafas”. Hahaha… Ini gara-gara dengerin lagu itu di mobil Pastor Agus dalam perjalanan dari Berau menuju Selor. Dengan bantuan terjemahan dari Pastor, sadarlah aku bahwa lagu itu so romantic (alias gombal). Nih lagunya. Sok mangga disimak atuh..

Nah. Tahun ini aku keracunan lagu dari NTT, judulnya “Bae Sonde Bae”. Awalnya cuma diceritain aja tentang lagu ini, yang berhasil membuat Bapa Uskup joged di hari tahbisan beliau. Lalu Bapa Uskup juga sempat bahas tentang lagu ini saat kami menunggu di bandara. Kata beliau waktu ramah tamah acies kemarin ada yang menarikan lagu ini. Nah, pulang-pulang, penasaran deh daku, ternyata lagunya emang bikin pengen goyang. hahaha… Nih lagunya. Jangan joged yak!!!!

Ternyata lagu ini bisa bikin belajar geografi NTT menjadi lebih mudah lho.. serius..

3. Muncul grup Legio Maria di FB Messenger.

Awalnya aku pikir ini grup pasti isinya gak jelas, bahkan aku gak kenal siapa yang menginviteku. So dengan santai aku tinggalkan grup itu. Eh gak berapa lama muncul dua abg yang japri aku, mereka memperkenalkan diri lalu tanya kenapa aku left group. Aih, ternyata grup itu adalah hasil karya anak- anak Junior di Sambaliang, Berau. ya…isinya sih obrolan-obrolan anak abg. Tapi lama-lama bisa dipakai untuk menyisipkan “pesan sponsor”. Hebatnya mereka sedang berupaya menginvite teman-teman mereka di Tanjung Selor. Salut pada adek-adekku!!

Link kisah Tarakan – Tanjung Selor, 25-29 Mei 2018 :

https://celina2609.wordpress.com/2018/06/03/terima-kasih-kenangan-27-jam-di-tarakan/

https://celina2609.wordpress.com/2018/06/04/jangan-lekas-berlalu-tanjung-selor-hari-pertama/

https://celina2609.wordpress.com/2018/06/05/kala-sepi-mengisi-senja-tanjung-selor-hari-kedua/

https://celina2609.wordpress.com/2018/06/06/hes-our-father-and-brother-tanjung-selor-hari-ketiga/

https://celina2609.wordpress.com/2018/06/08/see-you-again-tanjung-selor-hari-keempat/

4 thoughts on “Akhirnya : I Am Home”

  1. Aku belum baca semua trip ini Na, pasti mengharu biru banget ya… jadi kamu balik lagi kesana kemarin-kemarin ini? Duh, kita lama gak saling contact ya Na… maaf.. sibuk.

Leave a Reply to ceritariyanti Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s