My Journey...

Kembali ke Manila – See You Again

Hari terakhir di Manila adalah hari penuh rencana bagi saya dan Frater. Bahkan saking banyaknya, kami berencana memulai hari pada pukul 2 pagi, yang nggak mungkin direalisasikan.. haha.

Jadi begini, sebelum mengikrarkan kaul kekal, para frater SSCC Indonesia terlebih dahulu mesti menjalankan masa formasi di Cainta selama 6 bulan (plus retret dan program lainnya) bersama dengan dua frater dari Jepang dan Filipina (sebetulnya dua-duanya asli Filipina, namun salah satunya masuk biara SSCC di Jepang). Setelah selesai kaul kekal, para frater Indonesia ini kembali lagi ke Indonesia. Nah, sejak seminggu sebelum berangkat, Frater Waluyo sudah mengontak saya untuk nitip bagasi dalam penerbangan pulang karena jatah bagasi saya yang 25 kg nggak akan terpakai. Frater hanya dapat jatah bagasi 20 kg dari Cebu Pacific dan harus bawa pulang pakaian dan buku-buku (plus buku-buku titipan provinsial yang segede-gede gajah.. hehehe..). Sudah pasti bakalan over weight deh, jadilah bagasinya terpaksa dibagi dua dengan saya.

So.. kami harus menyusun banyak rencana terkait perbagasian ini plus mengatur rencana keliling Manila juga. Maka itulah kami sampai berniat memulai hari pada pukul 2 pagi. Hahaha… Alternatifnya begini : frater yang akan mengantar tasnya ke hostel saya di Quiapo, lalu kami akan keliling Manila; atau saya yang akan membawa barang-barang saya ke Cainta, baru kami keliling Manila. Pertimbangannya sama-sama berat : kalau barang frater dibawa ke hostel, jelas saya akan kena overcharge karena akan late check out, selain itu hostel saya posisinya serba nanggung jadinya bakal ngerepotin frater kalau harus bawa koper dari Recto ke hostel. Kalau barang-barang saya yang dibawa ke Cainta jelas akan lebih praktis karena lebih sedikit, tapi dari Cainta itu jauh kemana-mana (jalur macet pula), tapi secara etis saya bakal lebih “enak hati”, soalnya bisa sowan (alias minta izin untuk pinjam frater dan pamitan pulang) kepada para pastor disana. Kan nggak enak juga main nyulik frater tanpa sowan trus ujug-ujug saya langsung ngilang pulang.

Setelah menimbang sana-sini, akhirnya diputuskan bahwa saya yang akan ke Cainta setelah selesai Simbang Gabi di Quiapo. Fix!

Ketika alarm bunyi pukul 3 pagi, rasanya badan dan mata saya berat banget. Duh.. capek banget yaa… Muncul godaan untuk melanjutkan tidur. Untung malaikat pelindung saya lagi keukeuh pengen ikut Simbang Gabi, jadilah saya bangun, cuci muka dan jalan ke gereja Quiapo. Jam baru menunjukkan pukul 03.18 tapi di sepanjang jalan menuju gereja, sudah banyak orang yang beraktivitas. Para pedagang di pinggir jalan ternyata tidur di samping kiosnya yang terbuka. Di halaman gereja juga sudah ramai pedagang benda rohani. Jangan-jangan mereka nggak pada pulang ya?

20181216_051835.jpg
Gereja Quiapo pagi itu

Sekitar pukul 03.30 saya sudah tiba di gereja dan langsung shock karena gereja sudah padat. Astaga!! Jangan harap bisa pilih tempat duduk pewe, bisa dapat duduk aja udah syukur banget. Menjelang pukul 04.00 gereja semakin padat, bahkan umat yang berdiri sudah memenuhi bagian samping gereja. Ebused.. penuhnya udah kayak mau konser. Bukan sekadar penuh tapi padat! Hebatnya lagi, walaupun masih pagi begini, sebagian besar dari mereka sudah berdandan rapi. Duh jadi malu..

20181216_034116.jpg
Black Nazareno yang asli ternyata ada di atas altar.

Tapi saya sedih, karena misa dibawakan dalam Bahasa Tagalog. Padahal Pastor Hernando Coronel membawakan homili dengan berapi-api, lagu-lagu yang dibawakan juga penuh semangat. Tapi setitik pun saya nggak ngerti dan berujung pada rasa kantuk. Saya tengak-tengok ke sekeliling dan merasa malu lagi karena nggak ada satupun umat yang terlihat ngantuk or main hape. Semua menyimak homili Pastor dengan serius. Wow!!

Sepanjang homili sering disebut kata “Bautista” dan itu membawa otak saya membayangkan Christian Bautista. Pas di akhir homili barulah saya ngeh bahwa Bautista itu menunjuk pada Yohanes Pembaptis. Itupun setelah melihat tayangan di layar LCD. Hahaaha.. haduhhh…

Misa Simbang Gabi pertama baru selesai pukul 05.13, dan umat yang hendak misa Simbang Gabi pukul 05.00 sudah mengantri di luar gereja. Jadi saya keburu digebah sebelum foto-foto di dalam gereja.

20181216_051524.jpg
Dua Santo Filipina : Lorenzo Luis (kiri) dan Pedro Calungsod (kanan)

Pukul 06.30 saya sudah naik LRT dari Recto dengan membawa seluruh gembolan. Masih sama jumlah dan besarnya seperti ketika berangkat, hanya nambah berat sedikit. Saya menempuh jalur ke Cainta dengan cara yang sama dengan hari sebelumnya, namun kali ini saya bayar jeepney dengan lembaran 20 PHP (dan sampai turun pun nggak ada kembaliannya).

Lagi-lagi saya bingung gimana bilang “Setop bang”, duhh.. kenapa lupa nanya ke Frater sih ya?! Ya sudah lah, siap-siap gedor-gedor atap jeepney aja lah. Tapi.. Puji Tuhan.. lagi-lagi ada yang turun di Marick, jadi saya cuma ikutan turun aja deh jadinya. Hahaha..

Saya disambut oleh Frater Waluyo dan Frater Don Brian yang sedang sarapan. Frater Brian kaget melihat bawaan saya, yang menurutnya, “Cuma segini?” Padahal buat saya, untuk tiga hari, bawaan saya udah kebanyakan (sampai bawa boneka Mamedo buat jadi bantal, padahal di pesawat udah ada bantal). Saya juga bertemu Pastor Jovy (alias Pads Jovy), bapaknya para frater disini. Kayak bapak beneran deh.. care banget. Saat itu, para Pastor dari Indonesia sedang ke Bagong Silang untuk mengikuti misa dan syukuran untuk Suster Ellen yang juga mengucapkan kaul kekalnya kemarin.

20181216_072300.jpg

Sambil sarapan kami menghitung waktu yang tersisa. Awalnya kami mau ke gereja Our Mother of Perpetual Help di Baclaran, lalu ke Intramuros, janjian makan siang di Cubao dengan Suster Helmi, lalu balik ke Cainta untuk finalisasi packing. Kami menargetkan jam 3 sore sudah harus kembali ke Cainta, dan paling lambat jam 5 sore saya harus sudah cabut ke bandara.

Wah.. kayaknya target kami nggak realistis ya.. Tapi ya sudahlah mari kita jalani sedapatnya aja..

Karena kami akan ke Baclaran, so kami harus naik MRT dari Ortigas. Nah dari tempat berhenti bus di EDSA, kami masih harus jalan agak jauh sampai ke stasiun. Rasanya kaki ini udah mau copot, sementara Frater masih semangat 45 aja. Kami naik MRT sampai di Taft Ave dan dari situ jalan kaki lagi dong sekitar 2 km. Dan in jadi pengalaman yang sangat luar biasa bagi kami. Bukan masalah 2 kilometernya, tapi perjuangan melangkah di tengah pasar yang bagai lautan manusia itu lho.. Luar biasaaa… Baru kali ini saya ngalamin jalan kaki pake macet. Udah pake panas terik dan disenggolin orang pula. Waduhhhh.. ditambah pula dengan pedagang yang nangkring seenaknya. Perjuangan banget ini. Jadi ingat cerita seorang frater OSC yang nggak bisa keluar dari biaranya di Dago saking padatnya daerah itu menjelang lebaran. I feel you Frater!!

Keringat sudah mengucur deras dan saya mulai pusing melihat manusia yang begitu banyak apalagi menjelang gereja. Akhinya saya pakai jurus KRL jaman kuliah : sikat bang!!!

Setelah perjuangan yang begitu menguras energi dan esmosi, akhirnya kami sampai juga di gereja Our Lady of Perpetual Baclaran yang ternyata adalah tempat ziarah nasional. Tapi perjuangan belum selesai, untuk nyari toilet dan ngantri aja masih perlu kekuatan ekstra, sementara Frater udah duduk tepar di trotoar.

Bisa duduk manis di dalam gereja tuh berasa di surga : dingin dan bisa ngelurusin kaki. Kami rencananya mau ikut misa jam 11.30, jadi masih ada waktu sekitar 30 menit untuk menenangkan diri setelah segala kekacauan di pasar Baclaran.

wp-1545451588679..jpg

“Mbak, besok mau ke Baclaran ga? Ke gereja Our Mother of Perpetual Help. Kalau di Indonesia kita kenal dengan Bunda Penolong Abadi. Gereja itu nggak pernah sepi mbak, apalagi kalau hari Minggu. Banyak orang yang berdoa di depan gambar Bunda Penolong Abadi, dan katanya banyak yang terkabul.”

“Hayuk Ter, aku mau berdoa juga ah, minta jodoh..”

“Dih, jodoh kamu kan Tuhan Yesus. Tuh dari tadi udah diprospekin suster-suster disuru masuk biara kan? Gih langsung daftar aja, mau ke SSCC boleh, ke CM juga boleh.”

“Fraterrrrrr!!!!!”

Saya memandang gambar Bunda Penolong Abadi yang terpasang di atas altar, memikirkan ucapan Frater kemarin. Masuk biara? Hehehehe. Sejak hari pertama saya mampir di Katedral, misa di San Agustin, misa di San Romero, di hadapan Black Nazarene, simbang gabi di Quiapo, doa saya ngga berubah : minta jodoh. *Ini doa atau maksa yak?*

“Mbak, kita ga usah ikut misa yuk..”

“Hah?! Kan frater belum misa? Aku sih udah tadi pagi di Quiapo..”

“Nanti aku misa di dekat rumah aja deh. Masih keburu kok.”

“Yakin nih, Ter?”

“Iya yakin, kalau ikut misa, waktunya nggak cukup.”

Akhirnya kami nggak jadi misa, dan hanya berdoa di depan gambar Bunda Penolong Abadi. Intensinya masih sama : minta jodoh. Hihihi…

20181216_104707.jpg

Gereja Our Mother of Perpetual Help yang dikenal juga dengan nama gereja Redemptorist (karena dikelola oleh para biarawan Redemptorist/ CSsR) atau gereja Baclaran adalah salah satu geeja terbesar di Filipina yang didedikasikan kepada Bunda Maria. Icon Bunda Penolong Abadi yang diletakkan di gereja ini berasal dari Jerman dan dibawa ke Filipina pada 1906 oleh para biarawan ordo Redemptorist melalui Irlandia dan Australia. Mereka datang di Manila sekitar tahun 1900 dan membuka paroki Malate pada tahun 1913 yang dijadikan tempat devosi bagi Bunda Penolong Abadi.

Pada 1932 mereka pindah ke Baclaran dan mendirikan gereja yang dipersembahkan bagi St. Theresa Lisieux. Akan tetapi keluarga Ynchausti mendonasikan sebuah altar tinggi untuk menempatkan icon Bunda Penolong Abadi. Ketika Jepang menguasai Filipina, icon ini sempat hilang dan kemudian ditemukan seorang biarawan La Salle di sebuah penjara, yang dijadikan tempat penyimpanan artefak dan telah ditinggalkan oleh tentara Jepang.

Novena Bunda Penolong Abadi bermula di Iloilo pada 1946. Tradisi ini dibawa ke Baclaran – Manila oleh Pastor Gerard O’ Donell, CSsR pada 1948. Hingga saat ini, hari Rabu adalah hari untuk melakukan novena Bunda Penolong Abadi sehingga hari Rabu dikenal sebagai “Baclaran Day” karena padatnya peziarah yang hendak mengunjungi gereja ini.

Gereja yang ada sekarang adalah gereja ketiga yang dibangun pada tempat ini. Proses pembangunannya cukup lama karena kekurangan dana yang hanya dikumpulkan dari donasi umat. Pada 1 Desember 1958 gereja ini diberkati dan sejak 5 Desember 1958 dibuka sepanjang hari sepanjang tahun

20181216_104844.jpg
Bagian depan gereja Our Mother of Perpetual Help. Rame banget kan, padahal ini belum hari Rabu lho..

Tadinya kami mau pulang naik bus ke arah Cubao lewat Roxas Blvd, tapi gak jadi karena macet. Halahh.. jadilah kami jalan kaki lagi sampai stasiun Taft Ave. Lagi-lagi harus menembus lautan manusia yang makin parah, ditambah mobil yang stuck nggak bisa kemana-mana. Untung saja Frater berhasil menemukan jalan yang lebih lengang. Di tengah tangga stasiun MRT kami cuma bisa bersandar karena capek dan gempor.

Karena Suster Helmi mendadak ada acara, dan waktu sudah nggak memungkinkan untuk ke Intramuros (kaki juga udah nggak kuat lagi), kami memutuskan ke Super Mall Ortigas saja untuk cari St Pauls bookstore dan makan siang. Trus langsung cuz pulang ke biara.

Kami berhasil memfinalisasi urusan bagasi. Tas Frater berhasil dimuati beban seberat 16 kg, dan saya sendiri berupaya meringkas bawaan saya. Proses packing kali ini rada bikin grogi, soalnya para pastor sudah pulang dari Bagong Silang dan mereka memperhatikan saya packing. Mereka bingung karena saya hanya bawa ransel dan satu handbag. Mereka setuju bahwa bawa ransel itu lebih praktis jika dibandingkan dengan bawa koper geret. Bangga juga sih dianggap pelancong backpacker oleh mereka.. hehehe.. Hmmm.. Mereka ga tahu saya lagi deg-degan karena berat ransel saya sudah 9 kg. Saya juga deg-degan harus bawa koper frater yang model geretan. Saya belum pernah bawa koper beginian nih.

Proses packing akhirnya selesai sambil diwarnai tawa canda dari para pastor dan frater. Mereka saling cela gara-gara koper baru yang mereka beli di Divisoria, yang walaupun murah, tapi nggak praktis banget (koper ini tuh kembaran kopernya frater yang bakal saya bawa.. walah.. walah..). Sayang kebersamaan ini harus berakhir karena saya harus pulang.

img1545450671674.jpg
Pastor Bonifacius Payong – Fr. Agustinus Triyanto – Pastor Pankrasius Olak – Pastor Patricius Breket – Fr. Thomas Waluyo

Tepat pukul 16.30, kami meninggalkan biara. Pads Jovy bilang kami sebaiknya pesan Grab saja karena jalanan macet dan supaya praktis. Saya sempat bercerita tentang perjalanan gila kami ke Baclaran, dan Pads, sambil geleng-geleng kepala, bilang saya masih beruntung karena berbadan besar, kalau Pads yang kesana bisa-bisa sudah nggak berbentuk. Hahaha.. Padsssss!!!! Padahal ukuran badan Pads kan gak jauh beda sama saya.

Menurut Pads, ada dua gereja yang selalu ramai, yaitu gereja Baclaran dan Quiapo. Nah.. berarti saya sudah datang ke dua tempat ini. Keramaian di gereja dan pasar semakin parah karena ini sudah mulai liburan Natal dan orang-orang akan belanja untuk keperluan Natal mereka. Oh.. jadi begitu.. Shock juga sih, mengingat saya gak pernah ke pasar kalau menjelang lebaran.

Ternyata perjalanan pulang saya benar-benar rangkaian drama heboh.

Frater ngajak saya makan untuk terakhir kalinya (di Filipina) di KFC Robinson junction yang lumayan dekat dari biara (tapi kami tetap harus naik tricycle karena bawa koper). Sebelum masuk mal, koper itu diminta dibuka dong.. padahal udah digembok. Udah gitu antrian di KFC panjang dan lama.. Begitu selesai makan dan nyari grab ternyata malah nggak dapet-dapet. Ga ada gojek pula *apasih…* Mau naik taxi ke EDSA tapi taxinya gak mau karena macet berat. Haduh.. haduh.. sudah jam 5 pula. Terpaksa naik bus, mana bawaan berat dan ditambah bus pasti penuh. Tapi mau gimana lagi, daripada nggak bisa pulang. Frater nggak bisa ngantar karena ada meeting dengan provinsialnya.

Untung saja saya masih dapat bus. Frater udah kayak kuli angkut manggul tas dari Robinson sampai ke tempat bus berhenti. Benar saja : busnya penuh banget dan drivernya galak. Saya disuru geser ke belakang dan ninggalin koper di depan. Yaelaaah. Untung keneknya masih bisa diajak becanda walaupun roaming. Yah, minimal dia tahu saya dari Indonesia dan mau turun di EDSA. Sepanjang jalan saya tak henti mendaraskan Salam Maria dalam hati. Macetnya bikin grogi, udah gitu mbayangin harus nyeberang jembatan di EDSA sambil bawa koper 16 kg. Duh Gusti.. Duh Bunda.. begimana ini..

Saya berhasil dapat duduk dan menggunakan senjata bernama google maps lagi. Saya harus sungkem nih sama Mbah Google. Hahaha.. Tapi saya salah memasukkan tujuan. Mestinya saya masukin EDSA Shrine, tapi saya malah masukin EDSA aja. Nah.. ini sempet bikin bingung sih. Ketika bus berhenti dan banyak penumpang turun, google maps bilang saya belum sampai tujuan. Saya nanya ke sebelah saya dan dia malah bingung sendiri. Ketika saya clingak-clinguk bingung, saya melihat lonceng EDSA Shrine yang waktu itu pernah berdentang tepat di atas kepala saya, dan saya yakin bahwa saya harus turun disini. Grabag grubug deh jadinya, sampai tas saya nabrak kepala orang. Maaf banget ya Pak…

20181215_145931.jpg
Lonceng ini…

Kenek bus yang baik hati membantu saya menurunkan koper dan dengan wajah prihatin bertanya saya mau kemana. Ketika saya bilang mau ke airport dia langsung merekomendasikan untuk naik taxi aja tanpa perlu nyeberang jembatan. Tapi apa daya, saya nggak dapet taxi hingga saya akhirnya membulatkan tekad dan mengumpulkan tenaga…

.. untuk nyeberangin jembatan penyeberangan EDSA..

Dalam pikiran saya hanya ada bayangan Kuya Richie yang sanggup naik sampai puncak gunung Apo, jadi masak saya nggak bisa sih nyeberangin jembatan ini? Harus bisa daripada nggak bisa pulang! Sambil tetap berdoa Salam Maria, saya meniti tangga jembatan sambil menjinjing koper berat di tangan kanan dan handbag di tangan kiri. Di tengah tangga saya berhenti sejenak mengatur nafas. Singkat cerita, dengan napas ngos-ngosan saya berhasil tiba di seberang. Udah gitu gagang kopernya mlintir mulu jadi susah digeret. Saya jadi ingat candaan para pastor tentang “koper yang tidak praktis”. Ingatan itu membuat saya nyengir-nyengir sendiri di tengah keramaian EDSA.

Di seberang Robinson Galleria saya menemukan bus UBE jurusan bandara. Duh lega rasanya. Tapi jangan senang dulu. Setelah percakapan penuh miskom dengan drivernya, saya langsung kecewa karena bus itu baru berangkat jam 7 malam sementara pesawat saya terbang jam 9. Hmm.. nggak ada nekad-nekadan deh, apalagi Manila lagi macet gila.

Tapi Tuhan sungguh baik. Ketika saya sudah give up, mendadak ada taxi menepi di depan bus. Langsung saya tanyakan apakah dia mau antar ke bandara? Dia mau tapi tarifnya agak mahal: 500 PHP. Ya udahlah yah.. daripada nggak bisa pulang. Toh, naik bus UBE juga tarifnya kalau ga salah 300 PHP.

Saya beruntung naik taxi ini. Drivernya yang bernama Edwin seru banget diajak ngobrol. Dia cerita bahwa sebetulnya dia udah mau pulang dan gak narik lagi karena Manila macet gila. Tapi karena dia kasihan lihat saya yang orang asing ini, jadilah dia bersedia narik ke bandara. Makasih Tuhan sudah mengirim orang baik ini ke hadapan saya. Dia banyak bercerita tentang Filipina saat ini, tentang Duterte, tentang liburan natal yang baru saja dimulai, tentang pemilu legislatif tahun depan, tentang keluarganya, dan banyak sekali. Edwin berhasil membuat perjalanan ke bandara jadi terasa cepat. Bahkan kami sekarang berteman di facebook lho. Hehehe.

Tepat pukul 19.00 saya tiba di bandara. Lega banget rasanya.. Apalagi setelah memasukkan tas frater ke bagasi, hilanglah semua ketegangan saya.

Ketika saya memutar balik seluruh perjalanan saya selama tiga hari ini, saya baru ngeh banyak sekali target yang tak tercapai : Santo Thomas, National Bookstore, Fort Santiago, gereja Novaliches, dan ikut misa di Katedral (untung udah sempat ngintip). Tapi saya happy banget dengan perjalanan ini walaupun capek sih karena kemana-mana jalan kaki. Saya menemukan kawan-kawan baru dan pengalaman yang tak terlupakan. Yang terpenting saya dapat pencerahan iman dari perjalanan ini (postingan berikutnya ya).

Benar juga yang dibilang oleh Roy M Goodman :

“Remember that happiness is a way of travel – not a destination.”

Sampai jumpa Manila. Semoga ada yang mengundangku lagi untuk bisa kembali ke pelukanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s