My Journey...

I Am so Lucky : Kejutan Besar dari Keraton Kasunanan Surakarta

17 Juni 2018

Awalnya saya hanya berniat singgah ke Keraton Surakarta. Sudah lama sekali teman saya yang asli Solo mengompori saya untuk berkunjung kesana. Tak sekalipun saya menyangka akan mendapat kejutan yang sangat luar biasa dari Keraton ini..

Ketika memasuki Sasana Sumewa dari bagian alun-alun utara (lor), saya melihat kesibukan yang berbeda. Ada banyak orang hilir mudik mengenakam seragam. Awalnya saya berpikir mungkin ada acara pagelaran seni atau sejenisnya di area Keraton. Tapi ketika sudah naik ke area Siti Hinggil, suasananya tampak lebih “sibuk” lagi. Ada banyak orang berpakaian hitam dan di sisi kiri pagelaran ada dua benda besar. Ah, itukah yang namanya gunungan? Dengan langkah ragu saya mendekatinya. Jujur saya khawatir karena setahu saya di lingkungan keraton banyak sekali pantangannya. Jadi sebelum saya melangkah mendekati kedua benda itu, yang semakin lama saya yakini sebagai gunungan, saya bertanya pada seorang abdi dalem yang duduk di dekatnya. “Pak, mau grebeg ya? Kapan Pak?” Jawaban bapak itu membuat saya tercengang : “Iya Mbak.. sebentar lagi dikirab..”

Area Siti Hinggil

Wah.. rasanya surprise banget. Akhirnya saya bisa melihat langsung prosesi grebeg yang legendaris itu. Saya hanya ingat pernah membaca majalah ibu saya bahwa grebeg ini adalah momen untuk mencari berkah (ngalap berkah). Salah satu abdi dalem Kadipaten Pakualaman pernah bercerita bahwa benda-benda yang diperebutkan dari gunungan itu beraroma “mistis”. Beliau menceritakan tentang rumah seorang abdi dalem yang selamat dari kehancuran pasca gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 karena beliau banyak menyimpan hasil rebutan itu. Nah kan… amazing banget…

Saya bertanya kembali pada abdi dalem itu, “Pak.. boleh difoto dari dekat ndak?” Beliau menjawab, “Oh.. monggo Mba.. boleh saja..” Duh… rasanya senang banget.. Apalagi ketika para abdi dalem bersedia berpose untuk difoto bersama. Bersyukur banget…

Dari sisi belakang
Salah satu dari dua gunungan kecil
Abdi dalem pengangkat gunungan. Ada dua anak laki-laki yang ikut bertugas, tanda keraton memikirkan pula regenerasi.

Grebeg Syawal ini diadakan sebagai wujud syukur karena telah menyelesaikan puasa Ramadhan sekaligus simbol bahwa Raja memberikan sedekah pada warga dan abdi dalem Keraton. Grebeg berasal dari kata gembrebeg atau gumerebeg yang berarti sergap, riuh, gaduh. Tepat sekali untuk menggambarkan suasana grebeg yang ramai, riuh, dan penuh dengan kegembiraan.

Tradisi ini sudah digelar sejak ratusan tahun yang lalu atas ajaran Sunan Kalijaga dan Sultan Agung Hanyokrokusumo, sebagai pendiri Keraton, dan merupakan akulturasi dari budaya Jawa dan Islam. Inti dari acara grebeg ini adalah iring-iringan dua gunungan, yakni gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (perempuan) dari Keraton menuju ke Masjid Gede Keraton Surakarta untuk didoakan lalu diperebutkan oleh warga dan abdi dalen.

Gunungan jaler tersusun atas bahan sayur mayur hasil bumi seperti kacang panjang, wortel, cabe, dan terong. Ini menunjukkan bahwa seorang laki-laki harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Gunungan Jaler

Sementara gunungan estri tersusun atas jajan pasar atau makanan ringan seperti rengginang dan criping sebagai simbol bahwa seorang wanita harus mampu mengolah hasil jerih payah suaminya.

Gunungan Estri

Pada bulan Syawal 1439 H ini, Keraton Solo sebetulnya telah mengadakan Grebeg Syawal pada tanggal 2 Syawal (16 Juni), namun keesokan harinya Dewan Adat yang dikomandani oleh GKR Wandansari Koes Moertiah (Goes Moeng), puteri dari Susuhan Pakubuwono XII, juga mengadakan acara serupa. Perbedaannya terletak pada lokasi awal upacara. Pada grebeg yang diadakan tanggal 2 Syawal, kedua gunungan diarak dari Sasono Sewoko di kompleks Keraton. Sedangkan grebeg yang diadakan Dewan Adat dimulai dari Siti Hinggil Pagelaran Keraton. Menurut Goes Moeng tradisi kirab dari Pagelaran ini kembali pada tradisi Keraton sebelum masa kemerdekaan. Beliau juga sempat menyinggung bahwa kondisi Keraton Surakarta saat ini “belum kondusif”. Inilah yang bikin saya penasaran dan mengoogling ada apa sih dengan Keraton Surakarta?

GKR Wandansari Koes Moertiah

Pada grebeg yang diadakan tanggal 3 Syawal ini, kedua gunungan besar dan dua gunungan kecil dipersiapkan di tepi Siti Hinggil. Setelah laporan dari prajurit kepada perwakilan dari Keraton, dimulailah iring-iringan gunungan menuju Masjid Gede Keraton Surakarta, yang dibuka oleh prajurit bersenjata, bergodo musik (yang memainkan musik selama proses kirab. Musiknya begitu “menghipnotis”), prajurit Wirengan yang bertugas mengawal gunungan, dan diikuti oleh abdi-abdi dalem Keraton yang lain.

Menuju Masjid Gede via Alun-Alun Utara

Kedua gunungan kemudian diletakkan terpisah. Gunungan jaler di sisi utara (lor) dan gunungan estri di sisi selatan (kidul) serambi masjid. Masjid Gede Keraton atau yang dikenal juga sebagai Masjid Agung ini mulai dibangun pada tahun 1763 dan dibuka pada 1768 semasa pemerintahan Paku Buwono III. Masjid ini dibangun dengan campuran corak arsitektur Jawa, India, dan Timur Tengah. Masjid ini adalah masjid kerajaan dan menjadi tempat acara-acara adat seperti grebeg dan sekaten.

Pintu gerbang Masjid Gede

Sambil menunggu gunungan didoakan, warga dan para abdi dalem sudah bersiap-siap untuk berebut (ngalap berkah). Sebetulnya di tempat ini hanya gunungan jaler yang akan diperebutkan (dirayah) oleh warga, sementara gunungan estri akan dibawa kembali ke pelataran kamandungan dan direbutkan oleh warga dan abi dalem disana. Hasil rebutan (uba rampe) tersebut dipercaya membawa berkah dan keselamatan bagi yang mendapatkannya.

Dari dalam masjid terdengar aba-aba bahwa gunungan yang akan diperebutkan adalah gunungan jaler, namun seorang abdi dalem berkata pada saya bahwa semua gunungan boleh direbut. Jadilah saya beranjak menuju gunungan estri yang relatif lebih sepi peminat. 😉

Sebelum doa selesai dilantunkan semua tangan sudah siap di dekat gunungan untuk merebut target yang sudah diincar. Berganti-gantian para abdi dalem bertanya, “Sudah Amin belum?” (Maksudnya apakah doa sudah selesai atau belum), dan ketika satu orang berkata “Amin”, yang lain menyahut juga dengan “Amin” sambil menarik apa saja yang bisa ditarik dari gunungan.

Suasanya gembrebeg itu sungguh terasa. Semua orang berebut dengan ceria, bahkan sambil tertawa. Seru rasanya ikut berebut bersama warga dan para abdi dalem. Saya sendiri berhasil mendapatkan satu rengginang besar dan satu rengginang kecil (beserta batang bambunya yang panjang) dari gunungan estri. Pucuk rangginang kecil ini malah disodorkan kepada saya oleh seorang abdi dalem, sesaat sebelum proses rebutan dimulai. Di alun-alun utara, rengginang kecil itu diminta oleh seorang bapak penjaja souvenir, dan beliau tampak gembira sekali ketika menerimanya.

Ah.. saya sungguh beruntung bisa ikut dalam keriuhan acara grebeg Syawal ini. Rasanya semakin bangga deh jadi orang Indonesia.. Hmm.. Terus.. Kamu masih belum bangga gitu? Sini saya tenggelamkan kamu sekarang juga.. 👊👊

Rengginang berkah ♥️♥️

5 thoughts on “I Am so Lucky : Kejutan Besar dari Keraton Kasunanan Surakarta”

      1. Adalah di deket pintu. Nyolot banget. Nyebelin hahaha. Dan menjadikan gak mau lagi sampai kapanpun menginjak kraton solo… kakakakakaka… *sumpahserapah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s